Social Items

Skip Challenge Ternyata Tren Kuno, karena Sudah Muncul Sejak 1995 sudah Memakan Korban 82 Anak

RiauJOS.com, TrenSosial - Fenomena Skip Challenge ternyata sebuah tren kuno, karena sudah pernah mencul sejak 1995. Tren waktu itu, disebut dengan permainan space monkey, the pass out challenge, atau choking game.

Permainan viral ini dilakukan dengan 'mencekik' sampai tak sadarkan diri. Ironisnya, dalam banyak kasus akan berakhir dengan kematian.

Mereka menyebut sebuah tantangan, padahal sebaliknya sebuah permainan yang membahayakan kesehatan, bahkan mengancam keselamatan jiwa.

Baca juga, warta sebelumnya:

Skip Challengge dilakukan dengan menekan dada dan menghambat pernapasan. Terhambatnya pernapasan ini membuat si pelaku kehabisan napas dan akhirnya kejang serta pingsan seketika.

Terhambatnya oksigen ke otak ini disebut sebagai hypoxic-anoxic brain injury (HAI). Selain menyebabkan masalah seketika (sesak napas dan lainnya), aksi ini juga menyebabkan efek jangka panjang untuk tubuh. Aksi ini akan menyebabkan kematian sel tubuh, masalah penglihatan, kerusakan fungsi motorik tubuh.

Kutipan Riau JOS dari laman CNN Indonesia, Dokter Anak, Dr Michael McKenna mengatakan aksi ini akan mengubah denyut jantung secara drastis.

"Mereka mencoba mengondisikan saraf vagus yang  mengontrol detak jantung memberikan sinyal untuk memperlambat detak jantung. Ini akan menyebabkan denyut jantung berhenti beberapa detik dan membuat Anda pingsan," katanya dikutip dari Fox59.

"Setiap kali Anda mengacau asupan oksigen ke otak, Anda akan menempatkan diri pada kondisi bahaya dan risiko ekstrem. Bisa jadi risiko kematian atau risiko kerusakan otak."

Sama seperti tantangan populer lainnya, tantangan ini diharapkan bisa menyebabkan euforia tinggi dan ketenaran di internet.

Tantangan pass-out ini adalah tren berbahaya terbaru yang jadi viral. Hanya dalam beberapa bulan terakhir, ada banyak tantangan yang viral di media sosial misalnya swatting, NekNominate, hot water challenge, sampai fire challange.

Di fire challenge, remaja berisiko mengalami luka bakar parah di bagian tertentu yang mereka atur.

Motivasi di balik permainan ini adalah untuk yang bisa menjadi yang tergila dan terunik. Orang yang paling berani mungkin bisa mendapatkan ketenaran di dunia maya dan dunia nyata.

Hanya saja, mereka kurang wawasan, bahwasanya skip challenge ini bukanlah tren baru. Sebuah laporan menyebutkan bahwa permainan mencekik atau skip challenge sudah ada sejak 1995. 

Di Indonesia, permainan ini baru populer beberapa waktu belakangan dan dilakukan oleh siswa sekolah. Permainan berbahaya ini bisa menyebabkan sesak napas, patah tulang rusuk, kejang, pingsan, bahkan sampai meninggal dunia.

Studi yang dilakukan oleh Oregon Health Authority dan CDC di 2012, permainan menantang maut ini diperkirakan mulai pada tahun 1995-2007 dan direntang tahun ini sekitar 82 orang anak dengan usia 6-19 tahun meninggal dunia.

"Yang paling menyeramkan adalah banyak orang tak tahu soal bahayanya. Jangan lihat media sosial karena itu sangat menakutkan dan mereka sadar. Sangat penting untuk membuat orang sadar apa yang terjadi jadi mereka tak melakukan dan bisa menasihati anak-anaknya," kata McKenna.

Skip Challenge Ternyata Tren Kuno, karena Sudah Muncul Sejak 1995 sudah Memakan Korban 82 Anak

Skip Challenge Ternyata Tren Kuno, karena Sudah Muncul Sejak 1995 sudah Memakan Korban 82 Anak

RiauJOS.com, TrenSosial - Fenomena Skip Challenge ternyata sebuah tren kuno, karena sudah pernah mencul sejak 1995. Tren waktu itu, disebut dengan permainan space monkey, the pass out challenge, atau choking game.

Permainan viral ini dilakukan dengan 'mencekik' sampai tak sadarkan diri. Ironisnya, dalam banyak kasus akan berakhir dengan kematian.

Mereka menyebut sebuah tantangan, padahal sebaliknya sebuah permainan yang membahayakan kesehatan, bahkan mengancam keselamatan jiwa.

Baca juga, warta sebelumnya:

Skip Challengge dilakukan dengan menekan dada dan menghambat pernapasan. Terhambatnya pernapasan ini membuat si pelaku kehabisan napas dan akhirnya kejang serta pingsan seketika.

Terhambatnya oksigen ke otak ini disebut sebagai hypoxic-anoxic brain injury (HAI). Selain menyebabkan masalah seketika (sesak napas dan lainnya), aksi ini juga menyebabkan efek jangka panjang untuk tubuh. Aksi ini akan menyebabkan kematian sel tubuh, masalah penglihatan, kerusakan fungsi motorik tubuh.

Kutipan Riau JOS dari laman CNN Indonesia, Dokter Anak, Dr Michael McKenna mengatakan aksi ini akan mengubah denyut jantung secara drastis.

"Mereka mencoba mengondisikan saraf vagus yang  mengontrol detak jantung memberikan sinyal untuk memperlambat detak jantung. Ini akan menyebabkan denyut jantung berhenti beberapa detik dan membuat Anda pingsan," katanya dikutip dari Fox59.

"Setiap kali Anda mengacau asupan oksigen ke otak, Anda akan menempatkan diri pada kondisi bahaya dan risiko ekstrem. Bisa jadi risiko kematian atau risiko kerusakan otak."

Sama seperti tantangan populer lainnya, tantangan ini diharapkan bisa menyebabkan euforia tinggi dan ketenaran di internet.

Tantangan pass-out ini adalah tren berbahaya terbaru yang jadi viral. Hanya dalam beberapa bulan terakhir, ada banyak tantangan yang viral di media sosial misalnya swatting, NekNominate, hot water challenge, sampai fire challange.

Di fire challenge, remaja berisiko mengalami luka bakar parah di bagian tertentu yang mereka atur.

Motivasi di balik permainan ini adalah untuk yang bisa menjadi yang tergila dan terunik. Orang yang paling berani mungkin bisa mendapatkan ketenaran di dunia maya dan dunia nyata.

Hanya saja, mereka kurang wawasan, bahwasanya skip challenge ini bukanlah tren baru. Sebuah laporan menyebutkan bahwa permainan mencekik atau skip challenge sudah ada sejak 1995. 

Di Indonesia, permainan ini baru populer beberapa waktu belakangan dan dilakukan oleh siswa sekolah. Permainan berbahaya ini bisa menyebabkan sesak napas, patah tulang rusuk, kejang, pingsan, bahkan sampai meninggal dunia.

Studi yang dilakukan oleh Oregon Health Authority dan CDC di 2012, permainan menantang maut ini diperkirakan mulai pada tahun 1995-2007 dan direntang tahun ini sekitar 82 orang anak dengan usia 6-19 tahun meninggal dunia.

"Yang paling menyeramkan adalah banyak orang tak tahu soal bahayanya. Jangan lihat media sosial karena itu sangat menakutkan dan mereka sadar. Sangat penting untuk membuat orang sadar apa yang terjadi jadi mereka tak melakukan dan bisa menasihati anak-anaknya," kata McKenna.