Depresi adalah Hal Wajar, Cek Fitur baru Google untuk Membantu Mengatasinya

RiauJOS.com, Teknologi - Kondisi kesehatan mental seseorang memang tidak kasatmata, hal ini membuat setiap orang sulit mengenalinya. Baru-baru ini, Google mencoba membantu siapapun untuk mengetahui soal depresi, dan bagaimana cara mendapat informasi valid yang berguna untuk mengatasinya.

Depresi bisa diartikan sebagai kondisi gangguan psikologis dengan ciri adanya perasaan sedih atau kekosongan mendalam. Tidak sembarang orang mampu mendiagnosis depresi. Perlu ada pemeriksaan ahli, seperti psikiater atau psikolog.

Menurut hasil penelitian, sebetulnya setiap orang dapat mengalami depresi, setidaknya satu masa dalam hidupnya, karena pada dasarnya, depresi dapat muncul sebagai manifestasi dari perasaan tertekan mendalam yang dialami seseorang.

Meski terlihat sulit mengenali dan menyadari jika seseorang mengalami depresi, namun tetap ada upaya untuk mengenali depresi sejak dini. Saat ini, orang selalu mencari informasi di internet tentang kesehatan.

Google memahami kebiasaan orang saat ini yang lebih senang mencari informasi lewat internet. Fitur baru mesin pencarian ini, "Symptom Search" yang akan membantu pengguna mencari informasi valid tentang masalah kesehatan psikologi. Bahkan, telah diluncurkan juga fitur yang memungkinkan pengguna mengetahui tingkat depresi secara daring.

Diwartakan Livescience, saat memasukkan kata kunci depresi di alat penelusuran Google versi ponsel, pengguna akan mendapatkan tombol "check if you're clinically depressed" (periksa apakah Anda mengalami depresi secara klinis), kemudian pengguna akan diarahkan mengikuti sebuah kuis di mana mereka harus menjawab serangkaian pertanyaan tentang perilaku.

Statistik menunjukkan bahwa mereka yang memiliki gejala depresi mengalami rata-rata penundaan enam sampai delapan tahun dalam mendapatkan pengobatan setelah timbulnya gejala.

Dilaporkan Time, ada 65 persen orang dengan gejala depresi berat tidak mendapatkan bantuan dari seorang profesional kesehatan mental. Padahal orang dengan kasus depresi berat, wajib mendapatkan terapi dari ahli kesehatan mental, dan mengharuskan seorang psikiater untuk merawatnya.

Mary Giliberti, CEO Aliansi Kesehatan Mental Nasional, menuturkan bahwa kesadaran akan depresi dapat membantu seseorang mendapatkan akses pengobatan yang lebih cepat. Dan diharapkan fitur ini dapat membantu.

"Kami berharap dengan membuat fitur ini di Google, lebih banyak orang akan menjadi sadar akan depresi dan mencari pengobatan untuk memulihkan dan meningkatkan kualitas hidup mereka," terang Giliberti.

Penilaian diri ini bersifat pribadi serta dapat membantu menentukan tingkat depresi seseorang. Tentu saja, kuesioner ini bukan satu satunya alat untuk mendeteksi depresi. Jadi dengan kata lain, seseorang tidak dapat mendiagnosis depresi hanya dengan melakukan survei secara daring.

Fitur baru yang dapat mendeteksi tingkat depresi ini juga disambut baik oleh para ahli kejiwaan. Dr. David Hellerstein, seorang profesor psikiatri klinis di Columbia University Medical Center di New York City, mengatakan, kuesioner ini bisa membantu orang untuk mengenali gejala depresi

"Sangat penting untuk mengenali apakah seseorang depresi sehingga bisa dilakukan tindakan untuk mengatasinya," kata Hellerstein.

Di Amerika Serikat hampir 16 juta orang dewasa mengalami depresi dan ini menjadi salah satu kondisi kesehatan mental yang paling umum. Sayangnya, gejala depresi sering terabaikan, bahkan oleh mereka yang mengalaminya.

Secara umum gejala depresi bisa terlihat jika seseorang kehilangan nafsu makan, gangguan tidur, sulit konsentrasi, hingga munculnya keinginan untuk bunuh diri. Kesemuanya dialami setiap hari selama sekitar dua minggu.

Beberapa selebriti dunia pernah mengalami depresi. Mereka akhirnya mengakui dengan jujur gangguan kesehatan yang dialami.

Seperti pengakuan penyanyi, Demi Lovato kepada Buzzfeed pada tahun 2015 tentang kesehatan mentalnya, termasuk depresi serta diagnosis gangguan bipolar.

Lovato mengakui bahwa dirinya butuh waktu bertahun-tahun untuk mencari tahu mengapa dirinya merasa sangat sedih, kesepian dan sama sekali tidak bahagia. Padahal di mata orang awam, kehidupannya tampak luar biasa. Dia mengatakan kalau penyakit jiwa tidak tampak seperti penyakit fisik.

Hal serupa juga dialami oleh Drew Barrymore mengalami depresi pasca-melahirkan anak keduanya pada tahun 2014. Barrymore berkata bahwa depresi yang dialami setelah melahirkan berlangsung selama enam bulan, seperti dikutip People.

Jadi, mengalami depresi adalah hal yang wajar, bukan sesuatu yang aneh, apalagi memalukan. Namun, perlu segera dikenali agar dapat diatasi.

Depresi adalah Hal Wajar, Cek Fitur baru Google untuk Membantu Mengatasinya

Depresi adalah Hal Wajar, Cek Fitur baru Google untuk Membantu Mengatasinya

RiauJOS.com, Teknologi - Kondisi kesehatan mental seseorang memang tidak kasatmata, hal ini membuat setiap orang sulit mengenalinya. Baru-baru ini, Google mencoba membantu siapapun untuk mengetahui soal depresi, dan bagaimana cara mendapat informasi valid yang berguna untuk mengatasinya.

Depresi bisa diartikan sebagai kondisi gangguan psikologis dengan ciri adanya perasaan sedih atau kekosongan mendalam. Tidak sembarang orang mampu mendiagnosis depresi. Perlu ada pemeriksaan ahli, seperti psikiater atau psikolog.

Menurut hasil penelitian, sebetulnya setiap orang dapat mengalami depresi, setidaknya satu masa dalam hidupnya, karena pada dasarnya, depresi dapat muncul sebagai manifestasi dari perasaan tertekan mendalam yang dialami seseorang.

Meski terlihat sulit mengenali dan menyadari jika seseorang mengalami depresi, namun tetap ada upaya untuk mengenali depresi sejak dini. Saat ini, orang selalu mencari informasi di internet tentang kesehatan.

Google memahami kebiasaan orang saat ini yang lebih senang mencari informasi lewat internet. Fitur baru mesin pencarian ini, "Symptom Search" yang akan membantu pengguna mencari informasi valid tentang masalah kesehatan psikologi. Bahkan, telah diluncurkan juga fitur yang memungkinkan pengguna mengetahui tingkat depresi secara daring.

Diwartakan Livescience, saat memasukkan kata kunci depresi di alat penelusuran Google versi ponsel, pengguna akan mendapatkan tombol "check if you're clinically depressed" (periksa apakah Anda mengalami depresi secara klinis), kemudian pengguna akan diarahkan mengikuti sebuah kuis di mana mereka harus menjawab serangkaian pertanyaan tentang perilaku.

Statistik menunjukkan bahwa mereka yang memiliki gejala depresi mengalami rata-rata penundaan enam sampai delapan tahun dalam mendapatkan pengobatan setelah timbulnya gejala.

Dilaporkan Time, ada 65 persen orang dengan gejala depresi berat tidak mendapatkan bantuan dari seorang profesional kesehatan mental. Padahal orang dengan kasus depresi berat, wajib mendapatkan terapi dari ahli kesehatan mental, dan mengharuskan seorang psikiater untuk merawatnya.

Mary Giliberti, CEO Aliansi Kesehatan Mental Nasional, menuturkan bahwa kesadaran akan depresi dapat membantu seseorang mendapatkan akses pengobatan yang lebih cepat. Dan diharapkan fitur ini dapat membantu.

"Kami berharap dengan membuat fitur ini di Google, lebih banyak orang akan menjadi sadar akan depresi dan mencari pengobatan untuk memulihkan dan meningkatkan kualitas hidup mereka," terang Giliberti.

Penilaian diri ini bersifat pribadi serta dapat membantu menentukan tingkat depresi seseorang. Tentu saja, kuesioner ini bukan satu satunya alat untuk mendeteksi depresi. Jadi dengan kata lain, seseorang tidak dapat mendiagnosis depresi hanya dengan melakukan survei secara daring.

Fitur baru yang dapat mendeteksi tingkat depresi ini juga disambut baik oleh para ahli kejiwaan. Dr. David Hellerstein, seorang profesor psikiatri klinis di Columbia University Medical Center di New York City, mengatakan, kuesioner ini bisa membantu orang untuk mengenali gejala depresi

"Sangat penting untuk mengenali apakah seseorang depresi sehingga bisa dilakukan tindakan untuk mengatasinya," kata Hellerstein.

Di Amerika Serikat hampir 16 juta orang dewasa mengalami depresi dan ini menjadi salah satu kondisi kesehatan mental yang paling umum. Sayangnya, gejala depresi sering terabaikan, bahkan oleh mereka yang mengalaminya.

Secara umum gejala depresi bisa terlihat jika seseorang kehilangan nafsu makan, gangguan tidur, sulit konsentrasi, hingga munculnya keinginan untuk bunuh diri. Kesemuanya dialami setiap hari selama sekitar dua minggu.

Beberapa selebriti dunia pernah mengalami depresi. Mereka akhirnya mengakui dengan jujur gangguan kesehatan yang dialami.

Seperti pengakuan penyanyi, Demi Lovato kepada Buzzfeed pada tahun 2015 tentang kesehatan mentalnya, termasuk depresi serta diagnosis gangguan bipolar.

Lovato mengakui bahwa dirinya butuh waktu bertahun-tahun untuk mencari tahu mengapa dirinya merasa sangat sedih, kesepian dan sama sekali tidak bahagia. Padahal di mata orang awam, kehidupannya tampak luar biasa. Dia mengatakan kalau penyakit jiwa tidak tampak seperti penyakit fisik.

Hal serupa juga dialami oleh Drew Barrymore mengalami depresi pasca-melahirkan anak keduanya pada tahun 2014. Barrymore berkata bahwa depresi yang dialami setelah melahirkan berlangsung selama enam bulan, seperti dikutip People.

Jadi, mengalami depresi adalah hal yang wajar, bukan sesuatu yang aneh, apalagi memalukan. Namun, perlu segera dikenali agar dapat diatasi.

Comments
0 Comments