Social Items

 Superbug alias kuman atau bakteri ampuh yang tahan terhadap antibiotik menewaskan seorang perempuan Amerika Serikat (AS) [reuters]

RiauJOS.com, Amerika SerikatSuperbug alias kuman atau bakteri ampuh yang tahan terhadap antibiotik menewaskan seorang perempuan Amerika Serikat (AS).

Korban superbug yang namanya tidak disebutkan itu berusia 70 tahun dan kali pertama terinfeksi di India. Sebelum pulang ke AS pada Agustus lalu, dia menetap bertahun-tahun di India.

Perempuan tersebut meninggal pada awal September lalu. Ketika itu, pihak berwenang tidak langsung memublikasikan penyebab kematiannya. Tapi, pemerintah menugasi para pakar kesehatan untuk menginvestigasi kasus langka itu.

Kamis, 12 Januari 2017, pemerintah merilis hasil investigasi tersebut, lalu menyebarluaskan kepada media pada akhir pekan.

”Penting bagi kita semua untuk memperhatikan kasus tersebut. Infeksi langka yang berdampak fatal seperti itu bisa terjadi kapan saja. Memang masih langka, tapi sangat mungkin terjadi,” kata Direktur Epidemiologi dan Fasilitas Kesehatan di Badan Kesehatan Distrik Washoe County Randall Todd. Dia menyatakan, kasus tersebut merupakan yang pertama di Negeri Paman Sam.

”Kami pernah menangani kasus bakteri yang resistan terhadap obat seperti itu. Tapi, baru kali ini kami mendapati bakteri yang resistan terhadap semua jenis antibiotik di rumah sakit,” paparnya. Bakteri yang menggerogoti kesehatan perempuan Nevada itu resistan terhadap 26 jenis antibiotik di seantero AS. Akibatnya, infeksi yang diderita kian parah hingga menimbulkan sepsis.

Dalam waktu kurang dari sebulan, bakteri carbapenem-resistant Enterobacteriaceae (CRE) yang belakangan diketahui berjenis Klebsiella pneumoniae itu membuat infeksi di tubuh pasien kian parah. Todd menjelaskan, bakteri tersebut tidak bisa dilumpuhkan dengan antibiotik jenis apa pun. Baik 14 antibiotik di rumah sakit atau 12 antibiotik lain yang dikirim dari seluruh AS.

Badan Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS alias Centers for Disease Control and Prevention (CDC) menyebut India sebagai negara dengan jumlah bakteri resistan lebih banyak ketimbang AS. Diduga, perempuan itu terinfeksi bakteri saat menjalani perawatan pertama beberapa tahun lalu. Saat itu dia mengalami patah tulang paha kanan dan terpaksa menginap di rumah sakit beberapa hari.

Tak lama setelah menjalani perawatan patah tulang, dia kembali ke rumah sakit karena muncul infeksi di tulang paha dan pinggang. Dua tahun setelah itu, dia keluar masuk rumah sakit India untuk merawat infeksi. ”Saat kembali ke Nevada, infeksi sudah parah. Kami langsung mengisolasinya dan menugasi staf khusus untuk merawat. Kami harus memastikan tak ada yang tertular,” ujar jubir rumah sakit di Reno.

David Weiss dari Emory Antibiotic Resistance Center di Kota Atlanta, Negara Bagian Georgia, menuturkan bahwa kematian perempuan Nevada tersebut menjadi pukulan bagi para pakar kesehatan. Meskipun sudah lama berhadapan dengan superbug, hingga sekarang, AS belum mampu mencegahnya. ”Itu adalah masalah global. Anda bisa terinfeksi di negara lain dan baru mendapatkan perawatan setelah pulang,” pungkasnya.

Bakteri Berbahaya Tahan 26 Antibiotik

 Superbug alias kuman atau bakteri ampuh yang tahan terhadap antibiotik menewaskan seorang perempuan Amerika Serikat (AS) [reuters]

RiauJOS.com, Amerika SerikatSuperbug alias kuman atau bakteri ampuh yang tahan terhadap antibiotik menewaskan seorang perempuan Amerika Serikat (AS).

Korban superbug yang namanya tidak disebutkan itu berusia 70 tahun dan kali pertama terinfeksi di India. Sebelum pulang ke AS pada Agustus lalu, dia menetap bertahun-tahun di India.

Perempuan tersebut meninggal pada awal September lalu. Ketika itu, pihak berwenang tidak langsung memublikasikan penyebab kematiannya. Tapi, pemerintah menugasi para pakar kesehatan untuk menginvestigasi kasus langka itu.

Kamis, 12 Januari 2017, pemerintah merilis hasil investigasi tersebut, lalu menyebarluaskan kepada media pada akhir pekan.

”Penting bagi kita semua untuk memperhatikan kasus tersebut. Infeksi langka yang berdampak fatal seperti itu bisa terjadi kapan saja. Memang masih langka, tapi sangat mungkin terjadi,” kata Direktur Epidemiologi dan Fasilitas Kesehatan di Badan Kesehatan Distrik Washoe County Randall Todd. Dia menyatakan, kasus tersebut merupakan yang pertama di Negeri Paman Sam.

”Kami pernah menangani kasus bakteri yang resistan terhadap obat seperti itu. Tapi, baru kali ini kami mendapati bakteri yang resistan terhadap semua jenis antibiotik di rumah sakit,” paparnya. Bakteri yang menggerogoti kesehatan perempuan Nevada itu resistan terhadap 26 jenis antibiotik di seantero AS. Akibatnya, infeksi yang diderita kian parah hingga menimbulkan sepsis.

Dalam waktu kurang dari sebulan, bakteri carbapenem-resistant Enterobacteriaceae (CRE) yang belakangan diketahui berjenis Klebsiella pneumoniae itu membuat infeksi di tubuh pasien kian parah. Todd menjelaskan, bakteri tersebut tidak bisa dilumpuhkan dengan antibiotik jenis apa pun. Baik 14 antibiotik di rumah sakit atau 12 antibiotik lain yang dikirim dari seluruh AS.

Badan Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS alias Centers for Disease Control and Prevention (CDC) menyebut India sebagai negara dengan jumlah bakteri resistan lebih banyak ketimbang AS. Diduga, perempuan itu terinfeksi bakteri saat menjalani perawatan pertama beberapa tahun lalu. Saat itu dia mengalami patah tulang paha kanan dan terpaksa menginap di rumah sakit beberapa hari.

Tak lama setelah menjalani perawatan patah tulang, dia kembali ke rumah sakit karena muncul infeksi di tulang paha dan pinggang. Dua tahun setelah itu, dia keluar masuk rumah sakit India untuk merawat infeksi. ”Saat kembali ke Nevada, infeksi sudah parah. Kami langsung mengisolasinya dan menugasi staf khusus untuk merawat. Kami harus memastikan tak ada yang tertular,” ujar jubir rumah sakit di Reno.

David Weiss dari Emory Antibiotic Resistance Center di Kota Atlanta, Negara Bagian Georgia, menuturkan bahwa kematian perempuan Nevada tersebut menjadi pukulan bagi para pakar kesehatan. Meskipun sudah lama berhadapan dengan superbug, hingga sekarang, AS belum mampu mencegahnya. ”Itu adalah masalah global. Anda bisa terinfeksi di negara lain dan baru mendapatkan perawatan setelah pulang,” pungkasnya.