Kondisi Terkini Pengungsi Rohingya di Bangladesh, Kamp-Kamp Darurat Dibayangi Kekacauan

RiauJOS.com, Myanmar - Potensi kekacauan membayangi kamp pengungsi Rohingya di Bangladesh yang terus menerima aliran masuk warga Muslim Rohingya dari Rakhine State, Myanmar. Hampir 400.000 pengungsi Rohingya saat ini berada di lokasi sepanjang 20 kilometer antara Shah Pori Dwip ke Cox's Bazar, yakni desa-desa yang dijadikan kamp-kamp pengungsi, termasuk kamp pengungsi Kutupalong.

Luberan para pengungsi Rohingya terus meningkat dan diperkirakan sampai akhir tahun 2017 mencapai 1 juta orang. Dalam situasi saat ini saja, Bangladesh berjuang untuk mengatasi banyaknya pengungsi tersebut.

Di pusat-pusat kota desa, kekacauan terjadi saat pengungsi baru berdatangan lalu bergegas membeli lembaran plastik dan batang-batang bambu untuk tenda-tenda mereka. Jalur tersebut secara konstan dipenuhi pergerakan orang-orang yang keluar masuk ke wilayah tersebut.

Pemerintah Bangladesh telah menyisihkan 1.500 hektar tanah sebagai rumah bagi para pengungsi Rohingya, namun ada keraguan apakah lahan itu cukup. Satu-satunya jalan ke desa-desa pengungsi itu hanya berupa jalan kecil. Kondisi itu mempersulit datangnya truk-truk bantuan kemanusiaan.

Setiap kali truk berhenti di sisi jalan, luapan orang langsung mengerumuni untuk meminta barang-barang yang datang. Sejauh ini, belum ada tanda bantuan internasional di kamp-kamp darurat ini. 

Menurut sejumlah lembaga swadaya masyarakat (LSM), bantuan kemanusiaan membutuhkan waktu untuk tiba di kamp-kamp tersebut.

Lindungi Kuil

Sementara itu, otoritas Bangladesh, Jumat, mengerahkan ratusan polisi untuk melindungi kuil-kuil Buddha di kawasan dimana sekitar 400.000 warga Muslim Rohingya tinggal di kamp-kamp pengungsian. Langkah itu dilakukan karena kekhawatiran serangan kepada minoritas agama sebagai aksi balasan dari situasi pengungsi Rohingya di Myanmar.

Ribuan pendukung dari kelompok garis keras Islam menggelar aksi protes di kota perbatasan di Cox's Bazar setelah sholat Jumat, pada 15 September 2017. Mereka menyebut Myanmar melakukan genosida kepada warga Rohingya.

Sebagian besar pengungsi Rohingya telah melarikan diri ke kamp-kamp di sekitar perbatasan Bangladesh dimana sudah tinggal 300.000 warga Rohingya sebelum kekerasan terakhir terjadi pada 25 Agustus lalu.

Kepala polisi di Cox's Bazar, Iqbal Hossain, mengatakan 550 polisi telah dikerahkan ke kawasan tersebut termasuk ke 145 kuil-kuil Buddha untuk mencegah kekerasan. Polisi juga meningkatkan keamanan kepada penduduk setempat yang beragama Buddha, serta meminta agar mereka tidak panik dengan kedatangan pengungsi.

“Ini adalah tindakan pencegahan. Kami juga membangun pos-pos pemeriksaan di sepanjang distrik,” katanya.

Bantuan juga datang ke kota pelabuhan Chittagong untuk mengawasi kuil-kuil, termasuk kuil berusia 300 tahun Kendriya Shima Bihar di Ramu, yang menampung peninggalan penting Buddha. 

Polisi juga berpatroli di luar kuil-kuil Buddha di Ukia dan Teknaf, kota-kota terdekat dimana sebagian besar dari kedatangan baru pengungsi Rohingya. Otoritas distrik juga membangun komite masyarakat harmoni sejak krisis Rohingya terjadi.

Kondisi Terkini Pengungsi Rohingya di Bangladesh, Kamp-Kamp Darurat Dibayangi Kekacauan

Kondisi Terkini Pengungsi Rohingya di Bangladesh, Kamp-Kamp Darurat Dibayangi Kekacauan

RiauJOS.com, Myanmar - Potensi kekacauan membayangi kamp pengungsi Rohingya di Bangladesh yang terus menerima aliran masuk warga Muslim Rohingya dari Rakhine State, Myanmar. Hampir 400.000 pengungsi Rohingya saat ini berada di lokasi sepanjang 20 kilometer antara Shah Pori Dwip ke Cox's Bazar, yakni desa-desa yang dijadikan kamp-kamp pengungsi, termasuk kamp pengungsi Kutupalong.

Luberan para pengungsi Rohingya terus meningkat dan diperkirakan sampai akhir tahun 2017 mencapai 1 juta orang. Dalam situasi saat ini saja, Bangladesh berjuang untuk mengatasi banyaknya pengungsi tersebut.

Di pusat-pusat kota desa, kekacauan terjadi saat pengungsi baru berdatangan lalu bergegas membeli lembaran plastik dan batang-batang bambu untuk tenda-tenda mereka. Jalur tersebut secara konstan dipenuhi pergerakan orang-orang yang keluar masuk ke wilayah tersebut.

Pemerintah Bangladesh telah menyisihkan 1.500 hektar tanah sebagai rumah bagi para pengungsi Rohingya, namun ada keraguan apakah lahan itu cukup. Satu-satunya jalan ke desa-desa pengungsi itu hanya berupa jalan kecil. Kondisi itu mempersulit datangnya truk-truk bantuan kemanusiaan.

Setiap kali truk berhenti di sisi jalan, luapan orang langsung mengerumuni untuk meminta barang-barang yang datang. Sejauh ini, belum ada tanda bantuan internasional di kamp-kamp darurat ini. 

Menurut sejumlah lembaga swadaya masyarakat (LSM), bantuan kemanusiaan membutuhkan waktu untuk tiba di kamp-kamp tersebut.

Lindungi Kuil

Sementara itu, otoritas Bangladesh, Jumat, mengerahkan ratusan polisi untuk melindungi kuil-kuil Buddha di kawasan dimana sekitar 400.000 warga Muslim Rohingya tinggal di kamp-kamp pengungsian. Langkah itu dilakukan karena kekhawatiran serangan kepada minoritas agama sebagai aksi balasan dari situasi pengungsi Rohingya di Myanmar.

Ribuan pendukung dari kelompok garis keras Islam menggelar aksi protes di kota perbatasan di Cox's Bazar setelah sholat Jumat, pada 15 September 2017. Mereka menyebut Myanmar melakukan genosida kepada warga Rohingya.

Sebagian besar pengungsi Rohingya telah melarikan diri ke kamp-kamp di sekitar perbatasan Bangladesh dimana sudah tinggal 300.000 warga Rohingya sebelum kekerasan terakhir terjadi pada 25 Agustus lalu.

Kepala polisi di Cox's Bazar, Iqbal Hossain, mengatakan 550 polisi telah dikerahkan ke kawasan tersebut termasuk ke 145 kuil-kuil Buddha untuk mencegah kekerasan. Polisi juga meningkatkan keamanan kepada penduduk setempat yang beragama Buddha, serta meminta agar mereka tidak panik dengan kedatangan pengungsi.

“Ini adalah tindakan pencegahan. Kami juga membangun pos-pos pemeriksaan di sepanjang distrik,” katanya.

Bantuan juga datang ke kota pelabuhan Chittagong untuk mengawasi kuil-kuil, termasuk kuil berusia 300 tahun Kendriya Shima Bihar di Ramu, yang menampung peninggalan penting Buddha. 

Polisi juga berpatroli di luar kuil-kuil Buddha di Ukia dan Teknaf, kota-kota terdekat dimana sebagian besar dari kedatangan baru pengungsi Rohingya. Otoritas distrik juga membangun komite masyarakat harmoni sejak krisis Rohingya terjadi.