Social Items

Kisah Si Murid Langka Fredy Candra, Bahagiakan Guru-Gurunya Jalan-Jalan ke Mancanegara dengan Fasilitas Kelas 1

RiauJOS.com, Viral - Siapa sebenarnya Fredy Candra? seorang murid langka yang mengajak guru-gurunya semasa SD, SMP dan SMA untuk bertamasya ke mancanegara. Sangat jarang dimasa sekarang, ada orang yang masih mengingat jasa-jasa para guru-gurunya yang telah memberikan ilmu dan mengajarkan kehidupan dengan cara membahagiakan mereka kembali.

Baru-baru ini, media-media online dan para netizen digemparkan dengan kisah seorang murid, Fredy Candra yang mampu mewujudkan mimpi-mimpinya untuk membahagiakan para guru-gurunya.

Kisah ini benar-benar terjadi di Pekalongan, Jawa Tengah, Sedikitnya 65 orang guru, baik yang masih aktif mengajar maupun yang sudah pensiun diajak bertamasya secara gratis. Mereka tidak perlu repot-repot, masalah paspor sudah diuruskan, tinggal menyetorkan syarat-syarat kelengkapan administrasi. Uang saku pun juga sudah disediakan.

Sebanyak 65 guru itu terdiri dari guru SD Sampangan, SMPN 1 Pekalongan dan SMAN 1 Pekalongan. Sebanyak 39 guru diantaranya adalah guru SMAN1 Pekalongan.

Mereka diajak oleh Fredy Chandra, salah satu muridnya yang telah sukses. Mereka diajak berwisata ke Malaysia dan Singapura, 19-24 September 2017.

"Awalnya sekitar bulan Juli, ada yang datang ke sekolah. Dia memperkenalkan diri bahwa dirinya alumnus tahun 1993, dan ingin mengajak jalan-jalan para guru ke Eropa," jelas Kepala SMAN 1 Pekalongan, Sulikin MPd di Jalan RA kartini No 39 Pekalongan Kota, Selasa, 26 September 2017 dikutip Riau JOS dari laman Detik.

Tawaran dari Fredy ini membuat para guru terharu. Kepada Sulikin, Fredy mengungkapkan ingin mengajak para guru yang telah mengajar dirinya selama dia menjadi siswa di SMAN 1 Pekalongan. Termasuk juga para guru yang telah pensiun.

"Saat itu saya tanya, kenapa ingin mengajak para guru wisata ke luar negeri? Dia jawab, sudah menjadi keinginan dirinya sejak dia masih bersekolah di sini katanya," ujar Sulikin menirukan kata Fredy.

Awalnya, menurut Sulikin, Fredy berencana ingin mengajak para guru yang pernah mengajarnya untuk berwisata ke Eropa. Namun oleh Sulikin ajakan ke Eropa tersebut untuk dipertimbangkan, mengingat kondisi guru sudah terlalu tua untuk diajak perjalanan jauh.

"Cuaca juga. Para guru kan sudah sepuh, fisiknya sudah tidak terlalu kuat lagi. Atas pertimbangan itulah akhirnya disepakati untuk pergi ke Malaysia dan Singapura," katanya.

Lantas, Fredy yang mengurus semua urusan paspor hingga uang saku. Semuanya ditanggung oleh Fredy.

"Semua guru yang pernah mengajarnya diajak. Tidak hanya guru SMA saja, Fredy juga mengajak guru SD dan SMP. Semuanya ada 65 guru," jelasnya.

Untuk para guru yang tua, Fredy juga telah menyiapkan alat bantu kursi roda bersama pendamping kursi masing-masing serta tim medis.

"Kita berangkat dari Pekalongan tanggal 19 sampai tanggal 24, ke Jakarta dulu. Semua perlengkapan juga dibantu oleh para alumnus 93," katanya.

Selama perjalanan, 65 guru ini dijamu dengan layanan kelas utama. Fredy sendiri tidak ikut dalam acara wisata ke luar negeri tersebut. Hanya saja, setiap perjalanan dia pantau melalui ponselnya.

"Dia berpesan kepada biro perjalanan agar tidak mengecewakan para gurunya. Semuanya dilayani dengan bagus," kata Sulikin.

Dia menambahkan sebelum berangkat ke luar negeri, saat rombongan berada di Jakarta menuju Bandara Soekarno Hatta, Fredy bersama para alumnus lainnya menyambutnya saat di Jakarta. Perjalanan dari Jakarta menuju ke Kuala Lumpur, Genting dan Singapura selama 5 hari.

Semua gratis dengan fasilitas kelas satu. Beberapa guru pengajar pun merasa senang dengan apa yang dilakukan oleh Fredy ini.

Fauziyah, mantan guru agama Fredy, merasa bahagia atas apa yang dilakukan oleh muridnya tersebut.

"Sebenarnya memang mempunyai rencana ke sana, tapi tabunganya selama ini belum tercukupi," jelas Fauziyah.

Sementara itu, menurut Sulikin, Kepala SMAN 1 Pekalongan, Fredy Chandra, merupakan alumnus dari SMAN 1 Pekalongan tahun 1993. Tidak ada hal yang menonjol selama menjadi murid di SMA N 1 Pekalongan.

Siapa Fredy Candra?

Dikabarkan Detik, Fredy Candra semasa sekolah merupakan murid yang biasa-biasa saja, tidak ada hal yang mencolok dari dia. Perilakunya sama seperti murid kebanyakan.

"Beberapa guru mengatakan, perilakunya sangat biasa, seperti halnya murid-murid lainnya. Dia sekarang menjadi pengusaha kabel FO bawah laut dan tinggal di Jakarta," jelasnya.

Cita-cita untuk membahagiakan para gurunya ternyata sejak Fredy masih duduk dibangku SMA.

"Jadi dulu waktu SMA dia pernah mengalami kecelakaan yang cukup parah, sehingga koma beberapa hari. Saat dalam koma inilah dia bermimpi para guru dari SD sampai SMA yang selama ini mengajarlah yang menjenguknya," katanya.

Setelah sehat dan pulih kembali, dia berjanji suatu saat akan membahagiakan para guru-guru dari SD sampai SMA.

Fredy pun berkeinginan kuat untuk membahagiakan semua guru-gurunya semasa sekolah, dan tiba suatu saat kesuksesan usaha di bidang usaha kabel fiber optic (FO) dia mendulang sukses luar biasa, hingga akhirnya mewujudkan mimpi-mimpinya untuk mengajak jalan-jalan guru-gurunya ke luar negari.

"Dan cita-citanya terwujud. Dia menjadi pengusaha kabel FO. Dan membahagiakan para guru," pungkas Sulikin.

"Muridku Gila" yang jadi Viral

Kisah Fredy Candra yang berhasil mewujudkan mimpi-mimpinya untuk membahagiakan para gurunya menjadi viral. Berawal dari postingan halaman Facebook, Pekalongan info yang memposting video briefing keberangkatan para guru-guru yang akan berwisata ke mancanegara. Berikut artikel yang berjudul "Muridku Gila" yang menjadi viral setelah dipublikasikan pada 25 September 2017.


MURIDKU GILA

Siang itu saya kedatangan tamu alumni SMA N 1 Pekalongan tahun 1993. Dengan penampilan yang sederhana dan penuh senyum dia menyapa saya sambil berjabat tangan. 'Siang Pak, perkenalkan saya Fredy alumni tahun 1993" begitu dia memperkenalkan dirinya. Sambil saya persilahkan duduk, kami terlibat perbincangan yang cukup hangat dan penuh canda tawa.

"SMANSA makin maju ya pak

lingkungan sekolahnya juga sudah banyak berubah, bangunannya semakin megah dan prestasinya juga makin hebat". kata Fredi.

Perbincangan kami makin akrab dan Fresi terus menerus memuji almamaternya "Semua telah berubah, hanya satu yang tidak berubah, kewibawaan SMA N 1 Pekalongan. Setiap alumni yang masuk ke SMA N 1, pasti akan merasakan aura wibawa penuh kenangan" Begitulah kesan Fredy terhadap SMA N 1 Pekalongan.

Setelah berbasa basi kesana kemari, Fredy menyampaikan maksud kedatangannya. Dia ingin mengajak jalan jalan Bapak ibu guru karyawan yang dulu mengajarnya. "Saya ingin mengajak jalan jalan ke luar negeri semua guru yang dulu mengajar saya pak" begitu yang dia sampaikan. Dalam hati saya berkata, "anak ini nglindur kali, nggak ada angin nggak ada hujan, tiba tiba menawarkan angin syurga"

Rasanya saya percaya tidak percaya dengan apa yang diinginkannya. Karena untuk mengajak jalan jalan ke luar negeri pasti butuh biaya yang sangat banyak. Dia cerita lagi bahwa keinginannya ini sudah timbul sejak dia masih sekolah. Suatu saat kalau saya berhasil saya ingin mengajak Bapak ibu guru saya pergi jalan jalan ke luar negeri. Semangat itu yang menjadikan dia sekarang menjadi pengusaha kabel FO bawah laut yang cukup berhasil.

Ternyata dia sangat serius dengan keinginannya.

Tiga bulan berlalu, hari ini tanggal 20 September 2017, kami bersama dengan 65 guru berangkat ke Kualalumpur Genting Singapura selama 5 hari. Semua gratis dengan fasilitas kelas satu.

Mungkin 100 tahun yang akan datang, kami tidak menemukan lagi mantan murid gila seperti Fredi. Semoga sukses Fred, doa kami selalu bersamamu.

Tulisan dari

Sulikin, M.Pd

Di Publikasi pada tanggal 21 September 2017.


Kisah Si Murid Langka Fredy Candra, Bahagiakan Guru-Gurunya Jalan-Jalan ke Mancanegara dengan Fasilitas Kelas 1

Kisah Si Murid Langka Fredy Candra, Bahagiakan Guru-Gurunya Jalan-Jalan ke Mancanegara dengan Fasilitas Kelas 1

RiauJOS.com, Viral - Siapa sebenarnya Fredy Candra? seorang murid langka yang mengajak guru-gurunya semasa SD, SMP dan SMA untuk bertamasya ke mancanegara. Sangat jarang dimasa sekarang, ada orang yang masih mengingat jasa-jasa para guru-gurunya yang telah memberikan ilmu dan mengajarkan kehidupan dengan cara membahagiakan mereka kembali.

Baru-baru ini, media-media online dan para netizen digemparkan dengan kisah seorang murid, Fredy Candra yang mampu mewujudkan mimpi-mimpinya untuk membahagiakan para guru-gurunya.

Kisah ini benar-benar terjadi di Pekalongan, Jawa Tengah, Sedikitnya 65 orang guru, baik yang masih aktif mengajar maupun yang sudah pensiun diajak bertamasya secara gratis. Mereka tidak perlu repot-repot, masalah paspor sudah diuruskan, tinggal menyetorkan syarat-syarat kelengkapan administrasi. Uang saku pun juga sudah disediakan.

Sebanyak 65 guru itu terdiri dari guru SD Sampangan, SMPN 1 Pekalongan dan SMAN 1 Pekalongan. Sebanyak 39 guru diantaranya adalah guru SMAN1 Pekalongan.

Mereka diajak oleh Fredy Chandra, salah satu muridnya yang telah sukses. Mereka diajak berwisata ke Malaysia dan Singapura, 19-24 September 2017.

"Awalnya sekitar bulan Juli, ada yang datang ke sekolah. Dia memperkenalkan diri bahwa dirinya alumnus tahun 1993, dan ingin mengajak jalan-jalan para guru ke Eropa," jelas Kepala SMAN 1 Pekalongan, Sulikin MPd di Jalan RA kartini No 39 Pekalongan Kota, Selasa, 26 September 2017 dikutip Riau JOS dari laman Detik.

Tawaran dari Fredy ini membuat para guru terharu. Kepada Sulikin, Fredy mengungkapkan ingin mengajak para guru yang telah mengajar dirinya selama dia menjadi siswa di SMAN 1 Pekalongan. Termasuk juga para guru yang telah pensiun.

"Saat itu saya tanya, kenapa ingin mengajak para guru wisata ke luar negeri? Dia jawab, sudah menjadi keinginan dirinya sejak dia masih bersekolah di sini katanya," ujar Sulikin menirukan kata Fredy.

Awalnya, menurut Sulikin, Fredy berencana ingin mengajak para guru yang pernah mengajarnya untuk berwisata ke Eropa. Namun oleh Sulikin ajakan ke Eropa tersebut untuk dipertimbangkan, mengingat kondisi guru sudah terlalu tua untuk diajak perjalanan jauh.

"Cuaca juga. Para guru kan sudah sepuh, fisiknya sudah tidak terlalu kuat lagi. Atas pertimbangan itulah akhirnya disepakati untuk pergi ke Malaysia dan Singapura," katanya.

Lantas, Fredy yang mengurus semua urusan paspor hingga uang saku. Semuanya ditanggung oleh Fredy.

"Semua guru yang pernah mengajarnya diajak. Tidak hanya guru SMA saja, Fredy juga mengajak guru SD dan SMP. Semuanya ada 65 guru," jelasnya.

Untuk para guru yang tua, Fredy juga telah menyiapkan alat bantu kursi roda bersama pendamping kursi masing-masing serta tim medis.

"Kita berangkat dari Pekalongan tanggal 19 sampai tanggal 24, ke Jakarta dulu. Semua perlengkapan juga dibantu oleh para alumnus 93," katanya.

Selama perjalanan, 65 guru ini dijamu dengan layanan kelas utama. Fredy sendiri tidak ikut dalam acara wisata ke luar negeri tersebut. Hanya saja, setiap perjalanan dia pantau melalui ponselnya.

"Dia berpesan kepada biro perjalanan agar tidak mengecewakan para gurunya. Semuanya dilayani dengan bagus," kata Sulikin.

Dia menambahkan sebelum berangkat ke luar negeri, saat rombongan berada di Jakarta menuju Bandara Soekarno Hatta, Fredy bersama para alumnus lainnya menyambutnya saat di Jakarta. Perjalanan dari Jakarta menuju ke Kuala Lumpur, Genting dan Singapura selama 5 hari.

Semua gratis dengan fasilitas kelas satu. Beberapa guru pengajar pun merasa senang dengan apa yang dilakukan oleh Fredy ini.

Fauziyah, mantan guru agama Fredy, merasa bahagia atas apa yang dilakukan oleh muridnya tersebut.

"Sebenarnya memang mempunyai rencana ke sana, tapi tabunganya selama ini belum tercukupi," jelas Fauziyah.

Sementara itu, menurut Sulikin, Kepala SMAN 1 Pekalongan, Fredy Chandra, merupakan alumnus dari SMAN 1 Pekalongan tahun 1993. Tidak ada hal yang menonjol selama menjadi murid di SMA N 1 Pekalongan.

Siapa Fredy Candra?

Dikabarkan Detik, Fredy Candra semasa sekolah merupakan murid yang biasa-biasa saja, tidak ada hal yang mencolok dari dia. Perilakunya sama seperti murid kebanyakan.

"Beberapa guru mengatakan, perilakunya sangat biasa, seperti halnya murid-murid lainnya. Dia sekarang menjadi pengusaha kabel FO bawah laut dan tinggal di Jakarta," jelasnya.

Cita-cita untuk membahagiakan para gurunya ternyata sejak Fredy masih duduk dibangku SMA.

"Jadi dulu waktu SMA dia pernah mengalami kecelakaan yang cukup parah, sehingga koma beberapa hari. Saat dalam koma inilah dia bermimpi para guru dari SD sampai SMA yang selama ini mengajarlah yang menjenguknya," katanya.

Setelah sehat dan pulih kembali, dia berjanji suatu saat akan membahagiakan para guru-guru dari SD sampai SMA.

Fredy pun berkeinginan kuat untuk membahagiakan semua guru-gurunya semasa sekolah, dan tiba suatu saat kesuksesan usaha di bidang usaha kabel fiber optic (FO) dia mendulang sukses luar biasa, hingga akhirnya mewujudkan mimpi-mimpinya untuk mengajak jalan-jalan guru-gurunya ke luar negari.

"Dan cita-citanya terwujud. Dia menjadi pengusaha kabel FO. Dan membahagiakan para guru," pungkas Sulikin.

"Muridku Gila" yang jadi Viral

Kisah Fredy Candra yang berhasil mewujudkan mimpi-mimpinya untuk membahagiakan para gurunya menjadi viral. Berawal dari postingan halaman Facebook, Pekalongan info yang memposting video briefing keberangkatan para guru-guru yang akan berwisata ke mancanegara. Berikut artikel yang berjudul "Muridku Gila" yang menjadi viral setelah dipublikasikan pada 25 September 2017.


MURIDKU GILA

Siang itu saya kedatangan tamu alumni SMA N 1 Pekalongan tahun 1993. Dengan penampilan yang sederhana dan penuh senyum dia menyapa saya sambil berjabat tangan. 'Siang Pak, perkenalkan saya Fredy alumni tahun 1993" begitu dia memperkenalkan dirinya. Sambil saya persilahkan duduk, kami terlibat perbincangan yang cukup hangat dan penuh canda tawa.

"SMANSA makin maju ya pak

lingkungan sekolahnya juga sudah banyak berubah, bangunannya semakin megah dan prestasinya juga makin hebat". kata Fredi.

Perbincangan kami makin akrab dan Fresi terus menerus memuji almamaternya "Semua telah berubah, hanya satu yang tidak berubah, kewibawaan SMA N 1 Pekalongan. Setiap alumni yang masuk ke SMA N 1, pasti akan merasakan aura wibawa penuh kenangan" Begitulah kesan Fredy terhadap SMA N 1 Pekalongan.

Setelah berbasa basi kesana kemari, Fredy menyampaikan maksud kedatangannya. Dia ingin mengajak jalan jalan Bapak ibu guru karyawan yang dulu mengajarnya. "Saya ingin mengajak jalan jalan ke luar negeri semua guru yang dulu mengajar saya pak" begitu yang dia sampaikan. Dalam hati saya berkata, "anak ini nglindur kali, nggak ada angin nggak ada hujan, tiba tiba menawarkan angin syurga"

Rasanya saya percaya tidak percaya dengan apa yang diinginkannya. Karena untuk mengajak jalan jalan ke luar negeri pasti butuh biaya yang sangat banyak. Dia cerita lagi bahwa keinginannya ini sudah timbul sejak dia masih sekolah. Suatu saat kalau saya berhasil saya ingin mengajak Bapak ibu guru saya pergi jalan jalan ke luar negeri. Semangat itu yang menjadikan dia sekarang menjadi pengusaha kabel FO bawah laut yang cukup berhasil.

Ternyata dia sangat serius dengan keinginannya.

Tiga bulan berlalu, hari ini tanggal 20 September 2017, kami bersama dengan 65 guru berangkat ke Kualalumpur Genting Singapura selama 5 hari. Semua gratis dengan fasilitas kelas satu.

Mungkin 100 tahun yang akan datang, kami tidak menemukan lagi mantan murid gila seperti Fredi. Semoga sukses Fred, doa kami selalu bersamamu.

Tulisan dari

Sulikin, M.Pd

Di Publikasi pada tanggal 21 September 2017.