Social Items

Pakar Gizi: Sahur dengan Nasi, Mi Instan, dan Telur Itu Kesalahan Besar..!!, Lantas, Bagaimana dengan Mie Celor Palembang?

RiauJOS.com, Kiat - Seorang pakar gizi, Dokter Samuel Oter, SpGK mengatakan, makan sahur dengan nasi, mie instan dan telur itu sebuah kesalahan besar.

“Itu salah, enggak bisa begitu! Itu harus lengkap seperti yang saya bilang. Kalau dia makan nasi dengan mi instan, itu artinya karbohidrat dengan karbohidrat yang sama-sama sederhana dan diserapnya cepat. Dia juga akan cepat lapar,” ujarnya dikutip dari laman kompas, Rabu, 31 Mei 2017.

Menurut Samuel, sahur menjadi momen vital untuk menyiapkan tubuh agar berkecukupan akan bahan-bahan makanan seperti sumber energi, protein, lemak, dan serat.

“Sumber energi itu apa? Karbohidrat. Karbohidrat seperti nasi, roti, kentang, dan gula. Itu semua sumber karbohidrat,” ucapnya. Akan tetapi, karbohidrat harus dipilih yang dapat membuat kadar gula darah stabil, walaupun ketika mendekat ke sore hari gula darah pasti akan tetap mengalami penurunan.

Dokter Samuel menyarankan untuk makan beras merah atau beras lainnya yang tinggi serat. “Kalau berasnya tinggi serat, maka penyerapan di saluran pencernaan akan terjadi perlahan-lahan. Kalau diserapnya perlahan-lahan, kadar gula di darah naiknya juga perlahan-lahan,” katanya.

Dia melanjutkan, kalau naiknya perlahan-lahan, maka turunnya pun perlahan-lahan sehingga kadar gula di darah bisa bertahan sampai sore hari. Hasilnya adalah orang yang berpuasa tidak lemas.

Selain beras merah, sumber karbohidrat tinggi serat lainnya seperti kentang yang dimakan bersama kulitnya dan roti gandum juga bisa menjadi pilihan.

Kemudian, jangan lupa juga untuk mengonsumsi protein dan lemak. Dokter Samuel mengingatkan untuk tidak makan protein yang terlalu tinggi di saat Sahur. Sebab, protein yang terlalu tinggi akan membutuhkan lebih banyak air untuk dicerna sehingga dapat menyebabkan kehausan.

“Jadi, ya makan ikan atau ayam, tetapi tidak boleh itu saja. Kan ada orang yang tidak makan nasi, makannya hanya protein saja. Itu tidak boleh saat lagi puasa,” paparnya.

Lalu, lemak pun harus dipilih yang sehat dan bukan dari gorengan. Dia menuturkan, kalau lemak dari gorengan itu lemak trans yang sangat berbahaya. Jadi, dipilihkan lemak yang sehat, misalnya yang tidak digoreng dan berasal dari ikan yang tidak digoreng juga. Terlalu banyak makan gorengan malah akan memberikan rasa haus di mulut.

Untuk melengkapi menu Sahur Anda, sayur dan buah yang tinggi serat juga tidak boleh ketinggalan. Lalu, jangan lupa juga untuk minum setidaknya tiga gelas air dan hindari kopi atau teh yang bersifat diuretik atau membuang air.

Nah, ketika menjelang imsak, perut harus diisi kembali dengan buah yang tinggi air, karbohidrat kompleks, dan serat.

“Jadi, jangan menjelang imsak sudah tidak makan atau minum, harus makan buah yang utuh atau diblender,” katanya.

Bagaimana dengan makan Mie Celor Palembang untuk Menu Sahur Sekeluarga yang kaya Karbohidrat?


Kalau Mie Instan Gak Boleh, Bagaimana dengan makan Mie Celor Palembang untuk Menu Sahur Sekeluarga yang kaya Karbohidrat?

Membaca pendapat dr. Samuel, dapat disimpukan bulan puasa sering dikaitkan dengan tubuh yang lemas karena kurangnya asupan energi untuk menjalani aktivitas. Hal ini bisa diatasi dengan pemilihan menu sahur yang kaya karbohidrat dan protein, sehingga membuat perut kenyang lebih lama.

Lantas, apa pendapat dokter gizi apabila makan Mie Celor Palembang? yang dikabarkan Dream Rabu ini, mie celor Palembang begitu lezat, dan mengenyangkan.

Berikut bahan-bahan dan cara memasak Mie Celor Palembang.

Bahan-bahan:

300 gram udang
1 sdt air jeruk limau
250 gram mie telur, seduh
100 gram tauge, rebus dan tiriskan
3 butir telur ayam, rebus dan iris
6 batang kucai, iris halus
5 sdm bawang merah goreng
Bahan Kuah:

1250 ml kaldu udang
1 sdm garam
¼ sdt gula pasir
½ sdt merica bubuk
1 sdt air jeruk limau
2 butir telur ayam, kocok lepas
250 ml santan dari ½ butir kelapa
2 sdm tepung terigu, encerkan dengan 50 ml air
Minyak Goreng untuk bawang goreng

Cara Memasak:

Kupas udang dan ambil dagingnya, potong halus. Aduk udang dan air jeruk limau, diamkan selama 15 menit. Jangan buang kepalanya, bersihkan dan hancurkan untuk bahan kaldu.

Didihkan 1500 ml air, masukkan kepala udang, angkat. Lalu ukur kaldunya sebanyak 1250 ml. Didihkan kembali lalu tambahkan santan, garam, gula, merica, dan udang kupas, rebus hingga matang.

Masukkan telur mentah sambil diaduk hingga berbutir-butir, tambahkan air jeruk limau dan aduk sampai matang. Kentalkan dengan larutan tepung terigu sambil diaduk hingga meletup-letup.

Untuk penyajiannya, tata mie dan taoge ke dalam mangkuk, tambahkan potongan telur rebus, lalu siram dengan kuah panas. Taburi kucai dan bawang goreng. Siap disantap hangat-hangat.

Jadi, kesimpulannya, kalau gak boleh sahur dengan nasi, mi instan dan telur, bisa digantikan dengan mie celor Palembang. gak boleh lagi kalau gak sahur, tapi bagaimana jika cuma bisa makan mie instan? karena tidak punya pilihan lagi?.. nah, itu dia yang belum dijawab sama Pak Dokter Samuel..

Pakar Gizi: Sahur dengan Nasi, Mi Instan, dan Telur Itu Kesalahan Besar..!!, Lantas, Bagaimana dengan Mie Celor Palembang?

Pakar Gizi: Sahur dengan Nasi, Mi Instan, dan Telur Itu Kesalahan Besar..!!, Lantas, Bagaimana dengan Mie Celor Palembang?

RiauJOS.com, Kiat - Seorang pakar gizi, Dokter Samuel Oter, SpGK mengatakan, makan sahur dengan nasi, mie instan dan telur itu sebuah kesalahan besar.

“Itu salah, enggak bisa begitu! Itu harus lengkap seperti yang saya bilang. Kalau dia makan nasi dengan mi instan, itu artinya karbohidrat dengan karbohidrat yang sama-sama sederhana dan diserapnya cepat. Dia juga akan cepat lapar,” ujarnya dikutip dari laman kompas, Rabu, 31 Mei 2017.

Menurut Samuel, sahur menjadi momen vital untuk menyiapkan tubuh agar berkecukupan akan bahan-bahan makanan seperti sumber energi, protein, lemak, dan serat.

“Sumber energi itu apa? Karbohidrat. Karbohidrat seperti nasi, roti, kentang, dan gula. Itu semua sumber karbohidrat,” ucapnya. Akan tetapi, karbohidrat harus dipilih yang dapat membuat kadar gula darah stabil, walaupun ketika mendekat ke sore hari gula darah pasti akan tetap mengalami penurunan.

Dokter Samuel menyarankan untuk makan beras merah atau beras lainnya yang tinggi serat. “Kalau berasnya tinggi serat, maka penyerapan di saluran pencernaan akan terjadi perlahan-lahan. Kalau diserapnya perlahan-lahan, kadar gula di darah naiknya juga perlahan-lahan,” katanya.

Dia melanjutkan, kalau naiknya perlahan-lahan, maka turunnya pun perlahan-lahan sehingga kadar gula di darah bisa bertahan sampai sore hari. Hasilnya adalah orang yang berpuasa tidak lemas.

Selain beras merah, sumber karbohidrat tinggi serat lainnya seperti kentang yang dimakan bersama kulitnya dan roti gandum juga bisa menjadi pilihan.

Kemudian, jangan lupa juga untuk mengonsumsi protein dan lemak. Dokter Samuel mengingatkan untuk tidak makan protein yang terlalu tinggi di saat Sahur. Sebab, protein yang terlalu tinggi akan membutuhkan lebih banyak air untuk dicerna sehingga dapat menyebabkan kehausan.

“Jadi, ya makan ikan atau ayam, tetapi tidak boleh itu saja. Kan ada orang yang tidak makan nasi, makannya hanya protein saja. Itu tidak boleh saat lagi puasa,” paparnya.

Lalu, lemak pun harus dipilih yang sehat dan bukan dari gorengan. Dia menuturkan, kalau lemak dari gorengan itu lemak trans yang sangat berbahaya. Jadi, dipilihkan lemak yang sehat, misalnya yang tidak digoreng dan berasal dari ikan yang tidak digoreng juga. Terlalu banyak makan gorengan malah akan memberikan rasa haus di mulut.

Untuk melengkapi menu Sahur Anda, sayur dan buah yang tinggi serat juga tidak boleh ketinggalan. Lalu, jangan lupa juga untuk minum setidaknya tiga gelas air dan hindari kopi atau teh yang bersifat diuretik atau membuang air.

Nah, ketika menjelang imsak, perut harus diisi kembali dengan buah yang tinggi air, karbohidrat kompleks, dan serat.

“Jadi, jangan menjelang imsak sudah tidak makan atau minum, harus makan buah yang utuh atau diblender,” katanya.

Bagaimana dengan makan Mie Celor Palembang untuk Menu Sahur Sekeluarga yang kaya Karbohidrat?


Kalau Mie Instan Gak Boleh, Bagaimana dengan makan Mie Celor Palembang untuk Menu Sahur Sekeluarga yang kaya Karbohidrat?

Membaca pendapat dr. Samuel, dapat disimpukan bulan puasa sering dikaitkan dengan tubuh yang lemas karena kurangnya asupan energi untuk menjalani aktivitas. Hal ini bisa diatasi dengan pemilihan menu sahur yang kaya karbohidrat dan protein, sehingga membuat perut kenyang lebih lama.

Lantas, apa pendapat dokter gizi apabila makan Mie Celor Palembang? yang dikabarkan Dream Rabu ini, mie celor Palembang begitu lezat, dan mengenyangkan.

Berikut bahan-bahan dan cara memasak Mie Celor Palembang.

Bahan-bahan:

300 gram udang
1 sdt air jeruk limau
250 gram mie telur, seduh
100 gram tauge, rebus dan tiriskan
3 butir telur ayam, rebus dan iris
6 batang kucai, iris halus
5 sdm bawang merah goreng
Bahan Kuah:

1250 ml kaldu udang
1 sdm garam
¼ sdt gula pasir
½ sdt merica bubuk
1 sdt air jeruk limau
2 butir telur ayam, kocok lepas
250 ml santan dari ½ butir kelapa
2 sdm tepung terigu, encerkan dengan 50 ml air
Minyak Goreng untuk bawang goreng

Cara Memasak:

Kupas udang dan ambil dagingnya, potong halus. Aduk udang dan air jeruk limau, diamkan selama 15 menit. Jangan buang kepalanya, bersihkan dan hancurkan untuk bahan kaldu.

Didihkan 1500 ml air, masukkan kepala udang, angkat. Lalu ukur kaldunya sebanyak 1250 ml. Didihkan kembali lalu tambahkan santan, garam, gula, merica, dan udang kupas, rebus hingga matang.

Masukkan telur mentah sambil diaduk hingga berbutir-butir, tambahkan air jeruk limau dan aduk sampai matang. Kentalkan dengan larutan tepung terigu sambil diaduk hingga meletup-letup.

Untuk penyajiannya, tata mie dan taoge ke dalam mangkuk, tambahkan potongan telur rebus, lalu siram dengan kuah panas. Taburi kucai dan bawang goreng. Siap disantap hangat-hangat.

Jadi, kesimpulannya, kalau gak boleh sahur dengan nasi, mi instan dan telur, bisa digantikan dengan mie celor Palembang. gak boleh lagi kalau gak sahur, tapi bagaimana jika cuma bisa makan mie instan? karena tidak punya pilihan lagi?.. nah, itu dia yang belum dijawab sama Pak Dokter Samuel..