Hujan Misterius di Satu Rumah Menyisakan Tanda Tanya Besar, Berikut 5 Faktanya..

RiauJOS.com, Jakarta - Hujan turun di satu rumah, menyisakan tanda tanya besar bagi siapa saja. Pasalnya, Jika biasanya hujan mengguyur satu kawasan secara merata atau paling tidak, dalam cakupan wilayah yang cukup luas, hal yang berbeda terjadi di sebuah rumah di kawasan Tebet tersebut.

Anehnya, hanya satu rumah yang terguyur hujan. Sementara sekelilingnya kering kerontang. Hujan tersebut turun menjelang malam pada Sabtu, 26 Agustus 2017.

Rekaman video fenomena alam langka itu kali pertama diunggah oleh akun @febicil di akun Twitter pribadinya pada 26 Agustus 2017 yang lalu.

Dalam rekamannya, suara hujan terdengar jelas dan tampak hanya membasahi satu rumah. Sementara rumah-rumah di sekitarnya sama sekali tidak tersentuh air hujan.

"Ada hujan yang turun di satu rumah doang di Tebet, kiri kanannya kering!" tulis @febicil.

Diwartakan Liputan 6, Rumah yang diguyur hujan misterius tersebut merupakan rumah milik warga setempat bernama Ahmad Muzakkir (40 tahun), berlokasi di Jalan Tebet Barat Dalam 1, No 18, Jakarta Selatan.

 Liputan 6 mencatat, ada lima fakta dalam fenomena hujan misterius, berikut ini.

1. Hanya satu rumah yang diguyur hujan

Sang pemilik rumah, Ahmad Muzakkir (40), menceritakan, hujan mengguyur rumahnya di Jalan Tebet Barat Dalam 1 No 18, Jakarta Selatan, pukul 17.30 WIB, Sabtu 26 Agustus 2017.

Saat itu, ia sedang bermain catur bersama teman di salah satu bagian rumahnya. Akan tetapi, sudut rumah itu tidak hujan. Oleh karena itu, ia heran ketika keponakannya dan anak-anak lain yang sedang bermain di depan rumahnya berteriak, "Hujan...! hujan...! Mandi hujan...! Mandi hujan...!" ujar Muzakkir Selasa, 29 Agustus 2017.

Awalnya Muzakkir tidak menyadari kalau hanya rumahnya yang diguyur hujan. Layaknya kejadian biasa, hujan itu tak menimbulkan keanehan bagi Muzakkir. Dia berfikir, hujan itu mengguyur seluruh kawasan Tebet. Namun ia menyadari ada keanehan dengan fenomena alam tersebut. Saat membuka pagar rumah, dia menyaksikan hujan hanya mengguyur tempat tinggalnya saja.

"Saya buka pagar ternyata hujan di samping rumah, persis depan kamar saya. Cuma separuh rumah hujannya. Separuh ke rumah saya, separuh lagi jalan," kata Muzakkir.

Padahal sebelumnya tak ada tanda-tanda air akan turun dari langit sore itu. Namun, hujan misterius tiba-tiba hanya mengguyur rumahnya.

"Kejadiannya hari Sabtu kurang lebih pukul 17.30 WIB ketika saya lagi main catur dengan teman saya. Pas menjelang Magrib kita bubar. Pas bubar, hujan mulai turun. Teman saya masuk rumah duluan, dia enggak ngeh kalau hujan. Saya juga cuma beres-beres, tapi keponakan saya teriak 'Hujan...! hujan...! mandi hujan," ucap Muzakkir.

Sementara itu, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) tidak bisa menjelaskan secara ilmiah soal hujan tersebut.

"Dari ranah keilmuan meteorologi, kemungkinan itu agak sulit diterima. Benar-benar di luar teori atau dari keilmuan meteorologi kalau hujan hanya satu rumah dan durasi lama," ujar Kasubid Analisa Informasi Iklim BMKG, Adi Ripaldi.

Dia juga mengungkap, ketika itu, BMKG tidak terdeteksi adanya awan di langit Jakarta yang bisa menyebabkan hujan, khususnya di kawasan rumah tersebut.

"Kalau dari BMKG, pertama kita lihat dari alat yang pakai radar gitu. Memang tidak terdeteksi ada awan di seputaran Jakarta waktu malam itu. Itu awal datangnya hujan dari mana, dari alat kita juga enggak terpantau ada awan di atas Jakarta," kata Adi.

Adi juga heran lantaran posisi hujan yang hanya mengenai satu rumah saja. Adi menilai, seharusnya rumah-rumah di sekitar rumah tersebut juga terkena hempasan hujan.

"Kalau memang hujan itu dari awan pasti empasan. Namanya dari awan, pasti kedorong angin, nyiprat ke tetanggalah ke mana, enggak mungkin hanya satu rumah," jelas Adi.

Karena merupakan fenomena yang langka, diakui Adi, hujan misterius di Tebet itu baru pertama kali terjadi dan diketahui oleh BMKG.

"Selama pantauan kami, hujan yang hanya guyur satu rumah ini memang baru-baru ini kita denger ya. Kalau ada hujan di satu kampung terus di kampung lain enggak ada, itu bisa secara lokal. Tapi kan enggak cuma satu rumah. Minimal satu kampung (kawasan) yang hujan itu masih bisa," kata Adi.

"Kalau yang khusus satu rumah terus tetangga kanan-kiri enggak ada dalam durasi yang lama, agak sulit karena dari segi teori awan itu bergerak hujan itu dipengaruhi faktor angin juga pasti akan bergeser," lanjut dia.

2. Hujan misterius berlangsung selama 6 jam

Muzakkir sempat mengira hujan misterius tersebut hanya berlangsung sebentar. Tak disangka, hujan terus berlangsung sampai hampir tengah malam.

"Saya pikir kejadian langka ini cuma 10 menit. Ternyata setelah Maghrib, setelah Isya saya keluar (rumah) lagi banyak yang ramai nonton. Kurang lebih enam jam kejadiannya, dari jam setengah 6 sore sampai jam setengah 12 malam," ujar Muzakkir.

Peristiwa aneh tersebut langsung menarik perhatian banyak orang di sekitar rumahnya. Tak sedikit tetangga yang datang karena penasaran ingin melihat peristiwa tersebut secara langsung.

"Adik (saya) juga merekam kejadiannya. Dia sempat kasih tahu ke teman-temannya. Banyak yang penasaran juga. Tetangga juga merekam, kirim ke Instagram dan lain-lain," kata Muzakkir.

Di sisi lain, pihak BMKG menilai, kalaupun memang ada hujan lokal, secara logika dan keilmuan tidak hanya terjadi di satu rumah dan durasinya pun tidak terlalu lama sampai enam jam, seperti yang terjadi di rumah kawasan Tebet tersebut.

"Kalau ada hujan yang khusus untuk satu rumah itu, secara teoritis memang agak susah diterima. Kalaupun ada hujan-hujan yang kecil di daerah yang sempit, namanya rain shadow atau bayangan hujan tapi kalaupun ada bayangan hujan artinya ada empasan hujan," tutur Kasubid Analisa Informasi Iklim BMKG, Adi Ripaldi.

Namun, jika pun ada empasan hujan, seharusnya ada hujan di wilayah sekitar. Misalkan, kata dia, di Bogor. Jakarta bisa terkena empasannya.

"Tapi empasan itu enggak bisa terjadi lama. Paling satu dua jam. Kalau yang di berita itu hujannya lama kan tuh, enam jam. Makanya dari segi teori keilmuan dan teknologi, agak sulit dibuktikan dari mana asalnya," kata Adi.

Terlebih, Indonesia sedang berada dalam puncak musim kemarau. Kalaupun ada hujan, tidak akan terjadi seperti di Tebet.

"Apalagi Agustus-September ini lagi puncak-puncaknya musim kemarau di Jakarta atau Jawa ya. Jadi kalaupun ada hujan ya hujan singkat paling sekitar 5-10 menit. Memang deras dan sempit waktunya," ucap Adi.

3. Warga menampung air hujan misterius untuk minum dan mandi

Sontak hujan misterius itu langsung menarik perhatian banyak orang di sekitar rumahnya. Tak sedikit tetangga berduyun-duyun datang karena penasaran ingin menyaksikan langsung peristiwa tersebut.

"Adik (saya) juga merekam kejadiannya. Dia sempat kasih tahu ke teman-temannya. Banyak yang penasaran juga. Tetangga juga merekam, kirim ke Instagram dan lain-lain," kata Muzakkir.

Bahkan para tetangga di sekitar rumah Muzakkir pun penasaran dan sampai sengaja mandi hujan-hujanan hingga menampung air hujan tersebut.
"Karena hujan tidak berhenti, sampai ada orang inisiatif kumpulin airnya di ember. Keponakan saya mandi air hujan itu. Saya juga coba ngerasain air hujannya walau nggak sampai basah semua badannya. Ada tetangga juga dua sampai tiga orang mandi hujan," tutur Muzakkir.

Salah seorang bahkan ada juga yang mengalami keanehan saat menampung air hujan tersebut. Adalah Fahmi (34 tahun), salah satu petugas keamanan komplek perumahan tempat Muzakkir tinggal, yang mengalami keanehan tersebut. Fahmi mengaku sampai kesulitan menampung air hujannya dan harus menunggu selama tiga jam.

"Saya nampung airnya juga, tapi anehnya saya tampung enggak penuh-penuh, hanya sedikit. Sampai tiga jam kita tadahin enggak penuh-penuh. Dipakai buat cuci muka. Diminum juga kayak air putih biasa. Bedanya, dingin aja," tuturnya.

"Allah punya kuasa. Sebelumnya belum pernah ada kejadian kayak gitu. Baru di sini aja," imbuh Fahmi.

4. Air hujan lebih jernih

Sang pemilik rumah, Muzakkir, mengatakan, air yang turun saat hujan misterius itu memiliki karakteristik lain dari hujan biasanya. Air hujan tersebut lebih jernih dari air hujan pada umumnya.

"Yang jelas, airnya lebih jernih dibandingkan air hujan biasanya. Kalau saya lihat di air hujannya, ya," kata Muzakkir.

Diakuinya, air tersebut juga sempat digunakannya untuk mandi. "Sempat minum juga," lanjutnya.

Salah seorang saksi mata, Fahmi, juga membenarkan peristiwa tersebut. Pria yang berprofesi sebagai petugas keamanan di kompleks perumahan tempat tinggal Muzakkir ini juga sempat menampung air hujan tersebut.

"Pas saya mantau itu airnya memang turun dari langit. Airnya bukan hujan biasa. Bedanya kalau disimpan, dinginnya kayak air kulkas. Kalau ditadangin ember, air hujannya kabur-kaburan terus. Kitanya yang kebasahan," cerita Fahmi.

5. Air hujan ditampung untuk penelitian

Muzakkir mengaku, ia sempat menampung air hujan misterius tersebut dan sempat digunakannya untuk mandi.

"Sempat minum juga," ujar Muzakkir.

Ia bermaksud untuk menyerahkannya ke laboratorium agar diuji kandungan airnya.

"Justru saya tampung itu buat ilmu pengetahuan. Untuk diuji mengenai kandungan air dan sebagainya," ujar Muzakkir.

Namun, hal tersebut urung dilakukan. Pasalnya, sang ibu telah membuang air yang ditampungnya tersebut.

"Tadinya niatnya seperti itu (serahkan ke laboratorium), tapi enggak jadi karena airnya udah keburu dibuang sama ibu," kata Muzakkir.

Dia ingin agar air tersebut dapat diteliti oleh instansi terkait untuk mendapatkan penjelasan yang logis.

"Saya butuh penjelasan logis ya, enggak hanya supranatural. Mungkin ada orang ahlinya bisa ngasih penjelasan dari BMKG, itu hujan apa, terus siapa tahu ada yang meneliti air tersebut mengandung apa. Yang jelas, saya lihat airnya jernih," jelasnya.

Terlepas dari kejadian aneh yang terjadi, Muzakkir menganggap hujan misterius itu sebagai kuasa Tuhan. Pengalaman langka itu baru dialaminya sepanjang hidup.

"Kalau keluarga sih merasa kejadiannya aneh saja. Kan jarang hujan kayak gitu. Saya anggap itu kuasa Allah kalau seperti itu. Termasuk hujan besar itu. Lokasi hujannya paling cuma 3 meter," pungkas Muzakkir.

Hujan Misterius di Satu Rumah Menyisakan Tanda Tanya Besar, Berikut 5 Faktanya..

Hujan Misterius di Satu Rumah Menyisakan Tanda Tanya Besar, Berikut 5 Faktanya..

RiauJOS.com, Jakarta - Hujan turun di satu rumah, menyisakan tanda tanya besar bagi siapa saja. Pasalnya, Jika biasanya hujan mengguyur satu kawasan secara merata atau paling tidak, dalam cakupan wilayah yang cukup luas, hal yang berbeda terjadi di sebuah rumah di kawasan Tebet tersebut.

Anehnya, hanya satu rumah yang terguyur hujan. Sementara sekelilingnya kering kerontang. Hujan tersebut turun menjelang malam pada Sabtu, 26 Agustus 2017.

Rekaman video fenomena alam langka itu kali pertama diunggah oleh akun @febicil di akun Twitter pribadinya pada 26 Agustus 2017 yang lalu.

Dalam rekamannya, suara hujan terdengar jelas dan tampak hanya membasahi satu rumah. Sementara rumah-rumah di sekitarnya sama sekali tidak tersentuh air hujan.

"Ada hujan yang turun di satu rumah doang di Tebet, kiri kanannya kering!" tulis @febicil.

Diwartakan Liputan 6, Rumah yang diguyur hujan misterius tersebut merupakan rumah milik warga setempat bernama Ahmad Muzakkir (40 tahun), berlokasi di Jalan Tebet Barat Dalam 1, No 18, Jakarta Selatan.

 Liputan 6 mencatat, ada lima fakta dalam fenomena hujan misterius, berikut ini.

1. Hanya satu rumah yang diguyur hujan

Sang pemilik rumah, Ahmad Muzakkir (40), menceritakan, hujan mengguyur rumahnya di Jalan Tebet Barat Dalam 1 No 18, Jakarta Selatan, pukul 17.30 WIB, Sabtu 26 Agustus 2017.

Saat itu, ia sedang bermain catur bersama teman di salah satu bagian rumahnya. Akan tetapi, sudut rumah itu tidak hujan. Oleh karena itu, ia heran ketika keponakannya dan anak-anak lain yang sedang bermain di depan rumahnya berteriak, "Hujan...! hujan...! Mandi hujan...! Mandi hujan...!" ujar Muzakkir Selasa, 29 Agustus 2017.

Awalnya Muzakkir tidak menyadari kalau hanya rumahnya yang diguyur hujan. Layaknya kejadian biasa, hujan itu tak menimbulkan keanehan bagi Muzakkir. Dia berfikir, hujan itu mengguyur seluruh kawasan Tebet. Namun ia menyadari ada keanehan dengan fenomena alam tersebut. Saat membuka pagar rumah, dia menyaksikan hujan hanya mengguyur tempat tinggalnya saja.

"Saya buka pagar ternyata hujan di samping rumah, persis depan kamar saya. Cuma separuh rumah hujannya. Separuh ke rumah saya, separuh lagi jalan," kata Muzakkir.

Padahal sebelumnya tak ada tanda-tanda air akan turun dari langit sore itu. Namun, hujan misterius tiba-tiba hanya mengguyur rumahnya.

"Kejadiannya hari Sabtu kurang lebih pukul 17.30 WIB ketika saya lagi main catur dengan teman saya. Pas menjelang Magrib kita bubar. Pas bubar, hujan mulai turun. Teman saya masuk rumah duluan, dia enggak ngeh kalau hujan. Saya juga cuma beres-beres, tapi keponakan saya teriak 'Hujan...! hujan...! mandi hujan," ucap Muzakkir.

Sementara itu, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) tidak bisa menjelaskan secara ilmiah soal hujan tersebut.

"Dari ranah keilmuan meteorologi, kemungkinan itu agak sulit diterima. Benar-benar di luar teori atau dari keilmuan meteorologi kalau hujan hanya satu rumah dan durasi lama," ujar Kasubid Analisa Informasi Iklim BMKG, Adi Ripaldi.

Dia juga mengungkap, ketika itu, BMKG tidak terdeteksi adanya awan di langit Jakarta yang bisa menyebabkan hujan, khususnya di kawasan rumah tersebut.

"Kalau dari BMKG, pertama kita lihat dari alat yang pakai radar gitu. Memang tidak terdeteksi ada awan di seputaran Jakarta waktu malam itu. Itu awal datangnya hujan dari mana, dari alat kita juga enggak terpantau ada awan di atas Jakarta," kata Adi.

Adi juga heran lantaran posisi hujan yang hanya mengenai satu rumah saja. Adi menilai, seharusnya rumah-rumah di sekitar rumah tersebut juga terkena hempasan hujan.

"Kalau memang hujan itu dari awan pasti empasan. Namanya dari awan, pasti kedorong angin, nyiprat ke tetanggalah ke mana, enggak mungkin hanya satu rumah," jelas Adi.

Karena merupakan fenomena yang langka, diakui Adi, hujan misterius di Tebet itu baru pertama kali terjadi dan diketahui oleh BMKG.

"Selama pantauan kami, hujan yang hanya guyur satu rumah ini memang baru-baru ini kita denger ya. Kalau ada hujan di satu kampung terus di kampung lain enggak ada, itu bisa secara lokal. Tapi kan enggak cuma satu rumah. Minimal satu kampung (kawasan) yang hujan itu masih bisa," kata Adi.

"Kalau yang khusus satu rumah terus tetangga kanan-kiri enggak ada dalam durasi yang lama, agak sulit karena dari segi teori awan itu bergerak hujan itu dipengaruhi faktor angin juga pasti akan bergeser," lanjut dia.

2. Hujan misterius berlangsung selama 6 jam

Muzakkir sempat mengira hujan misterius tersebut hanya berlangsung sebentar. Tak disangka, hujan terus berlangsung sampai hampir tengah malam.

"Saya pikir kejadian langka ini cuma 10 menit. Ternyata setelah Maghrib, setelah Isya saya keluar (rumah) lagi banyak yang ramai nonton. Kurang lebih enam jam kejadiannya, dari jam setengah 6 sore sampai jam setengah 12 malam," ujar Muzakkir.

Peristiwa aneh tersebut langsung menarik perhatian banyak orang di sekitar rumahnya. Tak sedikit tetangga yang datang karena penasaran ingin melihat peristiwa tersebut secara langsung.

"Adik (saya) juga merekam kejadiannya. Dia sempat kasih tahu ke teman-temannya. Banyak yang penasaran juga. Tetangga juga merekam, kirim ke Instagram dan lain-lain," kata Muzakkir.

Di sisi lain, pihak BMKG menilai, kalaupun memang ada hujan lokal, secara logika dan keilmuan tidak hanya terjadi di satu rumah dan durasinya pun tidak terlalu lama sampai enam jam, seperti yang terjadi di rumah kawasan Tebet tersebut.

"Kalau ada hujan yang khusus untuk satu rumah itu, secara teoritis memang agak susah diterima. Kalaupun ada hujan-hujan yang kecil di daerah yang sempit, namanya rain shadow atau bayangan hujan tapi kalaupun ada bayangan hujan artinya ada empasan hujan," tutur Kasubid Analisa Informasi Iklim BMKG, Adi Ripaldi.

Namun, jika pun ada empasan hujan, seharusnya ada hujan di wilayah sekitar. Misalkan, kata dia, di Bogor. Jakarta bisa terkena empasannya.

"Tapi empasan itu enggak bisa terjadi lama. Paling satu dua jam. Kalau yang di berita itu hujannya lama kan tuh, enam jam. Makanya dari segi teori keilmuan dan teknologi, agak sulit dibuktikan dari mana asalnya," kata Adi.

Terlebih, Indonesia sedang berada dalam puncak musim kemarau. Kalaupun ada hujan, tidak akan terjadi seperti di Tebet.

"Apalagi Agustus-September ini lagi puncak-puncaknya musim kemarau di Jakarta atau Jawa ya. Jadi kalaupun ada hujan ya hujan singkat paling sekitar 5-10 menit. Memang deras dan sempit waktunya," ucap Adi.

3. Warga menampung air hujan misterius untuk minum dan mandi

Sontak hujan misterius itu langsung menarik perhatian banyak orang di sekitar rumahnya. Tak sedikit tetangga berduyun-duyun datang karena penasaran ingin menyaksikan langsung peristiwa tersebut.

"Adik (saya) juga merekam kejadiannya. Dia sempat kasih tahu ke teman-temannya. Banyak yang penasaran juga. Tetangga juga merekam, kirim ke Instagram dan lain-lain," kata Muzakkir.

Bahkan para tetangga di sekitar rumah Muzakkir pun penasaran dan sampai sengaja mandi hujan-hujanan hingga menampung air hujan tersebut.
"Karena hujan tidak berhenti, sampai ada orang inisiatif kumpulin airnya di ember. Keponakan saya mandi air hujan itu. Saya juga coba ngerasain air hujannya walau nggak sampai basah semua badannya. Ada tetangga juga dua sampai tiga orang mandi hujan," tutur Muzakkir.

Salah seorang bahkan ada juga yang mengalami keanehan saat menampung air hujan tersebut. Adalah Fahmi (34 tahun), salah satu petugas keamanan komplek perumahan tempat Muzakkir tinggal, yang mengalami keanehan tersebut. Fahmi mengaku sampai kesulitan menampung air hujannya dan harus menunggu selama tiga jam.

"Saya nampung airnya juga, tapi anehnya saya tampung enggak penuh-penuh, hanya sedikit. Sampai tiga jam kita tadahin enggak penuh-penuh. Dipakai buat cuci muka. Diminum juga kayak air putih biasa. Bedanya, dingin aja," tuturnya.

"Allah punya kuasa. Sebelumnya belum pernah ada kejadian kayak gitu. Baru di sini aja," imbuh Fahmi.

4. Air hujan lebih jernih

Sang pemilik rumah, Muzakkir, mengatakan, air yang turun saat hujan misterius itu memiliki karakteristik lain dari hujan biasanya. Air hujan tersebut lebih jernih dari air hujan pada umumnya.

"Yang jelas, airnya lebih jernih dibandingkan air hujan biasanya. Kalau saya lihat di air hujannya, ya," kata Muzakkir.

Diakuinya, air tersebut juga sempat digunakannya untuk mandi. "Sempat minum juga," lanjutnya.

Salah seorang saksi mata, Fahmi, juga membenarkan peristiwa tersebut. Pria yang berprofesi sebagai petugas keamanan di kompleks perumahan tempat tinggal Muzakkir ini juga sempat menampung air hujan tersebut.

"Pas saya mantau itu airnya memang turun dari langit. Airnya bukan hujan biasa. Bedanya kalau disimpan, dinginnya kayak air kulkas. Kalau ditadangin ember, air hujannya kabur-kaburan terus. Kitanya yang kebasahan," cerita Fahmi.

5. Air hujan ditampung untuk penelitian

Muzakkir mengaku, ia sempat menampung air hujan misterius tersebut dan sempat digunakannya untuk mandi.

"Sempat minum juga," ujar Muzakkir.

Ia bermaksud untuk menyerahkannya ke laboratorium agar diuji kandungan airnya.

"Justru saya tampung itu buat ilmu pengetahuan. Untuk diuji mengenai kandungan air dan sebagainya," ujar Muzakkir.

Namun, hal tersebut urung dilakukan. Pasalnya, sang ibu telah membuang air yang ditampungnya tersebut.

"Tadinya niatnya seperti itu (serahkan ke laboratorium), tapi enggak jadi karena airnya udah keburu dibuang sama ibu," kata Muzakkir.

Dia ingin agar air tersebut dapat diteliti oleh instansi terkait untuk mendapatkan penjelasan yang logis.

"Saya butuh penjelasan logis ya, enggak hanya supranatural. Mungkin ada orang ahlinya bisa ngasih penjelasan dari BMKG, itu hujan apa, terus siapa tahu ada yang meneliti air tersebut mengandung apa. Yang jelas, saya lihat airnya jernih," jelasnya.

Terlepas dari kejadian aneh yang terjadi, Muzakkir menganggap hujan misterius itu sebagai kuasa Tuhan. Pengalaman langka itu baru dialaminya sepanjang hidup.

"Kalau keluarga sih merasa kejadiannya aneh saja. Kan jarang hujan kayak gitu. Saya anggap itu kuasa Allah kalau seperti itu. Termasuk hujan besar itu. Lokasi hujannya paling cuma 3 meter," pungkas Muzakkir.

Comments
0 Comments