Social Items


RiauJOS.com, Parepare - Guru agama SMA Negeri 3 Parepare, Sulawesi Selatan, Darmawati divonis bersalah karena memukul siswa yang tidak sholat. Ia dijatuhi hukuman 3 bulan penjara dengan masa percobaan 7 bulan. Kasus ini terjadi pada Februari 2017 lalu.

Hakim Pengadilan Negeri Parepare menyatakan, guru agama itu bersalah karena memukul siswinya.

Ketua Pemuda Muhammadiyah Kota Parepare, Yadi Arodhiskara, menyesalkan keputusan hakim. Ia menilai keputusan hakim yang menyatakan Darma bersalah tersebut kurang mempertimbangkan fakta hukum.

“Ada beberapa fakta hukum yang kurang begitu didalami oleh hakim. Apalagi hakim tidak mempertimbangkan keberadaan PP 74/2008 tentang Guru, pasal 39 ayat 1 dan ayat 2, dan Permendikbud 10/2017 tentang Perlindungan Bagi Pendidik dan Tenaga Kependidikan,” tegas Yadi dikutip Riau JOS dari laman Fajar.

Ia menilai kasus Darma terkesan dipaksakan sebagai pidana. Pemuda Muhammadiyah Kota Parepare akan melakukan pendampingan hukum pada Darma sebagai bentuk implementasi kepedulian, visi kota pendidikan, serta upaya meninggikan dan memuliakan profesi guru.

“Kami dengan tegas menolak segala bentuk kriminalisasi kepada guru, termasuk yang menimpa Ibu Darma,” jelasnya.

Dalam waktu dekat ini, Pemuda Muhammadiyah akan mendukung Darma untuk melakukan banding atas kasus ini.

“Terang kami, mendukung Ibu Darma untuk melakukan banding atas vonis tidak adil yang dijatuhkan Pengadilan Negeri Parepare,” pungkasnya.

Bermula pada Februari 2017, Darma mendapati sekelompok siswi berkeliaran saat waktu Salat Dhuhur. Padahal sekolah telah mengeluarkan kebijakan yang mewajibkan pelaksanaan sholat di mushola.

“Saya tegur mereka dan mengibas siswi yang tidak sholat dengan mukenah. Ternyata atas peristiwa tersebut, salah seorang siswi melapor. Padahal saya tegur hanya untuk kebaikannya dan menggugurkan kewajiban saya sebagai orang tuanya di sekolah,” jelas Darma.

Menurut Darma, ia hanya ingin agar siswa disiplin. Tuduhan yang menyebut siswa terebut memiliki bekas luka sampai dirawat di puskesmas adalah keliru. 

Dia juga mementahkan tudingan yang menyebutkan, memukul siswa memakai sepatu berulang-ulang.

Guru Agama Menyuruh Sholat, Malah Divonis Penjara karena Dilaporkan Siswinya Memukuli


RiauJOS.com, Parepare - Guru agama SMA Negeri 3 Parepare, Sulawesi Selatan, Darmawati divonis bersalah karena memukul siswa yang tidak sholat. Ia dijatuhi hukuman 3 bulan penjara dengan masa percobaan 7 bulan. Kasus ini terjadi pada Februari 2017 lalu.

Hakim Pengadilan Negeri Parepare menyatakan, guru agama itu bersalah karena memukul siswinya.

Ketua Pemuda Muhammadiyah Kota Parepare, Yadi Arodhiskara, menyesalkan keputusan hakim. Ia menilai keputusan hakim yang menyatakan Darma bersalah tersebut kurang mempertimbangkan fakta hukum.

“Ada beberapa fakta hukum yang kurang begitu didalami oleh hakim. Apalagi hakim tidak mempertimbangkan keberadaan PP 74/2008 tentang Guru, pasal 39 ayat 1 dan ayat 2, dan Permendikbud 10/2017 tentang Perlindungan Bagi Pendidik dan Tenaga Kependidikan,” tegas Yadi dikutip Riau JOS dari laman Fajar.

Ia menilai kasus Darma terkesan dipaksakan sebagai pidana. Pemuda Muhammadiyah Kota Parepare akan melakukan pendampingan hukum pada Darma sebagai bentuk implementasi kepedulian, visi kota pendidikan, serta upaya meninggikan dan memuliakan profesi guru.

“Kami dengan tegas menolak segala bentuk kriminalisasi kepada guru, termasuk yang menimpa Ibu Darma,” jelasnya.

Dalam waktu dekat ini, Pemuda Muhammadiyah akan mendukung Darma untuk melakukan banding atas kasus ini.

“Terang kami, mendukung Ibu Darma untuk melakukan banding atas vonis tidak adil yang dijatuhkan Pengadilan Negeri Parepare,” pungkasnya.

Bermula pada Februari 2017, Darma mendapati sekelompok siswi berkeliaran saat waktu Salat Dhuhur. Padahal sekolah telah mengeluarkan kebijakan yang mewajibkan pelaksanaan sholat di mushola.

“Saya tegur mereka dan mengibas siswi yang tidak sholat dengan mukenah. Ternyata atas peristiwa tersebut, salah seorang siswi melapor. Padahal saya tegur hanya untuk kebaikannya dan menggugurkan kewajiban saya sebagai orang tuanya di sekolah,” jelas Darma.

Menurut Darma, ia hanya ingin agar siswa disiplin. Tuduhan yang menyebut siswa terebut memiliki bekas luka sampai dirawat di puskesmas adalah keliru. 

Dia juga mementahkan tudingan yang menyebutkan, memukul siswa memakai sepatu berulang-ulang.