Social Items

Heboh Soal Nama Asli Patih Gajah Mada yang Sebenarnya 'Gaj Ahmada'

RiauJOS.com, Viral - Warga internet dihebohkan dengan fakta sejarah yang mengabarkan soal nama asli Patih Gajah Mada yang mirip nama orang Arab, "Gaj Ahmada".

Penelusuran Riau JOS, Minggu, 18 Juni 2017 di akun Facebook KataKita, memposting kejadian viral itu, dan mencoba memberikan penjelasan, sebagai berikut:

Viral "Gaj Ahmada" Hoax Sejarah

Belakangan ini cukup banyak repost dan viral sebuah tulisan dengan judul MELURUSKAN SEJARAH!! (dengan tanda seru) yang justru berisi sebuah distorsi luar biasa, bahkan bisa diartikan sebagai dongeng menyesatkan. Tulisan tersebut berisi sebuah narasi yang pada intinya ingin mengatakan bahwa Mahapatih Gajah Mada adalah seorang sosok Muslim luar biasa yang sebenarnya bernama Gaj Ahmada. Dalam kaitan tersebut kita harus dapat dengan jernih melihat bahwa sejarah bukanlah dongeng yang cukup hanya dibuktikan dengan argumen otak atik matuk alias dengan nalar cocoklogi berdasarkan kemauan sendiri atau tujuan-tujuan tendensius. Masyarakat Nusantara harus cerdas dalam menangkap informasi yang tidak jelas latar kesejarahannya dengan berbagai bukti yang melingkupinya.

Viral tulisan tersebut sangat dimungkinkan didasarkan pada buku berjudul Kesultanan Majapahit ditulis oleh Herman Sinung Janutama, lulusan UMY Yogyakarta yang menulis buku tersebut tanpa didasari keilmuan selain otak-atik gathuk alias cocoklogi. Jika nama GAJAH MADA dipaksakan menjadi bahasa Arab Gaj Ahmada, pertanyaannya adalah memangnya hal tersebut dapat ditemui ada dalam prasasti, naskah kuno Negara kretagama? Atau ada dalan kitab Pararaton, Kidung Sunda, Usana Jawa? Apakah ada satu saja yg menulis Kosa Kata Jawa "Gaj" dan "Ahmada" ? Lalu apa arti kosa kata "Gaj" ? Ia merupakan kosa kata Jawa atau Arab?. Lalu apa arti dari kata Ahmada? Adakah orang Arab memakai nama Ahmada?

Dalam buku yang cenderung awur-awuran itu, penulis secara tegas menyatakan bahwa Raden Wijaya adalah dzuriyah (keturunan) Nabi Muhammad SAW dan beragama lslam. Pertanyaanya simpel saja, apa dasarnya? tidakkah penulis itu tahu bahwa Sanggrama Wijaya yang bergelar Kertarajasa Jayawarddhana itu saat mangkat jenazahnya dibakar dan abunya dicandikan di Simping dan Weleri? Memangnya Dzuriyah Rasulullah SAW yang muslim matinya dibakar?

Mari kita baca naskah-naskah Majapahit mulai Negara kretagama, Kutaramanawa Dharmasastra, Kidung Banawa Sekar, Kidung Ranggalawe, Kidung Panji Wijayakrama, Kidung Sudamala, Kakawin Sutasoma, dll, termasuk prasasti-prasasti. Adakah pengaruh bahasa Arab dalam naskah-naskah tersebut?

Tulisan Bodoh Yang Membodohkan Bangsa
Tulisan-tulisan bodoh yang tanpa dasar ilmu tentang sejarah bangsa, sepintas bisa dianggap sebagai tulisan picisan yg tidak memiliki pengaruh apa-apa terhadap sejarah mainstream bangsa lndonesia. Tapi jika tulisan "sampah" dalam keilmuan itu ditopang oleh organisasi besar dan institusi negara dan akademisi, bisa merubah eksistensi dan citra bangsa.

Jika Borobudur bikinan Nabi Sulaiman dan Majapahit didirikan orang Arab keturunan Nabi SAW, akan terdapat simpulan bahwa pribumi lndonesia itu kumpulan manusia primitif yang tidak memiliki peradaban dan kebudayaan. Bagaimana bangsa lndonesia disebut beradab jika membikin candi saja tidak becus, menunggu kedatangan Bani lsrael. Nah, jika Bani lsrael dapat membangun candi yg sangat megah di negeri seberang lautan, adakah situs bangunan candi seperti borobudur di lsrael?

Jika Majapahit didirikan oleh dzuriyah Rasul SAW, maka tentu terbukti bangsa ini primitif dan tolol sampai sampai untuk membangun sistem pemerintahan saja tidak mampu, dan harus menunggu kedatangan orang Arab yang lebih beradab dan memiliki iptek canggih.

Jika itu benar bahwa bangsa ini tolol primitif sehingga untuk membangun kerajaan saja musti menunggu kedatangan orang Arab, adakah data sejarah yg menunjuk bahwa di jazirah Arab pernah ada kerajaan nasional seluas Majapahit dengan administratif sangat canggih?


Akun facebook KataKita memposting penjelasan itu pada 16 Juni 2017, dan mendapatkan respon luar biasa dari facebookers, 2,5 ribu respon emotikon, dan dibagikan sebanyak 657 kali sampai warta ini diterbikan Minggu ini, pada pukul 5:30 WIB.


Viral Gaj Ahmada, Ini Penjelasan Penulis 'Majapahit Kerajaan Islam'


Sementara, Detik menulis, ada 6 poin yang menjadi dasar informasi viral itu, yakni penemuan koin Majapahit bertuliskan syahadat, nisan Sunan Maulana Malik Ibrahim yang menyebutkan bahwa dirinya merupakan Qadhi (hakim agama Islam) Kerajaan Majapahit, lambang Majapahit berupa matahari dengan tulisan Arab, Raden Wijaya adalah seorang muslim, nama Gajah Mada disebut sebagai Gaj Ahmada atau Syaikh Mada, dan dikaitkan pula dengan eksodus besar-besaran warga muslim Baghdad ke Nusantara setelah diserang tentara Mongol pada tahun 1293.

Hal itu berbeda dengan sejarah umum yang menyebut Majapahit adalah kerajaan Hindu, begitu juga dengan agama yang dianut Gajah Mada.

Informasi viral menyebut bahwa penelitian soal Gaj Ahmada dilakukan Lembaga Hikmah dan Kajian Publik Pengurus Daerah (LHKP PD) Muhammadiyah Kota Yogyakarta. Benarkah?

Tulisan itu tak menyebutkan sumber. Meski demikian, penelusurandetikcom terkait informasi viral itu mengarah ke buku 'Majapahit Kerajaan Islam'. Buku tersebut ditulis oleh Herman Sinung Janutama.

Dilaporkan Detik, Sabtu, 17 Juni 2017 yang mencoba menghubungi Herman, namun belum mendapatkan konfirmasi. Informasi soal penelitian LHKP PD Muhammadiyah Kota Yogyakarta dan buku itu akhirnya datang dari Wakil Ketua PD Muhammadiyah Kota Yogyakarta Ashad Kusuma Djaya.

"Penelitian dilakukan oleh Mas Herman dan dibuat kajiannya oleh LHKP, dengan mendatangkan beberapa pembanding. Hasil kajian itu ditulis menjadi buku," ujar Ashad, Sabtu, 17 Juni 2017 dikutip dari laman Detik.

Ashad mengatakan Herman bicara banyak soal viral Gaj Ahmada tersebut di wall Facebooknya. Penjelasan Herman soal kekeliruan Gaj Ahmada ada di komentar-komentar pada status Ashad.

Dalam komentarnya di Facebook, Herman menegaskan bahwa informasi viral itu amat berbeda dengan buku yang dia tulis.

"Sepanjang bacaan kami status viral tersebut beberapa hal tidak terdapat pada buku kami. Misalnya penjelasan tentang GAJ-AHMADA. Dalam buku tertulis GAJAH-AHMADA. Leburan suku kata AH dalam bentukan kata GAJAHMADA adalah hukum GARBA dalam gabungan 2 kata atau lebih dalam kawi atau sansekerta. Dalam kasanah Jawa, tidak mungkin diizinkan kata GAJ, yang mematikan konsonan JA. Sebagaimana suku kata WA juga tidak diizinkan dimatikan, hanya W saja.
Tapi dalam viral tidak begitu membabarkannya....," tulis Herman pada dini hari tadi.

Dia kemudian menjelaskan pula mengenai lambang Surya Majapahit di makam Pusponegoro. Menurutnya lambang yang disematkan di sana terdapat di makam keturunan Raja-raja Majapahit.

"Kami juga diminta menjelaskan oleh salah satu pusat studi di UGM. Saya matur bahwa persoalan serius yang dibabar dalam buku Kesultanan Majapahit terletak pada kritik metodologi dalam menelitinya. Bagaimana obyek material menggunakan metode, sehingga mendapatkan data.... Tapi hal begini menurut saya tidak mungkin diterangkan dalam diskusi viral demikian," ungkap dia.

Siapa yang memposting "Gaj Ahmada" pertama kali?

Diwartakan Solopos.com, 17 Juni 2017 melaporkan, semua selentingan yang viral di media sosial mengenai keabsahan nama “Gaj Ahmada” bersumber dari tulisan satu paragraf akun Facebook Arif Barata.

”Patih kerajaan Majapahit yang terkenal dengan Sumpah Palapa-nya. Patih Gajah Mada juga seorang muslim. Nama aslinya adalah Gaj Ahmada (terlihat lebih Islami, bukan?). Hanya saja, orang Jawa saat itu sulit mengucapkan nama tersebut,” tulis akun itu.

”Mereka menyebutnya Gajahmada untuk memudahkan pengucapan dan belakangan ditulis terpisah menjadi Gajah Mada (walaupun hal ini salah). Kerajaan Majapahit mencapai puncak keemasan pada masa Patih Gaj Ahmada. Konon, kekuasaannya sampai ke Malaka (sekarang masuk wilayah Malaysia).”

”Setelah mengundurkan diri dari kerajaan, Patih Gaj Ahmada lebih dikenal dengan sebutan Syaikh Mada oleh masyarakat sekitar. Pernyataan ini diperkuat dengan bukti fisik yaitu pada nisan makam Gaj Ahmada di Mojokerto terdapat tulisan ‘La Ilaha Illallah Muhammad Rasulullah’.”

Heboh Soal Nama Asli Patih Gajah Mada yang Sebenarnya 'Gaj Ahmada'

Heboh Soal Nama Asli Patih Gajah Mada yang Sebenarnya 'Gaj Ahmada'

RiauJOS.com, Viral - Warga internet dihebohkan dengan fakta sejarah yang mengabarkan soal nama asli Patih Gajah Mada yang mirip nama orang Arab, "Gaj Ahmada".

Penelusuran Riau JOS, Minggu, 18 Juni 2017 di akun Facebook KataKita, memposting kejadian viral itu, dan mencoba memberikan penjelasan, sebagai berikut:

Viral "Gaj Ahmada" Hoax Sejarah

Belakangan ini cukup banyak repost dan viral sebuah tulisan dengan judul MELURUSKAN SEJARAH!! (dengan tanda seru) yang justru berisi sebuah distorsi luar biasa, bahkan bisa diartikan sebagai dongeng menyesatkan. Tulisan tersebut berisi sebuah narasi yang pada intinya ingin mengatakan bahwa Mahapatih Gajah Mada adalah seorang sosok Muslim luar biasa yang sebenarnya bernama Gaj Ahmada. Dalam kaitan tersebut kita harus dapat dengan jernih melihat bahwa sejarah bukanlah dongeng yang cukup hanya dibuktikan dengan argumen otak atik matuk alias dengan nalar cocoklogi berdasarkan kemauan sendiri atau tujuan-tujuan tendensius. Masyarakat Nusantara harus cerdas dalam menangkap informasi yang tidak jelas latar kesejarahannya dengan berbagai bukti yang melingkupinya.

Viral tulisan tersebut sangat dimungkinkan didasarkan pada buku berjudul Kesultanan Majapahit ditulis oleh Herman Sinung Janutama, lulusan UMY Yogyakarta yang menulis buku tersebut tanpa didasari keilmuan selain otak-atik gathuk alias cocoklogi. Jika nama GAJAH MADA dipaksakan menjadi bahasa Arab Gaj Ahmada, pertanyaannya adalah memangnya hal tersebut dapat ditemui ada dalam prasasti, naskah kuno Negara kretagama? Atau ada dalan kitab Pararaton, Kidung Sunda, Usana Jawa? Apakah ada satu saja yg menulis Kosa Kata Jawa "Gaj" dan "Ahmada" ? Lalu apa arti kosa kata "Gaj" ? Ia merupakan kosa kata Jawa atau Arab?. Lalu apa arti dari kata Ahmada? Adakah orang Arab memakai nama Ahmada?

Dalam buku yang cenderung awur-awuran itu, penulis secara tegas menyatakan bahwa Raden Wijaya adalah dzuriyah (keturunan) Nabi Muhammad SAW dan beragama lslam. Pertanyaanya simpel saja, apa dasarnya? tidakkah penulis itu tahu bahwa Sanggrama Wijaya yang bergelar Kertarajasa Jayawarddhana itu saat mangkat jenazahnya dibakar dan abunya dicandikan di Simping dan Weleri? Memangnya Dzuriyah Rasulullah SAW yang muslim matinya dibakar?

Mari kita baca naskah-naskah Majapahit mulai Negara kretagama, Kutaramanawa Dharmasastra, Kidung Banawa Sekar, Kidung Ranggalawe, Kidung Panji Wijayakrama, Kidung Sudamala, Kakawin Sutasoma, dll, termasuk prasasti-prasasti. Adakah pengaruh bahasa Arab dalam naskah-naskah tersebut?

Tulisan Bodoh Yang Membodohkan Bangsa
Tulisan-tulisan bodoh yang tanpa dasar ilmu tentang sejarah bangsa, sepintas bisa dianggap sebagai tulisan picisan yg tidak memiliki pengaruh apa-apa terhadap sejarah mainstream bangsa lndonesia. Tapi jika tulisan "sampah" dalam keilmuan itu ditopang oleh organisasi besar dan institusi negara dan akademisi, bisa merubah eksistensi dan citra bangsa.

Jika Borobudur bikinan Nabi Sulaiman dan Majapahit didirikan orang Arab keturunan Nabi SAW, akan terdapat simpulan bahwa pribumi lndonesia itu kumpulan manusia primitif yang tidak memiliki peradaban dan kebudayaan. Bagaimana bangsa lndonesia disebut beradab jika membikin candi saja tidak becus, menunggu kedatangan Bani lsrael. Nah, jika Bani lsrael dapat membangun candi yg sangat megah di negeri seberang lautan, adakah situs bangunan candi seperti borobudur di lsrael?

Jika Majapahit didirikan oleh dzuriyah Rasul SAW, maka tentu terbukti bangsa ini primitif dan tolol sampai sampai untuk membangun sistem pemerintahan saja tidak mampu, dan harus menunggu kedatangan orang Arab yang lebih beradab dan memiliki iptek canggih.

Jika itu benar bahwa bangsa ini tolol primitif sehingga untuk membangun kerajaan saja musti menunggu kedatangan orang Arab, adakah data sejarah yg menunjuk bahwa di jazirah Arab pernah ada kerajaan nasional seluas Majapahit dengan administratif sangat canggih?


Akun facebook KataKita memposting penjelasan itu pada 16 Juni 2017, dan mendapatkan respon luar biasa dari facebookers, 2,5 ribu respon emotikon, dan dibagikan sebanyak 657 kali sampai warta ini diterbikan Minggu ini, pada pukul 5:30 WIB.


Viral Gaj Ahmada, Ini Penjelasan Penulis 'Majapahit Kerajaan Islam'


Sementara, Detik menulis, ada 6 poin yang menjadi dasar informasi viral itu, yakni penemuan koin Majapahit bertuliskan syahadat, nisan Sunan Maulana Malik Ibrahim yang menyebutkan bahwa dirinya merupakan Qadhi (hakim agama Islam) Kerajaan Majapahit, lambang Majapahit berupa matahari dengan tulisan Arab, Raden Wijaya adalah seorang muslim, nama Gajah Mada disebut sebagai Gaj Ahmada atau Syaikh Mada, dan dikaitkan pula dengan eksodus besar-besaran warga muslim Baghdad ke Nusantara setelah diserang tentara Mongol pada tahun 1293.

Hal itu berbeda dengan sejarah umum yang menyebut Majapahit adalah kerajaan Hindu, begitu juga dengan agama yang dianut Gajah Mada.

Informasi viral menyebut bahwa penelitian soal Gaj Ahmada dilakukan Lembaga Hikmah dan Kajian Publik Pengurus Daerah (LHKP PD) Muhammadiyah Kota Yogyakarta. Benarkah?

Tulisan itu tak menyebutkan sumber. Meski demikian, penelusurandetikcom terkait informasi viral itu mengarah ke buku 'Majapahit Kerajaan Islam'. Buku tersebut ditulis oleh Herman Sinung Janutama.

Dilaporkan Detik, Sabtu, 17 Juni 2017 yang mencoba menghubungi Herman, namun belum mendapatkan konfirmasi. Informasi soal penelitian LHKP PD Muhammadiyah Kota Yogyakarta dan buku itu akhirnya datang dari Wakil Ketua PD Muhammadiyah Kota Yogyakarta Ashad Kusuma Djaya.

"Penelitian dilakukan oleh Mas Herman dan dibuat kajiannya oleh LHKP, dengan mendatangkan beberapa pembanding. Hasil kajian itu ditulis menjadi buku," ujar Ashad, Sabtu, 17 Juni 2017 dikutip dari laman Detik.

Ashad mengatakan Herman bicara banyak soal viral Gaj Ahmada tersebut di wall Facebooknya. Penjelasan Herman soal kekeliruan Gaj Ahmada ada di komentar-komentar pada status Ashad.

Dalam komentarnya di Facebook, Herman menegaskan bahwa informasi viral itu amat berbeda dengan buku yang dia tulis.

"Sepanjang bacaan kami status viral tersebut beberapa hal tidak terdapat pada buku kami. Misalnya penjelasan tentang GAJ-AHMADA. Dalam buku tertulis GAJAH-AHMADA. Leburan suku kata AH dalam bentukan kata GAJAHMADA adalah hukum GARBA dalam gabungan 2 kata atau lebih dalam kawi atau sansekerta. Dalam kasanah Jawa, tidak mungkin diizinkan kata GAJ, yang mematikan konsonan JA. Sebagaimana suku kata WA juga tidak diizinkan dimatikan, hanya W saja.
Tapi dalam viral tidak begitu membabarkannya....," tulis Herman pada dini hari tadi.

Dia kemudian menjelaskan pula mengenai lambang Surya Majapahit di makam Pusponegoro. Menurutnya lambang yang disematkan di sana terdapat di makam keturunan Raja-raja Majapahit.

"Kami juga diminta menjelaskan oleh salah satu pusat studi di UGM. Saya matur bahwa persoalan serius yang dibabar dalam buku Kesultanan Majapahit terletak pada kritik metodologi dalam menelitinya. Bagaimana obyek material menggunakan metode, sehingga mendapatkan data.... Tapi hal begini menurut saya tidak mungkin diterangkan dalam diskusi viral demikian," ungkap dia.

Siapa yang memposting "Gaj Ahmada" pertama kali?

Diwartakan Solopos.com, 17 Juni 2017 melaporkan, semua selentingan yang viral di media sosial mengenai keabsahan nama “Gaj Ahmada” bersumber dari tulisan satu paragraf akun Facebook Arif Barata.

”Patih kerajaan Majapahit yang terkenal dengan Sumpah Palapa-nya. Patih Gajah Mada juga seorang muslim. Nama aslinya adalah Gaj Ahmada (terlihat lebih Islami, bukan?). Hanya saja, orang Jawa saat itu sulit mengucapkan nama tersebut,” tulis akun itu.

”Mereka menyebutnya Gajahmada untuk memudahkan pengucapan dan belakangan ditulis terpisah menjadi Gajah Mada (walaupun hal ini salah). Kerajaan Majapahit mencapai puncak keemasan pada masa Patih Gaj Ahmada. Konon, kekuasaannya sampai ke Malaka (sekarang masuk wilayah Malaysia).”

”Setelah mengundurkan diri dari kerajaan, Patih Gaj Ahmada lebih dikenal dengan sebutan Syaikh Mada oleh masyarakat sekitar. Pernyataan ini diperkuat dengan bukti fisik yaitu pada nisan makam Gaj Ahmada di Mojokerto terdapat tulisan ‘La Ilaha Illallah Muhammad Rasulullah’.”