Kisah Cinta Gadis Italia dan Pemuda Alas Roban yang Dipertemukan karena Kebesaran Allah

”Pertemuan kasih sayang kami berdua itu karena Allah. Tidak ada istilah menaklukkan hati, namun itu semua karena kebesaran Allah. Meskipun dia dari Italia, Alhamdulillah bisa dipertemukan dengan saya,” - Dzulfikar Wisnu Mahendra -

RiauJOS.com, Batang - Cinta tak mengenal jarak, waktu, budaya, suku, bahkan negara. Jarak nun begitu jauh, terpisah benua dan samudra pun ditempuh demi bertemu dan merajut cinta dengan belahan jiwa yang selama ini hanya bisa dijumpai lewat dunia maya.

Illaria Monte Bianco (21) tahun, Gadis cantik berambut panjang warga negara Italia rela menempuh perjalanan jauh demi bertemu dengan Dzulfikar Wisnu Mahendra (23) tahun, warga Desa Tragung, Kecamatan Kandeman, Kabupaten Batang. Kini dia pun menetap di rumah Dzulfikar.

Illaria Monte Bianco
Illaria Monte Bianco

Kisah kasih gadis asal Negeri Pizza dengan pemuda Alas Roban itu diawali Juni 2015 silam. Berawal dari Facebook, Dzulfikar menemukan foto IIlaria dan menambahkannya sebagai teman.

”Dari itu selanjutnya saya kontak dan ada balasan. Akhirnya kami terus komunikasi. Hari kedua, mereka memilih untuk komunikasi melalui jalur pribadi WA,” ujar Dzulfikar saat ditemui di rumah ditemani sang ibunda Ismoyowati dan Kades Tragung Wanuri.

Illaria yang saat itu bekerja sebagai pramusaji di restoran di Milan, selanjutnya menjalin komunikasi intensif dengan Dzulfikar.

Setiap hari setiap saat selalu disampaikan pada pujaan hatinya itu. ”IIlaria aktif berkomunikasi dengan bahasa Inggris. Semua kegiatan apa pun atau kejadian yang dialami pasti di-share ke saya,” ungkapnya. 

Cerita-cerita indah selalu disampaikan, termasuk kondisi Italia. Sebaliknya, Dzul menceritakan tentang Indonesia. Benih-benih cinta akhirnya tumbuh. Keduanya serasa sudah menyatu meski terpisahkan jarak dan lain negara. 

Sampai suatu saat, Illaria mengutarakan niat untuk datang dan menemui Duzlfikar. Gadis itu mengatakan, sedang mengumpulkan uang selama dua tahun untuk datang ke Indonesia.

sang ibu Ismoyowati dan anaknya, Dzulfikar
Dzulfikar (kanan) dan Ibundanya, Ismoyowati

Selasa, 18 April 2017, merupakan hari bersejarah bagi Dzulfikar dan IIlaria. Tepat pukul 03.00, ada mobil yang berhenti di depan rumah Dzulfikar. Begitu pintu dibuka, Ilaria berlari memeluk erat-erat Dzulfikar sambil menangis. 

”Pelukannya mengunci gerak saya. Sampai lama dia masih memegang erat bahu saya dengan kedua tangannya,” ujar Dzul. Setelah itu, IIlaria membuka mata kemudian gantian merangkul berdua pujaan hati dan sang ibu Ismoyowati.

”Saya terharu sekali karena Illaria memeluk saya dan Dzul erat-erat sambil menangis tersedu- sedu. Lama sekali, tidak dibuka tangannya,” ujar Ismoyowati. Setelah itu, IIlaria diajak masuk ke kamar. Kedua tasnya dibawa petugas travel yang mengantar.

”Saya sampai lupa tidak mempersilakan masuk. Karena saya langsung menggandeng Illaria masuk kamar,” tuturnya. 

Azan subuh berkumandang, Illaria bangun dan minum air putih hangat. Namun setelah itu, dia tidak makan apa pun. ”Katanya tidak akan makan, untuk menghormati hari bersejerah bertemu dengan anak saya. Subhannallah. Alhamdulillah. Luar biasa sekali pertemuan itu.”

Hari-hari berlalu, Illaria sudah seperti keluarga bagi Ismoyowati. Gadis itu membantu mencuci, memasak, dan menyapu halaman. 

”Pertemuan kasih sayang kami berdua itu karena Allah. Tidak ada istilah menaklukkan hati, namun itu semua karena kebesaran Allah. Meskipun dia dari Italia, Alhamdulillah bisa dipertemukan dengan saya,” ujar Dzulfikar.

Ada peristiwa yang membuat Dzulfikar semakin memantapkan cintanya kepada Illaria. Saat gadis Italia itu mendapatkan hadiah mukena dari Budenya. Seketika itu, mukena dipakai. 

”Dia langsung mencobanya. Subhanallah, kowe nganggo rukuh kok ayune pok Nduk," ujar Dzul.



Saya benar-benar terharu.” Tidak hanya itu, Illaria juga mulai belajar membaca syahadat. Itu sebagai persiapan untuk memeluk Islam. Cinta IIlaria kepada Dzulfikar benar-benar ikhlas dan tulus. Itu dibuktikan dengan kesehariannya. Kalau makan, mesti berbagi dengan pujaan hatinya. ”Spagety justru dihidangkan untuk Dzul.

Sebaliknya, dia sudah mulai terbiasa merasakan masakan ala Batang, seperti tempe goreng, oseng-oseng tempe, bahkan mencicipi megono,” terang Ismoyowati. 

Dia menambahkan, orang tua IIlaria sudah menyetujui rencana pernikahan dengan putranya. ”Saya juga merestui kalau Dzulfikar mau menikah dengan Illaria, saya menyayanginya.”.

"Jika tidak ada aral melintang kami berniat akan menikah. Kami sudah mantap akan menikah dengan Ilaria sekitar satu bulan lagi. Adapun, hari dan tanggal pernikahan sedang kami rundingkan bersama keluarga sambil menunggu proses administrasi selesai," kata Dzul ketika ditemui di rumahnya, Kamis, 27 April dikutip dari laman Kompas.

SuaraMerdeka/Kompas

Mengharukan.. Kisah Cinta Gadis Italia dan Pemuda Alas Roban yang Dipertemukan karena Kebesaran Allah

Kisah Cinta Gadis Italia dan Pemuda Alas Roban yang Dipertemukan karena Kebesaran Allah

”Pertemuan kasih sayang kami berdua itu karena Allah. Tidak ada istilah menaklukkan hati, namun itu semua karena kebesaran Allah. Meskipun dia dari Italia, Alhamdulillah bisa dipertemukan dengan saya,” - Dzulfikar Wisnu Mahendra -

RiauJOS.com, Batang - Cinta tak mengenal jarak, waktu, budaya, suku, bahkan negara. Jarak nun begitu jauh, terpisah benua dan samudra pun ditempuh demi bertemu dan merajut cinta dengan belahan jiwa yang selama ini hanya bisa dijumpai lewat dunia maya.

Illaria Monte Bianco (21) tahun, Gadis cantik berambut panjang warga negara Italia rela menempuh perjalanan jauh demi bertemu dengan Dzulfikar Wisnu Mahendra (23) tahun, warga Desa Tragung, Kecamatan Kandeman, Kabupaten Batang. Kini dia pun menetap di rumah Dzulfikar.

Illaria Monte Bianco
Illaria Monte Bianco

Kisah kasih gadis asal Negeri Pizza dengan pemuda Alas Roban itu diawali Juni 2015 silam. Berawal dari Facebook, Dzulfikar menemukan foto IIlaria dan menambahkannya sebagai teman.

”Dari itu selanjutnya saya kontak dan ada balasan. Akhirnya kami terus komunikasi. Hari kedua, mereka memilih untuk komunikasi melalui jalur pribadi WA,” ujar Dzulfikar saat ditemui di rumah ditemani sang ibunda Ismoyowati dan Kades Tragung Wanuri.

Illaria yang saat itu bekerja sebagai pramusaji di restoran di Milan, selanjutnya menjalin komunikasi intensif dengan Dzulfikar.

Setiap hari setiap saat selalu disampaikan pada pujaan hatinya itu. ”IIlaria aktif berkomunikasi dengan bahasa Inggris. Semua kegiatan apa pun atau kejadian yang dialami pasti di-share ke saya,” ungkapnya. 

Cerita-cerita indah selalu disampaikan, termasuk kondisi Italia. Sebaliknya, Dzul menceritakan tentang Indonesia. Benih-benih cinta akhirnya tumbuh. Keduanya serasa sudah menyatu meski terpisahkan jarak dan lain negara. 

Sampai suatu saat, Illaria mengutarakan niat untuk datang dan menemui Duzlfikar. Gadis itu mengatakan, sedang mengumpulkan uang selama dua tahun untuk datang ke Indonesia.

sang ibu Ismoyowati dan anaknya, Dzulfikar
Dzulfikar (kanan) dan Ibundanya, Ismoyowati

Selasa, 18 April 2017, merupakan hari bersejarah bagi Dzulfikar dan IIlaria. Tepat pukul 03.00, ada mobil yang berhenti di depan rumah Dzulfikar. Begitu pintu dibuka, Ilaria berlari memeluk erat-erat Dzulfikar sambil menangis. 

”Pelukannya mengunci gerak saya. Sampai lama dia masih memegang erat bahu saya dengan kedua tangannya,” ujar Dzul. Setelah itu, IIlaria membuka mata kemudian gantian merangkul berdua pujaan hati dan sang ibu Ismoyowati.

”Saya terharu sekali karena Illaria memeluk saya dan Dzul erat-erat sambil menangis tersedu- sedu. Lama sekali, tidak dibuka tangannya,” ujar Ismoyowati. Setelah itu, IIlaria diajak masuk ke kamar. Kedua tasnya dibawa petugas travel yang mengantar.

”Saya sampai lupa tidak mempersilakan masuk. Karena saya langsung menggandeng Illaria masuk kamar,” tuturnya. 

Azan subuh berkumandang, Illaria bangun dan minum air putih hangat. Namun setelah itu, dia tidak makan apa pun. ”Katanya tidak akan makan, untuk menghormati hari bersejerah bertemu dengan anak saya. Subhannallah. Alhamdulillah. Luar biasa sekali pertemuan itu.”

Hari-hari berlalu, Illaria sudah seperti keluarga bagi Ismoyowati. Gadis itu membantu mencuci, memasak, dan menyapu halaman. 

”Pertemuan kasih sayang kami berdua itu karena Allah. Tidak ada istilah menaklukkan hati, namun itu semua karena kebesaran Allah. Meskipun dia dari Italia, Alhamdulillah bisa dipertemukan dengan saya,” ujar Dzulfikar.

Ada peristiwa yang membuat Dzulfikar semakin memantapkan cintanya kepada Illaria. Saat gadis Italia itu mendapatkan hadiah mukena dari Budenya. Seketika itu, mukena dipakai. 

”Dia langsung mencobanya. Subhanallah, kowe nganggo rukuh kok ayune pok Nduk," ujar Dzul.



Saya benar-benar terharu.” Tidak hanya itu, Illaria juga mulai belajar membaca syahadat. Itu sebagai persiapan untuk memeluk Islam. Cinta IIlaria kepada Dzulfikar benar-benar ikhlas dan tulus. Itu dibuktikan dengan kesehariannya. Kalau makan, mesti berbagi dengan pujaan hatinya. ”Spagety justru dihidangkan untuk Dzul.

Sebaliknya, dia sudah mulai terbiasa merasakan masakan ala Batang, seperti tempe goreng, oseng-oseng tempe, bahkan mencicipi megono,” terang Ismoyowati. 

Dia menambahkan, orang tua IIlaria sudah menyetujui rencana pernikahan dengan putranya. ”Saya juga merestui kalau Dzulfikar mau menikah dengan Illaria, saya menyayanginya.”.

"Jika tidak ada aral melintang kami berniat akan menikah. Kami sudah mantap akan menikah dengan Ilaria sekitar satu bulan lagi. Adapun, hari dan tanggal pernikahan sedang kami rundingkan bersama keluarga sambil menunggu proses administrasi selesai," kata Dzul ketika ditemui di rumahnya, Kamis, 27 April dikutip dari laman Kompas.

SuaraMerdeka/Kompas