RiauJOS.com, Pada pertengahan tahun 1975, pemerintah perancis menawarkan bantuan kepada Mesir untuk meneliti dan menganalisis mumi Firaun. Pemerintah mesir menyambut baik tawaran tersebut sampai pada akhirnya mumi Firaun tersebut dibawa menuju Perancis.

Seorang ahli bedah ternama yang pernah mengepalai klinik bedah di Universitas Paris yang bernama Prof. Maurice Bucaille yang mendapat kesempatan untuk membedah mumi Firaun tersebut.

Ia begitu antusias dengan sebuah pemuan baru mengenai penyelamatan mayat Firaun dari laut dan pengawetannya, yang dia terbitkan dengan judul Les momies des Pharaons et la midecine (Mumi Firaun; Sebuah Penelitian Medis Modern). Sampai ia mendapat penghargaan Le prix Diane-Potier-Boès (penghargaan dalam sejarah) dari Académie française dan Prix general (Penghargaan umum) dari Academie nationale de medicine, Perancis.

Terkait dengan laporanya, seorang rekan Bucaille mengatakan "Jangan tergesa-gesa, karena sesungguhnya kaum Muslim telah berbicara tentang tenggelamnya mumi ini". Namun reaksi Bucaille justru menyangkal dan menganggapnya mustahil jika ada orang yang tahu sebelum dirinya.
Menurutnya, pengungkapan hal seperti ini tidak mungkin diketahui kecuali dengan perkembangan teknologi modern, dan peralatan yang mutakhir.

Ketidak yakinan Bucaille terhadap informasi tersebut justru semakin membingungkan pada saat salah satu dari rekannya berkata jika ALQuran yang diyakini orang Islam sudah menuliskan kisah tenggelamnya Firaun dan kemudia diselamatkan mayatnya, pada satu sisi mumi tersebut baru ditemukan sekitar tahun 1898M, sementara AlQuran sudah ada ribuan tahun sebelumnya.

Hal yang membuat Bucaille terkejut dari semua kitab yang menjelaskan tentang tenggelamnya Firaun pada saat mengejar Musa, hanya AlQuran yang menjelaskan bahwa jasadnya akan diselamatkan.

Pada saat pemerinta Perancis mengembalikan mumi Firaun ke Mesir, Bucaille masih merasa penasaran, yang mendorong ia untuk menemui para ilmuan autopsi Muslim, untuk mengetahui lebih jelas bagaimana AlQuran menjelaskan mengenai Firaun hingga ditenggelam. Ia pun dibacakan QS Yunus:92 yang artinya

”Maka pada hari ini kami selamatkan badanmu supaya kamu dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang sesudahmu dan sesungguhnya kebanyakan dari manusia lengah dari tanda-tanda kekuasaan Kami.”

Ayat ini yang menggerakkan Maurice Bucaille untuk melakukan penelitian tingkat kesesuaian hakikat ilmiah dan penemuan-penemuan modern dengan Alquran, serta mencari satu pertentangan ilmiah yang dibicarakan Alquran.

Semua hasil penelitiannya tersebut kemudian ia bukukan dengan judul Bibel, Alquran dan Ilmu Pengetahuan Modern, judul asli dalam bahasa Prancis, La Bible, le Coran et la Science. Buku yang dirilis tahun 1976 ini menjadi best-seller internasional (laris) di dunia Muslim dan telah diterjemahkan ke hampir semua bahasa utama umat Muslim di dunia. Karyanya ini menerangkan bahwa Alquran sangat konsisten dengan ilmu pengetahuan dan sains.

 kisahmuallaf.com

Inilah Ilmuan Perancis yang Berhasil Menemukan Kesesuaian Al-Quran dan Sains


RiauJOS.com, Pada pertengahan tahun 1975, pemerintah perancis menawarkan bantuan kepada Mesir untuk meneliti dan menganalisis mumi Firaun. Pemerintah mesir menyambut baik tawaran tersebut sampai pada akhirnya mumi Firaun tersebut dibawa menuju Perancis.

Seorang ahli bedah ternama yang pernah mengepalai klinik bedah di Universitas Paris yang bernama Prof. Maurice Bucaille yang mendapat kesempatan untuk membedah mumi Firaun tersebut.

Ia begitu antusias dengan sebuah pemuan baru mengenai penyelamatan mayat Firaun dari laut dan pengawetannya, yang dia terbitkan dengan judul Les momies des Pharaons et la midecine (Mumi Firaun; Sebuah Penelitian Medis Modern). Sampai ia mendapat penghargaan Le prix Diane-Potier-Boès (penghargaan dalam sejarah) dari Académie française dan Prix general (Penghargaan umum) dari Academie nationale de medicine, Perancis.

Terkait dengan laporanya, seorang rekan Bucaille mengatakan "Jangan tergesa-gesa, karena sesungguhnya kaum Muslim telah berbicara tentang tenggelamnya mumi ini". Namun reaksi Bucaille justru menyangkal dan menganggapnya mustahil jika ada orang yang tahu sebelum dirinya.
Menurutnya, pengungkapan hal seperti ini tidak mungkin diketahui kecuali dengan perkembangan teknologi modern, dan peralatan yang mutakhir.

Ketidak yakinan Bucaille terhadap informasi tersebut justru semakin membingungkan pada saat salah satu dari rekannya berkata jika ALQuran yang diyakini orang Islam sudah menuliskan kisah tenggelamnya Firaun dan kemudia diselamatkan mayatnya, pada satu sisi mumi tersebut baru ditemukan sekitar tahun 1898M, sementara AlQuran sudah ada ribuan tahun sebelumnya.

Hal yang membuat Bucaille terkejut dari semua kitab yang menjelaskan tentang tenggelamnya Firaun pada saat mengejar Musa, hanya AlQuran yang menjelaskan bahwa jasadnya akan diselamatkan.

Pada saat pemerinta Perancis mengembalikan mumi Firaun ke Mesir, Bucaille masih merasa penasaran, yang mendorong ia untuk menemui para ilmuan autopsi Muslim, untuk mengetahui lebih jelas bagaimana AlQuran menjelaskan mengenai Firaun hingga ditenggelam. Ia pun dibacakan QS Yunus:92 yang artinya

”Maka pada hari ini kami selamatkan badanmu supaya kamu dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang sesudahmu dan sesungguhnya kebanyakan dari manusia lengah dari tanda-tanda kekuasaan Kami.”

Ayat ini yang menggerakkan Maurice Bucaille untuk melakukan penelitian tingkat kesesuaian hakikat ilmiah dan penemuan-penemuan modern dengan Alquran, serta mencari satu pertentangan ilmiah yang dibicarakan Alquran.

Semua hasil penelitiannya tersebut kemudian ia bukukan dengan judul Bibel, Alquran dan Ilmu Pengetahuan Modern, judul asli dalam bahasa Prancis, La Bible, le Coran et la Science. Buku yang dirilis tahun 1976 ini menjadi best-seller internasional (laris) di dunia Muslim dan telah diterjemahkan ke hampir semua bahasa utama umat Muslim di dunia. Karyanya ini menerangkan bahwa Alquran sangat konsisten dengan ilmu pengetahuan dan sains.

 kisahmuallaf.com
Comments
0 Comments