Zainuddin Nafarin dan Laptop
Zainuddin Nafarin

RiauJOS.com, Inspirasi - Antivirus Smadav, yang merupakan antivirus buatan Indonesia yang paling populer bukan hanya di Indonesia tapi juga di beberapa negara, ternyata diciptakan oleh Zainudin Nafarin, warga Banjar, Kalimantan Selatan.

Menurut Nafarin, di Banjarmasin pada Rabu, terciptanya antivirus Smadav berawal dari hobinya mengutak-atik komputer dan membuat program. Dari hobi yang terus ditekuninya tersebut, Nafarin, 26 tahun, mendapatkan jalan untuk bisa membuat antivirus Smadav, yang kini terus berkembang dan telah dimanfaatkan ribuan orang di Indonesia bahkan di beberapa negara di Asia maupun negara maju lainnya.

Berkat antivirus tersebut, kini Nafarin bisa menikmati hidupnya dengan lebih santai dan teratur, serta mendapatkan penghasilan yang cukup fantastis. "Dalam satu bulan minimal omzet saya mencapai Rp 30 juta, jauh lebih besar dibandingkan waktu bekerja di beberapa perusahaan sebelumnya, dengan pendapatan sekitar Rp 5 juta per bulan," katanya, diwartakan Tempo.co, sekitar setahun yang lalu, tepatnya 25 November 2015.

Menurut dia, apa yang dia lakukan saat ini diharapkan bisa menjadi inspirasi bagi para generasi muda yang kini hampir tidak lepas dari teknologi, baik gadget maupun laptop. Awalnya, Nafarin menambahkan, seperti anak-anak muda umumnya, kegemaran dia terhadap teknologi hanya dimanfaatkan untuk sesuatu yang konsumtif. Namun, lama-kelamaan, setelah ditekuni ternyata hobinya tersebut mampu menghasilkan.

"Saat saya masih kuliah di UGM, melalui hobi saya ini, saya bekerja di beberapa perusahaan asing dan mendapatkan gaji Rp 5 juta per bulan," ujarnya.

Namun, karena kerjanya malam dan sangat menyita waktu, akhirnya dia memutuskan untuk berwiraswata dengan mengembangkan antivirus Samdav, dan hasilnya ternyata jauh lebih besar.

Hal yang sama juga dilakukan Benning Rara Pratita. Hobi traveling yang dia jalani selama ini juga membawa hasil cukup besar bagi hidupnya. Bukan hanya material, hobinya itu ternyata juga mampu membantu warga untuk mendapatkan pengetahuan tentang berbagai budaya daerah.

Rara, yang sebelumnya sebagai guru di Desa Petiku, Paser, Kalimantan Timur, mengaku ingin menceritakan keindahan desa tempatnya mengajar tersebut kepada masyarakat luas. Ceritanya yang ditulis dan dibagikan lewat media online ternyata mendapatkan tanggapan cukup positif, sehingga hobi traveling-nya kini menjadi sebuah usaha kreatif dan menghasilkan.

"Minimal dalam satu bulan saya mendapatkan Rp 10 juta dari usaha kreatif ini," tuturnya.

Dua tokoh sukses tersebut sengaja dihadirkan oleh Lenovo untuk memberikan contoh bahwa kemajuan teknologi juga membawa dampak positif bagi generasi muda yang siap maju dan tahu cara memanfaatkannya. Consumer Lead Lenovo Indonesia Adrian Lesmana mengatakan kaum muda Indonesia dikenal sangat paham teknologi, senang mencari pengalaman baru, senang bersosialisasi, dan sangat dinamis.

"Mereka pada umumnya memiliki keinginan besar untuk maju dan mewujudkan impian, tapi terkadang mereka tidak tahu bagaimana memulai dan apa yang mereka butuhkan untuk mewujudkan impian tersebut," ucapnya.


Sumber: 
  • antara
  • tempo

Zainuddin Nafarin sang Penemu Antivirus SmadAV

Zainuddin Nafarin dan Laptop
Zainuddin Nafarin

RiauJOS.com, Inspirasi - Antivirus Smadav, yang merupakan antivirus buatan Indonesia yang paling populer bukan hanya di Indonesia tapi juga di beberapa negara, ternyata diciptakan oleh Zainudin Nafarin, warga Banjar, Kalimantan Selatan.

Menurut Nafarin, di Banjarmasin pada Rabu, terciptanya antivirus Smadav berawal dari hobinya mengutak-atik komputer dan membuat program. Dari hobi yang terus ditekuninya tersebut, Nafarin, 26 tahun, mendapatkan jalan untuk bisa membuat antivirus Smadav, yang kini terus berkembang dan telah dimanfaatkan ribuan orang di Indonesia bahkan di beberapa negara di Asia maupun negara maju lainnya.

Berkat antivirus tersebut, kini Nafarin bisa menikmati hidupnya dengan lebih santai dan teratur, serta mendapatkan penghasilan yang cukup fantastis. "Dalam satu bulan minimal omzet saya mencapai Rp 30 juta, jauh lebih besar dibandingkan waktu bekerja di beberapa perusahaan sebelumnya, dengan pendapatan sekitar Rp 5 juta per bulan," katanya, diwartakan Tempo.co, sekitar setahun yang lalu, tepatnya 25 November 2015.

Menurut dia, apa yang dia lakukan saat ini diharapkan bisa menjadi inspirasi bagi para generasi muda yang kini hampir tidak lepas dari teknologi, baik gadget maupun laptop. Awalnya, Nafarin menambahkan, seperti anak-anak muda umumnya, kegemaran dia terhadap teknologi hanya dimanfaatkan untuk sesuatu yang konsumtif. Namun, lama-kelamaan, setelah ditekuni ternyata hobinya tersebut mampu menghasilkan.

"Saat saya masih kuliah di UGM, melalui hobi saya ini, saya bekerja di beberapa perusahaan asing dan mendapatkan gaji Rp 5 juta per bulan," ujarnya.

Namun, karena kerjanya malam dan sangat menyita waktu, akhirnya dia memutuskan untuk berwiraswata dengan mengembangkan antivirus Samdav, dan hasilnya ternyata jauh lebih besar.

Hal yang sama juga dilakukan Benning Rara Pratita. Hobi traveling yang dia jalani selama ini juga membawa hasil cukup besar bagi hidupnya. Bukan hanya material, hobinya itu ternyata juga mampu membantu warga untuk mendapatkan pengetahuan tentang berbagai budaya daerah.

Rara, yang sebelumnya sebagai guru di Desa Petiku, Paser, Kalimantan Timur, mengaku ingin menceritakan keindahan desa tempatnya mengajar tersebut kepada masyarakat luas. Ceritanya yang ditulis dan dibagikan lewat media online ternyata mendapatkan tanggapan cukup positif, sehingga hobi traveling-nya kini menjadi sebuah usaha kreatif dan menghasilkan.

"Minimal dalam satu bulan saya mendapatkan Rp 10 juta dari usaha kreatif ini," tuturnya.

Dua tokoh sukses tersebut sengaja dihadirkan oleh Lenovo untuk memberikan contoh bahwa kemajuan teknologi juga membawa dampak positif bagi generasi muda yang siap maju dan tahu cara memanfaatkannya. Consumer Lead Lenovo Indonesia Adrian Lesmana mengatakan kaum muda Indonesia dikenal sangat paham teknologi, senang mencari pengalaman baru, senang bersosialisasi, dan sangat dinamis.

"Mereka pada umumnya memiliki keinginan besar untuk maju dan mewujudkan impian, tapi terkadang mereka tidak tahu bagaimana memulai dan apa yang mereka butuhkan untuk mewujudkan impian tersebut," ucapnya.


Sumber: 
  • antara
  • tempo