Kemendagri Telusuri Temuan e-KTP Palsu dari Kamboja

RiauJOS.com, Jakarta - Kemendagri masih menelusuri segala kemungkinan terkait temuan e-KTP palsu dari Kamboja yang dibuat sama mirip dengan aslinya. Apalagi, chip yang ada di e-KTP tersebut terbaca oleh server Kemendagri.

Ditjen Dukcapil Kemendagri Drajat Wisnu Setiawan mengatakan, kasus ini baru pertama terjadi sehingga pihaknya akan segera melakukan kordinasi dengan pihak bea cukai dan kepolisian.

Pihaknya juga akan melakukan investigasi secara mendalam terkait hal ini. "Nanti kita selidiki, bagaimana mereka bisa dapat material yang mirip seperti itu," kata Wisnu dikutip Riau JOS dari laman Sindonews, Jumat, 10 Februari 2017.

"Bagaimana mereka dapat chip dengan data asli, pokoknya semuanya akan kami selidiki," tegasnya. Begitu juga adanya dugaan orang dalam yang membocorkan identitas.

Dia membantah kalau pengamanan yang dilajukan oleh kemendagri lemah. Karena, pihaknya telah melakukan pengamanan cyber yang cukup.

"Data yang ada di kami cukup sequre, jadi kita akan selidiki dugaan pembobolan itu," katanya.


Kronologis Temuan 36 e-KTP Palsu dari Kamboja



Sebuah paket dari Kamboja ke Indonesia tiba di Bandara Soekarno-Hatta (Soetta) pada Jumat 3 Februari 2017. Direktur Jenderal Bea dan Cukai Heru Pambudi mengatakan, sebuah paket seberat 560 gram itu dikirim melalui perusahaan jasa pengiriman FedEx berupa satu kotak jenis kardus‎.

Menurut penjelasan Heru, sesuai dengan prosedur, petugas lapangan melakukan pemeriksaan rutin atas seluruh (100%) barang-barang yang dikirim melalui Perusahaan Jasa Titipan (PJT) termasuk yang lewat Fedex. Kata Heru, pemeriksaan dilakukan baik atas dokumen maupun fisik barang melalui x-ray.

“Jadi petugas Bea Cukai mencocokkan antara dokumen dengan image yang dihasilkan dari x-ray. Kalau ada yang mencurigakan, sesuai dengan prosedur, petugas akan membuka paket tersebut dengan disaksikan petugas Fedex," ujar Heru dalam jumpa pers di kantornya, Rawamangun, Jakarta, Jumat, 10 Februari 2017 kutipan Riau JOS dari laman Sindonews.‎

Heru mengungkap, di dokumennya tertulis paket berisi ID card. Setelah dibuka, paket itu berisikan 36 lembar KTP, 32 lembar kartu NPWP, satu buku tabungan, serta satu buah kartu Anjungan Tunai Mandiri (ATM).

"‎Awalnya isi paket diduga berisi kartu kredit. Maka dilakukan pemeriksaan fisik dengan membuka paket dan disaksikan petugas FedEx," katanya.

Sementara,‎ Kepala Kantor Bea dan Cukai Bandara Soekarno-Hatta Erwin Situmorang mengatakan, sebelum dikeluarkan dari kepabeanan, semua barang akan diperiksa. Adapun pemeriksaan fisik setelah x-ray dilakukan berdasarkan tiga pertimbangan, yaitu image hasil x-ray, negara asal paket, dan uraian barang dalam invoice, yaitu ID card.

Dia menuturkan, berdasarkan profil dan pengalaman yang dimiliki Bea dan Cukai selama ini, impor dari negara tertentu rawan pelanggaran terutama masalah narkotika.

Kemendagri Telusuri Temuan KTP Elektronik Palsu dari Kamboja

Kemendagri Telusuri Temuan e-KTP Palsu dari Kamboja

RiauJOS.com, Jakarta - Kemendagri masih menelusuri segala kemungkinan terkait temuan e-KTP palsu dari Kamboja yang dibuat sama mirip dengan aslinya. Apalagi, chip yang ada di e-KTP tersebut terbaca oleh server Kemendagri.

Ditjen Dukcapil Kemendagri Drajat Wisnu Setiawan mengatakan, kasus ini baru pertama terjadi sehingga pihaknya akan segera melakukan kordinasi dengan pihak bea cukai dan kepolisian.

Pihaknya juga akan melakukan investigasi secara mendalam terkait hal ini. "Nanti kita selidiki, bagaimana mereka bisa dapat material yang mirip seperti itu," kata Wisnu dikutip Riau JOS dari laman Sindonews, Jumat, 10 Februari 2017.

"Bagaimana mereka dapat chip dengan data asli, pokoknya semuanya akan kami selidiki," tegasnya. Begitu juga adanya dugaan orang dalam yang membocorkan identitas.

Dia membantah kalau pengamanan yang dilajukan oleh kemendagri lemah. Karena, pihaknya telah melakukan pengamanan cyber yang cukup.

"Data yang ada di kami cukup sequre, jadi kita akan selidiki dugaan pembobolan itu," katanya.


Kronologis Temuan 36 e-KTP Palsu dari Kamboja



Sebuah paket dari Kamboja ke Indonesia tiba di Bandara Soekarno-Hatta (Soetta) pada Jumat 3 Februari 2017. Direktur Jenderal Bea dan Cukai Heru Pambudi mengatakan, sebuah paket seberat 560 gram itu dikirim melalui perusahaan jasa pengiriman FedEx berupa satu kotak jenis kardus‎.

Menurut penjelasan Heru, sesuai dengan prosedur, petugas lapangan melakukan pemeriksaan rutin atas seluruh (100%) barang-barang yang dikirim melalui Perusahaan Jasa Titipan (PJT) termasuk yang lewat Fedex. Kata Heru, pemeriksaan dilakukan baik atas dokumen maupun fisik barang melalui x-ray.

“Jadi petugas Bea Cukai mencocokkan antara dokumen dengan image yang dihasilkan dari x-ray. Kalau ada yang mencurigakan, sesuai dengan prosedur, petugas akan membuka paket tersebut dengan disaksikan petugas Fedex," ujar Heru dalam jumpa pers di kantornya, Rawamangun, Jakarta, Jumat, 10 Februari 2017 kutipan Riau JOS dari laman Sindonews.‎

Heru mengungkap, di dokumennya tertulis paket berisi ID card. Setelah dibuka, paket itu berisikan 36 lembar KTP, 32 lembar kartu NPWP, satu buku tabungan, serta satu buah kartu Anjungan Tunai Mandiri (ATM).

"‎Awalnya isi paket diduga berisi kartu kredit. Maka dilakukan pemeriksaan fisik dengan membuka paket dan disaksikan petugas FedEx," katanya.

Sementara,‎ Kepala Kantor Bea dan Cukai Bandara Soekarno-Hatta Erwin Situmorang mengatakan, sebelum dikeluarkan dari kepabeanan, semua barang akan diperiksa. Adapun pemeriksaan fisik setelah x-ray dilakukan berdasarkan tiga pertimbangan, yaitu image hasil x-ray, negara asal paket, dan uraian barang dalam invoice, yaitu ID card.

Dia menuturkan, berdasarkan profil dan pengalaman yang dimiliki Bea dan Cukai selama ini, impor dari negara tertentu rawan pelanggaran terutama masalah narkotika.