Permen Tengkorak Mulanya Manis, Lama-lama Berubah jadi Pahit.. 7 Siswa SD Keracunan

RiauJOS.com, Kutai Timur - Tujuh siswa Sekolah Dasar (SD) keracunan setelah mengkonsumsi permen tengkorak. Mereka siswa SD 011 Sangatta Utara mengalami pusing, muntah cairan merah, lemas, dan keringat dingin. Selanjutnya, mereka mendapatkan penanganan medis.

Awalnya, mereka mengalami sakit perut sekitar pukul 11.30 WITA, kemudian ada yang muntah dan mengeluarkan keringat dingin. Melihat kondisi yang tidak wajar, para guru lantas membawa mereka ke Puskesmas Sangatta Utara. Tujuh Siswa SD, yaitu Siti Aisyah, Lutfia Cista, Rifka, Ayyira, M Rizki, Andi Akbar, dan Surya Triatmojo.

Permen yang sebelumnya dikonsumsi siswa SD merupakan produksi salah satu perusahaan di Guangdong, Tiongkok. Permen berbentuk tengkorak berperisa stroberi, seperti tertera di kemasannya “Permen keras berperisa stroberi”, sedangkan tanggal kadaluwarsa pada 30 Desember 2018.

Berdasarkan penelusuran di internet, muncul sebuah website penjual aneka permen anak-anak dengan latar belakang putih dan nama perusahaan berwarna biru. Produksi utama perusahaan ini, yaitu candy, lollipop, candy toy, tablet candy, dan popping candy. Perusahaan yang didirikan pada 2001 punya pangsa pasar utama di Amerika Utara, Indonesia, dan Timur Tengah.

"Menurut keterangan murid, permen ini memiliki rasa manis dan lama-lama berubah menjadi rasa seperti obat. Kami tidak tahu pastinya mengandung apa. Ada narkobanya atau tidak, kami serahkan kepada yang berwajib. Dinas Kesehatan juga akan menguji permen itu di laboratorium,” ujar Kepala UPTD Puskesmas Sangatta Utara, Priskila Rabok dikutip Riau JOS dari laman Prokal Balikpapan. 

Priskila mengatakan, di puskesmas para murid yang keracunan mendapat perawatan dengan diberi obat antimual dan pusing. Lantas, kondisi mereka berangsur membaik dan keluarga membawa mereka pulang ke rumah masing-masing. 
Priskila berpesan kepada orangtua untuk memberikan istirahat yang cukup kepada anak-anak mereka.

Sementara, Guru SD 011, Nurul Hidayah, mengatakan permen tersebut diperoleh dari seorang muridnya, namanya Da. Dia membagikan permen kepada beberapa temannya. Ada yang diberi cuma-cuma ada juga yang dijual per buah Rp1.000. "Da dapat permen itu dari neneknya yang punya warung," katanya.

Permen yang dimakan siswa SD itu diketahui memiliki komposisi, diantaranya gula sirop glukosa, perisa sintetik stroberi, dan pewarna merah allura Cl 16035. 

Dokter spesialis penyakit dalam dari RSUD AW Sjahranie, Samarinda, dr Astried Indrasari SpPd, menyebut komposisi yang terkandung di dalam permen itu ada pewarna dan pengawet yang merupakan zat kimia. Zaman sekarang awam ditemui kandungan zat pewarna dan pengawet di minuman atau makanan kemasan yang beredar di pasaran.

“Kalau muntah sampai berwarna merah, bila bukan merah darah, artinya itu merupakan zat pewarna permen tersebut. Lebih pastinya, harus dibuktikan lagi pewarna permen tersebut (melalui uji laboratorium), apakah aman atau tidak untuk dikonsumsi,” jelasnya.

Astried menjelaskan, Biasanya efek dari zat kimia tersebut tidak langsung terasa. Prosesnya tak sebentar. “Jadi, memang harus dibuktikan lagi kandungan permen itu, aman atau tidak,” ulasnya.

Kata Astried, kasus seperti itu terjadi bisa saja karena pengonsumsinya adalah anak-anak. Sebab, tubuh anak-anak memiliki perbedaan dan keunikan dibanding orang dewasa. “Tentu responsnya beda terhadap tubuh anak,” ujarnya.

Kasus dugaan keracunan permen tengkorak itu sudah masuk ke penegak hukum. Unit IV Opsnal Sat Intelkam, Polres Kutim, Ipda Made Arya Swadana menyebutkan, telah menyita permen dan sampai kemarin masih dilakukan pendalaman dan dia belum bisa memastikan efek dari kandungan permen itu.

“Sejauh ini, kami hanya bisa mengimbau agar orangtua selalu waspada terhadap berbagai jajanan yang beredar sekarang,” kata Made. 

“Selain itu, kami akan melakukan sosialisasi tentang permen ini kepada sekolah," pungkasnya.



Sampel Permen Tengkorak Diuji Laboratorium


Kasat Reserse Narkoba Polres Kutim, Iptu Abdul Rauf mengatakan, pihaknya sudah menerjunkan anggota polisi untuk memintai keterangan terkait dugaan keracunan permen tengkorak. Hingga saat ini baik korban maupun saksi masih dalam proses pemeriksaan anggota polisi, sehingga pihaknya belum bisa memastikan dugaan keracunan tujuh siswa SD ini akibat mengkonsumsi permen tengkorak atau ada penyebab lainnya.

"Permen itu diimpor oleh PT Risky Abadi Jaya Anugrah, sebuah perusahaan di Jakarta yang diproduksi dari China," ujar Rauf.
Rauf mengatakan, dari keterangan awal diketahui jika permen tengkorak ini dibawa oleh seorang siswi SD 001 Sangatta Utara berinisial DA, yang diperolehnya dari kantin neneknya yang berjualan di kantin sekolah Cendikia Jalan Haji Masdar Sangatta Utara. Permen tengkorak ini ada yang dijual DA kepada teman sepermainannya, namun juga ada yang diberikan percuma.

"Dari keterangan salah seorang guru SD 011, Nurul Hidayah bahwa tidak semua siswanya yang mengkonsumsi permen tengkorak ini mengalami keracunan. Makanya, kami masih melakukan penyelidikan," tuturnya.

Saat ini, Polres Kutim bersama Dinas Kesehatan (Dinkes) Kutim masih berkoordinasi menangani dugaan keracunan permen tengkorak ini. Sampel permen tengkorak tersebut telah diamankan dan dibawa petugas Dinkes Kutim, untuk nantinya dibawa ke Laboratorium di Samarinda guna dilakukan pemeriksaan kandungan permen tengkorak.

"Kami menghimbau kepada orangtua untuk bisa mengawasi dan pemperhatikan anak-anaknya agar tidak sembarangan dalam mengkonsumsi jajanan berupa makanan atau minuman," pesan Rauf penuh harap.

Permen Tengkorak Mulanya Manis, Lama-lama Berubah jadi Pahit.. 7 Siswa SD Keracunan

Permen Tengkorak Mulanya Manis, Lama-lama Berubah jadi Pahit.. 7 Siswa SD Keracunan

RiauJOS.com, Kutai Timur - Tujuh siswa Sekolah Dasar (SD) keracunan setelah mengkonsumsi permen tengkorak. Mereka siswa SD 011 Sangatta Utara mengalami pusing, muntah cairan merah, lemas, dan keringat dingin. Selanjutnya, mereka mendapatkan penanganan medis.

Awalnya, mereka mengalami sakit perut sekitar pukul 11.30 WITA, kemudian ada yang muntah dan mengeluarkan keringat dingin. Melihat kondisi yang tidak wajar, para guru lantas membawa mereka ke Puskesmas Sangatta Utara. Tujuh Siswa SD, yaitu Siti Aisyah, Lutfia Cista, Rifka, Ayyira, M Rizki, Andi Akbar, dan Surya Triatmojo.

Permen yang sebelumnya dikonsumsi siswa SD merupakan produksi salah satu perusahaan di Guangdong, Tiongkok. Permen berbentuk tengkorak berperisa stroberi, seperti tertera di kemasannya “Permen keras berperisa stroberi”, sedangkan tanggal kadaluwarsa pada 30 Desember 2018.

Berdasarkan penelusuran di internet, muncul sebuah website penjual aneka permen anak-anak dengan latar belakang putih dan nama perusahaan berwarna biru. Produksi utama perusahaan ini, yaitu candy, lollipop, candy toy, tablet candy, dan popping candy. Perusahaan yang didirikan pada 2001 punya pangsa pasar utama di Amerika Utara, Indonesia, dan Timur Tengah.

"Menurut keterangan murid, permen ini memiliki rasa manis dan lama-lama berubah menjadi rasa seperti obat. Kami tidak tahu pastinya mengandung apa. Ada narkobanya atau tidak, kami serahkan kepada yang berwajib. Dinas Kesehatan juga akan menguji permen itu di laboratorium,” ujar Kepala UPTD Puskesmas Sangatta Utara, Priskila Rabok dikutip Riau JOS dari laman Prokal Balikpapan. 

Priskila mengatakan, di puskesmas para murid yang keracunan mendapat perawatan dengan diberi obat antimual dan pusing. Lantas, kondisi mereka berangsur membaik dan keluarga membawa mereka pulang ke rumah masing-masing. 
Priskila berpesan kepada orangtua untuk memberikan istirahat yang cukup kepada anak-anak mereka.

Sementara, Guru SD 011, Nurul Hidayah, mengatakan permen tersebut diperoleh dari seorang muridnya, namanya Da. Dia membagikan permen kepada beberapa temannya. Ada yang diberi cuma-cuma ada juga yang dijual per buah Rp1.000. "Da dapat permen itu dari neneknya yang punya warung," katanya.

Permen yang dimakan siswa SD itu diketahui memiliki komposisi, diantaranya gula sirop glukosa, perisa sintetik stroberi, dan pewarna merah allura Cl 16035. 

Dokter spesialis penyakit dalam dari RSUD AW Sjahranie, Samarinda, dr Astried Indrasari SpPd, menyebut komposisi yang terkandung di dalam permen itu ada pewarna dan pengawet yang merupakan zat kimia. Zaman sekarang awam ditemui kandungan zat pewarna dan pengawet di minuman atau makanan kemasan yang beredar di pasaran.

“Kalau muntah sampai berwarna merah, bila bukan merah darah, artinya itu merupakan zat pewarna permen tersebut. Lebih pastinya, harus dibuktikan lagi pewarna permen tersebut (melalui uji laboratorium), apakah aman atau tidak untuk dikonsumsi,” jelasnya.

Astried menjelaskan, Biasanya efek dari zat kimia tersebut tidak langsung terasa. Prosesnya tak sebentar. “Jadi, memang harus dibuktikan lagi kandungan permen itu, aman atau tidak,” ulasnya.

Kata Astried, kasus seperti itu terjadi bisa saja karena pengonsumsinya adalah anak-anak. Sebab, tubuh anak-anak memiliki perbedaan dan keunikan dibanding orang dewasa. “Tentu responsnya beda terhadap tubuh anak,” ujarnya.

Kasus dugaan keracunan permen tengkorak itu sudah masuk ke penegak hukum. Unit IV Opsnal Sat Intelkam, Polres Kutim, Ipda Made Arya Swadana menyebutkan, telah menyita permen dan sampai kemarin masih dilakukan pendalaman dan dia belum bisa memastikan efek dari kandungan permen itu.

“Sejauh ini, kami hanya bisa mengimbau agar orangtua selalu waspada terhadap berbagai jajanan yang beredar sekarang,” kata Made. 

“Selain itu, kami akan melakukan sosialisasi tentang permen ini kepada sekolah," pungkasnya.



Sampel Permen Tengkorak Diuji Laboratorium


Kasat Reserse Narkoba Polres Kutim, Iptu Abdul Rauf mengatakan, pihaknya sudah menerjunkan anggota polisi untuk memintai keterangan terkait dugaan keracunan permen tengkorak. Hingga saat ini baik korban maupun saksi masih dalam proses pemeriksaan anggota polisi, sehingga pihaknya belum bisa memastikan dugaan keracunan tujuh siswa SD ini akibat mengkonsumsi permen tengkorak atau ada penyebab lainnya.

"Permen itu diimpor oleh PT Risky Abadi Jaya Anugrah, sebuah perusahaan di Jakarta yang diproduksi dari China," ujar Rauf.
Rauf mengatakan, dari keterangan awal diketahui jika permen tengkorak ini dibawa oleh seorang siswi SD 001 Sangatta Utara berinisial DA, yang diperolehnya dari kantin neneknya yang berjualan di kantin sekolah Cendikia Jalan Haji Masdar Sangatta Utara. Permen tengkorak ini ada yang dijual DA kepada teman sepermainannya, namun juga ada yang diberikan percuma.

"Dari keterangan salah seorang guru SD 011, Nurul Hidayah bahwa tidak semua siswanya yang mengkonsumsi permen tengkorak ini mengalami keracunan. Makanya, kami masih melakukan penyelidikan," tuturnya.

Saat ini, Polres Kutim bersama Dinas Kesehatan (Dinkes) Kutim masih berkoordinasi menangani dugaan keracunan permen tengkorak ini. Sampel permen tengkorak tersebut telah diamankan dan dibawa petugas Dinkes Kutim, untuk nantinya dibawa ke Laboratorium di Samarinda guna dilakukan pemeriksaan kandungan permen tengkorak.

"Kami menghimbau kepada orangtua untuk bisa mengawasi dan pemperhatikan anak-anaknya agar tidak sembarangan dalam mengkonsumsi jajanan berupa makanan atau minuman," pesan Rauf penuh harap.