Pekanbaru Konsumsi Lima Ton Cabai Per Hari

RiauJOS.com, Pekanbaru - Dinas Pertanian dan Peternakan Kota Pekanbaru, Riau mengklaim masyarakat setempat menghabiskan lima ton cabai keriting setiap hari dalam memenuhi kebutuhan bumbu masakan.

"Masakan di Pekanbaru kalau tidak pedas katanya tak sedap," kata Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Kota Pekanbaru, El Syabrina di Pekanbaru, Minggu, 26 Februari 2017 dikutip Riau JOS dari Laman Berita Satu.

El Syabrina mengungkapkan, setelah dihitung kebutuhan cabai keriting di wilayah setempat dengan banyaknya jumlah penduduk, didapati rata-rata tiap orang menghabiskan 5 gram cabai sebagai bahan bumbu masakan setiap hari.

Hal ini karena cabai sebagai bumbu utama aneka masakan yang disajikan restoran, rumah makan, termasuk rumah tangga dan selera masyarakat Pekanbaru selalu harus pedas.

Dengan demikian menurut El penduduk Pekanbaru membutuhkan cabai keriting sebanyak 1.800 ton per tahun.

Sementara sejauh ini Kota Pekanbaru mampu menghasilkan 1.260 ton cabai keriting per tahun dari pertanian yang ada.

"Berarti masih ada kekurangan sejumlah 540 ton cabai keriting guna memenuhi kebutuhan," kata dia.

El mangakui, walaupun Pekanbaru mampu memenuhi 80 persen pasokan cabai keriting, sisanya dipasok luar. Namun kondisinya tetap masih mempengaruhi pasokan lokal karena berlaku hukum pasar.

"Sisanya 20 persen cabai keriting didatangkan dari provinsi tetangga Sumatera Barat dan Sumatera Utara," urai El.

El juga menyebutkan, cabai merupakan tanaman "manja" yang sangat rawan dan rentan terhadap kondisi cuaca. Jika saat musim penghujan produksi akan menurun. Karena banyak terserang hama penyakit.

"Cabai tidak bisa hidup di lahan terlalu becek akan diserang jamur, terlalu panas juga akan mengkerut daunnya," terangnya.

Jadi jika sedikit saja produksi terganggu maka harganya akan naik. Hingga di Pekanbaru bisa cenderung melambung.

Untuk meningkatkan produksi cabai keriting lokal, El mengatakan, pihaknya tiap tahun sudah berupaya mencarikan bantuan bibit ke Kementerian Pertanian.

Selain juga menambah luas tanam cabai di wilayah pertanian Pekanbaru seperti Tenayan, Rumbai, Kulim dan lainnya.

Dua tahun ini Pekanbaru sudah menerima bantuan untuk perluasan penanaman cabai dari pusat "Tahun lalu delapan hektare dan 2017 ini rencana 15," tuturnya.

Bantuan yang diberikan dalam bentuk bibit, pupuk organik dan non organik, serta plastik perak penutup permukaan pokok cabai.

Sebelumnya diberitakan Bank Indonesia Provinsi Riau bertekat perangi gejolak inflasi disebabkan sumbangan bahan pangan dengan membagikan bibit cabai keriting kepada ibu-ibu anggota PKK se Kota Pekanbaru.

"Tahap awal ini ada 5.000 batang bibit cabai keriting organik yang kami bagikan," kata Kepala BI Riau Siti Astiyah usai acara penyerahan bantuan bibit cabai keriting di polibag kepada ibu PKK di Pekanbaru, Kamis lalu, 23 Februari 2017.

Siti Astiyah mengutarakan, dengan pemberian bibit cabai ini BI ingin memerangi inflasi pangan.

Menurut Siti inflasi Riau tahun lalu cukup tinggi dan ini disebabkan harga pangan. Salah satunya cabai keriting, "Tahun lalu inflasi pangan Riau sangat tinggi, kita tidak ingin itu terjadi lagi, target kita 2017 inflasi pangan Riau tidak melebihi dari provinsi lain," papar Siti.

Siti mengatakan, karena itu perlu upaya untuk mencapai salah satunya dengan gerakan menanam cabai bagi setiap rumah tangga melalui ibu PKK di Pekanbaru.

BeritaSatu/Antara
Foto: Bertuah Pos

Pekanbaru Konsumsi Lima Ton Cabai Per Hari

Pekanbaru Konsumsi Lima Ton Cabai Per Hari

RiauJOS.com, Pekanbaru - Dinas Pertanian dan Peternakan Kota Pekanbaru, Riau mengklaim masyarakat setempat menghabiskan lima ton cabai keriting setiap hari dalam memenuhi kebutuhan bumbu masakan.

"Masakan di Pekanbaru kalau tidak pedas katanya tak sedap," kata Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Kota Pekanbaru, El Syabrina di Pekanbaru, Minggu, 26 Februari 2017 dikutip Riau JOS dari Laman Berita Satu.

El Syabrina mengungkapkan, setelah dihitung kebutuhan cabai keriting di wilayah setempat dengan banyaknya jumlah penduduk, didapati rata-rata tiap orang menghabiskan 5 gram cabai sebagai bahan bumbu masakan setiap hari.

Hal ini karena cabai sebagai bumbu utama aneka masakan yang disajikan restoran, rumah makan, termasuk rumah tangga dan selera masyarakat Pekanbaru selalu harus pedas.

Dengan demikian menurut El penduduk Pekanbaru membutuhkan cabai keriting sebanyak 1.800 ton per tahun.

Sementara sejauh ini Kota Pekanbaru mampu menghasilkan 1.260 ton cabai keriting per tahun dari pertanian yang ada.

"Berarti masih ada kekurangan sejumlah 540 ton cabai keriting guna memenuhi kebutuhan," kata dia.

El mangakui, walaupun Pekanbaru mampu memenuhi 80 persen pasokan cabai keriting, sisanya dipasok luar. Namun kondisinya tetap masih mempengaruhi pasokan lokal karena berlaku hukum pasar.

"Sisanya 20 persen cabai keriting didatangkan dari provinsi tetangga Sumatera Barat dan Sumatera Utara," urai El.

El juga menyebutkan, cabai merupakan tanaman "manja" yang sangat rawan dan rentan terhadap kondisi cuaca. Jika saat musim penghujan produksi akan menurun. Karena banyak terserang hama penyakit.

"Cabai tidak bisa hidup di lahan terlalu becek akan diserang jamur, terlalu panas juga akan mengkerut daunnya," terangnya.

Jadi jika sedikit saja produksi terganggu maka harganya akan naik. Hingga di Pekanbaru bisa cenderung melambung.

Untuk meningkatkan produksi cabai keriting lokal, El mengatakan, pihaknya tiap tahun sudah berupaya mencarikan bantuan bibit ke Kementerian Pertanian.

Selain juga menambah luas tanam cabai di wilayah pertanian Pekanbaru seperti Tenayan, Rumbai, Kulim dan lainnya.

Dua tahun ini Pekanbaru sudah menerima bantuan untuk perluasan penanaman cabai dari pusat "Tahun lalu delapan hektare dan 2017 ini rencana 15," tuturnya.

Bantuan yang diberikan dalam bentuk bibit, pupuk organik dan non organik, serta plastik perak penutup permukaan pokok cabai.

Sebelumnya diberitakan Bank Indonesia Provinsi Riau bertekat perangi gejolak inflasi disebabkan sumbangan bahan pangan dengan membagikan bibit cabai keriting kepada ibu-ibu anggota PKK se Kota Pekanbaru.

"Tahap awal ini ada 5.000 batang bibit cabai keriting organik yang kami bagikan," kata Kepala BI Riau Siti Astiyah usai acara penyerahan bantuan bibit cabai keriting di polibag kepada ibu PKK di Pekanbaru, Kamis lalu, 23 Februari 2017.

Siti Astiyah mengutarakan, dengan pemberian bibit cabai ini BI ingin memerangi inflasi pangan.

Menurut Siti inflasi Riau tahun lalu cukup tinggi dan ini disebabkan harga pangan. Salah satunya cabai keriting, "Tahun lalu inflasi pangan Riau sangat tinggi, kita tidak ingin itu terjadi lagi, target kita 2017 inflasi pangan Riau tidak melebihi dari provinsi lain," papar Siti.

Siti mengatakan, karena itu perlu upaya untuk mencapai salah satunya dengan gerakan menanam cabai bagi setiap rumah tangga melalui ibu PKK di Pekanbaru.

BeritaSatu/Antara
Foto: Bertuah Pos