Social Items

Mengharukan dan Begitu Membagakan, Ketulusan Fredy Candra Bahagikan Guru di Sekolahnya

RiauJOS.com, Viral - Kisah seorang murid bernama Fredy Candra yang tulus membahagiakan gurunya semasa sekolah, mulai dari SD, SMP hingga SMA membuat netizen terharu dan juga bangga, karena dimasa sekarang ini ternyata masih ada seorang murid yang begitu berbakti kepada para gurunya.

Penelusuran Riau JOS, Rabu, 27 September 2017, salah seorang guru Fredy, Pak Sulikin menuliskan perjalanannya selama berwisata ke mancanegara, Malaysia dan Singapura. Dia menuliskan betapa Fredy begitu tulus membahagiakan gurunya. Dengan fasilitas nomor 1, dan tidak ada rasa khawatir selama perjalanan, dia merasakan nikmat tiada tara selama berwisata. Berikut tulisan Sulikin yang dikutip dari blognya, http://sulikinmpd.gurusiana.id.


Fredy Candra bersama gurunya

KETULUSAN


Oleh : Sulikin

Minggu 24 September 2017 pukul 16.00 WIB pesawat Garuda GA833 yang kami tumpangi mendarat di Bandara Suta Jakarta. Lima hari sudah kami bersama teman-teman guru dan mantan guru SMA N 1 Pekalongan diberikan kesempatan jalan-jalan ke Malaysia Singapura. Semua fasilitas terbaik diberikan tanpa sedikitpun kita mengeluarkan biaya.

Makan di restauran, menginap di hotel berbintang dan mengunjungi obyek wisata terbaik yang ada di Malaysia Singapura. Sebuah momen yang sangat spesial buat kami seorang guru. Tidak terbersit sedikitpun apabila di ujung usia pengabdian sebagai guru, kami diberikan kesempatan untuk menikmati kebahagian ibarat seorang turis mancanegara.

Sejak keberangkatan kami 5 hari yang lalu, mata saya terus mengamati seseorang bernama Fredy Chandra. Kami semua disambut Fredy beserta keluarga di Bandara. Satu persatu gurunya disalami, dipeluk, dan disapa dengan penuh keceriaan. Sebuah sambutan yang begitu ramah dari seorang anak kepada orang tuanya. Senyum kebahagiaan terus menghiasi wajah Fredy sekeluarga. Semua disapa dan tidak satupun yang terlewatkan.

"Bagaimana kabar Bapak dan ibu guruku??" tanya Fredy dengan ramah.

"Alhamdulillah, kami semua baik-baik saja", demikian kurang lebih jawaban kami. Saat itu semua tumpah ruah dalam suasana penuh keakraban dan keceriaan.

Sejenak saya menghampiri Fredy, dan dengan salam komando saya sampaikan ucapan terimakasih serta penghargaan setinggi-tingginya atas kepedulian dia terhadap mantan gurunya. "Terimakasih Fred, semoga ini semua menjadi amal ibadah kamu beserta keluargamu".

Saya benar-banar meraskam aura ketulusan dari seorang mantan murid kepada gurunya. Sebuah "ketulusan" yang sama seperti yang dirasakan seorang anak kepada orang tuanya. Dari sinar matanya terpancar benar rasa kebahagiaan karena bisa berbuat sesuatu kepada gurunya. Dari sinar matanya pula terendam rasa haru karena "nadzar" yang terkabul. Tidak lupa juga dia titip pesan kepada tim yang membawa kami,

"tolong berikan pelayanan terbaik untuk guru-guru kami, jaga kesehatannya, dan bimbing mereka dengan sabar" kata Fredy sebelum kami berangkat.

Ini tidak sekedar jalan-jalan biasa, semua sudah dipersiapkan dengan matang. Ada dokter yang mendampingi, ada petugas yang khusus disiapkan untuk mendampingi bapak ibu guru yang tidak kuat berjalan jauh. Sebelum berangkat semua peserta dilakukan rekam medis untuk mengantisipasi segala kemungkinan yang terjadi di perjalanan. Hal tersebut benar-benar membuat kami jauh dari rasa kawatir.

Dalam hatiku berkata, "ini perjalanan terbaik yang pernah saya ikuti",

Terima kasih Fred, semoga "ketulusanmu" ini akan mempermudah jalan menuju kesuksesanmu. Dan semoga apa yang kamu lakukan dapat menginspirasi murid-murid lainnya.

Jakarta, 25 September 2017




Sementara, di akun Facebook, Fredy Candra juga menuliskan kebahagiaanya setelah mengajak jalan-jalan para gurunya semasa sekolah. Berikut tulisan Fredy yang mengungkapkan betapa bahagianya mampu mengajak jalan-jalan para gurunya, namun dia begitu malu mendapatkan sanjung puji dari para netizen.

Melihat seorang guru seperti melihat sebuah masa depan cerah yang telah dijanjikan untuk dunia ini. Ingatkah kita ketika Jepang pernah hancur? Jepang saat itu lumpuh total, Kaisar Hirohito mengumpulkan semua jendral masih hidup dan menanyakan kepada mereka “Berapa jumlah guru yang tersisa?”. Betapa bernilainya seorang guru di mata Kaisar saat itu sama seperti betapa bernilainya guru saat ini. Jepang menjadi negara maju seperti saat ini tak lepas dari pengaruh dan campur tangan guru.

Bp guru Sulikin M.pd mungkin “khilaf” dan “kurang bercermin” ketika menulis bahwa saya “murid gila”, jelas jelas yg gila itu adalah Bapak, Bapak Ibu guru SD Sampangan, SMPN1 dan SMAN1 saya yg secara “sembrono” mengabdikan diri lebih dari separuh usianya dari muda beberapa sampai pensiun, berusaha membuat saya sebagai salah satu muridnya dan banyak murid-murid yg lain menjadi orang sukses dan berhasil.

Yg “gila” itu adalah Bapak Ibu guru yg mengabdi di sekolah-sekolah, madrasah, PAUD, baik di kota, di daerah dan daerah terpencil dengan gaji pas pasan dan herannya masih mau ngajar, itu baru gila!!!
“Kegilaan” para guru itulah yg membuat saya ingin menyampaikan rasa terima kasih kepada guru saya dengan mengajak berwisata bersama, melalui tulisan Bp Sulikin beetajuk "Muridku Gila" yg saya pikir “ah palingan bocor halus” eh malah “mbledos” jadi viral dan ….. malah saya yg dipuji (kalau guru yg memuji saya terima deh), dikasih sanjungan teman-teman dan berbagai pihak “…hebat kamu Fred..”, “….salut sama kamu…”, “…kamu luar biasa…”, beberapa hari ini saya mencoba dengan sekuat tenaga berusaha menerima pujian-pujian itu, ngga tau bagaimana tapi mulai dari rasa segan sampai perasaan malu selalu muncul tiap kali ada pujian disampaikan, tetapi pada akhirnya hati nurani saya tidak bisa menerima sanjungan tersebut. Saya harap saya cukup sebagai inspirasi saja dan tidak lebih, juga kiranya teman-teman di medsos tidak lagi membahas Fredy nya, dan saya ingin mengembalikan pujian teman-teman kepada yg lebih layak menerimanya yaitu Tuhan dan juga dalam hal ini guru-guru saya.

Harusnya “… hebat guru kamu Fred..” , ”…salut sama guru kamu…”, “… guru kamu yg itu top bgt ..”
Cukup bagi saya menjadi alumni yg bisa bahagia menikmati air mata yg menetes ketika melihat foto-foto dan video gurunya yg tertawa lepas dan bahagia menikmati waktu berwisata bersama-sama yg mungkin jarang didapat selama aktif mengajar, saya bisa menangis terharu, saya bisa memeluk guru saya, ketawa ketiwi, meminta selfie, memposting foto saya bersama guru, tanpa saya “diganggu” oleh puja puji yg tidak sepatutnya saya terima, apalagi secara akademis saya tidak pantas jadi panutan, asal tahu saja jenjang S1 pun saya tidak lulus, dan akhirnya sekarang saya bekerja jadi seorang Sales Engineer di sebuah perusahaan internet.

Saya tidak tahu apakah tulisan saya ini masih direwes, diperhatikan atau tidak, mengingat tulisan di koran online sudah terlanjur tersebar dan viral ke mana-mana, di mana saya yg malah menjadi subyeknya, analoginya ada orang hampir tenggelam ditolong, eh malah yg disanjung bukan penolongnya malah orang yg hampir tenggelam tsb yg disanjung, kan ngga lucu.

Mudah-mudahan melalui postingan ini teman-teman bisa mengurangi pembicaraan mengenai saya, dan berbicara lebih mengenai kenangan atau sesuatu yg berkesan selama diajar oleh para guru, atau komentar saat guru berwisata, intinya subyeknya adalah “THE TEACHERS” dan bukan saya.

Pekalongan 27 Sept 2017


Motor Kenangan Fredy Candra



Mengharukan dan Begitu Membanggakan, Ketulusan Fredy Candra Bahagikan Guru di Sekolahnya

Mengharukan dan Begitu Membagakan, Ketulusan Fredy Candra Bahagikan Guru di Sekolahnya

RiauJOS.com, Viral - Kisah seorang murid bernama Fredy Candra yang tulus membahagiakan gurunya semasa sekolah, mulai dari SD, SMP hingga SMA membuat netizen terharu dan juga bangga, karena dimasa sekarang ini ternyata masih ada seorang murid yang begitu berbakti kepada para gurunya.

Penelusuran Riau JOS, Rabu, 27 September 2017, salah seorang guru Fredy, Pak Sulikin menuliskan perjalanannya selama berwisata ke mancanegara, Malaysia dan Singapura. Dia menuliskan betapa Fredy begitu tulus membahagiakan gurunya. Dengan fasilitas nomor 1, dan tidak ada rasa khawatir selama perjalanan, dia merasakan nikmat tiada tara selama berwisata. Berikut tulisan Sulikin yang dikutip dari blognya, http://sulikinmpd.gurusiana.id.


Fredy Candra bersama gurunya

KETULUSAN


Oleh : Sulikin

Minggu 24 September 2017 pukul 16.00 WIB pesawat Garuda GA833 yang kami tumpangi mendarat di Bandara Suta Jakarta. Lima hari sudah kami bersama teman-teman guru dan mantan guru SMA N 1 Pekalongan diberikan kesempatan jalan-jalan ke Malaysia Singapura. Semua fasilitas terbaik diberikan tanpa sedikitpun kita mengeluarkan biaya.

Makan di restauran, menginap di hotel berbintang dan mengunjungi obyek wisata terbaik yang ada di Malaysia Singapura. Sebuah momen yang sangat spesial buat kami seorang guru. Tidak terbersit sedikitpun apabila di ujung usia pengabdian sebagai guru, kami diberikan kesempatan untuk menikmati kebahagian ibarat seorang turis mancanegara.

Sejak keberangkatan kami 5 hari yang lalu, mata saya terus mengamati seseorang bernama Fredy Chandra. Kami semua disambut Fredy beserta keluarga di Bandara. Satu persatu gurunya disalami, dipeluk, dan disapa dengan penuh keceriaan. Sebuah sambutan yang begitu ramah dari seorang anak kepada orang tuanya. Senyum kebahagiaan terus menghiasi wajah Fredy sekeluarga. Semua disapa dan tidak satupun yang terlewatkan.

"Bagaimana kabar Bapak dan ibu guruku??" tanya Fredy dengan ramah.

"Alhamdulillah, kami semua baik-baik saja", demikian kurang lebih jawaban kami. Saat itu semua tumpah ruah dalam suasana penuh keakraban dan keceriaan.

Sejenak saya menghampiri Fredy, dan dengan salam komando saya sampaikan ucapan terimakasih serta penghargaan setinggi-tingginya atas kepedulian dia terhadap mantan gurunya. "Terimakasih Fred, semoga ini semua menjadi amal ibadah kamu beserta keluargamu".

Saya benar-banar meraskam aura ketulusan dari seorang mantan murid kepada gurunya. Sebuah "ketulusan" yang sama seperti yang dirasakan seorang anak kepada orang tuanya. Dari sinar matanya terpancar benar rasa kebahagiaan karena bisa berbuat sesuatu kepada gurunya. Dari sinar matanya pula terendam rasa haru karena "nadzar" yang terkabul. Tidak lupa juga dia titip pesan kepada tim yang membawa kami,

"tolong berikan pelayanan terbaik untuk guru-guru kami, jaga kesehatannya, dan bimbing mereka dengan sabar" kata Fredy sebelum kami berangkat.

Ini tidak sekedar jalan-jalan biasa, semua sudah dipersiapkan dengan matang. Ada dokter yang mendampingi, ada petugas yang khusus disiapkan untuk mendampingi bapak ibu guru yang tidak kuat berjalan jauh. Sebelum berangkat semua peserta dilakukan rekam medis untuk mengantisipasi segala kemungkinan yang terjadi di perjalanan. Hal tersebut benar-benar membuat kami jauh dari rasa kawatir.

Dalam hatiku berkata, "ini perjalanan terbaik yang pernah saya ikuti",

Terima kasih Fred, semoga "ketulusanmu" ini akan mempermudah jalan menuju kesuksesanmu. Dan semoga apa yang kamu lakukan dapat menginspirasi murid-murid lainnya.

Jakarta, 25 September 2017




Sementara, di akun Facebook, Fredy Candra juga menuliskan kebahagiaanya setelah mengajak jalan-jalan para gurunya semasa sekolah. Berikut tulisan Fredy yang mengungkapkan betapa bahagianya mampu mengajak jalan-jalan para gurunya, namun dia begitu malu mendapatkan sanjung puji dari para netizen.

Melihat seorang guru seperti melihat sebuah masa depan cerah yang telah dijanjikan untuk dunia ini. Ingatkah kita ketika Jepang pernah hancur? Jepang saat itu lumpuh total, Kaisar Hirohito mengumpulkan semua jendral masih hidup dan menanyakan kepada mereka “Berapa jumlah guru yang tersisa?”. Betapa bernilainya seorang guru di mata Kaisar saat itu sama seperti betapa bernilainya guru saat ini. Jepang menjadi negara maju seperti saat ini tak lepas dari pengaruh dan campur tangan guru.

Bp guru Sulikin M.pd mungkin “khilaf” dan “kurang bercermin” ketika menulis bahwa saya “murid gila”, jelas jelas yg gila itu adalah Bapak, Bapak Ibu guru SD Sampangan, SMPN1 dan SMAN1 saya yg secara “sembrono” mengabdikan diri lebih dari separuh usianya dari muda beberapa sampai pensiun, berusaha membuat saya sebagai salah satu muridnya dan banyak murid-murid yg lain menjadi orang sukses dan berhasil.

Yg “gila” itu adalah Bapak Ibu guru yg mengabdi di sekolah-sekolah, madrasah, PAUD, baik di kota, di daerah dan daerah terpencil dengan gaji pas pasan dan herannya masih mau ngajar, itu baru gila!!!
“Kegilaan” para guru itulah yg membuat saya ingin menyampaikan rasa terima kasih kepada guru saya dengan mengajak berwisata bersama, melalui tulisan Bp Sulikin beetajuk "Muridku Gila" yg saya pikir “ah palingan bocor halus” eh malah “mbledos” jadi viral dan ….. malah saya yg dipuji (kalau guru yg memuji saya terima deh), dikasih sanjungan teman-teman dan berbagai pihak “…hebat kamu Fred..”, “….salut sama kamu…”, “…kamu luar biasa…”, beberapa hari ini saya mencoba dengan sekuat tenaga berusaha menerima pujian-pujian itu, ngga tau bagaimana tapi mulai dari rasa segan sampai perasaan malu selalu muncul tiap kali ada pujian disampaikan, tetapi pada akhirnya hati nurani saya tidak bisa menerima sanjungan tersebut. Saya harap saya cukup sebagai inspirasi saja dan tidak lebih, juga kiranya teman-teman di medsos tidak lagi membahas Fredy nya, dan saya ingin mengembalikan pujian teman-teman kepada yg lebih layak menerimanya yaitu Tuhan dan juga dalam hal ini guru-guru saya.

Harusnya “… hebat guru kamu Fred..” , ”…salut sama guru kamu…”, “… guru kamu yg itu top bgt ..”
Cukup bagi saya menjadi alumni yg bisa bahagia menikmati air mata yg menetes ketika melihat foto-foto dan video gurunya yg tertawa lepas dan bahagia menikmati waktu berwisata bersama-sama yg mungkin jarang didapat selama aktif mengajar, saya bisa menangis terharu, saya bisa memeluk guru saya, ketawa ketiwi, meminta selfie, memposting foto saya bersama guru, tanpa saya “diganggu” oleh puja puji yg tidak sepatutnya saya terima, apalagi secara akademis saya tidak pantas jadi panutan, asal tahu saja jenjang S1 pun saya tidak lulus, dan akhirnya sekarang saya bekerja jadi seorang Sales Engineer di sebuah perusahaan internet.

Saya tidak tahu apakah tulisan saya ini masih direwes, diperhatikan atau tidak, mengingat tulisan di koran online sudah terlanjur tersebar dan viral ke mana-mana, di mana saya yg malah menjadi subyeknya, analoginya ada orang hampir tenggelam ditolong, eh malah yg disanjung bukan penolongnya malah orang yg hampir tenggelam tsb yg disanjung, kan ngga lucu.

Mudah-mudahan melalui postingan ini teman-teman bisa mengurangi pembicaraan mengenai saya, dan berbicara lebih mengenai kenangan atau sesuatu yg berkesan selama diajar oleh para guru, atau komentar saat guru berwisata, intinya subyeknya adalah “THE TEACHERS” dan bukan saya.

Pekalongan 27 Sept 2017


Motor Kenangan Fredy Candra