Social Items

"Bisa jadi sampai malam, semoga tidak seperti sidang Jessica. Kalau pun terlalu melelahkan, mungkin hanya sampai pukul 24.00," kata Humas Pengadilan Negeri Jakarta Utara Didik Wuryanto

RiauJOS.com, Jakarta - Jaksa penuntut umum (JPU) akan menghadirkan enam saksi dalam persidangan kasus dugaan penistaan agama dengan terdakwa Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok hari ini. Sidang Ahok yang digelar di Auditorium Kementerian Pertanian, Jakarta Selatan, ini diperkirakan berlangsung hingga malam.

"Bisa jadi sampai malam, semoga tidak seperti sidang Jessica. Kalau pun terlalu melelahkan, mungkin hanya sampai pukul 24.00," kata Humas Pengadilan Negeri Jakarta Utara Didik Wuryanto, Selasa, 3 Januari 2017, seperti dikutip dari Antara.

Trimoelja Soerjadi, anggota tim penasihat hukum Ahok menyatakan, kliennya hari ini tidak akan bisa melakukan kegiatan kampanye apabila sidang berlangsung sampai malam.

"Tidak bisa, sampai pemeriksaan saksi tidak bisa kampanye. Selama persidangan terdakwa harus hadir," ucap dia.

Ia mengatakan, lama tidaknya sidang hari ini akan bergantung pada proses pemeriksaan saksi. "Tergantung, lama tidaknya itu sulit diprediksi. Biasanya melihat perkembangan di persidangan, nanti diperdalam atau tidak, bisa lama bisa sebentar," kata dia.

Jaksa rencananya menghadirkan enam saksi dalam persidangan Ahok hari ini, yakni Habib Novel Chaidir Hasan, Habib Muchsin, Gus Joy Setiawan, Muhammad Burhanuddin, Syamsu Hilal, dan Nandi Naksabandi.

Sidang Ahok, Dilarang Siaran Langsung

Sidang lanjutan perkara penodaan agama dengan terdakwa Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok, yang berlangsung di Auditorium Kementerian Pertanian dilarang untuk disiarkan secara langsung oleh media.

Agenda sidang hari ini, Selasa, 3 Januari, mulai memasuki tahap pemeriksaan saksi. "Larangan siaran langsung berlaku untuk semua jenis media," kata juru bicara Pengadilan Negeri Jakarta Utara, Didik Wuryanto, diwartakan Tempo.

Menurut Didik, media tetap diizinkan untuk mengambil gambar terlebih dulu saat sidang baru dibuka oleh majelis hakim. Tapi ketika saksi memberi keterangan, tidak boleh disiarkan secara langsung. “Memang undang-undang melarangnya," ujarnya.

Didik menjelaskan, dalam proses persidangan, masing-masing saksi tidak diperkenankan saling berhubungan satu dengan yang lain sebelum memberikan keterangan. Dikhawatirkan keterangan saksi yang satu akan mempengaruhi saksi lainnya.

Didik megatakan, jika disiarkan secara langsung, apa yang diucapkan saksi saat memberikan keterangan dalam persidangan bisa diketahui oleh saksi lainnya. “Keterangan setiap saksi yang didengar keterangannya harus murni. Pengetahuan salah seorang saksi tidak tercampur baur keterangan saksi lain," katanya.

Pantaun Tempo, sejumlah polisi telah melakukan penjagaan dengan ketat di setiap sisi pintu menuju Auditorium Kementerian Pertanian. Pengunjung yang bisa masuk ke dalam pun dibatasi. Mereka yang diizinkan masuk harus memiliki kartu identitas berwarna kuning, yang dikalungkan di leher. Mereka juga harus melalui pemeriksaan berlapis dari kepolisian.

Sejumlah awak media pun nampak kecewa karena polisi hanya membolehkan beberapa wartawan untuk masuk ke ruang persidangan. Terlebih saat pintu kaca dirantai dan digembok, para wartawan langsung menyoraki para polisi yang berjaga di depan pintu.

[Baca juga, warta sebelumnya: Hindari Bentrok antar Pendukung, Polisi Siapkan dua Lokasi Demo Sidang Ahok]

Bersaksi di Sidang, Imam FPI DKI Ungkap Alasan Benci Ahok


Imam Daerah DPD Front Pembela Islam DKI Jakarta Al-Habib Muchsin bin Zaid Al'Attas mengungkapkan bahwa kuasa hukum Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok merasa dirinyalah yang melaporkan Ahok terkait dengan kasus penodaan agama karena didasari unsur kebencian

"Saya katakan, secara pribadi tidak masalah dengan terdakwa alias Ahok," kata Muchsin setelah bersaksi dalam sidang lanjutan penodaan agama yang menjerat Ahok di Auditorium Kementerian Pertanian, Jakarta, Selasa, 3 Januari 2017 diwartakan Tempo.

Muchsin mengatakan dia hanya mempersoalkan Ahok yang menistakan agama lantaran mengutip Surat Al-Maidah ayat 51 untuk kepentingan politik. Di sisi lain, Muchsin menegaskan, secara pribadi, dia tidak membenci Ahok. "Tapi perbuatan Anda, tingkah laku Anda, ucapan Anda, yang sama dengan comberan," ucap Muchsin.

Dia mengatakan ungkapan itu juga disampaikannya saat bersaksi di persidangan dan disaksikan langsung oleh tim kuasa hukumnya. Menurut dia, tak ada tanggapan atas ucapannya tersebut. Namun, kata dia, raut muka Ahok menunjukkan ketidaksukaan mendengar hal itu

Muchsin mengatakan Ahok sempat menyampaikan kepadanya bahwa banyak orang yang tidak suka kepada FPI. "Saya katakan, 'Di dalam persidangan ini juga banyak yang tidak suka dengan Anda (Ahok). Jangan bilang dalam persidangan ini suka dengan Anda, bahkan di Jakarta sendiri yang tidak suka dengan Anda juga banyak'," kata Muchsin mengulang perkataannya dalam persidangan.

Dalam persidangan itu, Muchsin membawa barang bukti berupa buku karangan Ahok berjudul Merubah Indonesia, dua VCD, dan satu unitflashdisk untuk memberatkan Ahok. Dia mengatakan banyak umat Islam yang marah atas perbuatan Ahok yang mengutip Surat Al-Maidah. Sebab, perkataan Ahok di Kepulauan Seribu pada 27 September 2016 itu Muchsin anggap seakan-akan Surat Al-Maidah dijadikan alat berbohong.

Muchsin sendiri mengaku, secara pribadi, sebagai umat Islam, dia marah setelah menonton video perkataan Ahok yang ia unduh dari akun Pemerintah Provinsi DKI di YouTube beberapa waktu lalu. Ia pun menjadikan rekaman video tersebut sebagai dasar untuk melaporkan Ahok ke polisi atas dugaan penodaan agama.

Selain melaporkan atas nama pribadi, Muchsin membuat laporan yang mewakili FPI DKI Jakarta dan atas nama 39 organisasi masyarakat, yang saat itu melapor bersamaan dengannya di Bareskrim Mabes Polri

Novel Hasan jadi Saksi Pertama


Jaksa Penuntut Umum (JPU) menghadirkan Novel Hasan alias Habib Novel. Dalam Sidang, dia menyebutkan Ahok sering melakukan penistaan agama.

Novel merujuk pada buku yang Ahok berjudul "Merubah Indonesia" pada halaman 40 di paragraf pertama, kedua, dan ketiga. Menurut Novel, Ahok sudah menyerang Surat Al-Maidah.

"Jadi ini terbongkar bahwa unsur ketidaksengajaan dalam penyebutan surat Al-Maidah ayat 51 yang Ahok sebutkan sudah terbantahkan dengan data-data yang saya sampaikan," katanya di Gedung Kementerian Pertanian, Ragunan, Jakarta Selatan, Selasa ini, dilaporkan Jurnas.com

Dikemukakan Novel Hasan lagi, sudah jabarkan soal jabatan Ahok dari 2012 ketika mulai menjadi calon wakil gubernur. "Bahwa saat itu dia sudah menyerang Islam. Contohnya ayat suci no, ayat-ayat konstitusi yes, atau ayat-ayat konstitusi di atas ayat suci. Nach itu saya sampaikan. Itu juga yang perlu sebagai masukan buat hakim, jaksa, dan buat bukti juga bahwa ternyata Ahok ini bukan baru sekali lakukan penistaan agama," tuturnya.

Dalam sidang lanjutan Purnama hari ini beragendakan pemeriksaan saksi dari pihak Jaksa Penuntut Umum (JPU). Hasan menjadi saksi perdana yang diperiksa oleh Majelis Hakim Pengadilan Negeri Jakarta Utara, sementara saat ini masih berlangsung pemeriksaan terhadap saksi kedua, yakni Gus Joy Setiawan.

Warta ini dalam proses melengkapi materi..

Sidang Ahok Hadirkan Enam Saksi, Bisa Jadi sampai Pukul 24.00

"Bisa jadi sampai malam, semoga tidak seperti sidang Jessica. Kalau pun terlalu melelahkan, mungkin hanya sampai pukul 24.00," kata Humas Pengadilan Negeri Jakarta Utara Didik Wuryanto

RiauJOS.com, Jakarta - Jaksa penuntut umum (JPU) akan menghadirkan enam saksi dalam persidangan kasus dugaan penistaan agama dengan terdakwa Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok hari ini. Sidang Ahok yang digelar di Auditorium Kementerian Pertanian, Jakarta Selatan, ini diperkirakan berlangsung hingga malam.

"Bisa jadi sampai malam, semoga tidak seperti sidang Jessica. Kalau pun terlalu melelahkan, mungkin hanya sampai pukul 24.00," kata Humas Pengadilan Negeri Jakarta Utara Didik Wuryanto, Selasa, 3 Januari 2017, seperti dikutip dari Antara.

Trimoelja Soerjadi, anggota tim penasihat hukum Ahok menyatakan, kliennya hari ini tidak akan bisa melakukan kegiatan kampanye apabila sidang berlangsung sampai malam.

"Tidak bisa, sampai pemeriksaan saksi tidak bisa kampanye. Selama persidangan terdakwa harus hadir," ucap dia.

Ia mengatakan, lama tidaknya sidang hari ini akan bergantung pada proses pemeriksaan saksi. "Tergantung, lama tidaknya itu sulit diprediksi. Biasanya melihat perkembangan di persidangan, nanti diperdalam atau tidak, bisa lama bisa sebentar," kata dia.

Jaksa rencananya menghadirkan enam saksi dalam persidangan Ahok hari ini, yakni Habib Novel Chaidir Hasan, Habib Muchsin, Gus Joy Setiawan, Muhammad Burhanuddin, Syamsu Hilal, dan Nandi Naksabandi.

Sidang Ahok, Dilarang Siaran Langsung

Sidang lanjutan perkara penodaan agama dengan terdakwa Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok, yang berlangsung di Auditorium Kementerian Pertanian dilarang untuk disiarkan secara langsung oleh media.

Agenda sidang hari ini, Selasa, 3 Januari, mulai memasuki tahap pemeriksaan saksi. "Larangan siaran langsung berlaku untuk semua jenis media," kata juru bicara Pengadilan Negeri Jakarta Utara, Didik Wuryanto, diwartakan Tempo.

Menurut Didik, media tetap diizinkan untuk mengambil gambar terlebih dulu saat sidang baru dibuka oleh majelis hakim. Tapi ketika saksi memberi keterangan, tidak boleh disiarkan secara langsung. “Memang undang-undang melarangnya," ujarnya.

Didik menjelaskan, dalam proses persidangan, masing-masing saksi tidak diperkenankan saling berhubungan satu dengan yang lain sebelum memberikan keterangan. Dikhawatirkan keterangan saksi yang satu akan mempengaruhi saksi lainnya.

Didik megatakan, jika disiarkan secara langsung, apa yang diucapkan saksi saat memberikan keterangan dalam persidangan bisa diketahui oleh saksi lainnya. “Keterangan setiap saksi yang didengar keterangannya harus murni. Pengetahuan salah seorang saksi tidak tercampur baur keterangan saksi lain," katanya.

Pantaun Tempo, sejumlah polisi telah melakukan penjagaan dengan ketat di setiap sisi pintu menuju Auditorium Kementerian Pertanian. Pengunjung yang bisa masuk ke dalam pun dibatasi. Mereka yang diizinkan masuk harus memiliki kartu identitas berwarna kuning, yang dikalungkan di leher. Mereka juga harus melalui pemeriksaan berlapis dari kepolisian.

Sejumlah awak media pun nampak kecewa karena polisi hanya membolehkan beberapa wartawan untuk masuk ke ruang persidangan. Terlebih saat pintu kaca dirantai dan digembok, para wartawan langsung menyoraki para polisi yang berjaga di depan pintu.

[Baca juga, warta sebelumnya: Hindari Bentrok antar Pendukung, Polisi Siapkan dua Lokasi Demo Sidang Ahok]

Bersaksi di Sidang, Imam FPI DKI Ungkap Alasan Benci Ahok


Imam Daerah DPD Front Pembela Islam DKI Jakarta Al-Habib Muchsin bin Zaid Al'Attas mengungkapkan bahwa kuasa hukum Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok merasa dirinyalah yang melaporkan Ahok terkait dengan kasus penodaan agama karena didasari unsur kebencian

"Saya katakan, secara pribadi tidak masalah dengan terdakwa alias Ahok," kata Muchsin setelah bersaksi dalam sidang lanjutan penodaan agama yang menjerat Ahok di Auditorium Kementerian Pertanian, Jakarta, Selasa, 3 Januari 2017 diwartakan Tempo.

Muchsin mengatakan dia hanya mempersoalkan Ahok yang menistakan agama lantaran mengutip Surat Al-Maidah ayat 51 untuk kepentingan politik. Di sisi lain, Muchsin menegaskan, secara pribadi, dia tidak membenci Ahok. "Tapi perbuatan Anda, tingkah laku Anda, ucapan Anda, yang sama dengan comberan," ucap Muchsin.

Dia mengatakan ungkapan itu juga disampaikannya saat bersaksi di persidangan dan disaksikan langsung oleh tim kuasa hukumnya. Menurut dia, tak ada tanggapan atas ucapannya tersebut. Namun, kata dia, raut muka Ahok menunjukkan ketidaksukaan mendengar hal itu

Muchsin mengatakan Ahok sempat menyampaikan kepadanya bahwa banyak orang yang tidak suka kepada FPI. "Saya katakan, 'Di dalam persidangan ini juga banyak yang tidak suka dengan Anda (Ahok). Jangan bilang dalam persidangan ini suka dengan Anda, bahkan di Jakarta sendiri yang tidak suka dengan Anda juga banyak'," kata Muchsin mengulang perkataannya dalam persidangan.

Dalam persidangan itu, Muchsin membawa barang bukti berupa buku karangan Ahok berjudul Merubah Indonesia, dua VCD, dan satu unitflashdisk untuk memberatkan Ahok. Dia mengatakan banyak umat Islam yang marah atas perbuatan Ahok yang mengutip Surat Al-Maidah. Sebab, perkataan Ahok di Kepulauan Seribu pada 27 September 2016 itu Muchsin anggap seakan-akan Surat Al-Maidah dijadikan alat berbohong.

Muchsin sendiri mengaku, secara pribadi, sebagai umat Islam, dia marah setelah menonton video perkataan Ahok yang ia unduh dari akun Pemerintah Provinsi DKI di YouTube beberapa waktu lalu. Ia pun menjadikan rekaman video tersebut sebagai dasar untuk melaporkan Ahok ke polisi atas dugaan penodaan agama.

Selain melaporkan atas nama pribadi, Muchsin membuat laporan yang mewakili FPI DKI Jakarta dan atas nama 39 organisasi masyarakat, yang saat itu melapor bersamaan dengannya di Bareskrim Mabes Polri

Novel Hasan jadi Saksi Pertama


Jaksa Penuntut Umum (JPU) menghadirkan Novel Hasan alias Habib Novel. Dalam Sidang, dia menyebutkan Ahok sering melakukan penistaan agama.

Novel merujuk pada buku yang Ahok berjudul "Merubah Indonesia" pada halaman 40 di paragraf pertama, kedua, dan ketiga. Menurut Novel, Ahok sudah menyerang Surat Al-Maidah.

"Jadi ini terbongkar bahwa unsur ketidaksengajaan dalam penyebutan surat Al-Maidah ayat 51 yang Ahok sebutkan sudah terbantahkan dengan data-data yang saya sampaikan," katanya di Gedung Kementerian Pertanian, Ragunan, Jakarta Selatan, Selasa ini, dilaporkan Jurnas.com

Dikemukakan Novel Hasan lagi, sudah jabarkan soal jabatan Ahok dari 2012 ketika mulai menjadi calon wakil gubernur. "Bahwa saat itu dia sudah menyerang Islam. Contohnya ayat suci no, ayat-ayat konstitusi yes, atau ayat-ayat konstitusi di atas ayat suci. Nach itu saya sampaikan. Itu juga yang perlu sebagai masukan buat hakim, jaksa, dan buat bukti juga bahwa ternyata Ahok ini bukan baru sekali lakukan penistaan agama," tuturnya.

Dalam sidang lanjutan Purnama hari ini beragendakan pemeriksaan saksi dari pihak Jaksa Penuntut Umum (JPU). Hasan menjadi saksi perdana yang diperiksa oleh Majelis Hakim Pengadilan Negeri Jakarta Utara, sementara saat ini masih berlangsung pemeriksaan terhadap saksi kedua, yakni Gus Joy Setiawan.

Warta ini dalam proses melengkapi materi..