Membaca, Sebagaimana Manusia Membaca
Buku Legendaris, Belajar Membaca dan Menulis Jilid 1a

RiauJOS.com, Editorial - Kebiasaan membaca sudah dimulai semenjak kita dilahirkan, hingga sampai waktunya meninggalkan dunia. Dizaman serba digital, seperti kata penyanyi cilik, Agnes Monica, yang kini sudah beranjak dewasa, berubah nama jadi AgnezMO, "Semua tidak ada yang bisa ditutup-tutupi," katanya dalam sebuah iklan shampoo yang dibintanginya.

Permasalahannya, disaat semua "telanjang" tidak ada tutup sedikitpun, ternyata masih banyak yang disembunyikan. Ini dikaitkan dengan kebiasaan para pembuat berita dan pembaca berita. Si pembuat berita, menjiwai "trafik" sedangkan pembaca berita haus akan kebenaran informasi. Nah, inilah sekarang yang menjadi persoalan besar. Pembuat berita, dan pembaca berita tidak pernah "klik", seolah saling menjauh dan tidak pernah bertemu untuk berkeadilan terhadap apa yang bisa ditulis, dan apa yang bisa dibaca.

Editorial kali ini, Selasa, 29 November 2016 RiauJOS.com, media informasi penuh gizi, yang kita sama-sama cintai sedang menyoroti penuh, perilaku pembuat berita dan pembaca berita. Secara sederhana bisa digambarkan seperti permainan petak umpat, dan kucing-kucingan. Pembuat berita mencoba bersembunyi dibalik kecitaannya pada trafik, sedangkan pembaca berita menjadi kucing, yang bukan kucing beneran, karena selalu saja diajak kucing-kucingan sama pembuat berita.

Pemilik media, baik yang belum berbadan hukum, apalagi yang sudah berbadan hukum, haus dengan apa yang dinamakan trafik, alias banyaknya jumlah pengunjung website. Dengan cara apapun pemilik media, berusaha untuk membangun yang namanya trafik. Istilah ganasnya, menghalalkan segala cara agar menjadi nomor satu di mesin pencarian opa gugel.

Ini tidak bisa dibiarkan, RiauJOS.com berpendapat, manusia tetaplah manusia, dan punya naluri membaca sejak dilahirkan, hingga sampai waktunya nanti. Membaca, dalam bahasan ini, bukan hanya membaca teks alphabet, namun lebih substansi pada mencari kebenaran dari apa yang sedang dialaminya.

Melalui editorial kali ini, RiauJOS.com mengajak, agar semua netizen untuk kembali kepada jalan yang benar, sebagaimana manusia dengan naluri kemanusiaanya untuk terus mencari kebenaran dari apa yang sedang menjadi persoalan maupun rintangan dalam kehidupannya.

Caranya, dengan terus mengasah ketrampilan manusia, bukan belajar menjadi seperti mesin. Dalam hal ini, kebiasaan membaca, yang semula membaca trafik, dapat diubah dan dibiasakan dengan membaca apa adanya, kebenaran maksudnya, meskipun kebenaran sampai hari ini masih dalam tataran wacana, dan selalu saja meringsek ke jalur teologis metafisik. Ini benar-benar rumit, tapi tidak masalah, sebagai manusia, kerumitan adalah sebuah misteri keindahan. Semoga.

Membaca, Sebagaimana Manusia Membaca

Membaca, Sebagaimana Manusia Membaca
Buku Legendaris, Belajar Membaca dan Menulis Jilid 1a

RiauJOS.com, Editorial - Kebiasaan membaca sudah dimulai semenjak kita dilahirkan, hingga sampai waktunya meninggalkan dunia. Dizaman serba digital, seperti kata penyanyi cilik, Agnes Monica, yang kini sudah beranjak dewasa, berubah nama jadi AgnezMO, "Semua tidak ada yang bisa ditutup-tutupi," katanya dalam sebuah iklan shampoo yang dibintanginya.

Permasalahannya, disaat semua "telanjang" tidak ada tutup sedikitpun, ternyata masih banyak yang disembunyikan. Ini dikaitkan dengan kebiasaan para pembuat berita dan pembaca berita. Si pembuat berita, menjiwai "trafik" sedangkan pembaca berita haus akan kebenaran informasi. Nah, inilah sekarang yang menjadi persoalan besar. Pembuat berita, dan pembaca berita tidak pernah "klik", seolah saling menjauh dan tidak pernah bertemu untuk berkeadilan terhadap apa yang bisa ditulis, dan apa yang bisa dibaca.

Editorial kali ini, Selasa, 29 November 2016 RiauJOS.com, media informasi penuh gizi, yang kita sama-sama cintai sedang menyoroti penuh, perilaku pembuat berita dan pembaca berita. Secara sederhana bisa digambarkan seperti permainan petak umpat, dan kucing-kucingan. Pembuat berita mencoba bersembunyi dibalik kecitaannya pada trafik, sedangkan pembaca berita menjadi kucing, yang bukan kucing beneran, karena selalu saja diajak kucing-kucingan sama pembuat berita.

Pemilik media, baik yang belum berbadan hukum, apalagi yang sudah berbadan hukum, haus dengan apa yang dinamakan trafik, alias banyaknya jumlah pengunjung website. Dengan cara apapun pemilik media, berusaha untuk membangun yang namanya trafik. Istilah ganasnya, menghalalkan segala cara agar menjadi nomor satu di mesin pencarian opa gugel.

Ini tidak bisa dibiarkan, RiauJOS.com berpendapat, manusia tetaplah manusia, dan punya naluri membaca sejak dilahirkan, hingga sampai waktunya nanti. Membaca, dalam bahasan ini, bukan hanya membaca teks alphabet, namun lebih substansi pada mencari kebenaran dari apa yang sedang dialaminya.

Melalui editorial kali ini, RiauJOS.com mengajak, agar semua netizen untuk kembali kepada jalan yang benar, sebagaimana manusia dengan naluri kemanusiaanya untuk terus mencari kebenaran dari apa yang sedang menjadi persoalan maupun rintangan dalam kehidupannya.

Caranya, dengan terus mengasah ketrampilan manusia, bukan belajar menjadi seperti mesin. Dalam hal ini, kebiasaan membaca, yang semula membaca trafik, dapat diubah dan dibiasakan dengan membaca apa adanya, kebenaran maksudnya, meskipun kebenaran sampai hari ini masih dalam tataran wacana, dan selalu saja meringsek ke jalur teologis metafisik. Ini benar-benar rumit, tapi tidak masalah, sebagai manusia, kerumitan adalah sebuah misteri keindahan. Semoga.