Syaits Asyam, 20 tahun, salah satu korban kekerasan dalam pendidikan dasar mahasiswa pencinta alam Unisi Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta
Syaits Asyam, 20 tahun, salah satu korban kekerasan dalam pendidikan dasar mahasiswa pencinta alam Unisi Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta

RiauJOS.com, Jakarta - Syaits Asyam, 20 tahun, salah satu korban kekerasan dalam pendidikan dasar mahasiswa pencinta alam Unisi Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta sempat menyebut nama seniornya kepada ibunya sebelum meninggal di Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta pada 21 Januari 2017.

Almarhum Syaits Asyam, mahasiswa Teknik Industri dari Sleman mengaku kepada ibunya, Sri Handayani, 46 tahun, bagaimana ia mengalami sisksaan selama Diksar Mapala UII itu. Ia tak bisa melupakan bagaimana Syaits Asyam dengan sesak napas menuturkan siksaan yang dialaminya selama menjalani Pendidikan Dasar The Great Camping (TGC) Mahasiswa Pecinta Alam Unisi Universitas Islam Indonesia (UII) yang membuat anak lelakinya itu meninggal, kemudian.

Sebelum nyawanya melayang, Syaits mengaku diinjak dan punggungnya disabet rotan sebanyak 10 kali. Di waktu yang lain, kepalanya diminta mengangkat air dalam ember dengan lehernya. “Dia juga menyebut nama seniornya mahasiswa UII yang melakukannya,” kata Sri.

Saat disebutkan nama Yudi, nama seorang panitia Diksar Mapala UII yang konon disebutkan Syaits kepada ibunya sebelum wafat, Rektor UII, Harsoyo mengatakan, "Ya ada nama itu, tapi masih dalam proses pemeriksaan seperti lainnya," katanya, Senin 23 Januari 2017.

Di Diksar Mapala UII ini, keluarga tiga mahasiswa yang meregang nyawa itu meyakini almarhum Syaits, Ilham Nurpadmy Listia Adi dan Muhammad Fadhli, meninggal diduga karena kekerasan dalam kegiatan itu.

Kepala Polres Karanganyar Ajun Komisaris Besar Polisi Ade Safri Simanjuntak di Karanganyar, Rabu, 25 Januari 2017 mengatakan tim penyidik sebelumnya memeriksa 11 saksi, sedangkan pada Rabu ini pemeriksaan saksi bertambah 10 orang lagi untuk mengungkap kasus tersebut.

"Kami targetkan penyidikan kasus ini, dapat diselesailan pekan depan. Tersangka diduga ada lebih dari satu orang," katanya.

Sumber: Tempo

Kasus Diksar Mapala UII Korban Sebut Nama Senior Sebelum Wafat  

Syaits Asyam, 20 tahun, salah satu korban kekerasan dalam pendidikan dasar mahasiswa pencinta alam Unisi Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta
Syaits Asyam, 20 tahun, salah satu korban kekerasan dalam pendidikan dasar mahasiswa pencinta alam Unisi Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta

RiauJOS.com, Jakarta - Syaits Asyam, 20 tahun, salah satu korban kekerasan dalam pendidikan dasar mahasiswa pencinta alam Unisi Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta sempat menyebut nama seniornya kepada ibunya sebelum meninggal di Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta pada 21 Januari 2017.

Almarhum Syaits Asyam, mahasiswa Teknik Industri dari Sleman mengaku kepada ibunya, Sri Handayani, 46 tahun, bagaimana ia mengalami sisksaan selama Diksar Mapala UII itu. Ia tak bisa melupakan bagaimana Syaits Asyam dengan sesak napas menuturkan siksaan yang dialaminya selama menjalani Pendidikan Dasar The Great Camping (TGC) Mahasiswa Pecinta Alam Unisi Universitas Islam Indonesia (UII) yang membuat anak lelakinya itu meninggal, kemudian.

Sebelum nyawanya melayang, Syaits mengaku diinjak dan punggungnya disabet rotan sebanyak 10 kali. Di waktu yang lain, kepalanya diminta mengangkat air dalam ember dengan lehernya. “Dia juga menyebut nama seniornya mahasiswa UII yang melakukannya,” kata Sri.

Saat disebutkan nama Yudi, nama seorang panitia Diksar Mapala UII yang konon disebutkan Syaits kepada ibunya sebelum wafat, Rektor UII, Harsoyo mengatakan, "Ya ada nama itu, tapi masih dalam proses pemeriksaan seperti lainnya," katanya, Senin 23 Januari 2017.

Di Diksar Mapala UII ini, keluarga tiga mahasiswa yang meregang nyawa itu meyakini almarhum Syaits, Ilham Nurpadmy Listia Adi dan Muhammad Fadhli, meninggal diduga karena kekerasan dalam kegiatan itu.

Kepala Polres Karanganyar Ajun Komisaris Besar Polisi Ade Safri Simanjuntak di Karanganyar, Rabu, 25 Januari 2017 mengatakan tim penyidik sebelumnya memeriksa 11 saksi, sedangkan pada Rabu ini pemeriksaan saksi bertambah 10 orang lagi untuk mengungkap kasus tersebut.

"Kami targetkan penyidikan kasus ini, dapat diselesailan pekan depan. Tersangka diduga ada lebih dari satu orang," katanya.

Sumber: Tempo