Social Items

WASPADALAH..!! Difteri Melanda Indonesia, Jangan Sampai Percikan Ludah Penderita Terhirup

RiauJOS.com, Jakarta - Difteri dari tahun ke tahun mulai mewabah dan merenggut banyak korban jiwa. Tercatat dari 1.260 kasus penyakit ini sebanyak 61 jiwa dinyatakan meninggal dunia hanya dalam kurun waktu tiga tahun.

Berdasarkan data Kementerian Kesehatan (Kemses), penyakit difteri sudah menyerang sebanyak 95 Kecamatan/Kota di 20 Provinsi hinga bulan November 2017, atas hal itu, Kemenses berencana melakukan imunisasi ulang atau Out Response Immunitationn (ORI) pada Senin, 11 Desember 2017 di 3 provinsi, yaitu DKI Jakarta, Jawa Barat dan Banten, seperti diwartakan Indowarta.

Ketiga provinsi tersebut dipilih untuk tempat imunisasi ORI karena tingginya jumlah kasus serta kepadatan penduduk. Diketahui, di Indonesia jumlah kasus Difteri meningkat dalam tiga tahun terakhir. Peningkatan terbesar terjadi pada tahun 2017 hingga ditetapkan menjadi Kejadian Luar Biasa (KLB).

Penyakit difteri merupakan infeksi bakteri pada umumnya menyerang selaput lendir pada hidung dan tengorokan, bahkan juga dapat memengaruhi kulit. Penyakit ini dapat menular dan termasuk merupakan infeksi serius yang berpotensi mengancam korban jiwa.

Penyakit ini disebabkan bakteri Corynebacterium dan penyebarannya pun terjadi dengan mudah, terutama mereka yang tidak diberikan vaksi difteri, sedangkan cara penularannya melalui terhirupnya percikan ludah si penderita ketika bersin atau batuk, barang-barang yang terkontaminasi bakteri dan sentuhan langsung pada luka borok akibat difteri di kulit penderita.

Bakteri penyakit ini akan menghasilkan racun sehingga menumbuhkan sel-sel sehat dalam tengorokan sehingga akhirnya menjadi sel mati. Sel yang mati inilah yang nantinya akan membentuk membran atau lapisan tipis abu-abu pada tengorokan. Selain itu racun yang dihasilkan juga berpotensi menyebar ke dalaam darah dan merusak jantung, ginjal serta saraf.

Terkadang Difteri tak menunjukan gejala apapun sehingga penderitanya tidak menyadari jika dirinya terinfeksi. Kalau tidak menjalani pengobatan dengan tepat, penderita berpotensi menularkan penyakit ini kepada orang sekitarnya terlebih mereka yang belum perah imunisasi.

Gejala-gejala yang bisa diamati ialah terbentuknya lapisan tipis bewarna abu-abu yang menutupi tengorokan serta amandel. Deman dan menggigil, sakit tenggorokan dan suara rusak, sulit bernafas, pembengkakan kelenjar life pada leher, lemas dan lelah serta cairan yang dikeluarkan kental dan lama-lama bercampur darah.

Indowarta

WASPADALAH..!! Difteri Melanda Indonesia, Jangan Sampai Percikan Ludah Penderita Terhirup

WASPADALAH..!! Difteri Melanda Indonesia, Jangan Sampai Percikan Ludah Penderita Terhirup

RiauJOS.com, Jakarta - Difteri dari tahun ke tahun mulai mewabah dan merenggut banyak korban jiwa. Tercatat dari 1.260 kasus penyakit ini sebanyak 61 jiwa dinyatakan meninggal dunia hanya dalam kurun waktu tiga tahun.

Berdasarkan data Kementerian Kesehatan (Kemses), penyakit difteri sudah menyerang sebanyak 95 Kecamatan/Kota di 20 Provinsi hinga bulan November 2017, atas hal itu, Kemenses berencana melakukan imunisasi ulang atau Out Response Immunitationn (ORI) pada Senin, 11 Desember 2017 di 3 provinsi, yaitu DKI Jakarta, Jawa Barat dan Banten, seperti diwartakan Indowarta.

Ketiga provinsi tersebut dipilih untuk tempat imunisasi ORI karena tingginya jumlah kasus serta kepadatan penduduk. Diketahui, di Indonesia jumlah kasus Difteri meningkat dalam tiga tahun terakhir. Peningkatan terbesar terjadi pada tahun 2017 hingga ditetapkan menjadi Kejadian Luar Biasa (KLB).

Penyakit difteri merupakan infeksi bakteri pada umumnya menyerang selaput lendir pada hidung dan tengorokan, bahkan juga dapat memengaruhi kulit. Penyakit ini dapat menular dan termasuk merupakan infeksi serius yang berpotensi mengancam korban jiwa.

Penyakit ini disebabkan bakteri Corynebacterium dan penyebarannya pun terjadi dengan mudah, terutama mereka yang tidak diberikan vaksi difteri, sedangkan cara penularannya melalui terhirupnya percikan ludah si penderita ketika bersin atau batuk, barang-barang yang terkontaminasi bakteri dan sentuhan langsung pada luka borok akibat difteri di kulit penderita.

Bakteri penyakit ini akan menghasilkan racun sehingga menumbuhkan sel-sel sehat dalam tengorokan sehingga akhirnya menjadi sel mati. Sel yang mati inilah yang nantinya akan membentuk membran atau lapisan tipis abu-abu pada tengorokan. Selain itu racun yang dihasilkan juga berpotensi menyebar ke dalaam darah dan merusak jantung, ginjal serta saraf.

Terkadang Difteri tak menunjukan gejala apapun sehingga penderitanya tidak menyadari jika dirinya terinfeksi. Kalau tidak menjalani pengobatan dengan tepat, penderita berpotensi menularkan penyakit ini kepada orang sekitarnya terlebih mereka yang belum perah imunisasi.

Gejala-gejala yang bisa diamati ialah terbentuknya lapisan tipis bewarna abu-abu yang menutupi tengorokan serta amandel. Deman dan menggigil, sakit tenggorokan dan suara rusak, sulit bernafas, pembengkakan kelenjar life pada leher, lemas dan lelah serta cairan yang dikeluarkan kental dan lama-lama bercampur darah.

Indowarta