Kepedihan wanita dan anak-anak pengungsi Rohingya [www.arrahmah.com]
 
Teraniaya secara kasat mata bukan berarti putus asa. Asalkan masih ada keyakinan, semangat, dan harapan yang tertanam kuat di dalam hati pihak yang terzalimi

RiauJOS.com, Spiritual - Doa orang teraniaya dan terzalimi dalam Al-Qur’an yang penuh nuansa dendam dan kebencian, tidak akan lebih baik dari doa meminta kebaikan yang akan lebih berguna untuk Anda dalam jangka panjang.

Teraniaya atau tidak, tergantung pada perspekstif yang Anda pakai sendiri-sendiri. Sering kita merasa bahwa diri kita adalah pihak yang dirugikan, sementara bersama dengan itu sebenarnya kita juga menyakiti hati orang lain. Karena itulah, yang perlu dimiliki oleh semua manusia yang hidup bersama banyak orang, kita harus tahu bagaimana menerima pendapat orang lain dan mampu menempatkan diri. 

Memang ada hadist dan ayat yang secara tersirat menunjukkan jika doa orang teraniaya sebenarnya lebih manjur terkabulkan dibandingkan dengan doa orang biasa. Namun tentu hal ini tidak bisa menjadi sarana balas dendam antara Anda dan orang lain.

Doa orang teraniaya dan terzalimi Dalam Al-Qur’an dapat kita lihat dalam Surat An-Naml Ayat 62.

أَمَّنْ يُجِيبُ الْمُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ وَيَكْشِفُ السُّوءَ وَيَجْعَلُكُمْ خُلَفَاءَ الأرْضِ أَإِلَهٌ مَعَ اللَّهِ قَلِيلا مَا تَذَكَّرُونَ

Artinya : “Atau siapakah yang memperkenankan (do’a) orang yang dalam kesulitan, apabila ia berdo’a kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan, dan yang menjadikan kamu (manusia) sebagai khalifah di bumi?. Apakah di samping Allah ada ilah (yang lain)?. Amat sedikitlah kamu mengingat-ingat(-Nya).” – (QS.27:62)

Teraniaya itu tidak mudah teraniaya, sebenarnya mengacu pada keadaan pada saat seseorang benar-benar tidak bisa melakukan apapun untuk melindungi dirinya sementara ditekan oleh orang lain. Seorang teraniaya yang tangguh adalah manusia yang tidak merasa dirinya terzalimi meskipun sebenarnya dalam keadaan seperti itu. 

Orang-orang seperti ini hanyalah mereka yang mampu mengendalikan rasa sakit sedemikian rupa, bahkan mengubah perspektif masalah yang sedang dia hadapi agar tidak sampai mempengaruhi keadaan dalam jiwanya.

Jadi, jangan mudah mengatakan bahwa Anda adalah seorang yang sedang teraniaya. Apalagi jika sampai Anda menyimpan dendam dengan menyatakan pada orang lain bahwa Anda adalah yang teraniaya, maka dia harus berhati-hati karena doa orang teraniaya sulit tidak dikabulkan. 

Bagaimana jika percekcokan antara Anda dan dia ternyata menimbulkan posisi saling teraniaya? Artinya, kedua belah pihak merasa tersakiti dan tidak tahu jalan keluar apa yang harus dilewati selain saling menyimpan dendam.

Allah SWT telah berfirman dalam Surat An-Nisa ayat 148:

لا يحب الله الجهر بالسوء من القول إلا من ظلم وكان الله سميعا عليما

Artinya : “Allah SWT tidak suka seseorang mengatakan sesuatu yang buruk kepada seseorang dengan terang-terangan melainkan orang yang dizalimi maka dia boleh menceritakan kezaliman tersebut, dan Allah SWT itu maha mendengar dan maha mengetahui.” ( 148 : an-Nisa)

Jika masalahnya seperti ini, maka siapa yang pertama kali mampu membuka kembali hubungan tali komunikasi adalah pemenangnya. Iya, karena selain berhasil melewati emosi, dia juga telah berhasil mengendalikan diri untuk mengabaikan rasa sakit yang dirasakan. Namun memang pada kenyataannya, keberadaan orang semacam ini tidak bisa ditemukan dengan mudah. Bisa jadi diantara seribu manusia hanya ada segelintir mereka yang mampu melakukannya. Teraniaya adalah keadaan, dan dengan mengendalikan keadaan itulah Anda bisa melewatinya.

Cara Mengendalikan Keadaan Teraniaya


Bagaimana cara mengendalikan keadaan teraniaya? Apalagi jika posisi yang Anda diami adalah pihak di bawah yang kurang memiliki pengaruh dan kuasa. Keadaan terzalimi bukan hanya berhubungan dengan posisi Anda di luar atau dalam pandangan orang lain, namun justru lebih berpacu pada keadaan dalam diri Anda sendiri. 

Bukankah kita sering melihat berita Muslim Palestina yang tetap bangkit meskipun terus menerus dianiaya? Jika tidak mampu memberi dukungan pada dirinya sendiri, maka bukan bangkit, bisa jadi mereka justru putus asa.

Ya, teraniaya secara kasat mata bukan berarti putus asa. Asalkan masih ada keyakinan, semangat, dan harapan yang tertanam kuat di dalam hati pihak yang terzalimi, maka memang sudah sewajarnya jika cepat atau lambat mereka akan tetap bangkit dari keterpurukan, lagi dan lagi. Selain itu, harga diri dan hasil yang didapatkan pihak teraniaya setelah berjuang terus menerus akan terasa lebih berarti dibandingkan seorang yang mendapatkan keinginannya dengan mudah. Masihkah Anda merasa sedang teraniaya?

Menolak keadaan teraniaya juga tidak berarti bahwa Anda harus mengabaikannya. Cara termudah untuk membentengi diri memang memasang wajah angkuh, dan menolak keadaan yang terjadi. Namun hati-hati, selain ini bukanlah sikap yang baik, menolak keadaan tidak akan bisa mengubah apapun jika Anda tetap diam. Untuk bisa mengatasi rasa teraniaya adalah dengan menolak secara aktif, artinya Anda mampu dan berani menyuarakan ganjalan yang terasa menghimpit dalam hati Anda agar tidak membebani batin.

Jika mendengar Anda menolak menjadi pihak yang tak berdaya, tentu lawan Anda akan merasa kaget dan meragukan kembali apakah dia telah menang menganiaya Anda atau justru tidak berhasil. Tidak ada senjata yang paling ampuh selain memakai kekuatan mental, dan Anda bisa melatihnya sedikit demi sedikit. Jika masih terasa sakit di hati, berdo’alah agar Anda diberikan kesabaran dalam menghadapi masalah tersebut sampai selesai. Doa orang terzalimi memang maqbul atau mudah dikabulkan, namun bukankah itu berarti sebaiknya Anda berdoa meminta kebaikan saja.

Hadits dari Ibnu Umar SAW, Rasulullah SAW bersabda:

اتق دعوة المظلوم فإنها تصعد إلى السماء كأنها شرارة

Artinya : “Hendaklah kamu waspada terhadap doa orang dizalimi. Sesungguhnya doa itu akan naik ke langit amat pantas seumpama api marak ke udara.” (Hadis riwayat Hakim – sanad sahih)

Dibandingkan dengan doa orang teraniaya yang penuh nuansa dendam dan kebencian, do’a yang meminta kebaikan seperti sifat-sifat terpuji akan lebih berguna untuk Anda dalam jangka panjang. Mengapa Anda berkeras untuk membalas dendam, jika Anda bisa memetik kebaikan dari keadaan teraniaya? Jika Anda tetap sabar, namun tegas melakukan perlawanan, maka cepat atau lambat usaha tersebut pasti akan membuahkan hasil. Prinsipnya, tidak pernah ada usaha yang sia-sia dan hal ini sudah menjadi hokum alam.

Teraniaya Bukan Kata Yang Sama Dengan Selamanya


Seperti halnya konsep hokum kausalitas, bahwa setiap sebab akan menimbulkan akibat, daan semua aksi mau tidak mau menarik reaksi. Jadi, jangan khawatir jika Anda akan teraniaya selama-lamanya. Selama masih ada kekuatan untuk melawan, maka bukan tidak mungkin suatu saat keadaan akan berbalik. Karena itulah dibanding membalas dengan kebencian, menyikapi keadaan teraniaya untuk berdo’a meminta kebaikan akan lebih berguna di masa depan.

Dari Abu Hurairah RA berkata, Rasulullah SAW bersabda: “Ada tiga doa mustajab (dikabulkan) yang tidak ada keraguan di dalamnya, yaitu: doa orang yang teraniaya, doa musafir, dan doa buruk orang tua kepada anaknya”. (HR Abu Daud dan al-Tirmizi. al-Tirmizi berkata: Hadis hasan)

Jika dipikirkan lebih dalam, apa yang akan Anda dapatkan ketika seorang yang telah menganiaya Anda ternyata mendapatkan kemalangan sebagai balasannya? Puas? Tertawa? Senang? Lalu apa lagi? Setelah itu, Anda hanya akan kembali berkutat pada persepsi dan keadaan Anda sama seperti sebelumnya. Selain itu Anda juga tidak bisa belajar dari masalah yang sudah terjadi. Ditambah jika Anda adalah seorang beragama yang mengharapkan diri menjadi hamba yang baik, Anda justru menambah dosa karena telah menertawakan penderitaan orang lain. Apa Anda ingat, jika pada dasarnya kita dihimbau untuk memakai prinsip jika semua manusia terikat dalam tali persaudaraan?

Jika semua manusia terikat persaudaraan, maka berarti memiliki tanggung jawab untuk melindungi dan mendidik saudaranya. Jadi memanjatkan do’a dengan penuh dendam juga kemarahan bukanlah suatu yang akan mendidik saudara kita menjadi lebih baik. 

Seperti api yang tidak bisa dipadamkan dengan api. Sebelum menjadi abu, Anda harus membasahi diri dengan air agar mampu memadamkannya sedikit demi sedikit. Jika Anda ingat, bahkan Einstein pernah berkata bahwa; kegelapan itu tidak ada, yang ada hanyalah ruang yang belum tersinari cahaya. Dengan caranya sendiri Einstein mengajarkan pada kita bahwa kegelapan sebenarnya tidak memiliki kekuatan apa-apa selagi manusia tidak terpengaruh dengannya.

Maka, mari kita alihkan persepsi salah mengenai mujarabnya Doa orang terzalimi yang bisa menjadi kesempatan balas dendam. Untuk sebagian sufi, bahkan seorang yang hidup dengan penuh kebencian justru tidak berhak untuk menyebut dirinya sebagai teraniaya. 

Belajar menjadi manusia yang baik adalah tugas semua manusia yang dilahirkan di bumi ini, jadi jangan terjebak pada intimidasi orang lain, apalagi sampai merasa teraniaya. Intimidasi tidak akan berguna jika obyek tidak merasakan kerugian apapun, baik secara fisik atau mental.

Sumber: webislam.com, dengan judul "Doa Orang Teraniaya dan Terzalimi Dalam Al-Qur’an"

Persepsi yang Salah Tentang Doa Orang Teraniaya dan Terzalimi

Kepedihan wanita dan anak-anak pengungsi Rohingya [www.arrahmah.com]
 
Teraniaya secara kasat mata bukan berarti putus asa. Asalkan masih ada keyakinan, semangat, dan harapan yang tertanam kuat di dalam hati pihak yang terzalimi

RiauJOS.com, Spiritual - Doa orang teraniaya dan terzalimi dalam Al-Qur’an yang penuh nuansa dendam dan kebencian, tidak akan lebih baik dari doa meminta kebaikan yang akan lebih berguna untuk Anda dalam jangka panjang.

Teraniaya atau tidak, tergantung pada perspekstif yang Anda pakai sendiri-sendiri. Sering kita merasa bahwa diri kita adalah pihak yang dirugikan, sementara bersama dengan itu sebenarnya kita juga menyakiti hati orang lain. Karena itulah, yang perlu dimiliki oleh semua manusia yang hidup bersama banyak orang, kita harus tahu bagaimana menerima pendapat orang lain dan mampu menempatkan diri. 

Memang ada hadist dan ayat yang secara tersirat menunjukkan jika doa orang teraniaya sebenarnya lebih manjur terkabulkan dibandingkan dengan doa orang biasa. Namun tentu hal ini tidak bisa menjadi sarana balas dendam antara Anda dan orang lain.

Doa orang teraniaya dan terzalimi Dalam Al-Qur’an dapat kita lihat dalam Surat An-Naml Ayat 62.

أَمَّنْ يُجِيبُ الْمُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ وَيَكْشِفُ السُّوءَ وَيَجْعَلُكُمْ خُلَفَاءَ الأرْضِ أَإِلَهٌ مَعَ اللَّهِ قَلِيلا مَا تَذَكَّرُونَ

Artinya : “Atau siapakah yang memperkenankan (do’a) orang yang dalam kesulitan, apabila ia berdo’a kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan, dan yang menjadikan kamu (manusia) sebagai khalifah di bumi?. Apakah di samping Allah ada ilah (yang lain)?. Amat sedikitlah kamu mengingat-ingat(-Nya).” – (QS.27:62)

Teraniaya itu tidak mudah teraniaya, sebenarnya mengacu pada keadaan pada saat seseorang benar-benar tidak bisa melakukan apapun untuk melindungi dirinya sementara ditekan oleh orang lain. Seorang teraniaya yang tangguh adalah manusia yang tidak merasa dirinya terzalimi meskipun sebenarnya dalam keadaan seperti itu. 

Orang-orang seperti ini hanyalah mereka yang mampu mengendalikan rasa sakit sedemikian rupa, bahkan mengubah perspektif masalah yang sedang dia hadapi agar tidak sampai mempengaruhi keadaan dalam jiwanya.

Jadi, jangan mudah mengatakan bahwa Anda adalah seorang yang sedang teraniaya. Apalagi jika sampai Anda menyimpan dendam dengan menyatakan pada orang lain bahwa Anda adalah yang teraniaya, maka dia harus berhati-hati karena doa orang teraniaya sulit tidak dikabulkan. 

Bagaimana jika percekcokan antara Anda dan dia ternyata menimbulkan posisi saling teraniaya? Artinya, kedua belah pihak merasa tersakiti dan tidak tahu jalan keluar apa yang harus dilewati selain saling menyimpan dendam.

Allah SWT telah berfirman dalam Surat An-Nisa ayat 148:

لا يحب الله الجهر بالسوء من القول إلا من ظلم وكان الله سميعا عليما

Artinya : “Allah SWT tidak suka seseorang mengatakan sesuatu yang buruk kepada seseorang dengan terang-terangan melainkan orang yang dizalimi maka dia boleh menceritakan kezaliman tersebut, dan Allah SWT itu maha mendengar dan maha mengetahui.” ( 148 : an-Nisa)

Jika masalahnya seperti ini, maka siapa yang pertama kali mampu membuka kembali hubungan tali komunikasi adalah pemenangnya. Iya, karena selain berhasil melewati emosi, dia juga telah berhasil mengendalikan diri untuk mengabaikan rasa sakit yang dirasakan. Namun memang pada kenyataannya, keberadaan orang semacam ini tidak bisa ditemukan dengan mudah. Bisa jadi diantara seribu manusia hanya ada segelintir mereka yang mampu melakukannya. Teraniaya adalah keadaan, dan dengan mengendalikan keadaan itulah Anda bisa melewatinya.

Cara Mengendalikan Keadaan Teraniaya


Bagaimana cara mengendalikan keadaan teraniaya? Apalagi jika posisi yang Anda diami adalah pihak di bawah yang kurang memiliki pengaruh dan kuasa. Keadaan terzalimi bukan hanya berhubungan dengan posisi Anda di luar atau dalam pandangan orang lain, namun justru lebih berpacu pada keadaan dalam diri Anda sendiri. 

Bukankah kita sering melihat berita Muslim Palestina yang tetap bangkit meskipun terus menerus dianiaya? Jika tidak mampu memberi dukungan pada dirinya sendiri, maka bukan bangkit, bisa jadi mereka justru putus asa.

Ya, teraniaya secara kasat mata bukan berarti putus asa. Asalkan masih ada keyakinan, semangat, dan harapan yang tertanam kuat di dalam hati pihak yang terzalimi, maka memang sudah sewajarnya jika cepat atau lambat mereka akan tetap bangkit dari keterpurukan, lagi dan lagi. Selain itu, harga diri dan hasil yang didapatkan pihak teraniaya setelah berjuang terus menerus akan terasa lebih berarti dibandingkan seorang yang mendapatkan keinginannya dengan mudah. Masihkah Anda merasa sedang teraniaya?

Menolak keadaan teraniaya juga tidak berarti bahwa Anda harus mengabaikannya. Cara termudah untuk membentengi diri memang memasang wajah angkuh, dan menolak keadaan yang terjadi. Namun hati-hati, selain ini bukanlah sikap yang baik, menolak keadaan tidak akan bisa mengubah apapun jika Anda tetap diam. Untuk bisa mengatasi rasa teraniaya adalah dengan menolak secara aktif, artinya Anda mampu dan berani menyuarakan ganjalan yang terasa menghimpit dalam hati Anda agar tidak membebani batin.

Jika mendengar Anda menolak menjadi pihak yang tak berdaya, tentu lawan Anda akan merasa kaget dan meragukan kembali apakah dia telah menang menganiaya Anda atau justru tidak berhasil. Tidak ada senjata yang paling ampuh selain memakai kekuatan mental, dan Anda bisa melatihnya sedikit demi sedikit. Jika masih terasa sakit di hati, berdo’alah agar Anda diberikan kesabaran dalam menghadapi masalah tersebut sampai selesai. Doa orang terzalimi memang maqbul atau mudah dikabulkan, namun bukankah itu berarti sebaiknya Anda berdoa meminta kebaikan saja.

Hadits dari Ibnu Umar SAW, Rasulullah SAW bersabda:

اتق دعوة المظلوم فإنها تصعد إلى السماء كأنها شرارة

Artinya : “Hendaklah kamu waspada terhadap doa orang dizalimi. Sesungguhnya doa itu akan naik ke langit amat pantas seumpama api marak ke udara.” (Hadis riwayat Hakim – sanad sahih)

Dibandingkan dengan doa orang teraniaya yang penuh nuansa dendam dan kebencian, do’a yang meminta kebaikan seperti sifat-sifat terpuji akan lebih berguna untuk Anda dalam jangka panjang. Mengapa Anda berkeras untuk membalas dendam, jika Anda bisa memetik kebaikan dari keadaan teraniaya? Jika Anda tetap sabar, namun tegas melakukan perlawanan, maka cepat atau lambat usaha tersebut pasti akan membuahkan hasil. Prinsipnya, tidak pernah ada usaha yang sia-sia dan hal ini sudah menjadi hokum alam.

Teraniaya Bukan Kata Yang Sama Dengan Selamanya


Seperti halnya konsep hokum kausalitas, bahwa setiap sebab akan menimbulkan akibat, daan semua aksi mau tidak mau menarik reaksi. Jadi, jangan khawatir jika Anda akan teraniaya selama-lamanya. Selama masih ada kekuatan untuk melawan, maka bukan tidak mungkin suatu saat keadaan akan berbalik. Karena itulah dibanding membalas dengan kebencian, menyikapi keadaan teraniaya untuk berdo’a meminta kebaikan akan lebih berguna di masa depan.

Dari Abu Hurairah RA berkata, Rasulullah SAW bersabda: “Ada tiga doa mustajab (dikabulkan) yang tidak ada keraguan di dalamnya, yaitu: doa orang yang teraniaya, doa musafir, dan doa buruk orang tua kepada anaknya”. (HR Abu Daud dan al-Tirmizi. al-Tirmizi berkata: Hadis hasan)

Jika dipikirkan lebih dalam, apa yang akan Anda dapatkan ketika seorang yang telah menganiaya Anda ternyata mendapatkan kemalangan sebagai balasannya? Puas? Tertawa? Senang? Lalu apa lagi? Setelah itu, Anda hanya akan kembali berkutat pada persepsi dan keadaan Anda sama seperti sebelumnya. Selain itu Anda juga tidak bisa belajar dari masalah yang sudah terjadi. Ditambah jika Anda adalah seorang beragama yang mengharapkan diri menjadi hamba yang baik, Anda justru menambah dosa karena telah menertawakan penderitaan orang lain. Apa Anda ingat, jika pada dasarnya kita dihimbau untuk memakai prinsip jika semua manusia terikat dalam tali persaudaraan?

Jika semua manusia terikat persaudaraan, maka berarti memiliki tanggung jawab untuk melindungi dan mendidik saudaranya. Jadi memanjatkan do’a dengan penuh dendam juga kemarahan bukanlah suatu yang akan mendidik saudara kita menjadi lebih baik. 

Seperti api yang tidak bisa dipadamkan dengan api. Sebelum menjadi abu, Anda harus membasahi diri dengan air agar mampu memadamkannya sedikit demi sedikit. Jika Anda ingat, bahkan Einstein pernah berkata bahwa; kegelapan itu tidak ada, yang ada hanyalah ruang yang belum tersinari cahaya. Dengan caranya sendiri Einstein mengajarkan pada kita bahwa kegelapan sebenarnya tidak memiliki kekuatan apa-apa selagi manusia tidak terpengaruh dengannya.

Maka, mari kita alihkan persepsi salah mengenai mujarabnya Doa orang terzalimi yang bisa menjadi kesempatan balas dendam. Untuk sebagian sufi, bahkan seorang yang hidup dengan penuh kebencian justru tidak berhak untuk menyebut dirinya sebagai teraniaya. 

Belajar menjadi manusia yang baik adalah tugas semua manusia yang dilahirkan di bumi ini, jadi jangan terjebak pada intimidasi orang lain, apalagi sampai merasa teraniaya. Intimidasi tidak akan berguna jika obyek tidak merasakan kerugian apapun, baik secara fisik atau mental.

Sumber: webislam.com, dengan judul "Doa Orang Teraniaya dan Terzalimi Dalam Al-Qur’an"