RiauJOS.com, Bengkalis - Kegiatan Festival Colok yang diselenggarakan Pemerintah Daerah Kabupaten Bengkalis setiap tahunnya, telah menjadi ajang budaya yang cukup menyedot perhatian berbagai kalangan. 

Event tahunan ini menjadi daya tarik dan perekat bagi masyarakatdi dalam maupun di luar Kabupaten Bengkalis untuk datang dan menyaksikan keindahan lampu-lampu colok yang dibangun dengan berbagai bentuk dan ornamen khas,  ada juga masyarakat dari pulau kecil di pesisir Sumatera yang menjadi sentral pemerintahan daerah turut meramaikan kegiatan ini.

Lampu colok yang bahan bakar pokoknya minyak tanah, yang dibuat dari kaleng-kaleng minuman serta memiliki sumbu itu, dan baru mulai dinyalakan pada malam tujuh likur atau malam 27 Ramadan hingga tibanya malam hari Raya Idul Fitri 1 Syawal itu, hanya ada dan bisa kita temukan di Bengkalis dan daerah-daerah pesisir lainnya, seperti di Kepulauan Meranti, Dumai, Siak dan beberapa tempat di pesisir Riau.

Memang terasa unik dan cukup mengesankan bagi siapa saja yang sempat menyaksikan langsung nyala-nyala api berwarna kuning kemerah-merahan dari sumbu-sumbu lampu colok, dan hanya ada pada tiga malam terakhir di bulan Ramadan saja. 

Nuansa budaya dan tradisi lampu colok begitu sangat kental dan mengakar. Ia menjadi warisan turun-temurun masyarakat Melayu Bengkalis dari sejak dulu hingga kini. Dari generasi ke generasi, tradisi ini terus menguat, dan selayaknyalah untuk selalu dipertahankan. 

Semangat untuk melestarikan budaya dan tradisi inilah barangkali menjadi perhatian besar Pemerintah Daerah Kabupaten Bengkalis melalui instansi terkait, untuk tetap konsisten dalam mempertahankan dan menjaga agar khazanah Melayu ini tidak hilang dan lenyap ditelan zaman.

Bila kita menjengah kembali helat festival lampu colok yang diselenggarakan Pemerintah Kabupaten Bengkalis melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Bengkalis dalam kurun waktu 10 atau 15 tahun terakhir ini, sering ditemukan jika malam pembukaan event tahunan itu selalunya dilaksanakan di pusat kota dan di beberapa desa yang masih berdekatan dengan kota (Kecamatan Bengkalis, red). 

Nah, menariknya, festival lampu colok yang digelar pada tahun 2017 ini tampaknya ada sedikit perubahan, sebab kali ini kegiatan malam pembukaannya dilaksanakan di Kecamatan Bantan, tepatnya di Desa Selatbaru.

Meski lokasi tempat digelarnya acara pembukaan festival colok mulai terjadi pergeseran, di mana tidak lagi dipusatkan di Kecamatan Bengkalis sebagai pusat pemerintahan daerah, karena telah merambah ke kecamatan lainnya (Kecamatan Bantan).

Antusias warga dan masyarakat di pulau Bengkalis ini masih tergolong cukup tinggi. Buktinya pada malam pembukaan festival colok yang dilakukan langsung oleh Bupati Bengkalis H Amril Mukminin pada Rabu, 21 Juni 2017 di Selatbaru, baik masyarakat yang berada di Kecamatan Bantan maupun di Kecamatan Bengkalis, terlihat berduyun-duyun dan menyaksikan helat akbar tersebut. 

Tak ayal lagi, pada malam 27 likur itu, suasana jalan raya menuju ibukota Kecamatan Bantan terasa sesak, penuh dengan kendaraan masyarakat yang hendak menyaksikan lampu colok dari dekat.

Data yang disampaikan Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Bengkalis H Edwar melalui Kepala Bidang Kebudayaan Baharudin, pada ajang festival colok kali ini tidak kurang diikuti oleh sebanyak 28 menara colok, baik yang ada di Kecamatan Bengkalis maupun Bantan. 

Menara-menara colok yang diikutsertakan dalam kegiatan festival ini tentunya memenuhi beberapa persyaratan, diantaranya jumlah lampu yang dipasang di suatu menara atau bangunan colok, disyaratkan lebih dari 3000 buah.

Sementara, Pemerintah Daerah Kabupaten Bengkalis juga menyiapkan bantuan dana BBM (minyak tanah, red) bagi para peserta yang jumlahnya relatif beda, yakni berkisar antara Rp500 ribu hingga Rp700 ribu per kelompok. 

Hal ini suatu terobosan yang dinilai sangat baik guna mendorong dan menumbuhkan semangat untuk melestarikan event ini bagi masyarakat atau para pemuda yang bertungkuslumus mempersiapkan lampu colok.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, penilaian dalam Festival Colok 2017 ini juga memperhatikan beberapa kriteria penilaian yang menjadi acuan penyelenggaraanya. Diantaranya setiap menara lampu colok akan dinilai keindahan bentuk atau ornamen lampu yang dipasang. 

Kemudian aspek-aspek pendukung lainnya, seperti aspek keamanan, kebersihan dan kekompakan para pemuda dalam mengikuti festival. Bahkan sebelum dilakukannya malam pembukaan, beberapa tim juri jauh-jauh hari sudah melakukan penilaian awal terhadap para peserta yang mendaftarkan diri.

Pihak penyelenggara juga menyediakan sejumlah hadiah bagi para pemenang festival colok kali ini. Bahkan sesuai data yang diperoleh, selain penghargaan maupun tropi, untuk juara 1 akan diberikan hadiah sebesar Rp.5 juta, juara 2 Rp.4 juta, dan juara 3 sebesar Rp.3,5 juta. 

Sementara bagi peserta yang hanya bisa meraih harapan 1, 2 da 3, panitia juga turut menyediakan penghargaan uang masing-masing sebesar Rp.3 juta.

Walau berdasarkan data jumlah peserta yang mengikuti kegiatan Festival Colok 2017 mengalami sedikit penurunan, di mana pada tahun 2016 lalu tak kurang diikuti sebanyak 44 menara, tapi diakui jika upaya untuk melestarikan budaya dan tradisi ini terus tumbuh di sebagian besar kalangan masyarakat. 

Bahkan kalau Anda sempat berkeliling menyusuri jalan-jalan dan gang-gang di setiap desa dan kelurahan di Kecamatan Bengkalis, Bantan dan beberapa kecamatan lainnya di Bengkalis, maka mata Anda akan selalu disuguhi dengan nyala lampu-lampu colok yang dipasang di sepanjang jalan, gang dan halaman rumah warga.

Sejenak menelisik mengapa budaya lampu colok ini begitu akrab dan menyatu dalam kehidupan masyarakat di Bengkalis ini, dan bahkan sampai hari ini tradisi itu masih dipelihara?, maka lain tak bukan jawabannya dikarenakan cintanya masyarakat Bengkalis terhadap warisan orang-orang tua Melayu dulu yang sarat akan pesan sekaligus makna yang terkandung didalamnya. 

Diantara hal yang mendorong masyarakat memasang colok di malam-malam terakhir bulan Ramadan kala itu, adalah sebagai perwujudan suka cita dalam menyambut Idul Fitri. Pada masa itu kampung-kampung dan dusun-dusun masih sunyi dan gelap. Tidak ada penerang seperti listrik sebagaimana sekarang ini. Maka lampu colok adalah salah satu solusi bagi mengatasi kegelapan ketika itu.

Melalui lampu colok yang dipasang di sepanjang jalan dan gang-gang, terlebih lagi melalui suatu menara yang dibangun, juga menggambarkan betapa masyarakat masih memegang teguh semangat persatuan, kompak dan saling bekerjasama (bergotong-royong, red). Semangat inilah yang patut untuk terus dilestarikan di zaman yang hari ini serba kebendaan dan sarat akan berbagai kepentingan.

Ada pesan menarik yang disampaikan Bupati Bengkalis H Amril Mukminin pada malam pembukaan Festival Colok 2017 di Selatbaru yang ditandai dengan penyulutan lampu colok dan letupan kembang api itu. Diantaranya beliau ingin kegiatan seperti ini terus dilakukan dan dilestarikan di Kabupaten Bengkalis bergelar Negeri Junjungan ini. Beliau juga merasa bangga, karena dari generasi ke generasi, budaya dan tradisi colok masih terus berlangsung, di Kabupaten Bengkalis, lebih khususnya lagi di pulau Bengkalis ini. Ini menandakan juga jika masyakat tetap teguh menjaga persatuan dan kekompakan.

Mengenai pembinaan terhadap keberlangsungan budaya dan tradisi colok, menurut Amril Mukminin jika Pemerintah Daerah Kabupaten Bengkalis akan tetap berkomitmen tentang hal itu. Salah satunya adalah dengan memberikan suntikan dana bantuan BBM dan lain sebagainya kepada para peserta festival. Langkah ini diambil dalam rang memberikan semangat dan motivasi agar warisan turun-temurun masyarakat Melayu ini tidak tercerabut dari kehidupan masyarakat.

Berdasarkan pantauan penulis yang ikut menyertai rombongan Bupati Bengkalis H Amril Mukminin pada malam pembukaan Festival Colok 2017 di Selatbaru, berbagai bentuk ornamen dan corak lampu colok terpasang. 

Sebagian besar menara-menara lampu colok berbentuk ornamen masjid yang apabila dipandang dari jauh terlihat begitu indah. 

Kerdipan-kerdipan lampu yang berjejer rapi pada bangunan menara yang besar dan menjulang tinggi, terasa sangat mengagumkan dan tentu menggoda mata agar tak mau berkedip sedetikpun.

Tak sedikit para pengendara kendaraan bermotor atau pengunjung yang tampak sengaja berhenti di pinggir-pinggir jalan untuk menyaksikan keindahan lampu colok, baik di Kecamatan Bantan maupun di Kecamatan Bengkalis (pusat kota, red). 

Momen ini memang sangat dinanti-nantikan segenap warga. Bahkan tak sedikit diantara mereka yang menyambut malam festival kali ini dengan rasa syukur dan penuh suka cita. Diantara mereka ada juga yang sengaja menjadikan momen ini untuk berpose dan berselfi diantara ribuan nyala lampu minyak tanah yang dipasang dan melekat di bangunan menara colok.

Mengesankan.. Festival Lampu Colok di Bengkalis, Begitu Indah..


RiauJOS.com, Bengkalis - Kegiatan Festival Colok yang diselenggarakan Pemerintah Daerah Kabupaten Bengkalis setiap tahunnya, telah menjadi ajang budaya yang cukup menyedot perhatian berbagai kalangan. 

Event tahunan ini menjadi daya tarik dan perekat bagi masyarakatdi dalam maupun di luar Kabupaten Bengkalis untuk datang dan menyaksikan keindahan lampu-lampu colok yang dibangun dengan berbagai bentuk dan ornamen khas,  ada juga masyarakat dari pulau kecil di pesisir Sumatera yang menjadi sentral pemerintahan daerah turut meramaikan kegiatan ini.

Lampu colok yang bahan bakar pokoknya minyak tanah, yang dibuat dari kaleng-kaleng minuman serta memiliki sumbu itu, dan baru mulai dinyalakan pada malam tujuh likur atau malam 27 Ramadan hingga tibanya malam hari Raya Idul Fitri 1 Syawal itu, hanya ada dan bisa kita temukan di Bengkalis dan daerah-daerah pesisir lainnya, seperti di Kepulauan Meranti, Dumai, Siak dan beberapa tempat di pesisir Riau.

Memang terasa unik dan cukup mengesankan bagi siapa saja yang sempat menyaksikan langsung nyala-nyala api berwarna kuning kemerah-merahan dari sumbu-sumbu lampu colok, dan hanya ada pada tiga malam terakhir di bulan Ramadan saja. 

Nuansa budaya dan tradisi lampu colok begitu sangat kental dan mengakar. Ia menjadi warisan turun-temurun masyarakat Melayu Bengkalis dari sejak dulu hingga kini. Dari generasi ke generasi, tradisi ini terus menguat, dan selayaknyalah untuk selalu dipertahankan. 

Semangat untuk melestarikan budaya dan tradisi inilah barangkali menjadi perhatian besar Pemerintah Daerah Kabupaten Bengkalis melalui instansi terkait, untuk tetap konsisten dalam mempertahankan dan menjaga agar khazanah Melayu ini tidak hilang dan lenyap ditelan zaman.

Bila kita menjengah kembali helat festival lampu colok yang diselenggarakan Pemerintah Kabupaten Bengkalis melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Bengkalis dalam kurun waktu 10 atau 15 tahun terakhir ini, sering ditemukan jika malam pembukaan event tahunan itu selalunya dilaksanakan di pusat kota dan di beberapa desa yang masih berdekatan dengan kota (Kecamatan Bengkalis, red). 

Nah, menariknya, festival lampu colok yang digelar pada tahun 2017 ini tampaknya ada sedikit perubahan, sebab kali ini kegiatan malam pembukaannya dilaksanakan di Kecamatan Bantan, tepatnya di Desa Selatbaru.

Meski lokasi tempat digelarnya acara pembukaan festival colok mulai terjadi pergeseran, di mana tidak lagi dipusatkan di Kecamatan Bengkalis sebagai pusat pemerintahan daerah, karena telah merambah ke kecamatan lainnya (Kecamatan Bantan).

Antusias warga dan masyarakat di pulau Bengkalis ini masih tergolong cukup tinggi. Buktinya pada malam pembukaan festival colok yang dilakukan langsung oleh Bupati Bengkalis H Amril Mukminin pada Rabu, 21 Juni 2017 di Selatbaru, baik masyarakat yang berada di Kecamatan Bantan maupun di Kecamatan Bengkalis, terlihat berduyun-duyun dan menyaksikan helat akbar tersebut. 

Tak ayal lagi, pada malam 27 likur itu, suasana jalan raya menuju ibukota Kecamatan Bantan terasa sesak, penuh dengan kendaraan masyarakat yang hendak menyaksikan lampu colok dari dekat.

Data yang disampaikan Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Bengkalis H Edwar melalui Kepala Bidang Kebudayaan Baharudin, pada ajang festival colok kali ini tidak kurang diikuti oleh sebanyak 28 menara colok, baik yang ada di Kecamatan Bengkalis maupun Bantan. 

Menara-menara colok yang diikutsertakan dalam kegiatan festival ini tentunya memenuhi beberapa persyaratan, diantaranya jumlah lampu yang dipasang di suatu menara atau bangunan colok, disyaratkan lebih dari 3000 buah.

Sementara, Pemerintah Daerah Kabupaten Bengkalis juga menyiapkan bantuan dana BBM (minyak tanah, red) bagi para peserta yang jumlahnya relatif beda, yakni berkisar antara Rp500 ribu hingga Rp700 ribu per kelompok. 

Hal ini suatu terobosan yang dinilai sangat baik guna mendorong dan menumbuhkan semangat untuk melestarikan event ini bagi masyarakat atau para pemuda yang bertungkuslumus mempersiapkan lampu colok.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, penilaian dalam Festival Colok 2017 ini juga memperhatikan beberapa kriteria penilaian yang menjadi acuan penyelenggaraanya. Diantaranya setiap menara lampu colok akan dinilai keindahan bentuk atau ornamen lampu yang dipasang. 

Kemudian aspek-aspek pendukung lainnya, seperti aspek keamanan, kebersihan dan kekompakan para pemuda dalam mengikuti festival. Bahkan sebelum dilakukannya malam pembukaan, beberapa tim juri jauh-jauh hari sudah melakukan penilaian awal terhadap para peserta yang mendaftarkan diri.

Pihak penyelenggara juga menyediakan sejumlah hadiah bagi para pemenang festival colok kali ini. Bahkan sesuai data yang diperoleh, selain penghargaan maupun tropi, untuk juara 1 akan diberikan hadiah sebesar Rp.5 juta, juara 2 Rp.4 juta, dan juara 3 sebesar Rp.3,5 juta. 

Sementara bagi peserta yang hanya bisa meraih harapan 1, 2 da 3, panitia juga turut menyediakan penghargaan uang masing-masing sebesar Rp.3 juta.

Walau berdasarkan data jumlah peserta yang mengikuti kegiatan Festival Colok 2017 mengalami sedikit penurunan, di mana pada tahun 2016 lalu tak kurang diikuti sebanyak 44 menara, tapi diakui jika upaya untuk melestarikan budaya dan tradisi ini terus tumbuh di sebagian besar kalangan masyarakat. 

Bahkan kalau Anda sempat berkeliling menyusuri jalan-jalan dan gang-gang di setiap desa dan kelurahan di Kecamatan Bengkalis, Bantan dan beberapa kecamatan lainnya di Bengkalis, maka mata Anda akan selalu disuguhi dengan nyala lampu-lampu colok yang dipasang di sepanjang jalan, gang dan halaman rumah warga.

Sejenak menelisik mengapa budaya lampu colok ini begitu akrab dan menyatu dalam kehidupan masyarakat di Bengkalis ini, dan bahkan sampai hari ini tradisi itu masih dipelihara?, maka lain tak bukan jawabannya dikarenakan cintanya masyarakat Bengkalis terhadap warisan orang-orang tua Melayu dulu yang sarat akan pesan sekaligus makna yang terkandung didalamnya. 

Diantara hal yang mendorong masyarakat memasang colok di malam-malam terakhir bulan Ramadan kala itu, adalah sebagai perwujudan suka cita dalam menyambut Idul Fitri. Pada masa itu kampung-kampung dan dusun-dusun masih sunyi dan gelap. Tidak ada penerang seperti listrik sebagaimana sekarang ini. Maka lampu colok adalah salah satu solusi bagi mengatasi kegelapan ketika itu.

Melalui lampu colok yang dipasang di sepanjang jalan dan gang-gang, terlebih lagi melalui suatu menara yang dibangun, juga menggambarkan betapa masyarakat masih memegang teguh semangat persatuan, kompak dan saling bekerjasama (bergotong-royong, red). Semangat inilah yang patut untuk terus dilestarikan di zaman yang hari ini serba kebendaan dan sarat akan berbagai kepentingan.

Ada pesan menarik yang disampaikan Bupati Bengkalis H Amril Mukminin pada malam pembukaan Festival Colok 2017 di Selatbaru yang ditandai dengan penyulutan lampu colok dan letupan kembang api itu. Diantaranya beliau ingin kegiatan seperti ini terus dilakukan dan dilestarikan di Kabupaten Bengkalis bergelar Negeri Junjungan ini. Beliau juga merasa bangga, karena dari generasi ke generasi, budaya dan tradisi colok masih terus berlangsung, di Kabupaten Bengkalis, lebih khususnya lagi di pulau Bengkalis ini. Ini menandakan juga jika masyakat tetap teguh menjaga persatuan dan kekompakan.

Mengenai pembinaan terhadap keberlangsungan budaya dan tradisi colok, menurut Amril Mukminin jika Pemerintah Daerah Kabupaten Bengkalis akan tetap berkomitmen tentang hal itu. Salah satunya adalah dengan memberikan suntikan dana bantuan BBM dan lain sebagainya kepada para peserta festival. Langkah ini diambil dalam rang memberikan semangat dan motivasi agar warisan turun-temurun masyarakat Melayu ini tidak tercerabut dari kehidupan masyarakat.

Berdasarkan pantauan penulis yang ikut menyertai rombongan Bupati Bengkalis H Amril Mukminin pada malam pembukaan Festival Colok 2017 di Selatbaru, berbagai bentuk ornamen dan corak lampu colok terpasang. 

Sebagian besar menara-menara lampu colok berbentuk ornamen masjid yang apabila dipandang dari jauh terlihat begitu indah. 

Kerdipan-kerdipan lampu yang berjejer rapi pada bangunan menara yang besar dan menjulang tinggi, terasa sangat mengagumkan dan tentu menggoda mata agar tak mau berkedip sedetikpun.

Tak sedikit para pengendara kendaraan bermotor atau pengunjung yang tampak sengaja berhenti di pinggir-pinggir jalan untuk menyaksikan keindahan lampu colok, baik di Kecamatan Bantan maupun di Kecamatan Bengkalis (pusat kota, red). 

Momen ini memang sangat dinanti-nantikan segenap warga. Bahkan tak sedikit diantara mereka yang menyambut malam festival kali ini dengan rasa syukur dan penuh suka cita. Diantara mereka ada juga yang sengaja menjadikan momen ini untuk berpose dan berselfi diantara ribuan nyala lampu minyak tanah yang dipasang dan melekat di bangunan menara colok.