Spanduk Imbauan Dishub Larang Ojek Online Beroperasi di Pekanbaru, Dibakar..!!

RiauJOS.com, Pekanbaru - Beberapa hari yang lalu, dinas perhubungan Kota Pekanbaru menyosialisasikan larangan operasi ojek online, dan pada Minggu, 20 Agustus 2017 terjadi kericuhan antara pengemudi ojek online dengan pengemudi konvensional, diduga lantaran kesal, pengemudi ojek online melampiaskan kekecewaanya dengan cara membakar spanduk imbauan dishub Kota Pekanbaru.

Video pembakaran spanduk imbauan dishub di bakar, Penelusuran Riau JOS di media sosial, YouTube terekam aksi bakar spanduk. Ada beberapa orang berteriak penuh emosional, "bakar..!! bakar.. bakar.. bakar..!!," dan beberapa orang memegangi spanduk imbauan dishub, lantas disulut dengan korek api.

Spanduk Imbauan Dishub Larang Ojek Online Beroperasi di Pekanbaru, Dibakar..!!

Belum diketahui, siapa oknum yang melakukan pembakaran spanduk imbauan dishub pekanbaru, dalam rekaman video terlihat beberapa orang mengenakan jaket hijau brand dari pengemudi ojek online, Go-Jek, dan juga pria berjaket hitam memegangi spanduk untuk dibakar.

Selengkapnya, tonton video ini.


Terlihat dalam rekaman video, aparat kepolisan sedang sibuk menenangkan situasi, pengemudi ojek online dan warga masyarakat sekitar memadati ruas jalan di sampin Mall SKA Pekanbaru, di Jalan Tuanku Tambusai (Jalan Nangka Ujung), terdengar suara sirine polisi, suasana semakin riuh, saat para pengemudi mulai saling berlawanan.

Diwartakan Riau JOS sebelumnya, Spanduk bertuliskan, "Angkutan Sewa Khusus Online - Grab Car, Uber, Go Car dll, dilarang beroperasi di wilayah Kota Pekanbaru" muncul di beberapa titik di Pekanbaru. Satu diantaranya terpasang di Halte Bus TMP, samping Perkantoran Wali Kota Pekanbaru.

Kepala Bidang Angkutan Darat Dishub Kota Pekanbaru, Sunarko menjelaskan, spanduk ini sengaja dipasang untuk mengingatkan bahwa angkutan sewa berbasis aplikasi online dilarang beroperasi.


Polisi selidiki bentrok Gojek dengan taksi konvensional di Pekanbaru

Kepolisian Resor Kota Pekanbaru menyelidiki bentrokan beruntun antara pengemudi transportasi berbasis aplikasi dalam hal ini Gojek dan Gocar dengan para sopir taksi konvensional yang terjadi di Simpang Mall SKA, Minggu sore, 20 Agustus 2017 hingga malam.

"Pelaku dalam lidik baik dari sopir taksi konvensional maupun dari yang 'online'," kata Kepala Polresta Pekanbaru, Kombes Pol Susanto di Pekanbaru, Minggu malam, 20 Agustus.

Diwartakan Antara yang dikutip Riau JOS dari laman Merdeka, dia menjelaskan kejadian itu diduga soal keberadaan kendaraan berbasis aplikasi yang dianggap mengganggu aktivitasnya sebagai angkutan penumpang.

Saat ini pihak taksi konvensional merasa penumpang mulai beralih ke transportasi daring tersebut seperti Gocar, Gojek, Grab dan Uber selain juga dianggap belum diizinkan operasi oleh Pemerintah Kota Pekanbaru.

Kronologisnya sekitar pukul 13.30 WIB sopir taksi konvensional Puskopau dan Kopsi sengaja memesan sebagai penumpang untuk memancing Gojek dan Gocar. Itu untuk memastikan apakah masih beroperasi setelah adanya spanduk bahwa transportasi berbasis aplikasi dilarang di Pekanbaru masih beroperasi yang dipampang di Kantor Dinas Perhubungan setempat.

"Saat itu Gocar datang ke Mall SKA menjemput penumpang sesuai pesanan penumpang. Seketika itu juga sopir-sopir taksi lebih kurang tujuh mobil yang sudah berkumpul marah dan langsung memukuli dan menggembosi ban mobilnya GoCar dan memberhentikan GoJek yang melintas," ujar kapolres.

Kemudian pada pukul 17.00 WIB para pengendara Gocar dan Gojek berencana melapor ke Kepolisian Sektor Tampan. Akan tetapi terjadi lagi keributan dan pengeroyokan oleh supir taksi konvensional terhadap pengendara Gojek Arief Setiawan (29 tahun).

Akibat kejadian itulah maka terjadi aksi ramai-ramai pengendara Gojek yang jumlahnya lebih dari 100 mendatangi lokasi. Mereka mengamuk dengan menghancurkan dan mengejar sejumlah mobil taksi konvensional.

Mereka memukul taksi dengan helm dan alat lainnya hingga ada mobil taksi yang pecah. Aksi tersebut membuat suasana ricuh di persimpangan tersebut karena juga disaksikan oleh masyarakat ramai.

Sekitar pukul 19.30 WIB suasana sudah tidak memanas lagi dan polisi berjaga di lokasi, sedangkan para pengendara Gojek membubarkan diri dengan berkonvoi."Polresta dan polsek jajaran menurunkan personel, untuk korban dibawa ke Rumah Sakit Bhayangkara untuk visum dan kasusnya lidik di Polsek Tampan," ungkap Kapolres.

Spanduk Imbauan Dishub Larang Ojek Online Beroperasi di Pekanbaru, Dibakar..!!

Spanduk Imbauan Dishub Larang Ojek Online Beroperasi di Pekanbaru, Dibakar..!!

RiauJOS.com, Pekanbaru - Beberapa hari yang lalu, dinas perhubungan Kota Pekanbaru menyosialisasikan larangan operasi ojek online, dan pada Minggu, 20 Agustus 2017 terjadi kericuhan antara pengemudi ojek online dengan pengemudi konvensional, diduga lantaran kesal, pengemudi ojek online melampiaskan kekecewaanya dengan cara membakar spanduk imbauan dishub Kota Pekanbaru.

Video pembakaran spanduk imbauan dishub di bakar, Penelusuran Riau JOS di media sosial, YouTube terekam aksi bakar spanduk. Ada beberapa orang berteriak penuh emosional, "bakar..!! bakar.. bakar.. bakar..!!," dan beberapa orang memegangi spanduk imbauan dishub, lantas disulut dengan korek api.

Spanduk Imbauan Dishub Larang Ojek Online Beroperasi di Pekanbaru, Dibakar..!!

Belum diketahui, siapa oknum yang melakukan pembakaran spanduk imbauan dishub pekanbaru, dalam rekaman video terlihat beberapa orang mengenakan jaket hijau brand dari pengemudi ojek online, Go-Jek, dan juga pria berjaket hitam memegangi spanduk untuk dibakar.

Selengkapnya, tonton video ini.


Terlihat dalam rekaman video, aparat kepolisan sedang sibuk menenangkan situasi, pengemudi ojek online dan warga masyarakat sekitar memadati ruas jalan di sampin Mall SKA Pekanbaru, di Jalan Tuanku Tambusai (Jalan Nangka Ujung), terdengar suara sirine polisi, suasana semakin riuh, saat para pengemudi mulai saling berlawanan.

Diwartakan Riau JOS sebelumnya, Spanduk bertuliskan, "Angkutan Sewa Khusus Online - Grab Car, Uber, Go Car dll, dilarang beroperasi di wilayah Kota Pekanbaru" muncul di beberapa titik di Pekanbaru. Satu diantaranya terpasang di Halte Bus TMP, samping Perkantoran Wali Kota Pekanbaru.

Kepala Bidang Angkutan Darat Dishub Kota Pekanbaru, Sunarko menjelaskan, spanduk ini sengaja dipasang untuk mengingatkan bahwa angkutan sewa berbasis aplikasi online dilarang beroperasi.


Polisi selidiki bentrok Gojek dengan taksi konvensional di Pekanbaru

Kepolisian Resor Kota Pekanbaru menyelidiki bentrokan beruntun antara pengemudi transportasi berbasis aplikasi dalam hal ini Gojek dan Gocar dengan para sopir taksi konvensional yang terjadi di Simpang Mall SKA, Minggu sore, 20 Agustus 2017 hingga malam.

"Pelaku dalam lidik baik dari sopir taksi konvensional maupun dari yang 'online'," kata Kepala Polresta Pekanbaru, Kombes Pol Susanto di Pekanbaru, Minggu malam, 20 Agustus.

Diwartakan Antara yang dikutip Riau JOS dari laman Merdeka, dia menjelaskan kejadian itu diduga soal keberadaan kendaraan berbasis aplikasi yang dianggap mengganggu aktivitasnya sebagai angkutan penumpang.

Saat ini pihak taksi konvensional merasa penumpang mulai beralih ke transportasi daring tersebut seperti Gocar, Gojek, Grab dan Uber selain juga dianggap belum diizinkan operasi oleh Pemerintah Kota Pekanbaru.

Kronologisnya sekitar pukul 13.30 WIB sopir taksi konvensional Puskopau dan Kopsi sengaja memesan sebagai penumpang untuk memancing Gojek dan Gocar. Itu untuk memastikan apakah masih beroperasi setelah adanya spanduk bahwa transportasi berbasis aplikasi dilarang di Pekanbaru masih beroperasi yang dipampang di Kantor Dinas Perhubungan setempat.

"Saat itu Gocar datang ke Mall SKA menjemput penumpang sesuai pesanan penumpang. Seketika itu juga sopir-sopir taksi lebih kurang tujuh mobil yang sudah berkumpul marah dan langsung memukuli dan menggembosi ban mobilnya GoCar dan memberhentikan GoJek yang melintas," ujar kapolres.

Kemudian pada pukul 17.00 WIB para pengendara Gocar dan Gojek berencana melapor ke Kepolisian Sektor Tampan. Akan tetapi terjadi lagi keributan dan pengeroyokan oleh supir taksi konvensional terhadap pengendara Gojek Arief Setiawan (29 tahun).

Akibat kejadian itulah maka terjadi aksi ramai-ramai pengendara Gojek yang jumlahnya lebih dari 100 mendatangi lokasi. Mereka mengamuk dengan menghancurkan dan mengejar sejumlah mobil taksi konvensional.

Mereka memukul taksi dengan helm dan alat lainnya hingga ada mobil taksi yang pecah. Aksi tersebut membuat suasana ricuh di persimpangan tersebut karena juga disaksikan oleh masyarakat ramai.

Sekitar pukul 19.30 WIB suasana sudah tidak memanas lagi dan polisi berjaga di lokasi, sedangkan para pengendara Gojek membubarkan diri dengan berkonvoi."Polresta dan polsek jajaran menurunkan personel, untuk korban dibawa ke Rumah Sakit Bhayangkara untuk visum dan kasusnya lidik di Polsek Tampan," ungkap Kapolres.

Comments
0 Comments