Halimah Yacob, Penjual Nasi Padang yang Segera Dilantik jadi Presiden Singapura

RiauJOS.com, Singapura - Halimah Yacob adalah mantan Ketua Parlemen Singapura. Kini dia secara resmi ditetapkan sebagai presiden dan mendapat sertifikat setelah mengalahkan empat kandidat lain yang tidak memenuhi syarat pencalonan. 

Diwartakan Poskotanews yang dilansir Straits Times, Selasa, 12 September 2017, perjalanan karir Halimah untuk menjadi presiden tidaklah mudah.

Halimah adalah anak bungsu dari lima bersaudara yang lahir di Queen Street, Singapura 1962. Orangtuanya keturunan Melayu. Ayahnya bekerja sebagai penjaga keamanan sedangkan ibunnya berjualan nasi padang, setelah suaminya meninggal. 

Ibunya menggunakan gerobak dorong saat berjualan di sekitar Jalan Shenton. Di usia 8 tahun Halimah sering ikut ibunya berjualan, membantu bersih-bersih, mencuci piring, membersihkan meja, hingga melayani pelanggan.

Halimah menempuh pendidikan di di Singapore Chinese Girls School dan melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi Singapura jurusan hukum. Lulus kuliah ia bekerja di National Trades Union Congress (NTUC) sebagai bidang legal. Setelah 30 tahun akhirnya ia ditunjuk menjadi wakil sekretaris jenderal.

Halimah kemudian terjun ke dunia politik atas desakan Perdana Menteri Goh Chok Tong. Karir Halimah di bidang politik berkembang dengan pesat. Pada 2011 dia ditunjuk sebagai Menteri Negara di Kementerian Pengembangan Masyarakat, Pemuda dan Olahraga. Pada 2013, dia ditunjuk sebagai perempuan pertama Ketua Parlemen Singapura.

Pada 2017, Halimah maju dalam pemilihan presiden dan menang. Kini Halimah sedang mempersiapkan diri untuk pelantikan Rabu besok, 13 September 2017. “Saya ingin melayani rakyat Singapura dan negri ini. Itu tujuan utama saya tak ada yang lain,” kata Halimah saat ditanya tujuan ikut Pemilu.

Profil Halimah Yacob

Wikipedia mencatat, Halimah binti Yacob (lahir di Singapura, 23 Agustus 1954; umur 63 tahun) adalah seorang politikus Singapura, dari ayah keturunan paternal India dan ibu keturunan Melayu. 

Memulai karier politik sebagai seorang anggota partai pemerintah Partai Aksi Rakyat (PAP), dia menjabat sebagai Ketua Parlemen Singapura ke-9, dari Januari 2013 hingga Agustus 2017. 

Ia adalah wanita pertama yang menduduki posisi ini dalam sejarah Republik Singapura. Ia adalah orang ketiga yang menjadi Ketua Parlemen dari ras minoritas secara berturut-turut, setelah Abdullah Tarmugi dan Michael Palmer.

Dia adalah Anggota Parlemen mewakili Perwakilan Konstituensi Kelompok Jurong antara 2001 dan 2015, dan Perwakilan Konstituensi Kelompok Marsiling-Yew Tee antara 2015 dan 2017. Pada 7 Agustus 2017, dia mengundurkan diri dari jabatannya sebagai ketua dan anggota dan dari keanggotaannya di PAP untuk maju sebagai kandidat dalam Pemilihan Presiden Singapura 2017.

Dia mendapat kemenangan pemilihan dengan telak setelah dinyatakan kandidat yang memenuhi syarat untuk jabatan pada 11 September 2017. 

Hal itu dilaporkan bahwa dia akan dinyatakan sebagai presiden ke-8 "segera setelah penutupan pencalonan pada siang hari Rabu" pada 13 September 2017.

Halimah Yacob, Penjual Nasi Padang yang Segera Dilantik jadi Presiden Singapura

Halimah Yacob, Penjual Nasi Padang yang Segera Dilantik jadi Presiden Singapura

RiauJOS.com, Singapura - Halimah Yacob adalah mantan Ketua Parlemen Singapura. Kini dia secara resmi ditetapkan sebagai presiden dan mendapat sertifikat setelah mengalahkan empat kandidat lain yang tidak memenuhi syarat pencalonan. 

Diwartakan Poskotanews yang dilansir Straits Times, Selasa, 12 September 2017, perjalanan karir Halimah untuk menjadi presiden tidaklah mudah.

Halimah adalah anak bungsu dari lima bersaudara yang lahir di Queen Street, Singapura 1962. Orangtuanya keturunan Melayu. Ayahnya bekerja sebagai penjaga keamanan sedangkan ibunnya berjualan nasi padang, setelah suaminya meninggal. 

Ibunya menggunakan gerobak dorong saat berjualan di sekitar Jalan Shenton. Di usia 8 tahun Halimah sering ikut ibunya berjualan, membantu bersih-bersih, mencuci piring, membersihkan meja, hingga melayani pelanggan.

Halimah menempuh pendidikan di di Singapore Chinese Girls School dan melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi Singapura jurusan hukum. Lulus kuliah ia bekerja di National Trades Union Congress (NTUC) sebagai bidang legal. Setelah 30 tahun akhirnya ia ditunjuk menjadi wakil sekretaris jenderal.

Halimah kemudian terjun ke dunia politik atas desakan Perdana Menteri Goh Chok Tong. Karir Halimah di bidang politik berkembang dengan pesat. Pada 2011 dia ditunjuk sebagai Menteri Negara di Kementerian Pengembangan Masyarakat, Pemuda dan Olahraga. Pada 2013, dia ditunjuk sebagai perempuan pertama Ketua Parlemen Singapura.

Pada 2017, Halimah maju dalam pemilihan presiden dan menang. Kini Halimah sedang mempersiapkan diri untuk pelantikan Rabu besok, 13 September 2017. “Saya ingin melayani rakyat Singapura dan negri ini. Itu tujuan utama saya tak ada yang lain,” kata Halimah saat ditanya tujuan ikut Pemilu.

Profil Halimah Yacob

Wikipedia mencatat, Halimah binti Yacob (lahir di Singapura, 23 Agustus 1954; umur 63 tahun) adalah seorang politikus Singapura, dari ayah keturunan paternal India dan ibu keturunan Melayu. 

Memulai karier politik sebagai seorang anggota partai pemerintah Partai Aksi Rakyat (PAP), dia menjabat sebagai Ketua Parlemen Singapura ke-9, dari Januari 2013 hingga Agustus 2017. 

Ia adalah wanita pertama yang menduduki posisi ini dalam sejarah Republik Singapura. Ia adalah orang ketiga yang menjadi Ketua Parlemen dari ras minoritas secara berturut-turut, setelah Abdullah Tarmugi dan Michael Palmer.

Dia adalah Anggota Parlemen mewakili Perwakilan Konstituensi Kelompok Jurong antara 2001 dan 2015, dan Perwakilan Konstituensi Kelompok Marsiling-Yew Tee antara 2015 dan 2017. Pada 7 Agustus 2017, dia mengundurkan diri dari jabatannya sebagai ketua dan anggota dan dari keanggotaannya di PAP untuk maju sebagai kandidat dalam Pemilihan Presiden Singapura 2017.

Dia mendapat kemenangan pemilihan dengan telak setelah dinyatakan kandidat yang memenuhi syarat untuk jabatan pada 11 September 2017. 

Hal itu dilaporkan bahwa dia akan dinyatakan sebagai presiden ke-8 "segera setelah penutupan pencalonan pada siang hari Rabu" pada 13 September 2017.