RiauJOS.com, Jakarta - Wakil Ketua DPR Fadli Zon selalu kritis terhadap penguasa. Baik dalam berkomentar, berpuisi atau bersajak, karya Wakil Ketua Umum Partai Gerindra ini bisa membuat penguasa merah muka, meskipun itu belum tentu untuk siapa.

Seperti ‘Sajak Diktator Kecil’ karya Fadli bertepatan dengan hari sajak yang dibuatnya, meski tak menyebut nama, arah tujuan sajak itu seperti ke penguasa. 

Namun, Sekretaris Kabinet Pramono Anung mengaku biasa saja.

“Yang diktator siapa? Yang jelas, ini negara demokrasi, mau apa juga boleh,” kata Pramono. “

”Sajak, puisi, apa pun, monggo saja. Kita nikmati sebagai bagian memperkaya suasana publik,” tambah Pramono.

Menurut Pramono, di negara demokrasi berekspresi boleh-boleh saja 

“Monggo saja dan itu dijamin karena negara kita beri ruang bebas,” kata mantan Sekjen PDI Perjuangan ini. Menurutnya, berekspresi dengan sajak adalah bagian dari kehidupan di negara demokrasi.

Berikut Sajak Fadli Zon 

‘Diktator Kecil’

ada diktator besar
bicara ideologi dasar
pidato propaganda akbar
narasi bersinar massa berkobar
jiwa bergetar rakyat terbakar
semangat menggebu maju tak gentar
membabat total komprador barbar
tapi diktator besar pun akhirnya pudar
ditelan kuasa pasti bertukar

ada diktator kecil
bicara remeh temeh serba mungil
tuna sejarah berpikir kerdil
pencitraan murah dipoles centil
rakyat ditindas ancaman bedil
ormas ditumpas seperti kutil
ekonomi merangkak labil
utang menjulang tak bisa nyicil
hukum ditabrak makin tak adil
wajah demokrasi berbedak dekil
kodok lincah bagai kancil
lawan politik dianggap kerikil
kedunguan mewabah ganjil
tapi roda zaman berputar stabil
kebenaran pasti kalahkan yang batil

Fadli Zon, Jakarta, 26 Juli 2017

Sajak spontan di Hari Puisi, bersamaan dengan lahirnya Chairil Anwar, 95 tahun silam.


Sajak Fadli Zon di Hari Puisi, 'Diktator Kecil' Ormas Ditumpas Seperti Kutil.. Bisa Bikin Merah, Muka Penguasa


RiauJOS.com, Jakarta - Wakil Ketua DPR Fadli Zon selalu kritis terhadap penguasa. Baik dalam berkomentar, berpuisi atau bersajak, karya Wakil Ketua Umum Partai Gerindra ini bisa membuat penguasa merah muka, meskipun itu belum tentu untuk siapa.

Seperti ‘Sajak Diktator Kecil’ karya Fadli bertepatan dengan hari sajak yang dibuatnya, meski tak menyebut nama, arah tujuan sajak itu seperti ke penguasa. 

Namun, Sekretaris Kabinet Pramono Anung mengaku biasa saja.

“Yang diktator siapa? Yang jelas, ini negara demokrasi, mau apa juga boleh,” kata Pramono. “

”Sajak, puisi, apa pun, monggo saja. Kita nikmati sebagai bagian memperkaya suasana publik,” tambah Pramono.

Menurut Pramono, di negara demokrasi berekspresi boleh-boleh saja 

“Monggo saja dan itu dijamin karena negara kita beri ruang bebas,” kata mantan Sekjen PDI Perjuangan ini. Menurutnya, berekspresi dengan sajak adalah bagian dari kehidupan di negara demokrasi.

Berikut Sajak Fadli Zon 

‘Diktator Kecil’

ada diktator besar
bicara ideologi dasar
pidato propaganda akbar
narasi bersinar massa berkobar
jiwa bergetar rakyat terbakar
semangat menggebu maju tak gentar
membabat total komprador barbar
tapi diktator besar pun akhirnya pudar
ditelan kuasa pasti bertukar

ada diktator kecil
bicara remeh temeh serba mungil
tuna sejarah berpikir kerdil
pencitraan murah dipoles centil
rakyat ditindas ancaman bedil
ormas ditumpas seperti kutil
ekonomi merangkak labil
utang menjulang tak bisa nyicil
hukum ditabrak makin tak adil
wajah demokrasi berbedak dekil
kodok lincah bagai kancil
lawan politik dianggap kerikil
kedunguan mewabah ganjil
tapi roda zaman berputar stabil
kebenaran pasti kalahkan yang batil

Fadli Zon, Jakarta, 26 Juli 2017

Sajak spontan di Hari Puisi, bersamaan dengan lahirnya Chairil Anwar, 95 tahun silam.