Social Items

Netizen Miris Melihat Video Anak SD Minta Tas Kepada Presiden Joko Widodo

RiauJOS.com, TrenSosial - Seorang guru merekam permintaan anak-anak sekolah di pedalaman Provinsi kalimantan Barat dan mengunggahnya di media sosial Instagram menjadi viral. Mereka meminta tas sekolah kepada Presiden Joko Widodo.

"Pak Jokowi, minta tas," kata anak-anak sekolah dengan mengenakan seragam kumal, bersandal, dan sebagian tanpa alas kaki, dan bahkan mereka menggunakan kantong "kresek" sebagai tas sekolah.

Anggit Purwoto, guru yang bertugas dalam tujuh bulan di daerah pedalaman itu menyampaikan keinginan para muridnya.

"Yang dipakai kantong kresek dan tak pakai alas kaki. Itu keinginan mereka untuk memiliki tas dan bingung kemana harus mengadu dan mereka tahunya Presiden Jokowi," kata Anggit dikutip Riau JOS dari laman BBC Indonesia.

Penelusuran Riau JOS, video unggahan dengan judul  "Pak Jokowi Minta Tas", sudah tayang sebanyak 26.601 kali, dan akan terus bertambah seiring warta ini dipublikasikan, Jumat, 7 April 2017.

"Pak Jokowi Minta Tas" Dengan suara lirihnya, mereka berkata "Pak Jokowi Minta Tas" Tidakah kalian merasa kasihan...masih adakah hati nurani kalian... Mereka hanya minta tas, untuk membawa buku,buku yang mungkin bertuliskan mimpi-mimpi kecil mereka, agar mimpi yg mereka tuliskan tidak hancur , hancur terkena lumpur atau koyak kena hujan.... Tidakkah kalian iba....ilmu yg kau dapat di bangku perkuliahan adalah hak mereka!!!!..gaji yg kau dapat adalah hak mereka... Tidakkah kalian iba, melihat baju kotor mereka...berjam-jam jalan melewati jalan lumpur... Tidakkah kalian iba ketika perjuangan mereka, mimpi mereka terhapus sia-sia oleh kejamnya negeri perbatasan... Dengarlah suara lirih mereka Pak..... #jokowi #jokowipresiden #pendidikan #tapalbatas #jokowidodo #sm3tinspirasiindonesia #sm3t #presidenindonesia
Sebuah kiriman dibagikan oleh Anggit Purwoto (@anggitpurwoto) pada

Pada deskripsi video itu, Anggit meulis:

Dengan suara lirihnya, mereka berkata "Pak Jokowi Minta Tas"
Tidakah kalian merasa kasihan...
masih adakah hati nurani kalian... 
Mereka hanya minta tas, untuk membawa buku,buku yang mungkin bertuliskan mimpi-mimpi kecil mereka, agar mimpi yg mereka tuliskan tidak hancur, hancur terkena lumpur atau koyak kena hujan.... 
Tidakkah kalian iba....
ilmu yg kau dapat di bangku perkuliahan adalah hak mereka!!!!..
gaji yg kau dapat adalah hak mereka...
Tidakkah kalian iba, melihat baju kotor mereka...
berjam-jam jalan melewati jalan lumpur...
Tidakkah kalian iba ketika perjuangan mereka, mimpi mereka terhapus sia-sia oleh kejamnya negeri perbatasan... 
Dengarlah suara lirih mereka Pak..... #jokowi #jokowipresiden #pendidikan #tapalbatas #jokowidodo #sm3tinspirasiindonesia #sm3t #presidenindonesia

Anggit mengatakan di Sekolah Dasar 04, tempat ia mengajar terdapat sekitar 130 murid dan tiga SD lain di dekatnya mengalami kondisi yang sama.

"Lokasi SD ini juga ada SMP dan SMA, tidak ada listrik, sinyal telepon...harga bahan pokok berlipat-lipat...misalnya gas elpiji tiga kilogram Rp20.000 di jalan aspal Entikong, di Sungkung Rp 80.000," kata Anggit dalam sambungan telepon dengan BBC Indonesia saat berada di kota Bengkayang untuk mengambil bantuan dari para donatur untuk para siswa-siswi ini.

"Kondisi bangunan juga buruk, kerusakan eternit, ada bangku tapi patah-patah."


"Kondisi bangunan juga buruk, kerusakan eternit, ada bangku tapi patah-patah."

Fasilitas belajar seperti buku dan perlengkapan sekolah lain juga sulit, tambahnya.

"Saya minta anak-anak menyalin tulisan di papan tulis, dan ada siswa yang melamun dan bilang tak punya pensil."

Anggit ditugaskan untuk mengajar di SMA namun membantu mengisi kekurangan guru di SD yang hanya terdiri dari dua atau tiga tenaga guru.

Fasilitas belajar seperti buku dan perlengkapan sekolah lain juga sulit

Jalan menuju desa ini, cerita Anggit, perlu dua hari, dengan jalan "beraspal sampai Entikong-Sanggau...dan dua jalur, menyusui Sekayam selama 10 jam dan jalur darat dengan motor, kalau kering lima jam kalau basah lebih dari itu."

Anggit mengatakan di Sekolah Dasar 04, tempat ia mengajar terdapat sekitar 130 murid dan tiga SD lain di dekatnya mengalami kondisi yang sama

Data dari Kemendikbud menunjukkan program yang diikuti Anggit, Program Sarjana Mendidik Daerah Terdepan, Terluar dan Tertinggal (SM3T) - program yang diterapkan sejak 2011- diikuti oleh sekitar 3.000 sarjana yang baru lulus untuk tahun 2016 dan tersebar di 56 kabupaten, termasuk Bengkayang.

Tujuan program seperti ini dimaksudkan untuk pemerataan pendidikan di seluruh Indonesia, terutama di daerah terpencil.

Netizen Miris Melihat Video Anak SD Minta Tas Kepada Presiden Joko Widodo

Netizen Miris Melihat Video Anak SD Minta Tas Kepada Presiden Joko Widodo

RiauJOS.com, TrenSosial - Seorang guru merekam permintaan anak-anak sekolah di pedalaman Provinsi kalimantan Barat dan mengunggahnya di media sosial Instagram menjadi viral. Mereka meminta tas sekolah kepada Presiden Joko Widodo.

"Pak Jokowi, minta tas," kata anak-anak sekolah dengan mengenakan seragam kumal, bersandal, dan sebagian tanpa alas kaki, dan bahkan mereka menggunakan kantong "kresek" sebagai tas sekolah.

Anggit Purwoto, guru yang bertugas dalam tujuh bulan di daerah pedalaman itu menyampaikan keinginan para muridnya.

"Yang dipakai kantong kresek dan tak pakai alas kaki. Itu keinginan mereka untuk memiliki tas dan bingung kemana harus mengadu dan mereka tahunya Presiden Jokowi," kata Anggit dikutip Riau JOS dari laman BBC Indonesia.

Penelusuran Riau JOS, video unggahan dengan judul  "Pak Jokowi Minta Tas", sudah tayang sebanyak 26.601 kali, dan akan terus bertambah seiring warta ini dipublikasikan, Jumat, 7 April 2017.

"Pak Jokowi Minta Tas" Dengan suara lirihnya, mereka berkata "Pak Jokowi Minta Tas" Tidakah kalian merasa kasihan...masih adakah hati nurani kalian... Mereka hanya minta tas, untuk membawa buku,buku yang mungkin bertuliskan mimpi-mimpi kecil mereka, agar mimpi yg mereka tuliskan tidak hancur , hancur terkena lumpur atau koyak kena hujan.... Tidakkah kalian iba....ilmu yg kau dapat di bangku perkuliahan adalah hak mereka!!!!..gaji yg kau dapat adalah hak mereka... Tidakkah kalian iba, melihat baju kotor mereka...berjam-jam jalan melewati jalan lumpur... Tidakkah kalian iba ketika perjuangan mereka, mimpi mereka terhapus sia-sia oleh kejamnya negeri perbatasan... Dengarlah suara lirih mereka Pak..... #jokowi #jokowipresiden #pendidikan #tapalbatas #jokowidodo #sm3tinspirasiindonesia #sm3t #presidenindonesia
Sebuah kiriman dibagikan oleh Anggit Purwoto (@anggitpurwoto) pada

Pada deskripsi video itu, Anggit meulis:

Dengan suara lirihnya, mereka berkata "Pak Jokowi Minta Tas"
Tidakah kalian merasa kasihan...
masih adakah hati nurani kalian... 
Mereka hanya minta tas, untuk membawa buku,buku yang mungkin bertuliskan mimpi-mimpi kecil mereka, agar mimpi yg mereka tuliskan tidak hancur, hancur terkena lumpur atau koyak kena hujan.... 
Tidakkah kalian iba....
ilmu yg kau dapat di bangku perkuliahan adalah hak mereka!!!!..
gaji yg kau dapat adalah hak mereka...
Tidakkah kalian iba, melihat baju kotor mereka...
berjam-jam jalan melewati jalan lumpur...
Tidakkah kalian iba ketika perjuangan mereka, mimpi mereka terhapus sia-sia oleh kejamnya negeri perbatasan... 
Dengarlah suara lirih mereka Pak..... #jokowi #jokowipresiden #pendidikan #tapalbatas #jokowidodo #sm3tinspirasiindonesia #sm3t #presidenindonesia

Anggit mengatakan di Sekolah Dasar 04, tempat ia mengajar terdapat sekitar 130 murid dan tiga SD lain di dekatnya mengalami kondisi yang sama.

"Lokasi SD ini juga ada SMP dan SMA, tidak ada listrik, sinyal telepon...harga bahan pokok berlipat-lipat...misalnya gas elpiji tiga kilogram Rp20.000 di jalan aspal Entikong, di Sungkung Rp 80.000," kata Anggit dalam sambungan telepon dengan BBC Indonesia saat berada di kota Bengkayang untuk mengambil bantuan dari para donatur untuk para siswa-siswi ini.

"Kondisi bangunan juga buruk, kerusakan eternit, ada bangku tapi patah-patah."


"Kondisi bangunan juga buruk, kerusakan eternit, ada bangku tapi patah-patah."

Fasilitas belajar seperti buku dan perlengkapan sekolah lain juga sulit, tambahnya.

"Saya minta anak-anak menyalin tulisan di papan tulis, dan ada siswa yang melamun dan bilang tak punya pensil."

Anggit ditugaskan untuk mengajar di SMA namun membantu mengisi kekurangan guru di SD yang hanya terdiri dari dua atau tiga tenaga guru.

Fasilitas belajar seperti buku dan perlengkapan sekolah lain juga sulit

Jalan menuju desa ini, cerita Anggit, perlu dua hari, dengan jalan "beraspal sampai Entikong-Sanggau...dan dua jalur, menyusui Sekayam selama 10 jam dan jalur darat dengan motor, kalau kering lima jam kalau basah lebih dari itu."

Anggit mengatakan di Sekolah Dasar 04, tempat ia mengajar terdapat sekitar 130 murid dan tiga SD lain di dekatnya mengalami kondisi yang sama

Data dari Kemendikbud menunjukkan program yang diikuti Anggit, Program Sarjana Mendidik Daerah Terdepan, Terluar dan Tertinggal (SM3T) - program yang diterapkan sejak 2011- diikuti oleh sekitar 3.000 sarjana yang baru lulus untuk tahun 2016 dan tersebar di 56 kabupaten, termasuk Bengkayang.

Tujuan program seperti ini dimaksudkan untuk pemerataan pendidikan di seluruh Indonesia, terutama di daerah terpencil.