Social Items

Penemuan 9 Katak Raksasa Bikin Heboh Warga, jadi Bukti Nusantara Emang Kaya

RiauJOS.com, Enkerang - Warga Dusun Gora, Desa Buntu Mondong, Kecamatan Buntu Batu, Kabupaten Enkerang, Sulawesi Selatan, menemukan sembilan ekor katak dengan ukuran raksasa, sebesar ayam.

Okezone melaporkan, setelah foto katak raksasa diunggah di media sosial, mulai menarik perhatian para kolektor dari Pulau Jawa dan Makassar. Bahkan, untuk satu katak yang paling kecil saja ditawar hingga Rp.50 ribu untuk satu ukuran kecil. Angka tersebut dianggap bombastis untuk satu ekor katak.

Katak raksasa itu diunggah di media sosial pertama kali oleh Darussalam, warga Desa Buntu Mondong, Kecamatan Buntu Batu, Kabupaten Enrekang, Provinsi Sulsel melalui akun Facebook miliknya Salam Konzelink.

Warga menangkap katak yang dalam bahasa lokal disebut "Todan" itu di kebun sawah pinggiran Sungai Dantewwa, sungai sepanjang 10 kilometer di Enrekang yang melintasi Desa Buntu Mondong, Banca, dan Lunjen.

"Kita tangkap sembilan ekor, dua ekor yang paling besar beratnya 1,5 kg panjang 50 cm dan sisanya ukurannya sedang," kata Darussalam, warga yang ikut menangkap, diwartakan Tribun Enrekang, Selasa, 2 Mei 2017.

Menurutnya, katak raksasa itu memang terdapat dalam jumlah melimpah di wilayahnya, katak itu endemik Latimojong. Kadang, warga bisa menagkap hingga 50 ekor.

Darus menambahkan, katak itu hanya bisa ditangkap saat malam karena selalu bersembunyi kala siang.

Sementara, Ahli amfibi dan reptil dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Amir Hamidy, mengungkapkan, katak raksasa itu adalah cermin potensi fauna Nusantara.

"Ini salah satu potensi katak nusantara yang kita miliki dari Sulawesi," katanya.

Menurutnya, katak itu merupakan jenis Limnonectes gruniens dan Limnonectes modestus. Jenis itu bisa memakan apapun yang ada di permukaan tanah, mulai tikus hingga burung.

Amir mengungkapkan, bila dikelola dan dibudidayakan, katak itu bisa dimanfaatkan untuk konsumsi sekaligus menjadi komoditas ekspor baru.

Indonesia merupakan pengekspor katak terbesar di dunia. "Yang kita ekspor kebanyakan adakah katak sawah jenis Fejervarya cancrivora," ungkap Amir.

Sayangnya, katak yang diekspor merupakan hasil eksploitasi langsung dari alam, bukan budidaya. Itu akan mengancam kelestarian.

Tantangan pemanfaatan katak adalah upaya budidayanya. Pada saat yang sama, Indonesia perlu mengidentifikasi potensi. Dengan sumber daya alam yang kaya, Indonesia saat ini malah mengimpor bullfrog.

Tribun/Okezone/Kompas

Penemuan 9 Katak Raksasa Bikin Heboh Warga, jadi Bukti Nusantara Emang Kaya

Penemuan 9 Katak Raksasa Bikin Heboh Warga, jadi Bukti Nusantara Emang Kaya

RiauJOS.com, Enkerang - Warga Dusun Gora, Desa Buntu Mondong, Kecamatan Buntu Batu, Kabupaten Enkerang, Sulawesi Selatan, menemukan sembilan ekor katak dengan ukuran raksasa, sebesar ayam.

Okezone melaporkan, setelah foto katak raksasa diunggah di media sosial, mulai menarik perhatian para kolektor dari Pulau Jawa dan Makassar. Bahkan, untuk satu katak yang paling kecil saja ditawar hingga Rp.50 ribu untuk satu ukuran kecil. Angka tersebut dianggap bombastis untuk satu ekor katak.

Katak raksasa itu diunggah di media sosial pertama kali oleh Darussalam, warga Desa Buntu Mondong, Kecamatan Buntu Batu, Kabupaten Enrekang, Provinsi Sulsel melalui akun Facebook miliknya Salam Konzelink.

Warga menangkap katak yang dalam bahasa lokal disebut "Todan" itu di kebun sawah pinggiran Sungai Dantewwa, sungai sepanjang 10 kilometer di Enrekang yang melintasi Desa Buntu Mondong, Banca, dan Lunjen.

"Kita tangkap sembilan ekor, dua ekor yang paling besar beratnya 1,5 kg panjang 50 cm dan sisanya ukurannya sedang," kata Darussalam, warga yang ikut menangkap, diwartakan Tribun Enrekang, Selasa, 2 Mei 2017.

Menurutnya, katak raksasa itu memang terdapat dalam jumlah melimpah di wilayahnya, katak itu endemik Latimojong. Kadang, warga bisa menagkap hingga 50 ekor.

Darus menambahkan, katak itu hanya bisa ditangkap saat malam karena selalu bersembunyi kala siang.

Sementara, Ahli amfibi dan reptil dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Amir Hamidy, mengungkapkan, katak raksasa itu adalah cermin potensi fauna Nusantara.

"Ini salah satu potensi katak nusantara yang kita miliki dari Sulawesi," katanya.

Menurutnya, katak itu merupakan jenis Limnonectes gruniens dan Limnonectes modestus. Jenis itu bisa memakan apapun yang ada di permukaan tanah, mulai tikus hingga burung.

Amir mengungkapkan, bila dikelola dan dibudidayakan, katak itu bisa dimanfaatkan untuk konsumsi sekaligus menjadi komoditas ekspor baru.

Indonesia merupakan pengekspor katak terbesar di dunia. "Yang kita ekspor kebanyakan adakah katak sawah jenis Fejervarya cancrivora," ungkap Amir.

Sayangnya, katak yang diekspor merupakan hasil eksploitasi langsung dari alam, bukan budidaya. Itu akan mengancam kelestarian.

Tantangan pemanfaatan katak adalah upaya budidayanya. Pada saat yang sama, Indonesia perlu mengidentifikasi potensi. Dengan sumber daya alam yang kaya, Indonesia saat ini malah mengimpor bullfrog.

Tribun/Okezone/Kompas