Sri Handayani, Ibu Syaits Asyam
Sri Handayani, Ibu Syaits Asyam

RiauJOS.com, Jakarta - Kepolisian Resor Karanganyar, Jawa Tengah, membentuk tim investigasi untuk mengusut penyebab meninggalnya tiga mahasiswa pecinta alam (Mapala) Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta dalam kegiatan pendidikan dasar di kawasan Gunung Lawu di Logodringo, Gondosuli, Tawangmangu.

"Tim investigasi sudah berjalan dan sedang meminta keterangan saksi-saksi, sedangkan jumlah korban meninggal menjadi tiga orang," kata Kepala Polres Karanganyar AKBP Ade Safri Simanjuntak di Karanganyar seperti dikutip Riau JOS dari warta CNN Indonesia bersumber dari Antara.

Menurut Ade, belasan saksi sudah diperiksa, termasuk dari keluarga korban. Sementara tim investigasi bergerak ke Yogyakarta untuk meminta keterangan beberapa teman korban yang juga mengikuti diksar di lereng Gunung Lawu Kabupaten Karanganyar.

"Kami sudah meminta keterangan sebanyak 11 saksi, dan kami juga akan meminta keterangan dari pihak UII terkait kegiatan itu," kata Ade Safri.

Polisi juga sedang mengumpulkan sejumlah barang yang bisa dijadikan petunjuk untuk barang bukti.

"Kami juga sudah melakukan olah kejadian perkara, dan mengamankan benda-benda untuk dijadikan barang bukti untuk dikembangkan guna mengungkap penyebab meninggalnya korban," katanya.

Tim investigasi menunggu hasil visum dan autopsi jenazah korban dari rumah sakit untuk mengetahui penyebab korban meninggal, apakah ada unsur penganiayaan atau tidak.

Puluhan mahasiswa UII Yogyakarta sebelumnya dilaporkan menggelar pendidikan dasar di lereng Gunung Lawu Tlogodlingo Tawangmangu Karanganyar, pada 13-20 Janurai 2017.

Tiga korban meninggal dunia akibat peristiwa tersebut, yakni Muhammad Fadhli (20) meninggal akibat Hipotermia saat hendak dibawa ke Puskesmas Tawangmangu, Karanganyar pada Jumat, 20 Januari 2017, Syaits Asyam (19), di Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta, Sabtu, 21 Januari 2017, dan Ilham Nurfadmi Listia Adi (19), di RS Bethesda, Senin dini hari, 23 Januari 2017.

Sumber: CNN Indonesia

Polisi Usut Penyebab Meninggalnya 3 Anggota Mapala UII

Sri Handayani, Ibu Syaits Asyam
Sri Handayani, Ibu Syaits Asyam

RiauJOS.com, Jakarta - Kepolisian Resor Karanganyar, Jawa Tengah, membentuk tim investigasi untuk mengusut penyebab meninggalnya tiga mahasiswa pecinta alam (Mapala) Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta dalam kegiatan pendidikan dasar di kawasan Gunung Lawu di Logodringo, Gondosuli, Tawangmangu.

"Tim investigasi sudah berjalan dan sedang meminta keterangan saksi-saksi, sedangkan jumlah korban meninggal menjadi tiga orang," kata Kepala Polres Karanganyar AKBP Ade Safri Simanjuntak di Karanganyar seperti dikutip Riau JOS dari warta CNN Indonesia bersumber dari Antara.

Menurut Ade, belasan saksi sudah diperiksa, termasuk dari keluarga korban. Sementara tim investigasi bergerak ke Yogyakarta untuk meminta keterangan beberapa teman korban yang juga mengikuti diksar di lereng Gunung Lawu Kabupaten Karanganyar.

"Kami sudah meminta keterangan sebanyak 11 saksi, dan kami juga akan meminta keterangan dari pihak UII terkait kegiatan itu," kata Ade Safri.

Polisi juga sedang mengumpulkan sejumlah barang yang bisa dijadikan petunjuk untuk barang bukti.

"Kami juga sudah melakukan olah kejadian perkara, dan mengamankan benda-benda untuk dijadikan barang bukti untuk dikembangkan guna mengungkap penyebab meninggalnya korban," katanya.

Tim investigasi menunggu hasil visum dan autopsi jenazah korban dari rumah sakit untuk mengetahui penyebab korban meninggal, apakah ada unsur penganiayaan atau tidak.

Puluhan mahasiswa UII Yogyakarta sebelumnya dilaporkan menggelar pendidikan dasar di lereng Gunung Lawu Tlogodlingo Tawangmangu Karanganyar, pada 13-20 Janurai 2017.

Tiga korban meninggal dunia akibat peristiwa tersebut, yakni Muhammad Fadhli (20) meninggal akibat Hipotermia saat hendak dibawa ke Puskesmas Tawangmangu, Karanganyar pada Jumat, 20 Januari 2017, Syaits Asyam (19), di Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta, Sabtu, 21 Januari 2017, dan Ilham Nurfadmi Listia Adi (19), di RS Bethesda, Senin dini hari, 23 Januari 2017.

Sumber: CNN Indonesia