Sri Lanka Hancur Terlilit Utang Komunis Cina

RiauJOS.com, Sri Lanka - Sri Lanka sedang mengalami kemunduran ekonomi yang sangat serius. Setelah terlilit hutang yang sangat parah, tanpa ada kejelasan soal kesanggupan untuk membayar hutang-hutannya.

Kondisi itu terjadi setelah terjadi kesepakatan senilai 1,1 triliun dolar AS untuk membiarkan BUMN Cina mengambil alih pelabuhan di negara tersebut.

Wakil Presiden Eksekutif Cina, Merchants Hu Jianhua, terlihat lebih memahami nilai strategis geopolitik Sri Lanka daripada para pemimpinnya sendiri.

Hu Jianhua mengatakan, Pelabuhan Hambantota akan menjadi pintu gerbang bagi Cina untuk memperluas jangkauan pasar di Asia Selatan dan Afrika.

Melalui manuver tersebut, Cina saat ini sedang melakukan kontra manuver terhadap apa yang pernah dilakukan Inggris berabad-abad silam ketika menjajah India, Pakistan, Sri Lanka dan Myanmar.

Negeri-negeri yang membentang antara Asia Tenggara dan Asia Selatan itu, dalam pandangan pakar geopolitik Harold McKinder merupakan Outer Island, yang meripakan pancangan kaki bagi Inggris untuk menguasai Asia dan Afrika.

Bagi Inggris, dan juga Cina, menguasai Pelabuhan Hambantota bukan sekadar untuk mmperluas jangkaian pasar. Namun, juga menguasai geostrategi/geoposisi dari dari negara-negara di kawasan Asia Selatan dan Asia Tenggara.

Apalagi Inggris sewaktu menjajah negara-negara di kedua kawasan ini, selalu mencari wilayah yang cukup strategis untuk membangun pelabuhan dan bandara, karena melalui pelabuhan dapat dibangun hub atau pusat penghubung dari satu wilayah ke wilayah lainnya.

Naas, Sri Lanka kini kondisi ekonominya cukup parah, dan sangat tergantung pada bantuan luar negeri, terutama utang, sehingga sejak beberapa waktu lalu, Pemerintah Srilanka sudah mengisyaratkan kemungkinan penjualan aset milik pemerintah kepada swasta asing. Mengingat kondisi ekonomi Sri Lanka saat ini yang tidak memiliki kemampuan untuk membayar utangnya kepada Cina.

Pemerintah Cina sangat menghayati falsafah ahli stategi perang Sun Tzu berabad-abad silam. ”Mendapatkan seratus kemenangan dari seratus pertempuran bukanlah puncak kecakapan. Menaklukkan musuh tanpa bertempur adalah sebenarnya puncak kecakapan.”

Menaklukkan sebuah bangsa melalui sarana ekonomi, nampaknya merupakan modus operandi Cina yang diterapkan di berapa kawasan seperti Afrika, dan sekarang di Asia Selatan. Sri Lanka.

radarsejagad/eramuslim

Sri Lanka Hancur Terlilit Utang Komunis Cina

Sri Lanka Hancur Terlilit Utang Komunis Cina

RiauJOS.com, Sri Lanka - Sri Lanka sedang mengalami kemunduran ekonomi yang sangat serius. Setelah terlilit hutang yang sangat parah, tanpa ada kejelasan soal kesanggupan untuk membayar hutang-hutannya.

Kondisi itu terjadi setelah terjadi kesepakatan senilai 1,1 triliun dolar AS untuk membiarkan BUMN Cina mengambil alih pelabuhan di negara tersebut.

Wakil Presiden Eksekutif Cina, Merchants Hu Jianhua, terlihat lebih memahami nilai strategis geopolitik Sri Lanka daripada para pemimpinnya sendiri.

Hu Jianhua mengatakan, Pelabuhan Hambantota akan menjadi pintu gerbang bagi Cina untuk memperluas jangkauan pasar di Asia Selatan dan Afrika.

Melalui manuver tersebut, Cina saat ini sedang melakukan kontra manuver terhadap apa yang pernah dilakukan Inggris berabad-abad silam ketika menjajah India, Pakistan, Sri Lanka dan Myanmar.

Negeri-negeri yang membentang antara Asia Tenggara dan Asia Selatan itu, dalam pandangan pakar geopolitik Harold McKinder merupakan Outer Island, yang meripakan pancangan kaki bagi Inggris untuk menguasai Asia dan Afrika.

Bagi Inggris, dan juga Cina, menguasai Pelabuhan Hambantota bukan sekadar untuk mmperluas jangkaian pasar. Namun, juga menguasai geostrategi/geoposisi dari dari negara-negara di kawasan Asia Selatan dan Asia Tenggara.

Apalagi Inggris sewaktu menjajah negara-negara di kedua kawasan ini, selalu mencari wilayah yang cukup strategis untuk membangun pelabuhan dan bandara, karena melalui pelabuhan dapat dibangun hub atau pusat penghubung dari satu wilayah ke wilayah lainnya.

Naas, Sri Lanka kini kondisi ekonominya cukup parah, dan sangat tergantung pada bantuan luar negeri, terutama utang, sehingga sejak beberapa waktu lalu, Pemerintah Srilanka sudah mengisyaratkan kemungkinan penjualan aset milik pemerintah kepada swasta asing. Mengingat kondisi ekonomi Sri Lanka saat ini yang tidak memiliki kemampuan untuk membayar utangnya kepada Cina.

Pemerintah Cina sangat menghayati falsafah ahli stategi perang Sun Tzu berabad-abad silam. ”Mendapatkan seratus kemenangan dari seratus pertempuran bukanlah puncak kecakapan. Menaklukkan musuh tanpa bertempur adalah sebenarnya puncak kecakapan.”

Menaklukkan sebuah bangsa melalui sarana ekonomi, nampaknya merupakan modus operandi Cina yang diterapkan di berapa kawasan seperti Afrika, dan sekarang di Asia Selatan. Sri Lanka.

radarsejagad/eramuslim