RiauJOS.com, Kendal - Nenek Sunik (47), termasuk orang yang banyak dikenal orang, karena kabar perempuan tua yang hidup sendirian itu sudah ramai di media sosial Facebook.

Rumah Nenek Sunik ada di RT 03/02 desa Cepiring Kecamatan Cepiring Kendal Jawa Tengah, tidak sulit dicari. Sebab jaraknya dari Pantura Cepiring Kendal hanya sekitar 1 kilometer.

"Oh, Nenek Sunik, tinggal di sana, Mas. Lurus, nanti ada jalan kecil dan masuk. Rumahnya ada di pojok sendiri," kata seorang ibu dikutip Riau JOS dari kontributor Kompas di Kendal, Sabtu lalu, 4 Februari 2017.

Ketika memasuki jalan kecil yang licin, Nenek Sunik sudah terlihat duduk melamun di kursi bambu depan rumahnya yang hampir roboh. Sesekali, ia memegang kerudungnya.

"Cari saya, ya? Sini, tapi berdiri ya. Karena tidak ada tempat duduk," kata Nenek Sunik.

Nenek Sunik mengaku, merasa senang kalau kedatangan orang di rumahnya. Sebab biasanya, orang itu memberinya uang dan kadang makanan.

"Saya sudah dari semalam belum makan. Untuk menghilangkan lapar, saya duduk di depan rumah sambil menatap alang-alang," ujarnya.

Rumah Nenek Sunik yang berukuran 4×6 meter ini terbuat dari papan. Kondisi rumah yang berlantai tanah tersebut sangat memprihatinkan. Bangunan sudah reot, bagian belakangnya sudah roboh, dan depannya miring.

Di bagian samping kiri dan belakang rumah adalah rawa. Kalau hujan turun deras, air rawa itu masuk ke dalam rumah.

Sementara, di depan rumahnya ada tanah kosong milik orang. Tanah itu ditumbuhi tanaman liar.

Di dalam rumah Sunik ada satu kamar berukuran 1,5 x 2 meter. Kamar itu, biasa digunakan untuk tidur si empunya. Tidak ada dapur, kamar mandi, atau WC.

Kalau mau buang hajat, nenek yang pendengarannya sudah tidak normal itu, tinggal jongkok di belakang. Demikian juga kalau mandi. Kadang ia memanfaatkan air rawa tersebut.

"Kamar saya kalau hujan bocor. Tapi saya sudah menyiapkan 2 payung. Jadi kalau hujan, payung itu, aku taruh di samping bagian kepala saya dan kaki," aku Sunik.

Sunik mempunyai anak satu yang tinggal di Gunung Pati, Semarang. Namun, menurut pengakuan Sunik, anaknya secara ekonomi tidak mampu. Tinggalnya masih kontrak, dan kerjanya serabutan.

"Anak saya mempunyai 4 anak. Tapi istrinya sudah meninggal dunia," kata Nenek Sunik.

Oleh sebab itu, Nenek Sunik tidak mau merepotkan anaknya. Walaupun, seringkali anaknya mengajak dia untuk tinggal bersama di rumah kontrakannya.

"Biarlah saya tinggal di sini saja. Tanah yang saya tinggali ini, adalah warisan orang tua saya," ujarnya.

Sering sakit


Sunik sering sakit kedinginan. Namun sakit itu, sebentar hilang kalau ia jalan-jalan.

"Saya punya keponakan, dia duda. Kerjanya jaga malam di pasar Cepiring. Kalau siang, kadang ia ke sini menengok saya," jelasnya.

Sunik pasrah dengan hidup yang dijalaninya saat ini. Sebab, baginya hidup adalah mampir ngombe (mampir minum ). Sementara rezeki, jodoh dan maut, adalah rahasia Allah.

"Siapa yang mau hidup begini," ucapnya.

Penderitaan Sunik, didengar oleh salah satu tokoh masyarakat Patebon Kendal, Agus Umar. Kemudian ia menghubungi salah satu perusahaan yang ada di Kaliwungu. Umar meminta kepada perusahaan itu, supaya bisa membantu merehab rumah nenek Sunik.

"Perusahaan itu punya dana sosial. Bosnya sudah menyanggupi," kata Umar.

Nenek Sunik Tinggal Sendirian di Rumah yang Hampir Roboh, Kalau Lapar Hanya Menatap Alang-alang


RiauJOS.com, Kendal - Nenek Sunik (47), termasuk orang yang banyak dikenal orang, karena kabar perempuan tua yang hidup sendirian itu sudah ramai di media sosial Facebook.

Rumah Nenek Sunik ada di RT 03/02 desa Cepiring Kecamatan Cepiring Kendal Jawa Tengah, tidak sulit dicari. Sebab jaraknya dari Pantura Cepiring Kendal hanya sekitar 1 kilometer.

"Oh, Nenek Sunik, tinggal di sana, Mas. Lurus, nanti ada jalan kecil dan masuk. Rumahnya ada di pojok sendiri," kata seorang ibu dikutip Riau JOS dari kontributor Kompas di Kendal, Sabtu lalu, 4 Februari 2017.

Ketika memasuki jalan kecil yang licin, Nenek Sunik sudah terlihat duduk melamun di kursi bambu depan rumahnya yang hampir roboh. Sesekali, ia memegang kerudungnya.

"Cari saya, ya? Sini, tapi berdiri ya. Karena tidak ada tempat duduk," kata Nenek Sunik.

Nenek Sunik mengaku, merasa senang kalau kedatangan orang di rumahnya. Sebab biasanya, orang itu memberinya uang dan kadang makanan.

"Saya sudah dari semalam belum makan. Untuk menghilangkan lapar, saya duduk di depan rumah sambil menatap alang-alang," ujarnya.

Rumah Nenek Sunik yang berukuran 4×6 meter ini terbuat dari papan. Kondisi rumah yang berlantai tanah tersebut sangat memprihatinkan. Bangunan sudah reot, bagian belakangnya sudah roboh, dan depannya miring.

Di bagian samping kiri dan belakang rumah adalah rawa. Kalau hujan turun deras, air rawa itu masuk ke dalam rumah.

Sementara, di depan rumahnya ada tanah kosong milik orang. Tanah itu ditumbuhi tanaman liar.

Di dalam rumah Sunik ada satu kamar berukuran 1,5 x 2 meter. Kamar itu, biasa digunakan untuk tidur si empunya. Tidak ada dapur, kamar mandi, atau WC.

Kalau mau buang hajat, nenek yang pendengarannya sudah tidak normal itu, tinggal jongkok di belakang. Demikian juga kalau mandi. Kadang ia memanfaatkan air rawa tersebut.

"Kamar saya kalau hujan bocor. Tapi saya sudah menyiapkan 2 payung. Jadi kalau hujan, payung itu, aku taruh di samping bagian kepala saya dan kaki," aku Sunik.

Sunik mempunyai anak satu yang tinggal di Gunung Pati, Semarang. Namun, menurut pengakuan Sunik, anaknya secara ekonomi tidak mampu. Tinggalnya masih kontrak, dan kerjanya serabutan.

"Anak saya mempunyai 4 anak. Tapi istrinya sudah meninggal dunia," kata Nenek Sunik.

Oleh sebab itu, Nenek Sunik tidak mau merepotkan anaknya. Walaupun, seringkali anaknya mengajak dia untuk tinggal bersama di rumah kontrakannya.

"Biarlah saya tinggal di sini saja. Tanah yang saya tinggali ini, adalah warisan orang tua saya," ujarnya.

Sering sakit


Sunik sering sakit kedinginan. Namun sakit itu, sebentar hilang kalau ia jalan-jalan.

"Saya punya keponakan, dia duda. Kerjanya jaga malam di pasar Cepiring. Kalau siang, kadang ia ke sini menengok saya," jelasnya.

Sunik pasrah dengan hidup yang dijalaninya saat ini. Sebab, baginya hidup adalah mampir ngombe (mampir minum ). Sementara rezeki, jodoh dan maut, adalah rahasia Allah.

"Siapa yang mau hidup begini," ucapnya.

Penderitaan Sunik, didengar oleh salah satu tokoh masyarakat Patebon Kendal, Agus Umar. Kemudian ia menghubungi salah satu perusahaan yang ada di Kaliwungu. Umar meminta kepada perusahaan itu, supaya bisa membantu merehab rumah nenek Sunik.

"Perusahaan itu punya dana sosial. Bosnya sudah menyanggupi," kata Umar.