RiauJOS.com, Jakarta - Pihak kepolisian masih ingin mengetahui lebih jauh lagi sosok remaja 17 tahun peretas ribuan situs, Haikal dan ingin mengetahui potensinya.

Detik melaporkan, Kepala Biro Penerangan Masyarakat (Karopenmas) Divisi Humas Polri Brigjen Rikwanto mengatakan, kepolisian belum berpikiran untuk merangkul peretas (hacker) ribuan situs, Sultan Haikal.

Jika polisi merangkulnya, terlebih dahulu Haikal akan dibina untuk turut membantu kegiatan kepolisian.

Rikwanto mengatakan, polisi masih ingin mengetahui lebih jauh tentang sosok Haikal, pemuda berusia 19 tahun yang sudah membobol lebih dari 4.600 situs. Kepolisian saat ini juga masih ingin tahu seberapa besar kemampuan Haikal dalam meretas.

"Belum ada pemikiran ke arah situ. Kita masih melihat dia siapa, kemampuannya sebesar apa, kemudian situs yang telah dia bongkar seperti apa dan caranya bagaimana. Masih kita pelajari," ujarnya di Jakarta, Rabu, 5 April 2017 dikutip Riau JOS dari laman Detik.

Haikal ini, kata dia, merupakan mentor dari tiga anak buahnya yang telah ditangkap lebih dahulu. Ketiganya yakni MKU (19), AI (19) dan NTM (17). Sedangkan Haikal sendiri ditangkap pada 30 Maret lalu. Ia menjadi gerbang awal bagi tiga anak buahnya untuk membuka berbagai situs. Tujuan dibukanya situs, ada yang untuk sekadar ingin tahu, ada pula agar memperoleh keuntungan.

"Salah satunya yang untuk mencari keuntungan itu adalah dengan membuka situs penjual tiket online, sudah ada kerugian cukup banyak di situ," ujarnya.

Selain situs penjual tiket online, polisi juga masih mendalami situs-situs lain yang pernah diretas Haikal dan digunakannya untuk meraup keuntungan. Namun, kalau dari informasi tiga anak buahnya, Haikal sudah meretas lebih dari 4.600 situs. Tidak semua peretasan ini dilakukan untuk meraup penghasilan.

"Tapi kebanyakan untuk unjuk kemampuan bahwa dia berhasil buka itu. Dia tunjukkan kepada junior-juniornya, dan menjadi kebanggaan bagi dirinya," katanya.

Rikwanto memaparkan, Haikal merekrut tiga anak buahnya itu melalui Facebook. Di awal perkenalan di Facebook ini, mereka sama-sama penggemar gim, sehingga terjadi tukar-menukar informasi terkait gim. Hingga kemudian, mereka mendapat keuntungan dari gim tersebut. "Dapat uang dari permainan gim tersebut, di situlah mereka akhirnya satu ide," ujarnya.

Haikal kemudian merekrut tiga anak buahnya untuk meneruskan peretasan situs-situs yang sebelumnya sudah dilakukan. Peretasan ini, kata Rikwanto, untuk mencari keuntungan. Mereka meretas situs tanpa dana dan hanya menggunakan keterampilan yang dimiliki.

"Ini nggak pakai dana kalau untuk buka situs-situs itu. Hanya keterampilan saja," ujarnya.

Polisi Ingin Ketahui Lebih Jauh Sosok Haikal Remaja Peretas Ribuan Situs


RiauJOS.com, Jakarta - Pihak kepolisian masih ingin mengetahui lebih jauh lagi sosok remaja 17 tahun peretas ribuan situs, Haikal dan ingin mengetahui potensinya.

Detik melaporkan, Kepala Biro Penerangan Masyarakat (Karopenmas) Divisi Humas Polri Brigjen Rikwanto mengatakan, kepolisian belum berpikiran untuk merangkul peretas (hacker) ribuan situs, Sultan Haikal.

Jika polisi merangkulnya, terlebih dahulu Haikal akan dibina untuk turut membantu kegiatan kepolisian.

Rikwanto mengatakan, polisi masih ingin mengetahui lebih jauh tentang sosok Haikal, pemuda berusia 19 tahun yang sudah membobol lebih dari 4.600 situs. Kepolisian saat ini juga masih ingin tahu seberapa besar kemampuan Haikal dalam meretas.

"Belum ada pemikiran ke arah situ. Kita masih melihat dia siapa, kemampuannya sebesar apa, kemudian situs yang telah dia bongkar seperti apa dan caranya bagaimana. Masih kita pelajari," ujarnya di Jakarta, Rabu, 5 April 2017 dikutip Riau JOS dari laman Detik.

Haikal ini, kata dia, merupakan mentor dari tiga anak buahnya yang telah ditangkap lebih dahulu. Ketiganya yakni MKU (19), AI (19) dan NTM (17). Sedangkan Haikal sendiri ditangkap pada 30 Maret lalu. Ia menjadi gerbang awal bagi tiga anak buahnya untuk membuka berbagai situs. Tujuan dibukanya situs, ada yang untuk sekadar ingin tahu, ada pula agar memperoleh keuntungan.

"Salah satunya yang untuk mencari keuntungan itu adalah dengan membuka situs penjual tiket online, sudah ada kerugian cukup banyak di situ," ujarnya.

Selain situs penjual tiket online, polisi juga masih mendalami situs-situs lain yang pernah diretas Haikal dan digunakannya untuk meraup keuntungan. Namun, kalau dari informasi tiga anak buahnya, Haikal sudah meretas lebih dari 4.600 situs. Tidak semua peretasan ini dilakukan untuk meraup penghasilan.

"Tapi kebanyakan untuk unjuk kemampuan bahwa dia berhasil buka itu. Dia tunjukkan kepada junior-juniornya, dan menjadi kebanggaan bagi dirinya," katanya.

Rikwanto memaparkan, Haikal merekrut tiga anak buahnya itu melalui Facebook. Di awal perkenalan di Facebook ini, mereka sama-sama penggemar gim, sehingga terjadi tukar-menukar informasi terkait gim. Hingga kemudian, mereka mendapat keuntungan dari gim tersebut. "Dapat uang dari permainan gim tersebut, di situlah mereka akhirnya satu ide," ujarnya.

Haikal kemudian merekrut tiga anak buahnya untuk meneruskan peretasan situs-situs yang sebelumnya sudah dilakukan. Peretasan ini, kata Rikwanto, untuk mencari keuntungan. Mereka meretas situs tanpa dana dan hanya menggunakan keterampilan yang dimiliki.

"Ini nggak pakai dana kalau untuk buka situs-situs itu. Hanya keterampilan saja," ujarnya.