ads Biadab! Siswi SMP Diperkosa 21 Pria Bergantian di Tepi Sungai - Riau Jos
Biadab! Siswi SMP Diperkosa 21 Pria Bergantian di Tepi Sungai

RiauJOS.com, Luwu - Seorang Siswi SMP di Luwu, Sulawesi Selatan, jadi korban kebiadaban 21 pria. Korban yang masih belia, berusia 13 tahun diperkosa bergantian di tepi sungai di wilayah Kecamatan Walenrang, Luwu.

Kapolres Luwu AKBP Ahmad Yanuari Ihsan, yang dikonfirmasi detikcom, Senin, 23 Oktober 2017, menyebutkan peristiwa nahas tersebut terjadi pada akhir Juni lalu, namun baru dilaporkan ke polisi pada 11 Oktober lalu. Setelah dilakukan penyelidikan, anggota Polres Luwu berhasil mengamankan 14 pelaku dan masih memburu 7 pelaku lainnya.

Ahmad menyebutkan, korban diketahui hanya tinggal bersama neneknya. Kedua orangtuanya bekerja sebagai Tenaga Kerja Indonesia (TKI).

"Peristiwa itu terjadi di pinggir sungai di salah satu kebun, awalnya pelaku berjumlah 7 orang, lalu pelaku lainnya dipanggil. Peristiwanya terjadi di tiga waktu berbeda dari malam hari berlanjut ke esok harinya. Pelaku memperkosa korban secara bergantian," ujar Ahmad, Senin, 23 Oktober 2017 seperti diwartakan detik.

Para pelaku yang ditangkap berinisial AL (21), DA (18), RE (18), BD (21), UC (30), RA (22) PU (19) dan DA (24). Sementara pelaku yang masih di bawah umur T (15), A (16), I (16), S (15), dan R (15). Salah satu tersangka berusia 13 tahun dipulangkan karena di bawah umur. Para pelaku diancam Pasal 81 UU No 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak dengan ancaman hukuman paling lama 15 tahun penjara.

Ahmad menyebutkan, kasus ini ditangani oleh Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polres Luwu yang bekerja sama dengan Lembaga Perlindungan Perempuan dan Anak (LPPA) Pemkab Luwu.

"Saat ini kami fokus untuk melakukan upaya menghilangkan trauma korban pasca kejadian bersama LPPA Luwu," pungkas Ahmad.

Polri Gandeng Psikolog Tangani Pemerkosaan Siswi SMP


Mabes Polri memberi atensi pada kasus pemerkosaan siswi SMP berusia 13 tahun oleh 21 pemuda di Luwu, Sulawesi Selatan. Mabes Polri akan mengawal kasus tersebut hingga berkas perkara selesai dibuat oleh penyidik Unit Perlindungan Perempuan dan Anak Satreskrim Polres Luwu.

"Sangat diatensi, makanya langsung diringkus semua pelakunya. Dan prosesnya akan melibatkan stakeholder, seperti psikolog, Komnas Anak, dan lain-lain. Juga diatensi untuk penyelesaian berkas perkaranya," kata Karo Penmas Divisi Humas Polri Brigjen Rikwanto, Senin, 23 Oktober 2017 diwartakan detik.

Rikwanto mengatakan polisi telah menjerat para pelaku

Rikwanto mengatakan polisi telah menjerat para pelaku dengan Pasal 81 Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak dengan ancaman pidana penjara maksimal 15 tahun. Namun apakah hukuman untuk para pelaku sesuai dengan pasal yang dikenakan polisi atau tidak, Rikwanto mengatakan hal tersebut tergantung hakim.

"Diproses hukum sesuai pasal yang dituduhkan. Kalau dihukum berapa lama, hakim pengadilan yang memutuskan," ujar Rikwanto.

Dalam kasus ini, polisi telah menangkap 14 orang pelaku, di antaranya ada 6 anak yang berstatus di bawah umur. Penangkapan dilakukan pada Sabtu dini hari, 21 Oktober 2017.

Kasus ini terungkap setelah korban melapor kepada aparat Polsek Walenrang bahwa dirinya pernah disetubuhi sekelompok pemuda sekitar Juni lalu. Korban baru berani melapor pada 11 Oktober 2017.

Korban adalah anak seorang TKI yang tinggal bersama neneknya di Kelurahan Bulo, Desa Saragi, Kecamatan Walenrang, Luwu, Sulawesi Selatan.

21 Pemerkosa Siswi SMP Harus Diberi Sanksi Sosial


Pemerkosaan siswi SMP berusia 13 tahun oleh 21 pemuda di Luwu, Sulawesi Selatan, membuat Komnas Perempuan semakin mendesak pemerintah segera mengesahkan RUU Penghapusan Kekerasan Seksual. Di dalamnya diatur sanksi terhadap pelaku dan perlakuan untuk memulihkan korban.

"Kemudian yang sekarang kita dorong, kehadiran Undang-undang Penghapusan Kekerasan Seksual. Ini adalah salah satu alternatif, terkait bagaimana juga pelindungan untuk korban. Dan pelaku anak ini juga diatur di situ," ujar Komisioner Komnas Perempuan Masruchah, Selasa (24/10/2017).

Masruchah kemudian melontarkan ide soal penjeraan dengan sanksi sosial, yang juga bisa dituangkan dalam undang-undang. "Kalau bicara penjeraan tidak harus dengan cara seperti itu. Ada sanksi sosial misalnya diusir dari wilayah itu, di mana untuk melakukan kerja-kerja sosial, ya harus dijauhkan dari korban. Karena korban ini traumanya luar biasa. Termasuk ada hukuman maksimal, begitu secara panjang tahunnya," tukasnya.

Dalam kasus ini, 14 orang pelaku sudah dibekuk. Ada juga 6 orang pelaku yang sempat ditangkap, namun 6 di antaranya berusia di bawah umur sehingga dilepaskan. Dia mengingatkan anak-anak sebagai pelaku juga tidak bisa begitu saja diganjar hukuman maksimal seperti orang dewasa lainnya. Tentu yang paling cocok bagi mereka adalah rehabilitasi.

"Meskipun kita bicara soal semua ada proses penjeraan, tapi kan kalau usia anak-anak ada rehabilitasi. Jadi artinya harus ada pendidikan untuk anak-anak yang pelaku itu. Karena untuk usia anak-anak ini kan pasti belum bisa mengambil keputusan secara utuh atau atas dirinya. Bisa karena pengaruh, dan seterusnya," kata Masruchah.

Untuk anak yang menjadi korban sendiri tentu harus mendapat dukungan dari orang-orang terdekatnya. Jika keluarganya tidak dapat menyediakan, pemulihan bisa diberikan dari masyarakat di sekitarnya.

"Namanya juga hidup sosial bermasyarakat, sekitarnya itu punya peran untuk melakukan perlindungan. Kalau misalnya korban tidak mendapati pemulihan dari keluarganya, ya sekitarnya yang peran keduanya adalah masyarakat. Meskipun negara punya peran pertama dalam tanggung jawabnya. Tetapi kan negara bisa mendorong hadirnya lembaga-lembaga perlindungan untuk korban di komunitas-komunitas," tutup Masruchah.

Biadab! Siswi SMP Diperkosa 21 Pria Bergantian di Tepi Sungai

GA
Biadab! Siswi SMP Diperkosa 21 Pria Bergantian di Tepi Sungai

RiauJOS.com, Luwu - Seorang Siswi SMP di Luwu, Sulawesi Selatan, jadi korban kebiadaban 21 pria. Korban yang masih belia, berusia 13 tahun diperkosa bergantian di tepi sungai di wilayah Kecamatan Walenrang, Luwu.

Kapolres Luwu AKBP Ahmad Yanuari Ihsan, yang dikonfirmasi detikcom, Senin, 23 Oktober 2017, menyebutkan peristiwa nahas tersebut terjadi pada akhir Juni lalu, namun baru dilaporkan ke polisi pada 11 Oktober lalu. Setelah dilakukan penyelidikan, anggota Polres Luwu berhasil mengamankan 14 pelaku dan masih memburu 7 pelaku lainnya.

Ahmad menyebutkan, korban diketahui hanya tinggal bersama neneknya. Kedua orangtuanya bekerja sebagai Tenaga Kerja Indonesia (TKI).

"Peristiwa itu terjadi di pinggir sungai di salah satu kebun, awalnya pelaku berjumlah 7 orang, lalu pelaku lainnya dipanggil. Peristiwanya terjadi di tiga waktu berbeda dari malam hari berlanjut ke esok harinya. Pelaku memperkosa korban secara bergantian," ujar Ahmad, Senin, 23 Oktober 2017 seperti diwartakan detik.

Para pelaku yang ditangkap berinisial AL (21), DA (18), RE (18), BD (21), UC (30), RA (22) PU (19) dan DA (24). Sementara pelaku yang masih di bawah umur T (15), A (16), I (16), S (15), dan R (15). Salah satu tersangka berusia 13 tahun dipulangkan karena di bawah umur. Para pelaku diancam Pasal 81 UU No 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak dengan ancaman hukuman paling lama 15 tahun penjara.

Ahmad menyebutkan, kasus ini ditangani oleh Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polres Luwu yang bekerja sama dengan Lembaga Perlindungan Perempuan dan Anak (LPPA) Pemkab Luwu.

"Saat ini kami fokus untuk melakukan upaya menghilangkan trauma korban pasca kejadian bersama LPPA Luwu," pungkas Ahmad.

Polri Gandeng Psikolog Tangani Pemerkosaan Siswi SMP


Mabes Polri memberi atensi pada kasus pemerkosaan siswi SMP berusia 13 tahun oleh 21 pemuda di Luwu, Sulawesi Selatan. Mabes Polri akan mengawal kasus tersebut hingga berkas perkara selesai dibuat oleh penyidik Unit Perlindungan Perempuan dan Anak Satreskrim Polres Luwu.

"Sangat diatensi, makanya langsung diringkus semua pelakunya. Dan prosesnya akan melibatkan stakeholder, seperti psikolog, Komnas Anak, dan lain-lain. Juga diatensi untuk penyelesaian berkas perkaranya," kata Karo Penmas Divisi Humas Polri Brigjen Rikwanto, Senin, 23 Oktober 2017 diwartakan detik.

Rikwanto mengatakan polisi telah menjerat para pelaku

Rikwanto mengatakan polisi telah menjerat para pelaku dengan Pasal 81 Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak dengan ancaman pidana penjara maksimal 15 tahun. Namun apakah hukuman untuk para pelaku sesuai dengan pasal yang dikenakan polisi atau tidak, Rikwanto mengatakan hal tersebut tergantung hakim.

"Diproses hukum sesuai pasal yang dituduhkan. Kalau dihukum berapa lama, hakim pengadilan yang memutuskan," ujar Rikwanto.

Dalam kasus ini, polisi telah menangkap 14 orang pelaku, di antaranya ada 6 anak yang berstatus di bawah umur. Penangkapan dilakukan pada Sabtu dini hari, 21 Oktober 2017.

Kasus ini terungkap setelah korban melapor kepada aparat Polsek Walenrang bahwa dirinya pernah disetubuhi sekelompok pemuda sekitar Juni lalu. Korban baru berani melapor pada 11 Oktober 2017.

Korban adalah anak seorang TKI yang tinggal bersama neneknya di Kelurahan Bulo, Desa Saragi, Kecamatan Walenrang, Luwu, Sulawesi Selatan.

21 Pemerkosa Siswi SMP Harus Diberi Sanksi Sosial


Pemerkosaan siswi SMP berusia 13 tahun oleh 21 pemuda di Luwu, Sulawesi Selatan, membuat Komnas Perempuan semakin mendesak pemerintah segera mengesahkan RUU Penghapusan Kekerasan Seksual. Di dalamnya diatur sanksi terhadap pelaku dan perlakuan untuk memulihkan korban.

"Kemudian yang sekarang kita dorong, kehadiran Undang-undang Penghapusan Kekerasan Seksual. Ini adalah salah satu alternatif, terkait bagaimana juga pelindungan untuk korban. Dan pelaku anak ini juga diatur di situ," ujar Komisioner Komnas Perempuan Masruchah, Selasa (24/10/2017).

Masruchah kemudian melontarkan ide soal penjeraan dengan sanksi sosial, yang juga bisa dituangkan dalam undang-undang. "Kalau bicara penjeraan tidak harus dengan cara seperti itu. Ada sanksi sosial misalnya diusir dari wilayah itu, di mana untuk melakukan kerja-kerja sosial, ya harus dijauhkan dari korban. Karena korban ini traumanya luar biasa. Termasuk ada hukuman maksimal, begitu secara panjang tahunnya," tukasnya.

Dalam kasus ini, 14 orang pelaku sudah dibekuk. Ada juga 6 orang pelaku yang sempat ditangkap, namun 6 di antaranya berusia di bawah umur sehingga dilepaskan. Dia mengingatkan anak-anak sebagai pelaku juga tidak bisa begitu saja diganjar hukuman maksimal seperti orang dewasa lainnya. Tentu yang paling cocok bagi mereka adalah rehabilitasi.

"Meskipun kita bicara soal semua ada proses penjeraan, tapi kan kalau usia anak-anak ada rehabilitasi. Jadi artinya harus ada pendidikan untuk anak-anak yang pelaku itu. Karena untuk usia anak-anak ini kan pasti belum bisa mengambil keputusan secara utuh atau atas dirinya. Bisa karena pengaruh, dan seterusnya," kata Masruchah.

Untuk anak yang menjadi korban sendiri tentu harus mendapat dukungan dari orang-orang terdekatnya. Jika keluarganya tidak dapat menyediakan, pemulihan bisa diberikan dari masyarakat di sekitarnya.

"Namanya juga hidup sosial bermasyarakat, sekitarnya itu punya peran untuk melakukan perlindungan. Kalau misalnya korban tidak mendapati pemulihan dari keluarganya, ya sekitarnya yang peran keduanya adalah masyarakat. Meskipun negara punya peran pertama dalam tanggung jawabnya. Tetapi kan negara bisa mendorong hadirnya lembaga-lembaga perlindungan untuk korban di komunitas-komunitas," tutup Masruchah.
GA
Comments
0 Comments