Social Items

 Memakan Separuh dari Pendapatan Iklan Dunia, Google-Facebook jadi 'Duopoli' Raja Iklan Digital

RiauJOS.com - Sekitar 84 persen dari total belanja iklan digital dunia pada 2017 mengalir ke Google dan Facebook. Hal itu menjadikan dua perusahaan teknologi itu duopoli di industri iklan digital. Diungkap GroupM, namun persentase ini diluar perhitungan belanja iklan digital di China.

GroupM sendiri merupakan perusahaan agensi iklan terbesar dunia. Penelitian Group M menyebutkan, tahun ini total belanja iklan digital dunia menyentuh angka Rp.1,3 quadriliun (US$100 miliyar).

Tahun depan, diperkirakan pembelian iklan digital naik 4,3 persen sebesar Rp311,8 triliun(US$23 milyar), sehingga total belanja iklan digital 2018 diperkirakan ada diangka Rp.1,6 quadriliun (US$123 miliar).

"Kontribusi terbesar dari nilai total pertumbuhan belanja iklan ini berasal dari dunia digital, yang dimotori Google dan Facebook," ujar Adam Smith yang menjadi futures director dari GroupM.

Dominasi penyerapan iklan digital oleh Google dan Facebook ini hanya menyisakan sedikit untuk iklan bagi media online. Hal ini membuat pendapatan iklan bagi perusahaan media online dan platform digital lainnya semakin tercekik.

"Redaksi media hanya kebagian sedikit dari apa yang sudah dibelanjakan (di Google dan Facebook)," ujar Adam melanjutkan, seperti dikutip Riau JOS dari Financial Times.

Smith khawatir duopoli ini bakal mengurangi keragaman pasar industri iklan digital.

Gelar duopoli ini juga disematkan oleh periset pasar eMarketer. Dalam penelitian yang dilakukan pada pertengahan tahun ini, eMarketer menemukan bahwa Google dan Facebook diperkirakan telah memakan setengah dari pendapatan iklan dunia.

Para pengiklan terikat dengan Google dan Facebook karena keduanya memiliki basis massa yang besar. Selain itu mereka juga menawarkan iklan yang bisa disesuaikan dengan target pasar tertentu.

Meski demikian, dominasi kedua perusahaan ini menimbulkan pertanyaan bagaimana mereka mengelola keuntungan trilunan rupiah itu untuk terus meningkatkan pasar iklan digital?, karena belakangan pasar iklan digital tumbuh tak terlalu agresif.

"Iklan digital akan segera mendekati titik jenuh," ujar Brian Wieser, analis senior di Pivotal Research, seperti dikutip Riau JOS dari Fortune.

WSJ/Financial Times/Fortune/CNN

Perusahaan Media Online Tercekik!! Google-Facebook Memakan Separuh dari Pendapatan Iklan Dunia

 Memakan Separuh dari Pendapatan Iklan Dunia, Google-Facebook jadi 'Duopoli' Raja Iklan Digital

RiauJOS.com - Sekitar 84 persen dari total belanja iklan digital dunia pada 2017 mengalir ke Google dan Facebook. Hal itu menjadikan dua perusahaan teknologi itu duopoli di industri iklan digital. Diungkap GroupM, namun persentase ini diluar perhitungan belanja iklan digital di China.

GroupM sendiri merupakan perusahaan agensi iklan terbesar dunia. Penelitian Group M menyebutkan, tahun ini total belanja iklan digital dunia menyentuh angka Rp.1,3 quadriliun (US$100 miliyar).

Tahun depan, diperkirakan pembelian iklan digital naik 4,3 persen sebesar Rp311,8 triliun(US$23 milyar), sehingga total belanja iklan digital 2018 diperkirakan ada diangka Rp.1,6 quadriliun (US$123 miliar).

"Kontribusi terbesar dari nilai total pertumbuhan belanja iklan ini berasal dari dunia digital, yang dimotori Google dan Facebook," ujar Adam Smith yang menjadi futures director dari GroupM.

Dominasi penyerapan iklan digital oleh Google dan Facebook ini hanya menyisakan sedikit untuk iklan bagi media online. Hal ini membuat pendapatan iklan bagi perusahaan media online dan platform digital lainnya semakin tercekik.

"Redaksi media hanya kebagian sedikit dari apa yang sudah dibelanjakan (di Google dan Facebook)," ujar Adam melanjutkan, seperti dikutip Riau JOS dari Financial Times.

Smith khawatir duopoli ini bakal mengurangi keragaman pasar industri iklan digital.

Gelar duopoli ini juga disematkan oleh periset pasar eMarketer. Dalam penelitian yang dilakukan pada pertengahan tahun ini, eMarketer menemukan bahwa Google dan Facebook diperkirakan telah memakan setengah dari pendapatan iklan dunia.

Para pengiklan terikat dengan Google dan Facebook karena keduanya memiliki basis massa yang besar. Selain itu mereka juga menawarkan iklan yang bisa disesuaikan dengan target pasar tertentu.

Meski demikian, dominasi kedua perusahaan ini menimbulkan pertanyaan bagaimana mereka mengelola keuntungan trilunan rupiah itu untuk terus meningkatkan pasar iklan digital?, karena belakangan pasar iklan digital tumbuh tak terlalu agresif.

"Iklan digital akan segera mendekati titik jenuh," ujar Brian Wieser, analis senior di Pivotal Research, seperti dikutip Riau JOS dari Fortune.

WSJ/Financial Times/Fortune/CNN