Berita Lama Kompas Soal Cerita Ahok Tolak Kebijakan e-KTP jadi Viral

RiauJOS.com, TrenSosial - Facebookers, Ade Armando memposting sebuah status soal penolakan Ahok terhadap kebijakan e-KTP. Dia memposting statusnya, Rabu, 7 Maret 2017 sekitar 10 jam yang lalu saat warta ini ditulis.

Berikut kutipan Riau JOS dari postingan status Ade:

TERBUKTI LAGI, AHOK MEMANG PINTAR DAN BERINTEGRITAS.
AHOK TERNYATA SEJAK AWAL MEMANG SECARA KERAS MENOLAK KEBIJAKAN E-KTP. 
Kini terungkap bahwa Ahok sejak awal adalah anggota DPR yang menolak rencana E-KTP yang sekarang menjadi megaskandal korupsi yang sedang dibongkar KPK.
Ahok bahkan menganggap kebijakan E-KTP yang memakan biaya Rp 6,5 triliun itu 'bodoh'. 
Ketika rencana E-KTP dulu diluncurkan pemerintah SBY, Ahok mengecamnya.
Menurut Ahok, lebih baik serahkan saja E-KTP pada BRI. Dengan begitu E-KTP bisa sekaligus menjadi kartu ATM. BRI bisa menjadi bank terbesar di Asia. 
Gara-gara meributkan itu, Ahok sempat hendak digeser di Fraksi Golkar. 
Berita yang saya kutip linknya ini adalah berita lama yang bercerita tentang bagaimana Ahok membuat ulah di DPR, dengan menolak E-KTP.
Ahok memang keren!

Pada postingan ada, dibagikan sebuah berita yang diterbitkan media nasional Kompas, pada 11 Juni 2015, dengan judul  "Polisi "Ngakak" Dengar Cerita Ahok Bikin Nurul Arifin Mati Kutu". Netizen lantas merespon dengan beragam komentar.

Postingan Ade, sampai Rabu malam, sudah dibagikan 1.006 kali, dan mendapatkan reaksi emotikon 2,8 ribu, dengan 343 komentar.

Pantauan Riau JOS, netizen saling mengungkap fakta soal kebijakan e-KTP yang saat ini sedang menjadi fokus pemberitaan di tingkat nasional. Mereka saling serang untuk menunjukan bahwa merekalah yang punya pendapat yang tepat.

Dan hanya peristiwa dan sejarahlah, yang akan membuktikan kebenaran itu. Saat ini, sedang riuh jelang Pilkada DKI Jakarta putaran II, para pendukung masing-masing paslon berupaya memanfaatkan media sosial untuk mendapatkan simpatik dari pengguna medsos sehingga memutuskan pilihan yang tepat pada pemungutan suara nantinya.


Berita Lama Kompas Soal Cerita Ahok Tolak Kebijakan e-KTP jadi Viral

Berita Lama Kompas Soal Cerita Ahok Tolak Kebijakan e-KTP jadi Viral

RiauJOS.com, TrenSosial - Facebookers, Ade Armando memposting sebuah status soal penolakan Ahok terhadap kebijakan e-KTP. Dia memposting statusnya, Rabu, 7 Maret 2017 sekitar 10 jam yang lalu saat warta ini ditulis.

Berikut kutipan Riau JOS dari postingan status Ade:

TERBUKTI LAGI, AHOK MEMANG PINTAR DAN BERINTEGRITAS.
AHOK TERNYATA SEJAK AWAL MEMANG SECARA KERAS MENOLAK KEBIJAKAN E-KTP. 
Kini terungkap bahwa Ahok sejak awal adalah anggota DPR yang menolak rencana E-KTP yang sekarang menjadi megaskandal korupsi yang sedang dibongkar KPK.
Ahok bahkan menganggap kebijakan E-KTP yang memakan biaya Rp 6,5 triliun itu 'bodoh'. 
Ketika rencana E-KTP dulu diluncurkan pemerintah SBY, Ahok mengecamnya.
Menurut Ahok, lebih baik serahkan saja E-KTP pada BRI. Dengan begitu E-KTP bisa sekaligus menjadi kartu ATM. BRI bisa menjadi bank terbesar di Asia. 
Gara-gara meributkan itu, Ahok sempat hendak digeser di Fraksi Golkar. 
Berita yang saya kutip linknya ini adalah berita lama yang bercerita tentang bagaimana Ahok membuat ulah di DPR, dengan menolak E-KTP.
Ahok memang keren!

Pada postingan ada, dibagikan sebuah berita yang diterbitkan media nasional Kompas, pada 11 Juni 2015, dengan judul  "Polisi "Ngakak" Dengar Cerita Ahok Bikin Nurul Arifin Mati Kutu". Netizen lantas merespon dengan beragam komentar.

Postingan Ade, sampai Rabu malam, sudah dibagikan 1.006 kali, dan mendapatkan reaksi emotikon 2,8 ribu, dengan 343 komentar.

Pantauan Riau JOS, netizen saling mengungkap fakta soal kebijakan e-KTP yang saat ini sedang menjadi fokus pemberitaan di tingkat nasional. Mereka saling serang untuk menunjukan bahwa merekalah yang punya pendapat yang tepat.

Dan hanya peristiwa dan sejarahlah, yang akan membuktikan kebenaran itu. Saat ini, sedang riuh jelang Pilkada DKI Jakarta putaran II, para pendukung masing-masing paslon berupaya memanfaatkan media sosial untuk mendapatkan simpatik dari pengguna medsos sehingga memutuskan pilihan yang tepat pada pemungutan suara nantinya.