Turn Back HOAX [telset.id]

RiauJOS.com, Editorial - Senin, 19 Desember 2016. Dewasa ini, kita sangat disibukan dengan semakin produktifnya para pembuat kabar bohong, dalam bahasa keren dinamai "Hoax". Pembuat kabar hoax, mendapatkan keuntungan fantastis dari kelihaiannya memanfaatkan kondisi psikologi rata-rata masyarakat Indonesia, yang mudah sekali terpancing kabar yang menyulut emosi.

Presiden Joko Widodo sadar kenyataan ini, bahwa hoax membuat kita semua kurang produktif, karena waktu habis untuk mengusut penyebar kabar hoax, dan mengklarifikasi kebenarannya.

Menangkap para pembuat dan penyebar kabar hoax, tidak akan menuntaskan persoalan, karena memang pembaca awam, punya tipikal melihat gambar dan deskripsi gambar saja. Bisa jadi, semua ini berkaitan dengan minat baca di Indonesia yang masih tertinggal dengan negara maju.

Di kenyataan, banyak sekali pembaca, hanya membaca judul, kemudian bereaksi tanpa menuntaskan bacaannya. Bahkan Presiden Joko Widodo, pernah bilang tidak terlalu serius membaca berita, tapi lebih berminat membaca komentar dari isi berita.

Hal ini membuktikan, bahwa isi berita kurang bermakna, dan komentar-komentar pemberitaan lebih nyata untuk melihat kenyataan kondisi psikologis masyarakat pada umumnya, yang gampang sekali tersulut emosi, hingga menimbulkan perdebatan panjang dalam kolom komentar.

Persoalannya adalah, sampai kapan bangsa ini terus sengsara karena badai hoax? tidak berkemajuan, karena sibuk mengisi kolom komentar pemberitaan dalam perdebatan panjang dan tak berkesudahan.

Berdasarkan catatan Riau JOS, pemerintah saat ini sedang giat meliterasi semua warga masyarakat. Inipun belum tuntas menyelesaikan persoalan badai hoax. Bahkan, akhir-akhir ini, sudah banyak korban badai hoax. Energi, dan biaya habis untuk menepis samudera hoax.

Jutaaan artikel tentang bagaimana mendeteksi kabar hoax, juga belum ampuh. Lantas, apa langkah kita untuk melewati badai hoax ini?.

Kasus terakhir yang santer terdengar, Eko Patrio terseret-seret karena diduga membuat cuitan di twitter, dan ternyata bukan dia si tukang cuit. Sekarang ini, pihak kepolisian masih sibuk mencari para pembuat berita dan penyebar hoax.

Sampai kapan badai hoax akan berakhir? Riau JOS menduga, jika badai hoax belum sirna, adalah pertanda bahwa pembaca terlanjur suka dan menikmati hoax sebagai kebutuhan primer.

Sengsara, Menepis Badai Hoax

Turn Back HOAX [telset.id]

RiauJOS.com, Editorial - Senin, 19 Desember 2016. Dewasa ini, kita sangat disibukan dengan semakin produktifnya para pembuat kabar bohong, dalam bahasa keren dinamai "Hoax". Pembuat kabar hoax, mendapatkan keuntungan fantastis dari kelihaiannya memanfaatkan kondisi psikologi rata-rata masyarakat Indonesia, yang mudah sekali terpancing kabar yang menyulut emosi.

Presiden Joko Widodo sadar kenyataan ini, bahwa hoax membuat kita semua kurang produktif, karena waktu habis untuk mengusut penyebar kabar hoax, dan mengklarifikasi kebenarannya.

Menangkap para pembuat dan penyebar kabar hoax, tidak akan menuntaskan persoalan, karena memang pembaca awam, punya tipikal melihat gambar dan deskripsi gambar saja. Bisa jadi, semua ini berkaitan dengan minat baca di Indonesia yang masih tertinggal dengan negara maju.

Di kenyataan, banyak sekali pembaca, hanya membaca judul, kemudian bereaksi tanpa menuntaskan bacaannya. Bahkan Presiden Joko Widodo, pernah bilang tidak terlalu serius membaca berita, tapi lebih berminat membaca komentar dari isi berita.

Hal ini membuktikan, bahwa isi berita kurang bermakna, dan komentar-komentar pemberitaan lebih nyata untuk melihat kenyataan kondisi psikologis masyarakat pada umumnya, yang gampang sekali tersulut emosi, hingga menimbulkan perdebatan panjang dalam kolom komentar.

Persoalannya adalah, sampai kapan bangsa ini terus sengsara karena badai hoax? tidak berkemajuan, karena sibuk mengisi kolom komentar pemberitaan dalam perdebatan panjang dan tak berkesudahan.

Berdasarkan catatan Riau JOS, pemerintah saat ini sedang giat meliterasi semua warga masyarakat. Inipun belum tuntas menyelesaikan persoalan badai hoax. Bahkan, akhir-akhir ini, sudah banyak korban badai hoax. Energi, dan biaya habis untuk menepis samudera hoax.

Jutaaan artikel tentang bagaimana mendeteksi kabar hoax, juga belum ampuh. Lantas, apa langkah kita untuk melewati badai hoax ini?.

Kasus terakhir yang santer terdengar, Eko Patrio terseret-seret karena diduga membuat cuitan di twitter, dan ternyata bukan dia si tukang cuit. Sekarang ini, pihak kepolisian masih sibuk mencari para pembuat berita dan penyebar hoax.

Sampai kapan badai hoax akan berakhir? Riau JOS menduga, jika badai hoax belum sirna, adalah pertanda bahwa pembaca terlanjur suka dan menikmati hoax sebagai kebutuhan primer.