RiauJOS.com, Jakarta - Pihak kepolisian berhasil meringkus sindikat peretas situs, yaitu AI (19), MKU (19), dan NTM (27). Saat ini, polisi masih memburu satu orang, berinisial SH, seorang tamatan SMP yang telah 4.600 kali membobol situs.

Diwartakan Metrotvnews, Kamis, 30 Maret 2017, Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Hubungan Masyarakat Polri Brigjen Polisi Rikwanto mengatakan, mereka bertiga meneruskan pembobolan situs untuk mendapatkan keuntungan.

"Ini (SH) disebut hacker," kata Rikwanto,  di Mabes Polri, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan dikutip dari laman Metrotvnews.

Situs tiket[dot]com dan situs travel agent, menjadi salah satu korban SH. Pelaku masuk ke sistem penjualan tiket maskapai Citylink di tiket[dot]com. 

Pembobolan berlangsung sejak 11-27 Oktober 2016. Para pelaku sudah menjual lebih dari 1.500 tiket penerbangan menggunakan Citylink.

Saat berhasil membobol, para pelaku menguasai kode booking, lalu dijual dengan harga murah melalui jejaring sosial dengan alasan promo. Uang hasil penjualan tiket sebagian diserahkan ke SH.

"Tiga tersangka ini ditangkap di Balikpapan, mereka melakukan aksinya di Balikpapan," ujar Rikwanto.

MKU menawarkan tiket murah hasil pencurian. Ia memiliki user name dan password untuk masuk ke sistem penjualan tiket Citylink melalui tiket[dot]com.

Tersangka AI dan NTM memasukkan data pemesanan tiket Citylink melalui tiket[dot]com dari username dan password yang didapat oleh MKU dan SH. Kemudian, mengelola kode booking untuk dikirimkan ke pembeli.

MKU, AI, dan NTM mengaku berkomunikasi dengan SH yang tinggal di Jakarta melalui jejaring sosial.

Berdasarkan keterangan ketiga tersangka, perkenalan mereka dengan SH berawal dari game online, kemudian dilanjut bersepakat meretas situs.

Untuk memuluskan aksinya, para tersangka menyiapkan satu rekening sebagai tempat mengumpulkan uang hasil penjualan tiket yang mencapai Rp.4 miliar.

Manajemen tiket[dot]com mencium gelagat aksi mereka. Pihaknya segera membatalkan kode booking dan mengembalikan uang kepada pembeli tiket. Akibat ulah mereka, tiket[dot]com mengalami kerugian sekitar Rp.1,9 miliar.

Dari para tersangka, polisi menyita satu buku tabungan berisi Rp.121 juta, tujuh telepon genggam, tiga ATM, dua SIM card, dua KTP, dua Laptop, satu router wifi, satu kartu tanda mahasiswa, dan satu sepeda motor.

MKU, AI, dan NTM dijerat Pasal 46 ayat (1), (2), dan (3), jo Pasal 30 ayat (1), (2), (3) atau Pasal 51 ayat (1) dan (2), jo Pasal 35 dan atau Pasal 36 UU Informasi dan Transaksi Elektronik atau Pasal 363 KUHP dan atau Pasal 3, Pasal 5, Pasal 10 UU No. 8/2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang.

Terakhir, SH membobol sistem perusahaan ojek online. Dia juga tercatat meretas situs Polri, pemerintah pusat, dan pemerintah daerah. Kini, polisi masih memburu SH.

"Mereka ini otodidak. SH sudah sering melakukan hacking dengan teknik mengganti tampilan situs dengan gambar tertentu. Lebih dari 4.600 kali," kata Kepala Unit III Subdit Informasi Teknologi dan Cybercrime Badan Reserse dan Kriminal Polri AKBP Idam Wasiadi.

Ribuan Kali Meretas Situs, Tersangka Lulusan SMP Punya Rekening Isinya Hingga Rp.4 Miliar


RiauJOS.com, Jakarta - Pihak kepolisian berhasil meringkus sindikat peretas situs, yaitu AI (19), MKU (19), dan NTM (27). Saat ini, polisi masih memburu satu orang, berinisial SH, seorang tamatan SMP yang telah 4.600 kali membobol situs.

Diwartakan Metrotvnews, Kamis, 30 Maret 2017, Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Hubungan Masyarakat Polri Brigjen Polisi Rikwanto mengatakan, mereka bertiga meneruskan pembobolan situs untuk mendapatkan keuntungan.

"Ini (SH) disebut hacker," kata Rikwanto,  di Mabes Polri, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan dikutip dari laman Metrotvnews.

Situs tiket[dot]com dan situs travel agent, menjadi salah satu korban SH. Pelaku masuk ke sistem penjualan tiket maskapai Citylink di tiket[dot]com. 

Pembobolan berlangsung sejak 11-27 Oktober 2016. Para pelaku sudah menjual lebih dari 1.500 tiket penerbangan menggunakan Citylink.

Saat berhasil membobol, para pelaku menguasai kode booking, lalu dijual dengan harga murah melalui jejaring sosial dengan alasan promo. Uang hasil penjualan tiket sebagian diserahkan ke SH.

"Tiga tersangka ini ditangkap di Balikpapan, mereka melakukan aksinya di Balikpapan," ujar Rikwanto.

MKU menawarkan tiket murah hasil pencurian. Ia memiliki user name dan password untuk masuk ke sistem penjualan tiket Citylink melalui tiket[dot]com.

Tersangka AI dan NTM memasukkan data pemesanan tiket Citylink melalui tiket[dot]com dari username dan password yang didapat oleh MKU dan SH. Kemudian, mengelola kode booking untuk dikirimkan ke pembeli.

MKU, AI, dan NTM mengaku berkomunikasi dengan SH yang tinggal di Jakarta melalui jejaring sosial.

Berdasarkan keterangan ketiga tersangka, perkenalan mereka dengan SH berawal dari game online, kemudian dilanjut bersepakat meretas situs.

Untuk memuluskan aksinya, para tersangka menyiapkan satu rekening sebagai tempat mengumpulkan uang hasil penjualan tiket yang mencapai Rp.4 miliar.

Manajemen tiket[dot]com mencium gelagat aksi mereka. Pihaknya segera membatalkan kode booking dan mengembalikan uang kepada pembeli tiket. Akibat ulah mereka, tiket[dot]com mengalami kerugian sekitar Rp.1,9 miliar.

Dari para tersangka, polisi menyita satu buku tabungan berisi Rp.121 juta, tujuh telepon genggam, tiga ATM, dua SIM card, dua KTP, dua Laptop, satu router wifi, satu kartu tanda mahasiswa, dan satu sepeda motor.

MKU, AI, dan NTM dijerat Pasal 46 ayat (1), (2), dan (3), jo Pasal 30 ayat (1), (2), (3) atau Pasal 51 ayat (1) dan (2), jo Pasal 35 dan atau Pasal 36 UU Informasi dan Transaksi Elektronik atau Pasal 363 KUHP dan atau Pasal 3, Pasal 5, Pasal 10 UU No. 8/2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang.

Terakhir, SH membobol sistem perusahaan ojek online. Dia juga tercatat meretas situs Polri, pemerintah pusat, dan pemerintah daerah. Kini, polisi masih memburu SH.

"Mereka ini otodidak. SH sudah sering melakukan hacking dengan teknik mengganti tampilan situs dengan gambar tertentu. Lebih dari 4.600 kali," kata Kepala Unit III Subdit Informasi Teknologi dan Cybercrime Badan Reserse dan Kriminal Polri AKBP Idam Wasiadi.