panglima suku Dayak bergelar Panglima Burung

RiauJOS.com, Kalteng - Rencana perkawinan gaib antara seorang wanita yang mengaku titisan dari penguasa Ratu Pantai Selatan, Nyi Roro Kidul, bernama Sri Buwana Prameswari dengan seorang panglima suku Dayak bergelar Panglima Burung, yang tidak pernah diketahui wujudnya, kini mulai menjadi pro dan kontra di tengah masyarakat suku Dayak Kalimantan Tengah. Bahkan ada pihak yang terang-terangan meminta supaya kegiatan ini ditinjau ulang.

Pemuda Muhammadiyah Katingan menjadi salah satu pihak yang menentang keras pelaksanaan perkawinan ini. Menurutnya, acara perkawinan seperti ini justru berpotensi bisa merusak tatanan adat dan budaya suku dayak itu sendiri.

“Saya sangat sependapat dengan apa yang disampaikan mantan Gubernur Kalteng, pak Teras Narang, yang meminta agar acara ini ditinjau ulang. Saya memahami maksudnya pak Teras itu kenapa demikian, acara ini terlanjur tersiar memakai nama suku Dayak, berarti siapa saja orang dayak tentunya akan terkena imbasnya,” tegas Ketua Pemuda Muhammadiyah Kabupaten Katingan, Luthfi Fauzi Maskati dikutip Riau JOS dari Viva, Kamis, 23 Februari 2017.

Pemuda Muhammadiyah Katingan

Menurut Luthfi, perkawinan ini, memunculkan kesan mengarah kepada hal-hal yang berbau klenik dan tidak masuk akal. Dalam perkawinan ini nantinya mempelai laki-lakinya tidak akan nampak, dan yang terlihat duduk dipelaminan hanyalah mempelai wanitanya.

Alasan Teras Narang yang juga pernah menjabat sebagai Presiden Majelis Adat Dayat Nasional (MADN), menurut Luthfi, sangat mendasar sekali, sebab sebuah perkawinan tentunya harus berpedoman kepada aturan Negara sebagaimana yang diatur dalam UU Perkawinan No. 1 tahun 1974.

Sikap kontra juga ditunjukan oleh pihak Majelis Agama Hindu Kaharingan Kalimantan Tengah, yang menyatakan akan bersikap jika rencana perkawinan ini nantinya akan menggunakan adat perkawinan Hindu Kaharingan.

“Jika ada ritual keagamaan, kami akan bersikap. Ini tidak boleh, sebab perkawinan seperti ini tidak pernah ada dalam ajaran agama Hindu Kaharingan. Tapi kalau perkawinan itu sifatnya cuma adat biasa atau sifatnya hanya budaya tanpa ada ritual keagamaan, kami tidak masalah,” ujar Ketua Majelis Agama Hindu Kaharingan Kalimantan Tengah, Walter S. Penyang, Kamis, 23 Februari 2012.

Soal perkawinan antara manusia, khususnya orang Dayak dengan makhluk gaib sendiri, menurut Walter, memang pernah ada, tapi acara perkawinan ini sifatnya hanya internal saja, bukan diekspos besar-besaran seperti sekarang ini.

“Yang saya tahu perkawinan seperti ini adalah didasari mimpi seseorang atau untuk memenuhi janji, tapi acara tidak terbuka seperti sekarang ini, apalagi sampai diekspos besar-besaran di media. Ada apa sih sebenarnya dibalik semua ini ? yang pasti kami dari Majelis Agama Hindu Kaharingan akan memantau terus acara ini,” ujar Walter.

Undangan Pernikahan Gaib Tersebar di Medsos

Undangan Pernikahan Gaib Tersebar di Medsos


Pernikahan gaib antara Panglima Burung dan Sri Baruno Prameswari seperti tertera di undangan yang beredar pada 28 Februari nanti, tersebar di dunia maya, bahkan menjadi viral.

Tertera pesta pernikahan akan diselenggarakan pukul 08.00 di rumah Damang Kepala Adat Kecamatan Katingan Tengah, Isay Judae.

Sosok Panglima Burung di dalam masyarakat Dayak adalah sosok gaib. Kemunculannya tidak akan terlihat mata manusia dan hanya terjadi saat momen tertentu saja.

Lantas, siapakah sosok Sri Baruno Jagat Prameswari yang konon merupakan titisan Ratu Pantai Selatan, Nyi Roro Kidul?. Dalam undangan yang menyebar viral di facebook, seperti di akun Even Rawi Calvin dijelaskan sosok Prameswari.

Damang Kepala Adat Kecamatan Katingan Tengah, Isay Judae menjelaskan bahwa Sri Baruno Prameswari adalah anak dari keturunan Ratu Kanjeng Kidul Pantai Selatan.

Calon mempelai Panglima Burung ini berwujud manusia yang berasal dari Bali dan saat ini posisinya berada di Jakarta. Calon mempelai akan tiba pada 27 Februari ke Desa Telok Kecamatan Katingan Tengah, Kabupaten Katingan sedangkan Panglima Burung menurutnya sosoknya gaib, tidak terlihat oleh kasat mata.

Dalam pesan berantai di WhatsApp, Kepala Desa Telok menjelaskan pernikahan tersebut akan dilaksanakan pada 28 Februari di Rumah Damang Kepala Adat Kecamatan Katingan Isay Djudae.
Di pesan tersebut Kepala Desa Telok tidak mengetahui apakah pernikahan tersebut kedua mempelai terlihat oleh mata atau pernikahan gaib.

Pihak Kepolisian membenarkan kabar rencana pernikahan tokoh adat Dayak Panglima Burung dengan orang yang mengaku sebagai titisan penguasa pantai selatan Nyi Roro Kidul di Kabupaten Katingan, Kalimantan Tengah. Koordinasi sudah dilakukan dengan tokoh adat setempat sehingga polisi menyiapkan pengamanan.

Kepala Polres Katingan Ajun Komisaris Besar Tato Suyono mengatakan, kepolisian telah mengonfirmasi pada Kepala Adat Katingan, Isae Djudae yang jadi pelaksana pernikahan itu.

"Kami juga sudah berkoordinasi dengan Dewan Adat Dayak Kabupaten Katingan terkait kegiatan itu. Mereka masih membahas apakah kegiatan itu termasuk adat Dayak, ritual adat atau bagaimana. Kami masih menunggu," kata Tato dikutip Riau JOS dari laman Bangka Pos, Rabu, 22 Februari 2017.

Pihak kepolisian mengatakan, memang tidak menangani acara pernikahan. Namun jika sebuah accara menyedot perhatian massa dan menimbulkan keramaian, polisi wajib menyiagakan pengamanan.

Rencana pernikahan gaib itu akan digelar pada 28 Februari 2017, diwartakan Antara.

Rencana ini bermula saat seorang perempuan bernama Retno pada 12 Februari 2017 ke rumah Judae.

Kepada Judae, Retno mengaku utusan Sri Baruno Jagat Parameswari, titisan Roro Kidul yang ingin menikah dengan Panglima Burung.

Retno datang ke Judae karena hanya tokoh adat itu yang dinilai bisa melaksanakan ritual pernikahan. Retno meninggalkan uang Rp.16 juta untuk mempersiapkan pernikahan. Ia juga berjanji akan datang lagi untuk menyerahkan yang tambahan sebagai dana pernikahan.

Kamis kemarin, Retno kembali dan menyerahkan sejumlah uang kepada Judae. Uang itu kemudian digunakan untuk mempersiapkan pernikahan seperti mencetak undangan, membeli sapi, babi, ayam, dan keperluan lain.

Sri Baruno Jagat Parameswari sendiri mengaku sebagai anak dari keturunan Ratu Roro Kidul yang berwujud manusia. 

Ia berasal yang berasal dari Bali dan saat ini ada di Jakarta. Ia akan datang ke ke Desa Telok Kecamatan Katingan Tengah, Kabupaten Katingan sehari sebelum pernikahan atau pada 27 Februari 2017. Saat ini, Penelusuran Riau JOS, undangan pernikahan itu telah disebar, juga di media sosial makin viral.

Viva/BangkaPos

Heboh Pernikahan Gaib Titisan Nyi Roro Kidul dengan Panglima Burung

panglima suku Dayak bergelar Panglima Burung

RiauJOS.com, Kalteng - Rencana perkawinan gaib antara seorang wanita yang mengaku titisan dari penguasa Ratu Pantai Selatan, Nyi Roro Kidul, bernama Sri Buwana Prameswari dengan seorang panglima suku Dayak bergelar Panglima Burung, yang tidak pernah diketahui wujudnya, kini mulai menjadi pro dan kontra di tengah masyarakat suku Dayak Kalimantan Tengah. Bahkan ada pihak yang terang-terangan meminta supaya kegiatan ini ditinjau ulang.

Pemuda Muhammadiyah Katingan menjadi salah satu pihak yang menentang keras pelaksanaan perkawinan ini. Menurutnya, acara perkawinan seperti ini justru berpotensi bisa merusak tatanan adat dan budaya suku dayak itu sendiri.

“Saya sangat sependapat dengan apa yang disampaikan mantan Gubernur Kalteng, pak Teras Narang, yang meminta agar acara ini ditinjau ulang. Saya memahami maksudnya pak Teras itu kenapa demikian, acara ini terlanjur tersiar memakai nama suku Dayak, berarti siapa saja orang dayak tentunya akan terkena imbasnya,” tegas Ketua Pemuda Muhammadiyah Kabupaten Katingan, Luthfi Fauzi Maskati dikutip Riau JOS dari Viva, Kamis, 23 Februari 2017.

Pemuda Muhammadiyah Katingan

Menurut Luthfi, perkawinan ini, memunculkan kesan mengarah kepada hal-hal yang berbau klenik dan tidak masuk akal. Dalam perkawinan ini nantinya mempelai laki-lakinya tidak akan nampak, dan yang terlihat duduk dipelaminan hanyalah mempelai wanitanya.

Alasan Teras Narang yang juga pernah menjabat sebagai Presiden Majelis Adat Dayat Nasional (MADN), menurut Luthfi, sangat mendasar sekali, sebab sebuah perkawinan tentunya harus berpedoman kepada aturan Negara sebagaimana yang diatur dalam UU Perkawinan No. 1 tahun 1974.

Sikap kontra juga ditunjukan oleh pihak Majelis Agama Hindu Kaharingan Kalimantan Tengah, yang menyatakan akan bersikap jika rencana perkawinan ini nantinya akan menggunakan adat perkawinan Hindu Kaharingan.

“Jika ada ritual keagamaan, kami akan bersikap. Ini tidak boleh, sebab perkawinan seperti ini tidak pernah ada dalam ajaran agama Hindu Kaharingan. Tapi kalau perkawinan itu sifatnya cuma adat biasa atau sifatnya hanya budaya tanpa ada ritual keagamaan, kami tidak masalah,” ujar Ketua Majelis Agama Hindu Kaharingan Kalimantan Tengah, Walter S. Penyang, Kamis, 23 Februari 2012.

Soal perkawinan antara manusia, khususnya orang Dayak dengan makhluk gaib sendiri, menurut Walter, memang pernah ada, tapi acara perkawinan ini sifatnya hanya internal saja, bukan diekspos besar-besaran seperti sekarang ini.

“Yang saya tahu perkawinan seperti ini adalah didasari mimpi seseorang atau untuk memenuhi janji, tapi acara tidak terbuka seperti sekarang ini, apalagi sampai diekspos besar-besaran di media. Ada apa sih sebenarnya dibalik semua ini ? yang pasti kami dari Majelis Agama Hindu Kaharingan akan memantau terus acara ini,” ujar Walter.

Undangan Pernikahan Gaib Tersebar di Medsos

Undangan Pernikahan Gaib Tersebar di Medsos


Pernikahan gaib antara Panglima Burung dan Sri Baruno Prameswari seperti tertera di undangan yang beredar pada 28 Februari nanti, tersebar di dunia maya, bahkan menjadi viral.

Tertera pesta pernikahan akan diselenggarakan pukul 08.00 di rumah Damang Kepala Adat Kecamatan Katingan Tengah, Isay Judae.

Sosok Panglima Burung di dalam masyarakat Dayak adalah sosok gaib. Kemunculannya tidak akan terlihat mata manusia dan hanya terjadi saat momen tertentu saja.

Lantas, siapakah sosok Sri Baruno Jagat Prameswari yang konon merupakan titisan Ratu Pantai Selatan, Nyi Roro Kidul?. Dalam undangan yang menyebar viral di facebook, seperti di akun Even Rawi Calvin dijelaskan sosok Prameswari.

Damang Kepala Adat Kecamatan Katingan Tengah, Isay Judae menjelaskan bahwa Sri Baruno Prameswari adalah anak dari keturunan Ratu Kanjeng Kidul Pantai Selatan.

Calon mempelai Panglima Burung ini berwujud manusia yang berasal dari Bali dan saat ini posisinya berada di Jakarta. Calon mempelai akan tiba pada 27 Februari ke Desa Telok Kecamatan Katingan Tengah, Kabupaten Katingan sedangkan Panglima Burung menurutnya sosoknya gaib, tidak terlihat oleh kasat mata.

Dalam pesan berantai di WhatsApp, Kepala Desa Telok menjelaskan pernikahan tersebut akan dilaksanakan pada 28 Februari di Rumah Damang Kepala Adat Kecamatan Katingan Isay Djudae.
Di pesan tersebut Kepala Desa Telok tidak mengetahui apakah pernikahan tersebut kedua mempelai terlihat oleh mata atau pernikahan gaib.

Pihak Kepolisian membenarkan kabar rencana pernikahan tokoh adat Dayak Panglima Burung dengan orang yang mengaku sebagai titisan penguasa pantai selatan Nyi Roro Kidul di Kabupaten Katingan, Kalimantan Tengah. Koordinasi sudah dilakukan dengan tokoh adat setempat sehingga polisi menyiapkan pengamanan.

Kepala Polres Katingan Ajun Komisaris Besar Tato Suyono mengatakan, kepolisian telah mengonfirmasi pada Kepala Adat Katingan, Isae Djudae yang jadi pelaksana pernikahan itu.

"Kami juga sudah berkoordinasi dengan Dewan Adat Dayak Kabupaten Katingan terkait kegiatan itu. Mereka masih membahas apakah kegiatan itu termasuk adat Dayak, ritual adat atau bagaimana. Kami masih menunggu," kata Tato dikutip Riau JOS dari laman Bangka Pos, Rabu, 22 Februari 2017.

Pihak kepolisian mengatakan, memang tidak menangani acara pernikahan. Namun jika sebuah accara menyedot perhatian massa dan menimbulkan keramaian, polisi wajib menyiagakan pengamanan.

Rencana pernikahan gaib itu akan digelar pada 28 Februari 2017, diwartakan Antara.

Rencana ini bermula saat seorang perempuan bernama Retno pada 12 Februari 2017 ke rumah Judae.

Kepada Judae, Retno mengaku utusan Sri Baruno Jagat Parameswari, titisan Roro Kidul yang ingin menikah dengan Panglima Burung.

Retno datang ke Judae karena hanya tokoh adat itu yang dinilai bisa melaksanakan ritual pernikahan. Retno meninggalkan uang Rp.16 juta untuk mempersiapkan pernikahan. Ia juga berjanji akan datang lagi untuk menyerahkan yang tambahan sebagai dana pernikahan.

Kamis kemarin, Retno kembali dan menyerahkan sejumlah uang kepada Judae. Uang itu kemudian digunakan untuk mempersiapkan pernikahan seperti mencetak undangan, membeli sapi, babi, ayam, dan keperluan lain.

Sri Baruno Jagat Parameswari sendiri mengaku sebagai anak dari keturunan Ratu Roro Kidul yang berwujud manusia. 

Ia berasal yang berasal dari Bali dan saat ini ada di Jakarta. Ia akan datang ke ke Desa Telok Kecamatan Katingan Tengah, Kabupaten Katingan sehari sebelum pernikahan atau pada 27 Februari 2017. Saat ini, Penelusuran Riau JOS, undangan pernikahan itu telah disebar, juga di media sosial makin viral.

Viva/BangkaPos