Zulfikar Kontributor Media Asing yang Terlahir dengan Gangguan Motorik di Kedua Tangannya

RiauJOS.com, Inspirasi - Ini adalah sekelumit cerita bagaimana orang-orang yang memiliki kekurangan dapat membuktikan dirinya menghadirkan sesuatu yang tak diduga-duga menghadirkan kesuksesan dari sebagian kisah hidupnya. 

Muhammad Zulfikar (24), saat ini aktif di organisasi Pelajar Indonesia-Inggris, menjadi kontributor di beberapa media asing, mengerjakan disertasinya serta menawarkan diri sebagai dosen di salah satu Universitas Nasional di Yogyakarta.

Sejak lahir, Zulfikar sudah mengalami gangguan motorik di kedua tangannya. Dampaknya hingga kini dirinya kesulitan memegang benda-benda kecil yang ditemuinya seperti pulpen dan pensil untuk menulis. Hal ini membuat Zulfikar kesulitan mengikuti pelajaran saat berada di bangku Sekolah Dasar hingga Sekolah Menengah Atas. Dia mengakui sering mendapatkan ejekan dari teman-temannya saat masih bersekolah di Indonesia.

Hasil wawancara  Kumparan dengan Zulfikar, Selasa, 7 Maret 2017, dia bercerita masih ingat betul perjuangan sang ayah mencarikan sekolah yang mau menampung anaknya hingga dirinya sukses dan mendapatkan banyak pencapaian di masa sekarang.

"Tak putus asa, ayah saya akhirnya memutuskan membuat seluruh daftar semua sekolah yang ada di Semarang, kemudian kami coba datangi satu persatu," kenangnya.

Usaha dan perjuangan sang ayah membuahkan hasil. Zulfikar menyelesaikan pendidikan SD-SMP nya di Al-Azhar Semarang. Namun masalah belum selesai sampai di situ. Zulfikar yang memiliki keterbatasan itu sering diintimidasi oleh teman-teman sebayanya.

"Sampai saya ditendang, dikunci di kamar mandi, bahkan hingga didorong sama teman saya terbentur tembok. Kepala saya bocor dan sempat dilarikan ke rumah sakit," ujarnya.

Zulfikar lalu mengenang salah satu sikap gurunya yang tak patut dicontoh saat dirinya menginjak bangku kelas 2 SD. Sang guru menyuruh semua anak-anak di kelas berdiri menyebutkan nama dan cita-cita masing masing. Satu persatu murid memperkenalkan diri dan menyebut cita-citanya dan mendapatkan riuh tepuk tangan dari seantero kelas. Tibalah saat Zulfikar berkata "saya ingin menjadi guru."

"Ketika giliran saya tiba, saya disambut ejekan. Guru baru itu justru bukan membela saya menenangkan yang lain, malah mengatakan, 'kalau kamu mau jadi guru kamu harus bisa menulis di papan tulis' begitu katanya," kenang Zulfikar.

Namun kejadian ini justru membuat semangat Zulfikar untuk mengajar semakin kuat. Tak ingin menjadi pengajar yang demikian, dirinya lalu bertekad ingin menjadi seorang pengajar yang mampu menaruh mimpi dan kepercayaan ke dalam anak didiknya dalam kondisi apapun yang mereka punya.
Menanggapi isu bullying/intimidasi Zulfikar punya cerita tersendiri, "Pernah saya ngobrol dengan pasien lain di klink di Inggris. Rupanya dokter yang menangani dia, dulu adalah orang yang dia bully pasien itu waktu SD. Kita enggak pernah tahu," ujarnya.

Dia mengakui efek bullying masih sangat membekas dalam benaknya hingga kini. "Ternyata efeknya jangka panjang sampai sekarang. Saya ingat dulu pernah jadi bahan tertawaan. Hingga kini saya makan di restoran atau mal, saya melihat kiri kanan apakah orang lain melihat saya makan itu normal atau tidak," tuturnya.

Kehidupan di Qatar


Zulfikar melanjutkan pendidikannya di Qatar setelah ayahnya mendapat kabar untuk bekerja di sana. Mencari sekolah di Qatar sama sulitnya seperti mencari sekolah di Indonesia. Namun ada perbedaan yang begitu signifikan saat dirinya bersekolah di sana, yakni tak ada lagi intimidasi yang dirasakannya seperti dulu di Indonesia. Saat itu Zulfikar bersekolah di Cambridge International School.

Bersekolah menjadi lebih menyenangkan, Zulfikar mengakui perubahan yang dirasakan saat dirinya masuk ke lingkungan sekolahnya ini. "Teman-teman saya tak lagi lagi membully, itu betul-betul mengubah saya banget. Mereka percaya saya bisa gapai cita-cita walaupun saya punya keterbatasan. Itu punya dampak luar biasa hingga saya lulus dan dapat beasiswa melanjutkan jenjang S1 Hubungan Internasional dengan fokus politik Timur Tengah di Qatar University pada tahun 2010.

Dia lulus dengan masa kuliah 3.5 tahun dan IPK 3.93 dari skripsinya yang berjudul 'China's foreign policy towards the Israel-Palestinian conflict (Politik luar negeri China terhadap konflik Israel-Palestina) dan berhasil mengantarkan dirinya menjadi mahasiswa berprestasi dan mendapatkan penghargaan langsung dari Emir Qatar, Tamim bin Hamad Al Thani pada 2014 silam. 

"Ijazah diberikan langsung oleh Emir Qatar juga sama piagam emas dengan tulisan ucapan selamat lulus yang ditulis di logam emas, saya melihat orang tua saya meteskan air mata," kenangnya penuh haru.

Zulfikar pun menaruh perhatian yang lebih yang selama ini menjadi keterbatasannya lewat menulis. Dia juga sering menjadi pembicara di banyak konferensi internasional seputar masalah Timur Tengah.

Dia mulai menulis setelah bertemu dengan seorang jurnalis di Qatar. Zulfikar juga mendapatkan pengalaman dan ketertarikannya menulis lewat pengalaman hidup lainnya yang pernah ditemui. Kini Zulfikar aktif menjadi kontributor media internasional seperti Huffington Post, Gulf State Analytics dan Fair Observer melahirkan ratusan artikel tentang masalah yang terjadi di Timur-Tengah.

"Saya bertemu seorang petani kaya yang tak lulus SD. Dia bertanya kepada saya 'ceritakan aku apa yang terjadi di Timur Tengah'. Kemudian saya cerita tentang kasus kemanusiaan. sontak dia tersentuh hatinya akhirnya dia beri uang kepada saya untuk orang-orang di sana. Di situ saya belajar tentang kekuatan bercerita dan mengerti kekuatan menulis. Ternyata itu bisa berguna untuk membantu orang yang membutuhkan," jelasnya. 

Kini Zulfikar juga aktif dalam Perhimpunan Pelajar Indonesia-Inggris menyuarakan isu disabilitas di ranah internasional. Menurutnya masih banyak orang-orang yang kurang peduli pada penyandang disabilitas terutama di Indonesia terkait pengadaan fasilitas untuk para penyandang disabilitas
Zulfikar kini tengah mengejar cita-citanya. 

Menjadi seorang pendidik yang mulia dan orang yang berpengaruh bagi masyarakat luas tanpa melihat keterbatasan dan latar belakang adalah salah satu tujuan hidupnya yang paling dirinya pegang teguh hingga sekarang.

Dia juga sedang berusaha menyelesaikan disetrasinya mengejar gelar Ph.D melanjutkan risetnya yang dirintis sejak jenjang S1 di Universitas Manchester di Inggris Raya.

Zulfikar adalah salah satu contoh sukses dari hasil usaha dan pengalamannya. Kunci motivasinya sederhana, "Saya harus bisa buktikan kepada orang lain kalau saya bisa." terlepas dari upaya diri sendiri, Zulfikar juga besyukur mendapatkan motivasi dari lingkungan sekitarnya seperti keluarga, teman, dan para dosen.

Kumparan

Zulfikar Kontributor Media Asing yang Terlahir dengan Gangguan Motorik di Kedua Tangannya

Zulfikar Kontributor Media Asing yang Terlahir dengan Gangguan Motorik di Kedua Tangannya

RiauJOS.com, Inspirasi - Ini adalah sekelumit cerita bagaimana orang-orang yang memiliki kekurangan dapat membuktikan dirinya menghadirkan sesuatu yang tak diduga-duga menghadirkan kesuksesan dari sebagian kisah hidupnya. 

Muhammad Zulfikar (24), saat ini aktif di organisasi Pelajar Indonesia-Inggris, menjadi kontributor di beberapa media asing, mengerjakan disertasinya serta menawarkan diri sebagai dosen di salah satu Universitas Nasional di Yogyakarta.

Sejak lahir, Zulfikar sudah mengalami gangguan motorik di kedua tangannya. Dampaknya hingga kini dirinya kesulitan memegang benda-benda kecil yang ditemuinya seperti pulpen dan pensil untuk menulis. Hal ini membuat Zulfikar kesulitan mengikuti pelajaran saat berada di bangku Sekolah Dasar hingga Sekolah Menengah Atas. Dia mengakui sering mendapatkan ejekan dari teman-temannya saat masih bersekolah di Indonesia.

Hasil wawancara  Kumparan dengan Zulfikar, Selasa, 7 Maret 2017, dia bercerita masih ingat betul perjuangan sang ayah mencarikan sekolah yang mau menampung anaknya hingga dirinya sukses dan mendapatkan banyak pencapaian di masa sekarang.

"Tak putus asa, ayah saya akhirnya memutuskan membuat seluruh daftar semua sekolah yang ada di Semarang, kemudian kami coba datangi satu persatu," kenangnya.

Usaha dan perjuangan sang ayah membuahkan hasil. Zulfikar menyelesaikan pendidikan SD-SMP nya di Al-Azhar Semarang. Namun masalah belum selesai sampai di situ. Zulfikar yang memiliki keterbatasan itu sering diintimidasi oleh teman-teman sebayanya.

"Sampai saya ditendang, dikunci di kamar mandi, bahkan hingga didorong sama teman saya terbentur tembok. Kepala saya bocor dan sempat dilarikan ke rumah sakit," ujarnya.

Zulfikar lalu mengenang salah satu sikap gurunya yang tak patut dicontoh saat dirinya menginjak bangku kelas 2 SD. Sang guru menyuruh semua anak-anak di kelas berdiri menyebutkan nama dan cita-cita masing masing. Satu persatu murid memperkenalkan diri dan menyebut cita-citanya dan mendapatkan riuh tepuk tangan dari seantero kelas. Tibalah saat Zulfikar berkata "saya ingin menjadi guru."

"Ketika giliran saya tiba, saya disambut ejekan. Guru baru itu justru bukan membela saya menenangkan yang lain, malah mengatakan, 'kalau kamu mau jadi guru kamu harus bisa menulis di papan tulis' begitu katanya," kenang Zulfikar.

Namun kejadian ini justru membuat semangat Zulfikar untuk mengajar semakin kuat. Tak ingin menjadi pengajar yang demikian, dirinya lalu bertekad ingin menjadi seorang pengajar yang mampu menaruh mimpi dan kepercayaan ke dalam anak didiknya dalam kondisi apapun yang mereka punya.
Menanggapi isu bullying/intimidasi Zulfikar punya cerita tersendiri, "Pernah saya ngobrol dengan pasien lain di klink di Inggris. Rupanya dokter yang menangani dia, dulu adalah orang yang dia bully pasien itu waktu SD. Kita enggak pernah tahu," ujarnya.

Dia mengakui efek bullying masih sangat membekas dalam benaknya hingga kini. "Ternyata efeknya jangka panjang sampai sekarang. Saya ingat dulu pernah jadi bahan tertawaan. Hingga kini saya makan di restoran atau mal, saya melihat kiri kanan apakah orang lain melihat saya makan itu normal atau tidak," tuturnya.

Kehidupan di Qatar


Zulfikar melanjutkan pendidikannya di Qatar setelah ayahnya mendapat kabar untuk bekerja di sana. Mencari sekolah di Qatar sama sulitnya seperti mencari sekolah di Indonesia. Namun ada perbedaan yang begitu signifikan saat dirinya bersekolah di sana, yakni tak ada lagi intimidasi yang dirasakannya seperti dulu di Indonesia. Saat itu Zulfikar bersekolah di Cambridge International School.

Bersekolah menjadi lebih menyenangkan, Zulfikar mengakui perubahan yang dirasakan saat dirinya masuk ke lingkungan sekolahnya ini. "Teman-teman saya tak lagi lagi membully, itu betul-betul mengubah saya banget. Mereka percaya saya bisa gapai cita-cita walaupun saya punya keterbatasan. Itu punya dampak luar biasa hingga saya lulus dan dapat beasiswa melanjutkan jenjang S1 Hubungan Internasional dengan fokus politik Timur Tengah di Qatar University pada tahun 2010.

Dia lulus dengan masa kuliah 3.5 tahun dan IPK 3.93 dari skripsinya yang berjudul 'China's foreign policy towards the Israel-Palestinian conflict (Politik luar negeri China terhadap konflik Israel-Palestina) dan berhasil mengantarkan dirinya menjadi mahasiswa berprestasi dan mendapatkan penghargaan langsung dari Emir Qatar, Tamim bin Hamad Al Thani pada 2014 silam. 

"Ijazah diberikan langsung oleh Emir Qatar juga sama piagam emas dengan tulisan ucapan selamat lulus yang ditulis di logam emas, saya melihat orang tua saya meteskan air mata," kenangnya penuh haru.

Zulfikar pun menaruh perhatian yang lebih yang selama ini menjadi keterbatasannya lewat menulis. Dia juga sering menjadi pembicara di banyak konferensi internasional seputar masalah Timur Tengah.

Dia mulai menulis setelah bertemu dengan seorang jurnalis di Qatar. Zulfikar juga mendapatkan pengalaman dan ketertarikannya menulis lewat pengalaman hidup lainnya yang pernah ditemui. Kini Zulfikar aktif menjadi kontributor media internasional seperti Huffington Post, Gulf State Analytics dan Fair Observer melahirkan ratusan artikel tentang masalah yang terjadi di Timur-Tengah.

"Saya bertemu seorang petani kaya yang tak lulus SD. Dia bertanya kepada saya 'ceritakan aku apa yang terjadi di Timur Tengah'. Kemudian saya cerita tentang kasus kemanusiaan. sontak dia tersentuh hatinya akhirnya dia beri uang kepada saya untuk orang-orang di sana. Di situ saya belajar tentang kekuatan bercerita dan mengerti kekuatan menulis. Ternyata itu bisa berguna untuk membantu orang yang membutuhkan," jelasnya. 

Kini Zulfikar juga aktif dalam Perhimpunan Pelajar Indonesia-Inggris menyuarakan isu disabilitas di ranah internasional. Menurutnya masih banyak orang-orang yang kurang peduli pada penyandang disabilitas terutama di Indonesia terkait pengadaan fasilitas untuk para penyandang disabilitas
Zulfikar kini tengah mengejar cita-citanya. 

Menjadi seorang pendidik yang mulia dan orang yang berpengaruh bagi masyarakat luas tanpa melihat keterbatasan dan latar belakang adalah salah satu tujuan hidupnya yang paling dirinya pegang teguh hingga sekarang.

Dia juga sedang berusaha menyelesaikan disetrasinya mengejar gelar Ph.D melanjutkan risetnya yang dirintis sejak jenjang S1 di Universitas Manchester di Inggris Raya.

Zulfikar adalah salah satu contoh sukses dari hasil usaha dan pengalamannya. Kunci motivasinya sederhana, "Saya harus bisa buktikan kepada orang lain kalau saya bisa." terlepas dari upaya diri sendiri, Zulfikar juga besyukur mendapatkan motivasi dari lingkungan sekitarnya seperti keluarga, teman, dan para dosen.

Kumparan