Penampilan Kolaborasi Sumbar Talenta dengan FIM. (Dok. Pribadi)


RiauJOS.com, PADANG - Sumbar Talenta menampilkan karya kolaborasi dengan Forum Indonesia Muda (FIM) dalam rangkaian acara Forum Puisi dan Syair ASEAN 2017 yang diselenggarakan pada tangal 29 - 30 September 2017 di Malaysia. Panggung sastra internasional ini mengangkat tema Perjuangan Bangsa.

Mengisi acara di hari pertama, Sumbar Talenta dan FIM  menampilkan sebuah musikalisasi puisi ‘Truth Without Fear’, sebuah puisi karya sastrawan nasional, Sastri Bakry. Musikalisasi puisi ini vokalnya diaransemen oleh Rifky Satria Jamal, yang lebih pamor dengan nama Rifky Talenta, untuk musiknya diaransemen oleh Gentri. Sumbar Talenta diwakili oleh Rifky Talenta, yang juga adalah alumni FIM16, memimpin delegasi yang beranggotakan anak-anak muda dari FIM; Kurnia Hidayatillah Hayati, Arifah Prima Satria Ningrum dan Kaka Yuni Risky Falia dalam acara akbar tersebut. Penampilan mereka mampu menarik perhatian para penonton.

Puisi ‘Truth Without Fear’ ini sangat cocok dengan tema acara ini, karena berbicara tentang keteguhan jiwa menyuarakan kebenaran tanpa rasa takut memang menjadi landasan dalam setiap baitnya. Penampilan musikalisasi puisi ini, musiknya dikemas  dengan tegas, bernuansa sentuhan tradisi, sehingga  menambah energi tersendiri. Kemasan ini dikonsep dan diramu oleh Gentri.

Penampilan Sumbar Talenta dan FIM berbeda dengan penampilan dari peserta lainnya. Musik yang megah dan puisi yang kuat menambah khidmat persembahan puisi dan syair di Rumah PENA malam itu. Beberapa peserta dari negara lainpun tak sungkan memuji secara langsung penampilan Sumbar Talenta dan FIM.

Suasana malam itu sangat mendebarkan, disaksikan oleh para sastrawan hebat dari berbagai negara membuat kami berusaha menampilkan yang terbaik,” kata Rifky Talenta.

Acara Forum Puisi dan Syair Asean 2017 ini dibuka secara resmi oleh oleh YBhg. Dr. Mohamad Saleeh Rahamad, beliau merupakan Presiden PENA sekaligus pengurus Forum Puisi dan Syair ASEAN 2017. Setelah itu kata sambutan dari Ybrs. En. Mohd Khair Ngadiron, beliau seorang Kurator Sastera @DiverseCity 2017 KLIAF dan ketua Pegawai Eksekutif Institut Terjemahan dan Buku Malaysia ( ITBM). Dalam kesempatan ini juga dilaksanakan peresmian dan peluncuran buku Perjuangan Bangsa dalam Puisioleh Prof. Dato’ Seri Dr. Md Salleh Yaapar.

Para sastrawan se ASEAN berkumpul di gedung Dewan Seminar Dato’ Hassan Ahmad memperbincangkan bagaimana perjuangan bangsa dilihat dari sisi para sastrawan negara masing-masing yang ada pada masa lalu dan masa sekarang. Indonesia diwakili oleh beberapa sastrawan besar, salah satunya Rusli Marzuki Saria yang biasa dipanggil papa. Ada sepuluh negara yang hadir, ini merupakan rekor yang paling banyak ditahun ke tiga acara ini diadakan. Diantara negara-negara tersebut yaitu Indonesia, Malaysia, Laos, Filipina, Myanmar, Singapura, Brunei, Vietnam, Thailand, Kamboja.

Pada hari penutup, Forum Puisi dan Syair ASEAN 2017  masih dalam ranah diskusi dan tanya jawab seputar sejarah dan perjuangan bangsa hingga pukul lima petang. Kami kembali beristirahat untuk mempersiapkan diri untuk persembahan pada malam terakhir digedung Auditorium Dewan Bahasa dan Pustaka. Persembahan yang sangat memukau dari para mahasiswa dan penyair Malaysia. Konsep dan penyajian yang begitu apik membuat para penonton terkesima. Alunan nada yang sangat kental dengan nuansa melayu tak menutup keragaman berbagai negara yang hadir. Dalam satu kesempatan awal para perwakilan negara berkesempatan untuk membaca puisi dihadapan para undangan. Apresiasi dan haru tercipta saat berbagai bahasa dan budaya berada dalam satu panggung untuk mempersembahkan sebuah karya yang menjujung tinggi perdamaian negara masing-masing.

Sangat banyak pengalaman dan pelajaran baru yang Zel dapatkan pada moment kali ini. Bertemu dengan para penyair dari berbagai negara ASEAN, bisa berbincang langsung dengan para sastrawan hebat dari masing-masing negara. Menerima banyak ilmu dan masukan guna belajar lebih dalam lagi makna puisi dan syair. Kami berharap akan banyak lagi kesempatan untuk belajar dimana saja dan kapan saja. Selagi ada kemauan dan usaha, pasti ada jalan.

(Ditulis oleh Rifky Satria Jamal)

Kolaborasi Sumbar Talenta dan FIM di Forum Puisi dan Syair ASEAN 2017 Mengagumkan

Penampilan Kolaborasi Sumbar Talenta dengan FIM. (Dok. Pribadi)


RiauJOS.com, PADANG - Sumbar Talenta menampilkan karya kolaborasi dengan Forum Indonesia Muda (FIM) dalam rangkaian acara Forum Puisi dan Syair ASEAN 2017 yang diselenggarakan pada tangal 29 - 30 September 2017 di Malaysia. Panggung sastra internasional ini mengangkat tema Perjuangan Bangsa.

Mengisi acara di hari pertama, Sumbar Talenta dan FIM  menampilkan sebuah musikalisasi puisi ‘Truth Without Fear’, sebuah puisi karya sastrawan nasional, Sastri Bakry. Musikalisasi puisi ini vokalnya diaransemen oleh Rifky Satria Jamal, yang lebih pamor dengan nama Rifky Talenta, untuk musiknya diaransemen oleh Gentri. Sumbar Talenta diwakili oleh Rifky Talenta, yang juga adalah alumni FIM16, memimpin delegasi yang beranggotakan anak-anak muda dari FIM; Kurnia Hidayatillah Hayati, Arifah Prima Satria Ningrum dan Kaka Yuni Risky Falia dalam acara akbar tersebut. Penampilan mereka mampu menarik perhatian para penonton.

Puisi ‘Truth Without Fear’ ini sangat cocok dengan tema acara ini, karena berbicara tentang keteguhan jiwa menyuarakan kebenaran tanpa rasa takut memang menjadi landasan dalam setiap baitnya. Penampilan musikalisasi puisi ini, musiknya dikemas  dengan tegas, bernuansa sentuhan tradisi, sehingga  menambah energi tersendiri. Kemasan ini dikonsep dan diramu oleh Gentri.

Penampilan Sumbar Talenta dan FIM berbeda dengan penampilan dari peserta lainnya. Musik yang megah dan puisi yang kuat menambah khidmat persembahan puisi dan syair di Rumah PENA malam itu. Beberapa peserta dari negara lainpun tak sungkan memuji secara langsung penampilan Sumbar Talenta dan FIM.

Suasana malam itu sangat mendebarkan, disaksikan oleh para sastrawan hebat dari berbagai negara membuat kami berusaha menampilkan yang terbaik,” kata Rifky Talenta.

Acara Forum Puisi dan Syair Asean 2017 ini dibuka secara resmi oleh oleh YBhg. Dr. Mohamad Saleeh Rahamad, beliau merupakan Presiden PENA sekaligus pengurus Forum Puisi dan Syair ASEAN 2017. Setelah itu kata sambutan dari Ybrs. En. Mohd Khair Ngadiron, beliau seorang Kurator Sastera @DiverseCity 2017 KLIAF dan ketua Pegawai Eksekutif Institut Terjemahan dan Buku Malaysia ( ITBM). Dalam kesempatan ini juga dilaksanakan peresmian dan peluncuran buku Perjuangan Bangsa dalam Puisioleh Prof. Dato’ Seri Dr. Md Salleh Yaapar.

Para sastrawan se ASEAN berkumpul di gedung Dewan Seminar Dato’ Hassan Ahmad memperbincangkan bagaimana perjuangan bangsa dilihat dari sisi para sastrawan negara masing-masing yang ada pada masa lalu dan masa sekarang. Indonesia diwakili oleh beberapa sastrawan besar, salah satunya Rusli Marzuki Saria yang biasa dipanggil papa. Ada sepuluh negara yang hadir, ini merupakan rekor yang paling banyak ditahun ke tiga acara ini diadakan. Diantara negara-negara tersebut yaitu Indonesia, Malaysia, Laos, Filipina, Myanmar, Singapura, Brunei, Vietnam, Thailand, Kamboja.

Pada hari penutup, Forum Puisi dan Syair ASEAN 2017  masih dalam ranah diskusi dan tanya jawab seputar sejarah dan perjuangan bangsa hingga pukul lima petang. Kami kembali beristirahat untuk mempersiapkan diri untuk persembahan pada malam terakhir digedung Auditorium Dewan Bahasa dan Pustaka. Persembahan yang sangat memukau dari para mahasiswa dan penyair Malaysia. Konsep dan penyajian yang begitu apik membuat para penonton terkesima. Alunan nada yang sangat kental dengan nuansa melayu tak menutup keragaman berbagai negara yang hadir. Dalam satu kesempatan awal para perwakilan negara berkesempatan untuk membaca puisi dihadapan para undangan. Apresiasi dan haru tercipta saat berbagai bahasa dan budaya berada dalam satu panggung untuk mempersembahkan sebuah karya yang menjujung tinggi perdamaian negara masing-masing.

Sangat banyak pengalaman dan pelajaran baru yang Zel dapatkan pada moment kali ini. Bertemu dengan para penyair dari berbagai negara ASEAN, bisa berbincang langsung dengan para sastrawan hebat dari masing-masing negara. Menerima banyak ilmu dan masukan guna belajar lebih dalam lagi makna puisi dan syair. Kami berharap akan banyak lagi kesempatan untuk belajar dimana saja dan kapan saja. Selagi ada kemauan dan usaha, pasti ada jalan.

(Ditulis oleh Rifky Satria Jamal)