ads Soal Negara Boleh Tak Ada Tentara, Ini Klarifikasi Kapolda Riau - Riau Jos

RiauJOS.com, Pekanbaru - Kepala Kepolisian Daerah (Kapolda) Riau Irjen Pol Nandang mengklarifikasi berita yang diterbitkan oleh sebuah media online di Riau yang kini jadi bahan perbincangan dan viral.

‎Berita tersebut dimuat oleh Wahanariau[dot]com yang diwartakan Jumat, 20 Oktober 2017, dengan judul berita "Kapolda Riau: Negara Boleh Tak Ada Tentara, Tapi Polisi Harus Ada".

Berita itu dimuat setelah acara Silaturahmi Kapolda Riau bersama Pemred dan Wartawan Mitra Kepolisian yang digelar Rabu malam, 18 Oktober 2017 di salah satu restoran ternama di Pekanbaru.

"Isi berita itu tidak seperti yang sebenarnya. Saya waktu itu menjelaskan peran penting Media dalam tugas TNI dan Polri. Harusnya di muat dari awal sambutan saya, jangan sepenggal-sepenggal," ungkap Nandang kepada wartawan, Minggu malam, 22 Oktober 17 dikutip Riau JOS dari laman Halo Riau.

Kata Nandang, Awalnya ia menjelaskan bahwa Polri dan TNI harus bersinergi dengan empat pilar, istilah yang dibuat.

"Paling pokok, bagaimana bersinergi dengan empat Pilar. Polri, TNI, Pemda dan Pranata Sosial. Agar tujuan nasional berupa wawasan nusantara, ketahanan nasional, pembangunan, penegakan ham dan hukum, dapat tercapai. Keempat pilar ini berkontribusi dan bersinergi termasuk dengan dengan media," kata Nandang.

Nandang mengungkapkan, ‎sinergi itu tujuannya termasuk untuk pengelolaan Keamanan dan Ketertiban Masyarakat (Kamtibmas). Menurutnya, keberadaan Bhayangkara Pembina Kamtibmas‎ (Bhabinkamtibmas) Polri, perlu disiapkan dengan baik untuk tujuan itu.

"Saat acara dengan wartawan itu saya sampaikan bahwa pagi sebelum acara itu saya baru mengumpulkan ratusan Bhabinkamtibmas. Saya rasa perlu saya sampaikan itu di depan wartawan," kata Nandang.

Kepada Bhabinkamtibmas, pagi itu, Nandang menyampaikan empat pilar tadi. Dan hal itu diulangnya kembali saat di hadapan wartawan.

Kemudian Nandang menyebutkan, ‎contohnya, untuk menertibkan arus lalu lintas, menjaga hubungan antar masyarakat, keberadaan Bhabinkamtibmas sangat diperlukan.

"Ketika saya sebut TNI itu, bukan dalam konteks untuk penting atau tidak penting, tapi dalam konteks menguatkan Bhabinkamtibmas. Karena tugasnya masing-masing beda. Justru saya menyampaikan kepada Bhabin bahwa TNI itu mitra paling dekat. Jadi tak seperti yang diberitakan itu," lanjut Nandang.

Akibat informasi yang beredar ini, Nandang pun menyatakan memoho‎n maaf kepada masyarakat dan pihak-pihak yang membaca dan mendengar berita yang menurutnya tak benar itu.

"Saya hanya memberikan gambaran di negara-negara tertentu bukan di Republik ini. ‎Itu ilustrasi untuk sinergitas TNI-Polri, jangan di analogkan. Harusnya secara utuh dicermati sambutan saya. Bahkan, saya meminta media untuk mencerdaskan, demokratis dan tidak memprovokasi," lanjutnya.

Ditempat yang sama, Kabid Humas Polda Riau Kombes Pol Guntur Aryo Tejo, menyebutkan, media yang bersangkutan tidak tercatat hadir dalam absensi wartawan yang hadir saat acara Ramah Tamah Kapolda Riau.

"Ada puluhan wartawan baik lokal dan nasional serta beberapa Pemred media hadir ketika itu. Tak satupun ada yang memberitakan itu karena Bapak Kapolda menyampaikan konteks yang normatif. Kalau ada pernyataan ‎yang tendensius, saya rasa wartawan yang hadir pada hari itu pasti akan memuat ketika itu juga," kata Guntur.

Setelah di pantau, lanjut Guntur, media itu malah memuat berita itu pada hari Jumat, dua hari kemudian. Kemudian, ternyata media itu mengutip dari sumber lain yang tidak memuat seperti judul itu.

"Bahkan, hasil monitoring kita sore tadi sekitar pukul 18.00 wib. Berita di media itu telah dihapus oleh media itu sendiri. Dan, sudah kita cek, media itu tidak terdaftar di dewan pers," jelas Guntur.

Berita di media itu telah dihapus oleh media itu sendiri

Guntur menambahkan, pihaknya sangat menyayangkan adanya aksi penggiat media yang memuat berita memprovokasi itu. Namun sejauh ini, pihaknya baru sebatas mengklarifikasi berita itu.

"Upaya hukum belum, kita klarifikasi dulu agar masyarakat dan mitra kita dapat penjelasan yang sebenarnya. Hoax itu!," tutup Guntur.

Sebelumnya, judul berita yang dimuat media tersebut jadi perguncingan di media sosial. Dari screenshot media tersebut sebelum dihapus, berita itu telah dibaca sebanyak 60.812‎ kali.

Dalam acara tersebut turut dihadiri para wartawan media online dan cetak, serta pimpinan redaksi (Pimred), dan hadir juga (Kabinda) Kepala Badan Intelijen Negara Daerah Riau.

Berita Sumber wahanariau[dot]com

Penelusuran Riau JOS, Minggu malam, 22 Oktober 2017, netizen masih gencar membagikan berita yang bersumaber dari wahanariau[dot]com, meskipun Kapolda Riau sudah mengklarifikasi bahwa berita tersebut tidaklah benar.

Akun Facebook, Rosilawati salah satu diantara netizen yang membagikan kabar "mleset" tersebut", bahkan sudah dibagikan sebanyak 177 kali, dan mendapatkan respon 48 emotikon, dengan satu komentar, dari dia sendiri (Rosilawati) di grup Facebook, Damai Itu Indah (DII).


Sementara, pada postingan Rosilawati, mengcopas seluruh berita yang diterbitkan wahanariau[dot]com pada postingan statusnya di grup Facebook DII, berikut isi berita selengkapnya yang diposting Rosilawati sekitar 4 jam yang lalu sejak warta ini diketik pada pukul 22.25 WIB, Minggu malam ini.

Kapolda Riau: Negara Boleh Tak Ada Tentara, Tapi Polisi Harus Ada

Bidang Hubungan Masyarakat Kepolisian Daerah Riau menggelar temu ramah wartawan dan pimpinan redaksi dengan Kepala Polda Riau, Irjen Pol Nandang dan sejumlah pejabat utama lainnya, Rabu (18/10/2017) malam di Apollo, Pekanbaru.

Kapolda dalam sambutannya, dilansir Antarariau menyampaikan bahwa media memiliki tiga fungsi. Pertama yakni sebagai fungsi pengawasan internal bagi kepolisian. Kedua menjadi corong kepolisian sehingga yang diberitakan tidak hanya kekurangan, tapi juga hal positif lainnya disampaikan ke masyarakat.

"Memang masih ada kurang Polda Riau, saya komitmen untuk senantiasa meningkatkan kualitas dan pelayanan publik dan penyelesaian perkara yang dilaporkan," ungkap kapolda.

Fungsi ketiga media, lanjutnya adalah sebagai sarana peningkatan sumber daya manusia Masyarakat Riau. Dikatakannya tingkat kritis masyarakat sudah meningkat tapi banyak juga yang melabrak berbagai ketentuan.

"Kami siap dikoreksi dan diberi saran kebaikan bersama. Polri jelek, masyarakat juga jelek, itu kesatuan yang tak bisa dipisahkan. Mari benahi dan saya senang diberi saran," ujarnya.
"Negara boleh tak ada tentara, tapi polisi harus ada. Karena dalam keadaan aman pun masih dibutuhkan Polisi di Indonesia ini karena bisa melayani semuanya, segala macam diurus, beda dengan negara lain," tambahnya.

Sementara itu, perwakilan media, Yuki Chandra menyampaikan bahwa dalam pemberitaan perlu konfirmasi pada jam-jam tertentu dari narasumber. Dengan silaturahmi ini dia berharap agar kemitraan ini memberikan keberimbangan sehingga tidak ada yang dirugikan dalam kerjasama ke depan.

"Selama ini ada Kabid Humas Kombes Pol Guntur Aryo Tejo yang senantiasa 24 jam melayani kita. Seluruh media disambut kabid humas, di Riau ini ada 180 media online, 18 cetak, tujuh televisi. Semoga ditingkatkan lagi sinerginya," ulasnya.

Dalam kesempatan itu, kegiatan selain makan siang juga bernyanyi bersama yang menampilkan wartawan, Kapolda dan pejabat utama lainnya. Acara ditutup dengan foto bersama yang penuh keakraban.

Kapolda Riau: Negara Boleh Tak Ada Tentara, Tapi Polisi Harus Ada

Kapolda Riau: Negara Boleh Tak Ada Tentara, Tapi Polisi Harus Ada

Kapolda Riau: Negara Boleh Tak Ada Tentara, Tapi Polisi Harus Ada

Kapolda Riau: Negara Boleh Tak Ada Tentara, Tapi Polisi Harus Ada

Soal Negara Boleh Tak Ada Tentara, Ini Klarifikasi Kapolda Riau

GA

RiauJOS.com, Pekanbaru - Kepala Kepolisian Daerah (Kapolda) Riau Irjen Pol Nandang mengklarifikasi berita yang diterbitkan oleh sebuah media online di Riau yang kini jadi bahan perbincangan dan viral.

‎Berita tersebut dimuat oleh Wahanariau[dot]com yang diwartakan Jumat, 20 Oktober 2017, dengan judul berita "Kapolda Riau: Negara Boleh Tak Ada Tentara, Tapi Polisi Harus Ada".

Berita itu dimuat setelah acara Silaturahmi Kapolda Riau bersama Pemred dan Wartawan Mitra Kepolisian yang digelar Rabu malam, 18 Oktober 2017 di salah satu restoran ternama di Pekanbaru.

"Isi berita itu tidak seperti yang sebenarnya. Saya waktu itu menjelaskan peran penting Media dalam tugas TNI dan Polri. Harusnya di muat dari awal sambutan saya, jangan sepenggal-sepenggal," ungkap Nandang kepada wartawan, Minggu malam, 22 Oktober 17 dikutip Riau JOS dari laman Halo Riau.

Kata Nandang, Awalnya ia menjelaskan bahwa Polri dan TNI harus bersinergi dengan empat pilar, istilah yang dibuat.

"Paling pokok, bagaimana bersinergi dengan empat Pilar. Polri, TNI, Pemda dan Pranata Sosial. Agar tujuan nasional berupa wawasan nusantara, ketahanan nasional, pembangunan, penegakan ham dan hukum, dapat tercapai. Keempat pilar ini berkontribusi dan bersinergi termasuk dengan dengan media," kata Nandang.

Nandang mengungkapkan, ‎sinergi itu tujuannya termasuk untuk pengelolaan Keamanan dan Ketertiban Masyarakat (Kamtibmas). Menurutnya, keberadaan Bhayangkara Pembina Kamtibmas‎ (Bhabinkamtibmas) Polri, perlu disiapkan dengan baik untuk tujuan itu.

"Saat acara dengan wartawan itu saya sampaikan bahwa pagi sebelum acara itu saya baru mengumpulkan ratusan Bhabinkamtibmas. Saya rasa perlu saya sampaikan itu di depan wartawan," kata Nandang.

Kepada Bhabinkamtibmas, pagi itu, Nandang menyampaikan empat pilar tadi. Dan hal itu diulangnya kembali saat di hadapan wartawan.

Kemudian Nandang menyebutkan, ‎contohnya, untuk menertibkan arus lalu lintas, menjaga hubungan antar masyarakat, keberadaan Bhabinkamtibmas sangat diperlukan.

"Ketika saya sebut TNI itu, bukan dalam konteks untuk penting atau tidak penting, tapi dalam konteks menguatkan Bhabinkamtibmas. Karena tugasnya masing-masing beda. Justru saya menyampaikan kepada Bhabin bahwa TNI itu mitra paling dekat. Jadi tak seperti yang diberitakan itu," lanjut Nandang.

Akibat informasi yang beredar ini, Nandang pun menyatakan memoho‎n maaf kepada masyarakat dan pihak-pihak yang membaca dan mendengar berita yang menurutnya tak benar itu.

"Saya hanya memberikan gambaran di negara-negara tertentu bukan di Republik ini. ‎Itu ilustrasi untuk sinergitas TNI-Polri, jangan di analogkan. Harusnya secara utuh dicermati sambutan saya. Bahkan, saya meminta media untuk mencerdaskan, demokratis dan tidak memprovokasi," lanjutnya.

Ditempat yang sama, Kabid Humas Polda Riau Kombes Pol Guntur Aryo Tejo, menyebutkan, media yang bersangkutan tidak tercatat hadir dalam absensi wartawan yang hadir saat acara Ramah Tamah Kapolda Riau.

"Ada puluhan wartawan baik lokal dan nasional serta beberapa Pemred media hadir ketika itu. Tak satupun ada yang memberitakan itu karena Bapak Kapolda menyampaikan konteks yang normatif. Kalau ada pernyataan ‎yang tendensius, saya rasa wartawan yang hadir pada hari itu pasti akan memuat ketika itu juga," kata Guntur.

Setelah di pantau, lanjut Guntur, media itu malah memuat berita itu pada hari Jumat, dua hari kemudian. Kemudian, ternyata media itu mengutip dari sumber lain yang tidak memuat seperti judul itu.

"Bahkan, hasil monitoring kita sore tadi sekitar pukul 18.00 wib. Berita di media itu telah dihapus oleh media itu sendiri. Dan, sudah kita cek, media itu tidak terdaftar di dewan pers," jelas Guntur.

Berita di media itu telah dihapus oleh media itu sendiri

Guntur menambahkan, pihaknya sangat menyayangkan adanya aksi penggiat media yang memuat berita memprovokasi itu. Namun sejauh ini, pihaknya baru sebatas mengklarifikasi berita itu.

"Upaya hukum belum, kita klarifikasi dulu agar masyarakat dan mitra kita dapat penjelasan yang sebenarnya. Hoax itu!," tutup Guntur.

Sebelumnya, judul berita yang dimuat media tersebut jadi perguncingan di media sosial. Dari screenshot media tersebut sebelum dihapus, berita itu telah dibaca sebanyak 60.812‎ kali.

Dalam acara tersebut turut dihadiri para wartawan media online dan cetak, serta pimpinan redaksi (Pimred), dan hadir juga (Kabinda) Kepala Badan Intelijen Negara Daerah Riau.

Berita Sumber wahanariau[dot]com

Penelusuran Riau JOS, Minggu malam, 22 Oktober 2017, netizen masih gencar membagikan berita yang bersumaber dari wahanariau[dot]com, meskipun Kapolda Riau sudah mengklarifikasi bahwa berita tersebut tidaklah benar.

Akun Facebook, Rosilawati salah satu diantara netizen yang membagikan kabar "mleset" tersebut", bahkan sudah dibagikan sebanyak 177 kali, dan mendapatkan respon 48 emotikon, dengan satu komentar, dari dia sendiri (Rosilawati) di grup Facebook, Damai Itu Indah (DII).


Sementara, pada postingan Rosilawati, mengcopas seluruh berita yang diterbitkan wahanariau[dot]com pada postingan statusnya di grup Facebook DII, berikut isi berita selengkapnya yang diposting Rosilawati sekitar 4 jam yang lalu sejak warta ini diketik pada pukul 22.25 WIB, Minggu malam ini.

Kapolda Riau: Negara Boleh Tak Ada Tentara, Tapi Polisi Harus Ada

Bidang Hubungan Masyarakat Kepolisian Daerah Riau menggelar temu ramah wartawan dan pimpinan redaksi dengan Kepala Polda Riau, Irjen Pol Nandang dan sejumlah pejabat utama lainnya, Rabu (18/10/2017) malam di Apollo, Pekanbaru.

Kapolda dalam sambutannya, dilansir Antarariau menyampaikan bahwa media memiliki tiga fungsi. Pertama yakni sebagai fungsi pengawasan internal bagi kepolisian. Kedua menjadi corong kepolisian sehingga yang diberitakan tidak hanya kekurangan, tapi juga hal positif lainnya disampaikan ke masyarakat.

"Memang masih ada kurang Polda Riau, saya komitmen untuk senantiasa meningkatkan kualitas dan pelayanan publik dan penyelesaian perkara yang dilaporkan," ungkap kapolda.

Fungsi ketiga media, lanjutnya adalah sebagai sarana peningkatan sumber daya manusia Masyarakat Riau. Dikatakannya tingkat kritis masyarakat sudah meningkat tapi banyak juga yang melabrak berbagai ketentuan.

"Kami siap dikoreksi dan diberi saran kebaikan bersama. Polri jelek, masyarakat juga jelek, itu kesatuan yang tak bisa dipisahkan. Mari benahi dan saya senang diberi saran," ujarnya.
"Negara boleh tak ada tentara, tapi polisi harus ada. Karena dalam keadaan aman pun masih dibutuhkan Polisi di Indonesia ini karena bisa melayani semuanya, segala macam diurus, beda dengan negara lain," tambahnya.

Sementara itu, perwakilan media, Yuki Chandra menyampaikan bahwa dalam pemberitaan perlu konfirmasi pada jam-jam tertentu dari narasumber. Dengan silaturahmi ini dia berharap agar kemitraan ini memberikan keberimbangan sehingga tidak ada yang dirugikan dalam kerjasama ke depan.

"Selama ini ada Kabid Humas Kombes Pol Guntur Aryo Tejo yang senantiasa 24 jam melayani kita. Seluruh media disambut kabid humas, di Riau ini ada 180 media online, 18 cetak, tujuh televisi. Semoga ditingkatkan lagi sinerginya," ulasnya.

Dalam kesempatan itu, kegiatan selain makan siang juga bernyanyi bersama yang menampilkan wartawan, Kapolda dan pejabat utama lainnya. Acara ditutup dengan foto bersama yang penuh keakraban.

Kapolda Riau: Negara Boleh Tak Ada Tentara, Tapi Polisi Harus Ada

Kapolda Riau: Negara Boleh Tak Ada Tentara, Tapi Polisi Harus Ada

Kapolda Riau: Negara Boleh Tak Ada Tentara, Tapi Polisi Harus Ada

Kapolda Riau: Negara Boleh Tak Ada Tentara, Tapi Polisi Harus Ada

GA
Comments
0 Comments