Social Items

Diprediksi Harapan Hidupnya Tidak Panjang, Siswa Lumpuh Layu Bersemangat untuk Tetap Pergi Sekolah, Walau Digendong Ibunya

RiauJOS.com, Trenggalek – Seorang siswa kelas IV di SD Negeri 1 Senden, Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur, terpaksa pulang-pergi ke sekolah dengan digendong sang ibu karena menderita lumpuh layu akibat kerusakan saraf dan melemahnya otot kaki (guillain-barre syndrome).

Menurut penuturan pihak guru kelas maupun orang tua siswa bernama Dio Eka Saputra (12) saat ditemui Antara, Sabtu, sulung dua saudara itu mulai mengalami disabilitas akut sejak setahun terakhir.

"Sejak kelas IV sebenarnya sudah tampak ada gejala kelainan, namun belum separah setahun terakhir," tutur Kepala SDN 1 Senden Sumardjadi.

Ia mengaku sudah mendapat penjelasan dari dokter yang menangani Dio dan mendapat masukkan agar memberi perlakuan khusus pada siswa penderita lumpuh layu tersebut mengingat harapan hidupnya yang diprediksi tidak panjang.

Rekomendasi itu telah dilakukan oleh pihak SDN 1 Senden dengan memberi kesempatan Dio tetap belajar melanjutkan sekolah hingga lulus, meski beberapa kegiatan seperti ujian praktik tidak bisa dia lakukan sebagaimana siswa normal.

Namun sayangnya, kata Sumardjadi, sekolahnya sejauh ini belum memfasilitasi penyediaan kursi roda untuk aktivitas Dio selama di area sekolah karena belum adanya alokasi biaya khusus, termasuk dari luar lingkup sekolah.

"Selama di sekolah Dio biasanya hanya di bangku kelas, tempatnya duduk dan tidak ke mana-mana sampai pulang. Dio pulang-pergi selalu dijemput dan dihantar ibunya, kadang bapaknya, jika pas pulang dari perantauan di Kalimantan," katanya.

Dio saat dikonfirmasi mengaku tetap semangat sekolah karena motivasinya saat ini adalah menyelesaikan pendidikan hingga lulus kelas VI di SDN 1 Senden.

Dio berharap bisa melanjutkan pendidikan di jenjang SMP, namun ia menyatakan saat ini tidak terlalu yakin karena malu dengan kondisinya yang tidak normal.

Sementara untuk melanjutkan belajar di SLB, Dio enggan dan memilih tidak melanjutkan pendidikan jika bukan sekolah umum.

"Sebenarnya saya ingin untuk tetap sekolah, dan meneruskan pendidikan ke jenjang SMP juga SMA, namun dengan keadaan seperti ini saya terus terang malu. Tidak percaya diri," ucap Dio.

Menurut keterangan sang ibu, Yuliati Asifa Ningsih (36), penyakit Dio itu mulai diketahuinya sejak umur empat tahun, atau ketika duduk di bangku taman kanan-kanan (TK) kelas B (nol kecil).

Saat itu, tutur si ibu, Dio megikuti lomba lari yang diadakan sekolahnya diawasi guru. Namun ketika akan bertanding, tiba-tiba sang guru melarangnya dengan alasan sikap dan cara jalan-lari Dio tidak seperti yang lain, tidak normal.

"Setelah itu guru memberitahu hal ini kepada ibu. Semenjak saat itu saya langsung bawa ke dokter," tuturnya.

Hasilnya, lanjut Yuliati, apa yang dikhawatirkan gurunya tersebut terbukti, sebab secara berangsur penyakitnya semakin parah.

Hal itu dibuktikan semenjak masuk di kelas 1 SD, Dio tidak bisa berjalan dengan lancar lagi.

Selain itu, setiap kali berjalan dirinya harus dipapah oleh orang lain, atau dengan cara merambat di tembok atau benda lainnya. "Sakit jika dipaksa buat jalan. Seluruh badan sakit," ucap Dio.

Untuk itu, setiap kali di sekolah yang dilanjutkan di rumah dirinya selalu menghabiskan waktu dengan duduk maupun berbaring.

Penyakit Dio diduga bersifat genetis, mengacu riwayat penyakit keluarganya di mana salah satu paman Dio mengalami kelumpuhan yang sama hingga akhirnya meninggal dunia, beberapa tahun silam.

"Ternyata setelah saya bawa, pihak RSUD dr Soedomo tidak sanggup merawatnya, makanya merujuk Dio ke RSUD dr. Soetomo, Surabaya," tutur Yuliati.

Saat itulah, berdasarkan hasil rontgen pihak rumah sakit setempat, mengatakan Dio mengalami kelainan genetis, sehingga hal tersebut membuat susunan otot di kedua kakinya tidak ada, hingga seakan di kaki hanya terdapat tulang saja (guillain-barre syndrome).

Hal tersebutlah yang membuat rumah sakit mengatakan bahwa kaki Dio tidak bisa dioperasi agar bisa sembuh dan berjalan seperti sedia kala.

Yuliati mengaku tidak pernah lelah untuk selalu menghantar putra sulung dari dua bersaudara itu berangkat sekolah, menggendongnya, lalu membonceng menggunakan sepeda motor ke sekolah yang berjarak sekitar dua kilometer.

Sesampainya di sekolah, wanita asal Dusun Balang, Desa Senden, Kecamatan Kampak ini juga menggendong Dio lagi, untuk di tempatkan pada bangkunya.

Hal serupa yang dilakukan ketika pulangnya dan setiap harinya. "Sampai saat ini anak saya ini masih berniat untuk sekolah dan melanjutkannya ke jenjang yang lebih tinggi lagi, makanya dengan ini saya berharap ada perhatian khusus dari pemerintah agar bisa masuk sekolah lagi, juga ada perlakukan khusus untuknya," ujarnya. (Okezone)

Diprediksi Harapan Hidupnya Tidak Panjang, Siswa Lumpuh Layu Bersemangat untuk Tetap Pergi Sekolah, Walau Digendong Ibunya

Diprediksi Harapan Hidupnya Tidak Panjang, Siswa Lumpuh Layu Bersemangat untuk Tetap Pergi Sekolah, Walau Digendong Ibunya

RiauJOS.com, Trenggalek – Seorang siswa kelas IV di SD Negeri 1 Senden, Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur, terpaksa pulang-pergi ke sekolah dengan digendong sang ibu karena menderita lumpuh layu akibat kerusakan saraf dan melemahnya otot kaki (guillain-barre syndrome).

Menurut penuturan pihak guru kelas maupun orang tua siswa bernama Dio Eka Saputra (12) saat ditemui Antara, Sabtu, sulung dua saudara itu mulai mengalami disabilitas akut sejak setahun terakhir.

"Sejak kelas IV sebenarnya sudah tampak ada gejala kelainan, namun belum separah setahun terakhir," tutur Kepala SDN 1 Senden Sumardjadi.

Ia mengaku sudah mendapat penjelasan dari dokter yang menangani Dio dan mendapat masukkan agar memberi perlakuan khusus pada siswa penderita lumpuh layu tersebut mengingat harapan hidupnya yang diprediksi tidak panjang.

Rekomendasi itu telah dilakukan oleh pihak SDN 1 Senden dengan memberi kesempatan Dio tetap belajar melanjutkan sekolah hingga lulus, meski beberapa kegiatan seperti ujian praktik tidak bisa dia lakukan sebagaimana siswa normal.

Namun sayangnya, kata Sumardjadi, sekolahnya sejauh ini belum memfasilitasi penyediaan kursi roda untuk aktivitas Dio selama di area sekolah karena belum adanya alokasi biaya khusus, termasuk dari luar lingkup sekolah.

"Selama di sekolah Dio biasanya hanya di bangku kelas, tempatnya duduk dan tidak ke mana-mana sampai pulang. Dio pulang-pergi selalu dijemput dan dihantar ibunya, kadang bapaknya, jika pas pulang dari perantauan di Kalimantan," katanya.

Dio saat dikonfirmasi mengaku tetap semangat sekolah karena motivasinya saat ini adalah menyelesaikan pendidikan hingga lulus kelas VI di SDN 1 Senden.

Dio berharap bisa melanjutkan pendidikan di jenjang SMP, namun ia menyatakan saat ini tidak terlalu yakin karena malu dengan kondisinya yang tidak normal.

Sementara untuk melanjutkan belajar di SLB, Dio enggan dan memilih tidak melanjutkan pendidikan jika bukan sekolah umum.

"Sebenarnya saya ingin untuk tetap sekolah, dan meneruskan pendidikan ke jenjang SMP juga SMA, namun dengan keadaan seperti ini saya terus terang malu. Tidak percaya diri," ucap Dio.

Menurut keterangan sang ibu, Yuliati Asifa Ningsih (36), penyakit Dio itu mulai diketahuinya sejak umur empat tahun, atau ketika duduk di bangku taman kanan-kanan (TK) kelas B (nol kecil).

Saat itu, tutur si ibu, Dio megikuti lomba lari yang diadakan sekolahnya diawasi guru. Namun ketika akan bertanding, tiba-tiba sang guru melarangnya dengan alasan sikap dan cara jalan-lari Dio tidak seperti yang lain, tidak normal.

"Setelah itu guru memberitahu hal ini kepada ibu. Semenjak saat itu saya langsung bawa ke dokter," tuturnya.

Hasilnya, lanjut Yuliati, apa yang dikhawatirkan gurunya tersebut terbukti, sebab secara berangsur penyakitnya semakin parah.

Hal itu dibuktikan semenjak masuk di kelas 1 SD, Dio tidak bisa berjalan dengan lancar lagi.

Selain itu, setiap kali berjalan dirinya harus dipapah oleh orang lain, atau dengan cara merambat di tembok atau benda lainnya. "Sakit jika dipaksa buat jalan. Seluruh badan sakit," ucap Dio.

Untuk itu, setiap kali di sekolah yang dilanjutkan di rumah dirinya selalu menghabiskan waktu dengan duduk maupun berbaring.

Penyakit Dio diduga bersifat genetis, mengacu riwayat penyakit keluarganya di mana salah satu paman Dio mengalami kelumpuhan yang sama hingga akhirnya meninggal dunia, beberapa tahun silam.

"Ternyata setelah saya bawa, pihak RSUD dr Soedomo tidak sanggup merawatnya, makanya merujuk Dio ke RSUD dr. Soetomo, Surabaya," tutur Yuliati.

Saat itulah, berdasarkan hasil rontgen pihak rumah sakit setempat, mengatakan Dio mengalami kelainan genetis, sehingga hal tersebut membuat susunan otot di kedua kakinya tidak ada, hingga seakan di kaki hanya terdapat tulang saja (guillain-barre syndrome).

Hal tersebutlah yang membuat rumah sakit mengatakan bahwa kaki Dio tidak bisa dioperasi agar bisa sembuh dan berjalan seperti sedia kala.

Yuliati mengaku tidak pernah lelah untuk selalu menghantar putra sulung dari dua bersaudara itu berangkat sekolah, menggendongnya, lalu membonceng menggunakan sepeda motor ke sekolah yang berjarak sekitar dua kilometer.

Sesampainya di sekolah, wanita asal Dusun Balang, Desa Senden, Kecamatan Kampak ini juga menggendong Dio lagi, untuk di tempatkan pada bangkunya.

Hal serupa yang dilakukan ketika pulangnya dan setiap harinya. "Sampai saat ini anak saya ini masih berniat untuk sekolah dan melanjutkannya ke jenjang yang lebih tinggi lagi, makanya dengan ini saya berharap ada perhatian khusus dari pemerintah agar bisa masuk sekolah lagi, juga ada perlakukan khusus untuknya," ujarnya. (Okezone)