Social Items

Petasan atau bisa dikenal dengan sebutan "mercon"
Petasan atau bisa dikenal dengan sebutan "mercon" [www.tionghoa.info]

RiauJOS.com, Editorial - Hingar bingar perayaan Tahun Baru 2017, masih terdengar sampai editorial ini ditulis.. Dari balik jendela kamar ruang editorial Riau JOS, terlihat gemerlap cahaya warna-warni dengan dentuman suara yang tak berirama. Suara petasan berdentum, tak beraturan, sebagai penanda tahun 2017 sudah dimulai, dan telah berjalan meninggalkan tahun 2016.

Semua warga, sibuk dengan perayaan masing-masing, yang punya duit.. makan-makan, yang punya kendaraan bisa jalan-jalan, yang punya angan bisa membayangkan setahun yang telah dilalui, sedangkan semua media sibuk meliput betapa hingar bingar perayaan tahun baru 2017 begitu ramai, dengan aneka program unggulan masing-masing si empunya media.

Isu yang beredar beredar baru-baru ini, media sosial sedang heboh dengan disebarkannya isu gempuran pekerja dari negera China. Pemerintah terus menangkal isu-isu yang berkembang, bahwa pekerja asal China lebih sedikit dari TKI yang ada di negara China sendiri.

Tentang Tenaga Kerja China, Jokowi Pura-Pura Amnesia


Sebuah media online, RMOL, Kamis, 29 Desember 2016 mewartakan, bahwa Pemerintahan Joko Widodo mulai berlagak pikun, pura-pura amnesia dan buta. Berlagak tidak tahu penyebab mengapa tenaga kerja asing (TKA) China menyerbu masuk ke Indonesia baik secara legal maupun ilegal.

Bukankah potensi membanjirnya jutaan TKA China merupakan konsekuensi beberapa hal. Yaitu perdagangan bebas ASEAN dengan China melalui CAFTA; investasi China dalam berbagai mega proyek listrik, kereta cepat, pertambangan dan berbagai proyek infrastruktur lainnya yang mensyaratkan mempekerjakan tenaga kerja asing dari China; dan banyaknya barang-barang impor dari China yang mendorong perdagangan pedagang dari negara tersebut langsung menjalankan kegiatannya di Indonesia.

Biasanya sebelumnya barang dari China dijual oleh pedagang Tionghoa di dalam negeri. Saat ini, bahkan banyak pedagang yang berasal dari China yang langsung menyewa dan membeli ruko untuk menjual sendiri barang barang produk China.

Potensi membanjirnya WNA China dan TKA China juga didukung dan disumbang  oleh kebijakan internal Indonesia yang dibuat di era Pemerintahan Joko Widodo. Diantaranya kebijakan pemerintahan Joko Widodo untuk membebaskan visa kepada 170-an negara; kebijakan pemerintahan Joko Widodo untuk tidak mewajibkan bahasa Indonesia bagi tenaga kerja asing; kebijakan pemerintahan Joko Widodo untuk membolehkan pendirian Organisasi Masyarakat (ORMAS) oleh warga negara asing; dan kebijakan pemerintahan Joko Widodo untuk  mengizinkan warga negara asing dalam memiliki property, termasuk rumah tinggal, di Indonesia,

Faktor lain adalah berkaitan dengan birokrasi yang lemah dan korup serta tidak bertanggung jawab. Hal ini mengakibatkan terbukanya peluang masuknya pekerja ilegal, imigran gelap dengan cara menyuap birokrasi; perdagangan narkoba, prostitusi dan kegiatan ilegal lainnya yang dilakukan orang asing di Indonesia; dan kaki tangan kekuatan asing yang duduk di dalam pemerintahan yang mengambil keuntungan atas kelemahan sistem negara.

Demikian sedikit gambaran terkait kekhawatiran adanya serbuan jutaan pekerja asing yang akan menggusur nasib dari para pekerja bangsa kita sendiri.

Setelah industri nasional kita tergusur oleh gempuran produk impor industri China, kini pekerja atau buruh kita harus menerima nasib digusur oleh TKA adalah sebuah kekuatiran yang masuk akal.

Kini, jangankan menjadi tuan di negeri sendiri, bahkan hak untuk menjadi kuli di dalam negeri sendiri saja digusur oleh impor kuli dari China.

Kita tidak anti terhadap asing, tapi dengan sistem negara yang lemah dan kepemimpinan nasional yang tak berdaya dan tak bermoral, serbuan TKA China dan asing lainnya sangat membahayakan masa depan bangsa Indonesia, dapat mengubah Indonesia menjadi surga kejahatan transnasional dan medan pertarungan ekonomi dan politik antara berbagai kekuatan negara.

Semoga membantu kita untuk tetap eling lan waspodo, ingat dan waspada terhadap datangnya ancaman yang sedang mengurung kita.

Budaya Petasan (Mercon)


Lantas, bagaimana dengan budaya Mercon, yang sedang digandrungi warga Indonesia, dan juga warga di belahan dunia lain? Bukankah ini juga gempuran dari sisi Budaya oleh negera China?

Mengutip dari Wikipedia.org, Sejarah petasan bermula dari Tiongkok. Sekitar abad ke-9, seorang juru masak secara tak sengaja mencampurtiga bahan bubuk hitam (black powder) yakni garam peter atau kalium nitrat, belerang (sulfur), dan arang dari kayu (charcoal) yang berasal dari dapurnya. Ternyata campuran ketiga bahan itu mudah terbakar.

Jika ketiga bahan tersebut dimasukan ke dalam sepotong bambu yang ada sumbunya yang lalu dibakar, bambu tersebut akan meletus dan mengeluarkan suara ledakan keras yang dipercaya dapat mengusir roh jahat. Dalam perkembangannya, petasan jenis ini dipercaya dipakai juga dalam perayaan pernikahan, kemenangan perang, peristiwa gerhana bulan, dan upacara-upacara keagamaan.

Pada zaman Dinasti Song, sebuah pabrik petasan didirikan. Kemudian menjadi dasar dari pembuatan kembang api karena lebih menitikberatkan pada warna-warni dan bentuk pijar-pijar api di angkasa hingga akhirnya dibedakan. Tradisi petasan lalu menyebar ke seluruh pelosok dunia.

Di Indonesia, tradisi petasan dibawa sendiri oleh orang-orang Tiongkok. Seorang pengamat sejarah Betawi, Alwi Shahab meyakini bahwa tradisi pernikahan orang Betawi yang menggunakan petasan untuk memeriahkan suasana dengan meniru orang Tionghoa yang bermukim di sekitar mereka.

Semua akan Baik, Dimulai dari Diri Sendiri


Riau JOS meyakini, bahwa kebaikan akan selalu menang melawan kebatilan, sama juga dengan gempuran TKA dari China, untuk menjadi seorang pekerja, dibutuhkan kompetensi dibidangnya, angkatan kerja warga Indonesia, perlu diberdayakan dengan baik, ini memang agak merepotkan, karena disemua lini, saat ini sedang diperbaikai. Satu saja tak beres, akan mengganggu lini lainnya.

Seperti kata para ulama yang berkhotbah dimana saja, tidak perlu jauh-jauh untuk memperbaiki keadaan ini, gempuran TKI dan budaya luar yang kita ragu-ragukan kebaikannya bagi bangsa Indonesia, cukup memperbaiki dimulai dari diri sendiri, kemudian keluarga, lalu tetangga, tempat kita bekerja, dan kemudian pergaulan kita dengan masyarakat sekitar, juga satu lagi, pergaulan kita di media sosial, perlu diarahkan ke hal yang produktif, bukan hanya memproduksi isu-isu strategis untuk kepentingan diri sendiri dan kelompok.

Mercon Tiongkok dan Tahun Baru 2017

Petasan atau bisa dikenal dengan sebutan "mercon"
Petasan atau bisa dikenal dengan sebutan "mercon" [www.tionghoa.info]

RiauJOS.com, Editorial - Hingar bingar perayaan Tahun Baru 2017, masih terdengar sampai editorial ini ditulis.. Dari balik jendela kamar ruang editorial Riau JOS, terlihat gemerlap cahaya warna-warni dengan dentuman suara yang tak berirama. Suara petasan berdentum, tak beraturan, sebagai penanda tahun 2017 sudah dimulai, dan telah berjalan meninggalkan tahun 2016.

Semua warga, sibuk dengan perayaan masing-masing, yang punya duit.. makan-makan, yang punya kendaraan bisa jalan-jalan, yang punya angan bisa membayangkan setahun yang telah dilalui, sedangkan semua media sibuk meliput betapa hingar bingar perayaan tahun baru 2017 begitu ramai, dengan aneka program unggulan masing-masing si empunya media.

Isu yang beredar beredar baru-baru ini, media sosial sedang heboh dengan disebarkannya isu gempuran pekerja dari negera China. Pemerintah terus menangkal isu-isu yang berkembang, bahwa pekerja asal China lebih sedikit dari TKI yang ada di negara China sendiri.

Tentang Tenaga Kerja China, Jokowi Pura-Pura Amnesia


Sebuah media online, RMOL, Kamis, 29 Desember 2016 mewartakan, bahwa Pemerintahan Joko Widodo mulai berlagak pikun, pura-pura amnesia dan buta. Berlagak tidak tahu penyebab mengapa tenaga kerja asing (TKA) China menyerbu masuk ke Indonesia baik secara legal maupun ilegal.

Bukankah potensi membanjirnya jutaan TKA China merupakan konsekuensi beberapa hal. Yaitu perdagangan bebas ASEAN dengan China melalui CAFTA; investasi China dalam berbagai mega proyek listrik, kereta cepat, pertambangan dan berbagai proyek infrastruktur lainnya yang mensyaratkan mempekerjakan tenaga kerja asing dari China; dan banyaknya barang-barang impor dari China yang mendorong perdagangan pedagang dari negara tersebut langsung menjalankan kegiatannya di Indonesia.

Biasanya sebelumnya barang dari China dijual oleh pedagang Tionghoa di dalam negeri. Saat ini, bahkan banyak pedagang yang berasal dari China yang langsung menyewa dan membeli ruko untuk menjual sendiri barang barang produk China.

Potensi membanjirnya WNA China dan TKA China juga didukung dan disumbang  oleh kebijakan internal Indonesia yang dibuat di era Pemerintahan Joko Widodo. Diantaranya kebijakan pemerintahan Joko Widodo untuk membebaskan visa kepada 170-an negara; kebijakan pemerintahan Joko Widodo untuk tidak mewajibkan bahasa Indonesia bagi tenaga kerja asing; kebijakan pemerintahan Joko Widodo untuk membolehkan pendirian Organisasi Masyarakat (ORMAS) oleh warga negara asing; dan kebijakan pemerintahan Joko Widodo untuk  mengizinkan warga negara asing dalam memiliki property, termasuk rumah tinggal, di Indonesia,

Faktor lain adalah berkaitan dengan birokrasi yang lemah dan korup serta tidak bertanggung jawab. Hal ini mengakibatkan terbukanya peluang masuknya pekerja ilegal, imigran gelap dengan cara menyuap birokrasi; perdagangan narkoba, prostitusi dan kegiatan ilegal lainnya yang dilakukan orang asing di Indonesia; dan kaki tangan kekuatan asing yang duduk di dalam pemerintahan yang mengambil keuntungan atas kelemahan sistem negara.

Demikian sedikit gambaran terkait kekhawatiran adanya serbuan jutaan pekerja asing yang akan menggusur nasib dari para pekerja bangsa kita sendiri.

Setelah industri nasional kita tergusur oleh gempuran produk impor industri China, kini pekerja atau buruh kita harus menerima nasib digusur oleh TKA adalah sebuah kekuatiran yang masuk akal.

Kini, jangankan menjadi tuan di negeri sendiri, bahkan hak untuk menjadi kuli di dalam negeri sendiri saja digusur oleh impor kuli dari China.

Kita tidak anti terhadap asing, tapi dengan sistem negara yang lemah dan kepemimpinan nasional yang tak berdaya dan tak bermoral, serbuan TKA China dan asing lainnya sangat membahayakan masa depan bangsa Indonesia, dapat mengubah Indonesia menjadi surga kejahatan transnasional dan medan pertarungan ekonomi dan politik antara berbagai kekuatan negara.

Semoga membantu kita untuk tetap eling lan waspodo, ingat dan waspada terhadap datangnya ancaman yang sedang mengurung kita.

Budaya Petasan (Mercon)


Lantas, bagaimana dengan budaya Mercon, yang sedang digandrungi warga Indonesia, dan juga warga di belahan dunia lain? Bukankah ini juga gempuran dari sisi Budaya oleh negera China?

Mengutip dari Wikipedia.org, Sejarah petasan bermula dari Tiongkok. Sekitar abad ke-9, seorang juru masak secara tak sengaja mencampurtiga bahan bubuk hitam (black powder) yakni garam peter atau kalium nitrat, belerang (sulfur), dan arang dari kayu (charcoal) yang berasal dari dapurnya. Ternyata campuran ketiga bahan itu mudah terbakar.

Jika ketiga bahan tersebut dimasukan ke dalam sepotong bambu yang ada sumbunya yang lalu dibakar, bambu tersebut akan meletus dan mengeluarkan suara ledakan keras yang dipercaya dapat mengusir roh jahat. Dalam perkembangannya, petasan jenis ini dipercaya dipakai juga dalam perayaan pernikahan, kemenangan perang, peristiwa gerhana bulan, dan upacara-upacara keagamaan.

Pada zaman Dinasti Song, sebuah pabrik petasan didirikan. Kemudian menjadi dasar dari pembuatan kembang api karena lebih menitikberatkan pada warna-warni dan bentuk pijar-pijar api di angkasa hingga akhirnya dibedakan. Tradisi petasan lalu menyebar ke seluruh pelosok dunia.

Di Indonesia, tradisi petasan dibawa sendiri oleh orang-orang Tiongkok. Seorang pengamat sejarah Betawi, Alwi Shahab meyakini bahwa tradisi pernikahan orang Betawi yang menggunakan petasan untuk memeriahkan suasana dengan meniru orang Tionghoa yang bermukim di sekitar mereka.

Semua akan Baik, Dimulai dari Diri Sendiri


Riau JOS meyakini, bahwa kebaikan akan selalu menang melawan kebatilan, sama juga dengan gempuran TKA dari China, untuk menjadi seorang pekerja, dibutuhkan kompetensi dibidangnya, angkatan kerja warga Indonesia, perlu diberdayakan dengan baik, ini memang agak merepotkan, karena disemua lini, saat ini sedang diperbaikai. Satu saja tak beres, akan mengganggu lini lainnya.

Seperti kata para ulama yang berkhotbah dimana saja, tidak perlu jauh-jauh untuk memperbaiki keadaan ini, gempuran TKI dan budaya luar yang kita ragu-ragukan kebaikannya bagi bangsa Indonesia, cukup memperbaiki dimulai dari diri sendiri, kemudian keluarga, lalu tetangga, tempat kita bekerja, dan kemudian pergaulan kita dengan masyarakat sekitar, juga satu lagi, pergaulan kita di media sosial, perlu diarahkan ke hal yang produktif, bukan hanya memproduksi isu-isu strategis untuk kepentingan diri sendiri dan kelompok.