Pabrik Jamu Legendaris PT. Nyonya Meneer Pailit, Tagihan Utang Capai Rp.7,4 Miliar

RiauJOS.com, Semarang - Pabrik jamu legendaris asal Semarang, PT Nyonya Meneer (PT Njonja Meneer) yang dipimpin Presiden Direktur Charles Saerang, akhirnya dinyatakan pailit di tangan pengusaha Bank Jamu asal Turisari, Sukoharjo, Hendrianto Bambang Santoso. 

Hal ini setelah majelis hakim mengabulkan seluruh gugatannya sebagai pemohon dan kreditur konkuren dalam perkara permohonan pembatalan perdamaian di Pengadilan Niaga pada Pegadilan Negeri (PN) Semarang, Kamis kemarin, 3 Agustus 2017.

“Mengabulkan permohonan pemohon untuk seluruhnya dan menyatakan batal perjanjian perdamaian yang telah disepakati. Selain itu, menyatakan PT Nyonya Meneer dalam keadaan pailit,” kata majelis hakim yang dipimpin Nani Indrawati dalam amar putusannya. Dikutip Riau JOS dari laman Jawa Pos.

Dalam pertimbangannya, majelis hakim juga menyebutkan, yang menjadi persoalan adalah terkait permohonan pembatalan perdamaian dengan alasan termohon lalai melakukan pembayaran. Sedangkan termohon membantah karena telah menyelesaikan pembayaran perdamaian.

“Pembatalan perdamaian sebelumnya sudah diajukan berulang kali. Namun ditolak majelis hakim. Semestinya kalau konsisten termohon segera membayarkan, sehingga terkesan ada penundaan pembayaran,” ujar majelis hakim.

Kuasa hukum pemohon, Eka Widhiarto, saat berbincang dengan tiga buruh PT Nyonya Menner usai sidang vonis di PN Semarang, Kamis (3/8/2017).. (Joko Susanto/Jawa Pos Radar Semarang)

Ditemui usai sidang, kuasa hukum Hendrianto Bambang Santoso yakni, Eka Widhiarto dan Kuntowati Sri Haryani menyatakan, terkait putusan itu hak buruh harus diperjuangkan, termasuk semua kreditur harus terjamin pembayarannya. Pihaknya menyatakan, kalau tagihan yang belum terbayarkan kepada kliennya atau cicilan sesuai kesepakatan yang ditetapkan dalam proposal perdamaian mencapai Rp 7,4 miliar.

“Untuk tagihan Bank Jamu ke klien kami sampai Rp 7,4 miliar. Jadi, sejak perdamaian memang belum ada sama sekali dibayar oleh Nyonya Meneer. Bahkan klien kami sudah mencoba komunikasi dengan PT Nyonya Meneer, tapi nggak ada jawaban,” kata Eka kepada Jawa Pos Radar Semarang usai sidang. Tagihan Rp 7,4 miliar ini hanya milik satu kreditur yang menggugat, Hendrianto Bambang Santoso.

Pihaknya mengajukan pembatalan perdamaian tersebut karena PT Nyonya Meneer tidak memenuhi isi perjanjian, yakni tidak membayar cicilan setiap bulan, cek yang diberikan tidak bisa dicairkan, bahkan terakhir rekening sudah ditutup. Namun demikian ia mengaku pihak Nyonya Meneer pernah memberikan cek, akan tetapi ternyata cek tersebut tidak bisa dicairkan, bahkan akan ditarik kembali.

“Pada 15 Juni 2016, pihak Nyonya Meneer sudah memberitahu ke klien kami secara tertulis, menerangkan kalau rekening Nyonya Meneer di BCA untuk pencairan BG (Bilyet Giro) sudah ditutup, maka dari itu kami ajukan permohonan pembatalan ini,” tandasnya.

Sedangkan kuasa hukum PT Nyonya Meneer, La Ode Kudus, selalu menolak diwawancara. Ia hanya melambaikan tangan kepada koran ini, sembari berlalu pergi. Bahkan saat dihubungi via teleponnya selalu tak ada jawaban.

Sebelumnya, pada 8 Juni 2015 yang lalu, majelis hakim Pengadilan Niaga Semarang yang dipimpin Dwiarso Budi Santiarto telah mengesahkan proposal perdamaian yang diajukan pabrik jamu legendaris PT Nyonya Meneer tersebut untuk membayar utang kepada semua krediturnya. Pengesahan proposal dilangsungkan dalam sidang Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU) di Pengadilan Niaga Semarang.

Dalam amar putusannya, hakim Dwiarso mengatakan, para pihak, yakni debitur, kreditur, tim pengurus, maupun hakim pengawas telah sepakat terkait kewajiban utang yang harus dibayarkan debitur kepada 35 kreditur. Majelis hakim juga menyatakan sah perjanjian tanggal 27 Mei 2015 antara debitur dan 35 kreditur, serta menghukum debitur dan kreditur untuk menaati putusan tersebut.

Pabrik Jamu Legendaris PT. Nyonya Meneer Pailit, Tagihan Utang Capai Rp.7,4 Miliar

Pabrik Jamu Legendaris PT. Nyonya Meneer Pailit, Tagihan Utang Capai Rp.7,4 Miliar

RiauJOS.com, Semarang - Pabrik jamu legendaris asal Semarang, PT Nyonya Meneer (PT Njonja Meneer) yang dipimpin Presiden Direktur Charles Saerang, akhirnya dinyatakan pailit di tangan pengusaha Bank Jamu asal Turisari, Sukoharjo, Hendrianto Bambang Santoso. 

Hal ini setelah majelis hakim mengabulkan seluruh gugatannya sebagai pemohon dan kreditur konkuren dalam perkara permohonan pembatalan perdamaian di Pengadilan Niaga pada Pegadilan Negeri (PN) Semarang, Kamis kemarin, 3 Agustus 2017.

“Mengabulkan permohonan pemohon untuk seluruhnya dan menyatakan batal perjanjian perdamaian yang telah disepakati. Selain itu, menyatakan PT Nyonya Meneer dalam keadaan pailit,” kata majelis hakim yang dipimpin Nani Indrawati dalam amar putusannya. Dikutip Riau JOS dari laman Jawa Pos.

Dalam pertimbangannya, majelis hakim juga menyebutkan, yang menjadi persoalan adalah terkait permohonan pembatalan perdamaian dengan alasan termohon lalai melakukan pembayaran. Sedangkan termohon membantah karena telah menyelesaikan pembayaran perdamaian.

“Pembatalan perdamaian sebelumnya sudah diajukan berulang kali. Namun ditolak majelis hakim. Semestinya kalau konsisten termohon segera membayarkan, sehingga terkesan ada penundaan pembayaran,” ujar majelis hakim.

Kuasa hukum pemohon, Eka Widhiarto, saat berbincang dengan tiga buruh PT Nyonya Menner usai sidang vonis di PN Semarang, Kamis (3/8/2017).. (Joko Susanto/Jawa Pos Radar Semarang)

Ditemui usai sidang, kuasa hukum Hendrianto Bambang Santoso yakni, Eka Widhiarto dan Kuntowati Sri Haryani menyatakan, terkait putusan itu hak buruh harus diperjuangkan, termasuk semua kreditur harus terjamin pembayarannya. Pihaknya menyatakan, kalau tagihan yang belum terbayarkan kepada kliennya atau cicilan sesuai kesepakatan yang ditetapkan dalam proposal perdamaian mencapai Rp 7,4 miliar.

“Untuk tagihan Bank Jamu ke klien kami sampai Rp 7,4 miliar. Jadi, sejak perdamaian memang belum ada sama sekali dibayar oleh Nyonya Meneer. Bahkan klien kami sudah mencoba komunikasi dengan PT Nyonya Meneer, tapi nggak ada jawaban,” kata Eka kepada Jawa Pos Radar Semarang usai sidang. Tagihan Rp 7,4 miliar ini hanya milik satu kreditur yang menggugat, Hendrianto Bambang Santoso.

Pihaknya mengajukan pembatalan perdamaian tersebut karena PT Nyonya Meneer tidak memenuhi isi perjanjian, yakni tidak membayar cicilan setiap bulan, cek yang diberikan tidak bisa dicairkan, bahkan terakhir rekening sudah ditutup. Namun demikian ia mengaku pihak Nyonya Meneer pernah memberikan cek, akan tetapi ternyata cek tersebut tidak bisa dicairkan, bahkan akan ditarik kembali.

“Pada 15 Juni 2016, pihak Nyonya Meneer sudah memberitahu ke klien kami secara tertulis, menerangkan kalau rekening Nyonya Meneer di BCA untuk pencairan BG (Bilyet Giro) sudah ditutup, maka dari itu kami ajukan permohonan pembatalan ini,” tandasnya.

Sedangkan kuasa hukum PT Nyonya Meneer, La Ode Kudus, selalu menolak diwawancara. Ia hanya melambaikan tangan kepada koran ini, sembari berlalu pergi. Bahkan saat dihubungi via teleponnya selalu tak ada jawaban.

Sebelumnya, pada 8 Juni 2015 yang lalu, majelis hakim Pengadilan Niaga Semarang yang dipimpin Dwiarso Budi Santiarto telah mengesahkan proposal perdamaian yang diajukan pabrik jamu legendaris PT Nyonya Meneer tersebut untuk membayar utang kepada semua krediturnya. Pengesahan proposal dilangsungkan dalam sidang Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU) di Pengadilan Niaga Semarang.

Dalam amar putusannya, hakim Dwiarso mengatakan, para pihak, yakni debitur, kreditur, tim pengurus, maupun hakim pengawas telah sepakat terkait kewajiban utang yang harus dibayarkan debitur kepada 35 kreditur. Majelis hakim juga menyatakan sah perjanjian tanggal 27 Mei 2015 antara debitur dan 35 kreditur, serta menghukum debitur dan kreditur untuk menaati putusan tersebut.