Gudeg Yu Djum
Gudeg Yu Djum

RiauJOS.com, Yogyakarta - Pemilik Gudeg Legendaris di Yogyakarta, Djuhariah (85) atau dikenal Yu Djum tutup usia pada Senin, 14 November 2016 sekitar pukul 18.10 WIB.

Yu Djum sempat dirawat selama tiga hari di Rumah Sakit (RS) Bethesda Yogyakarta.

"Sudah Tiga hari dirawat di RS Bethesda, karena kondisinya drop," ujar Tri Widodo, menantu Djuhariah, diwartakan regional.kompas.com

Tri menuturkan ibu mertuanya sudah lama sakit dan karena faktor usia. Bahkan sudah beberapa kali masuk kerumah sakit.

"Saat opname sudah ditangani oleh dua dokter," tegasnya.

Pada Senin  pukul 17.00 WIB, lanjutnya, Ibu mertuanya mengalami kritis. "Sudah dipacu dengan alat bantu juga," ucapnya.

Saat ini, jenazah Yu Djum disemayamkan di rumah duka Jalan Kaliurang KM 4,5.

Rencananya jenazah akan dimakamkan di TPU Karangmalang pada Selasa.

Ucapan belasungkawa atas meninggalnya pemilik Gudeg Yu Djum ini mengalir di media sosial. Bahkan menjadi trending topik di media sosial Twitter.

Salah satu ucapan bela sungkawa diucapkan oleh akun Twitter @PakBondan, presenter kuliner Bondan Winarno.

Di dalam kicauannya, Bondan Winarno menulis, "Malam ini saya tersentak mendengar berita tentang wafatnya seorang streetfood warrior kita: Ibu Djuariah (Gudeg Yu Djum). Semoga Khusnul Khotimah."

Sementara, Tetangga legenda gudeg Yu Djum berdatangan ke rumah duka di Kampung Karangasem-Mbarek, Jalan Kaliurang KM 4,5 CT III/22 Yogyakarta, Senin malam ini. Mereka memberikan penghormatan terakhir kepada perempuan yang meniti karier berjualan gudeg di Kampung Wijilan Yogyakarta tersebut.

Warga mengaku sangat kehilangan sosok yang dikenal pantang menyerah tersebut. Tetangga almarhumah, Kusnanto (45), mengatakan, Yu Djum semasa hidupnya terkenal baik di lingkungan sekitar. Almarhumah adalah sosok yang pantang menyerah, memulai dari nol sampai berjaya. "Kita merasa kehilangan. Warga mengenali sangat baik dengan warga sekitar," kata dia, seperti diwartakan daerah.sindonews.com

Dia menceritakan, kuliner gudeg yang didirikan Yu Djum adalah yang tertua di Yogyakarta. Meski usaha yang digelutinya sukses, Yu Djum tetap menunjukkan sikap sederhana. "Almarhumah sosok yang sederhana, tidak hidup bermewahan meski usahanya sukses," kata Kusnanto.

Dalam sejarahnya, Yu Djum awalnya hanya sebagai penjual gudeg di Kampung Wijilan sejak 1951. Waktu itu Yu Djum hanya menjajakan gudeg di atas lapak kecil dengan meja dan kursi yang sangat sederhana. Dia menjalaninya setiap hari, pergi pulang dari Kampung Karangasem ke Kampung Wijilan. Mulai 1985 Yu Djum mulai membuka warung makan gudeg di Wijilan.

Hingga kini, warung gudeg Yu Djum bertebaran di sejumlah lokasi di DIY. Antara lain Jalan Kaliurang KM 4,5 CT III/22 Karangasem, Mbarek, Yogyakarta, Jalan Laksda Adisucipto KM 8,7 (Samping Hotel Sheraton) Sleman, Jalan Wates KM 5,5 Ambarketawang Gamping, Sleman, Jalan Wonosari-Yogya KM 7, Gading Playen, Gunungkidul dan lainnya.

Diberitakan sebelumnya, salah satu legenda kuliner khas Yogyakarta, Gudeg, meninggal dunia. Dia adalah Djuwariyah atau lebih dikenal sebagai "Yu Djum". Perintis gudeg sejak 1951 ini meninggal dunia, Senin kemarin, sekitar pukul 18.00 WIB. Yu Djum meninggal di usia 85 tahun.


Sumber:
  • regional.kompas.com
  • daerah.sindonews.com

Streetfood Warrior Gudeg Jogja 'Yu Djum' Tutup Usia, Pak Bondan 'Mak Nyuss' Tersentak

Gudeg Yu Djum
Gudeg Yu Djum

RiauJOS.com, Yogyakarta - Pemilik Gudeg Legendaris di Yogyakarta, Djuhariah (85) atau dikenal Yu Djum tutup usia pada Senin, 14 November 2016 sekitar pukul 18.10 WIB.

Yu Djum sempat dirawat selama tiga hari di Rumah Sakit (RS) Bethesda Yogyakarta.

"Sudah Tiga hari dirawat di RS Bethesda, karena kondisinya drop," ujar Tri Widodo, menantu Djuhariah, diwartakan regional.kompas.com

Tri menuturkan ibu mertuanya sudah lama sakit dan karena faktor usia. Bahkan sudah beberapa kali masuk kerumah sakit.

"Saat opname sudah ditangani oleh dua dokter," tegasnya.

Pada Senin  pukul 17.00 WIB, lanjutnya, Ibu mertuanya mengalami kritis. "Sudah dipacu dengan alat bantu juga," ucapnya.

Saat ini, jenazah Yu Djum disemayamkan di rumah duka Jalan Kaliurang KM 4,5.

Rencananya jenazah akan dimakamkan di TPU Karangmalang pada Selasa.

Ucapan belasungkawa atas meninggalnya pemilik Gudeg Yu Djum ini mengalir di media sosial. Bahkan menjadi trending topik di media sosial Twitter.

Salah satu ucapan bela sungkawa diucapkan oleh akun Twitter @PakBondan, presenter kuliner Bondan Winarno.

Di dalam kicauannya, Bondan Winarno menulis, "Malam ini saya tersentak mendengar berita tentang wafatnya seorang streetfood warrior kita: Ibu Djuariah (Gudeg Yu Djum). Semoga Khusnul Khotimah."

Sementara, Tetangga legenda gudeg Yu Djum berdatangan ke rumah duka di Kampung Karangasem-Mbarek, Jalan Kaliurang KM 4,5 CT III/22 Yogyakarta, Senin malam ini. Mereka memberikan penghormatan terakhir kepada perempuan yang meniti karier berjualan gudeg di Kampung Wijilan Yogyakarta tersebut.

Warga mengaku sangat kehilangan sosok yang dikenal pantang menyerah tersebut. Tetangga almarhumah, Kusnanto (45), mengatakan, Yu Djum semasa hidupnya terkenal baik di lingkungan sekitar. Almarhumah adalah sosok yang pantang menyerah, memulai dari nol sampai berjaya. "Kita merasa kehilangan. Warga mengenali sangat baik dengan warga sekitar," kata dia, seperti diwartakan daerah.sindonews.com

Dia menceritakan, kuliner gudeg yang didirikan Yu Djum adalah yang tertua di Yogyakarta. Meski usaha yang digelutinya sukses, Yu Djum tetap menunjukkan sikap sederhana. "Almarhumah sosok yang sederhana, tidak hidup bermewahan meski usahanya sukses," kata Kusnanto.

Dalam sejarahnya, Yu Djum awalnya hanya sebagai penjual gudeg di Kampung Wijilan sejak 1951. Waktu itu Yu Djum hanya menjajakan gudeg di atas lapak kecil dengan meja dan kursi yang sangat sederhana. Dia menjalaninya setiap hari, pergi pulang dari Kampung Karangasem ke Kampung Wijilan. Mulai 1985 Yu Djum mulai membuka warung makan gudeg di Wijilan.

Hingga kini, warung gudeg Yu Djum bertebaran di sejumlah lokasi di DIY. Antara lain Jalan Kaliurang KM 4,5 CT III/22 Karangasem, Mbarek, Yogyakarta, Jalan Laksda Adisucipto KM 8,7 (Samping Hotel Sheraton) Sleman, Jalan Wates KM 5,5 Ambarketawang Gamping, Sleman, Jalan Wonosari-Yogya KM 7, Gading Playen, Gunungkidul dan lainnya.

Diberitakan sebelumnya, salah satu legenda kuliner khas Yogyakarta, Gudeg, meninggal dunia. Dia adalah Djuwariyah atau lebih dikenal sebagai "Yu Djum". Perintis gudeg sejak 1951 ini meninggal dunia, Senin kemarin, sekitar pukul 18.00 WIB. Yu Djum meninggal di usia 85 tahun.


Sumber:
  • regional.kompas.com
  • daerah.sindonews.com