Social Items


Terkait adalah cermin kemalasan berpikir dan berbahasa
Terkait adalah cermin kemalasan berpikir dan berbahasa


"Terkait dengan persoalan kaitan yang saling kait mengait, maka kaitan tersebut menjadi mengait meskipun tidak ada kaitannya dengan terkait."


RiauJOS.com, Kiat - Berbicara secara efektif diperlukan upaya untuk bersungguh-sungguh menggunakan kata yang tepat. Dengan pilihan kata efektif, pembicaraan kita tidak akan membingungkan, dan memberikan kesempatan lawan bicara untuk memahami apa yang sedang kita bicarakan.

Setiap hari kita dihadapkan pada persoalan berkomunikasi secara efektif, sebagian orang tidak menyadari apa yang sedang diucapkan, sehingga membuat mereka menggunakan kata apa saja untuk berbicara. Salah satu contohnya, penggunaan kata "terkait". Seringkali orang yang malas memikirkan apa yang diucapkan, suka menggunakan kata "terkait". Pada umumnya orang menggunakan kata ampuh "terkait" untuk mengarahkan pembicaraan, ataupun untuk memaksakan suatu pembicaraan agar menyetujui apa yang sedang dipersoalkan.

Mohammad Sobary, dalam opini yang diterbitkan nasional.sindonews.com, Sabtu, 1 Oktober 2016 menuliskan.

Di media elektronik maupun di dalam media cetak, dan dalam berbagai modus komunikasi sosial, ada kemalasan dan kedangkalan berbahasa. Wartawan yang menelepon untuk meminta waktu melakukan wawancara, dengan mudahnya berkata: terkait isu politik mutakhir bagaimana bapak melihatnya? Terkait. Belum mengatakan apa pun sudah mulai "terkait" yang membosankan itu.

Mengapa tak mengatakan: dalam hubungan dengan, atau ada hubungannya dengan, atau ada kaitannya dengan... bagaimana penilaian anda? Terkait adalah cermin kemalasan berpikir dan berbahasa. Bahkan bisa jadi ini cermin kedangkalan pemikiran kita karena kita sudah puas dengan terkait, yang tak selalu mencerminkan makna yang dikehendaki. Tetapi semua orang media, bahkan orang birokrasi maupun akademisi secara beramai-ramai menggunakan kata itu tanpa proses koreksi yang cermat untuk mengungkapkan artikulasi kebahasaan yang juga cermat.

Mulai saat ini, biasakanlah memilih kata yang tepat untuk berbicara ataupun menulis. Hindari menggunakan kata "terkait" sehingga tidak menjadi bagian dari orang yang malas berpikir dan berbahasa.

Sobary mengingatkan, setiap kali kita menggunakan kata, sebaiknya melalui proses koreksi yang cermat, sehingga tidak membosankan lawan bicara, yang sudah muak dengan kata "terkait".

Kata paling membosankan: 'terkait'


Terkait adalah cermin kemalasan berpikir dan berbahasa
Terkait adalah cermin kemalasan berpikir dan berbahasa


"Terkait dengan persoalan kaitan yang saling kait mengait, maka kaitan tersebut menjadi mengait meskipun tidak ada kaitannya dengan terkait."


RiauJOS.com, Kiat - Berbicara secara efektif diperlukan upaya untuk bersungguh-sungguh menggunakan kata yang tepat. Dengan pilihan kata efektif, pembicaraan kita tidak akan membingungkan, dan memberikan kesempatan lawan bicara untuk memahami apa yang sedang kita bicarakan.

Setiap hari kita dihadapkan pada persoalan berkomunikasi secara efektif, sebagian orang tidak menyadari apa yang sedang diucapkan, sehingga membuat mereka menggunakan kata apa saja untuk berbicara. Salah satu contohnya, penggunaan kata "terkait". Seringkali orang yang malas memikirkan apa yang diucapkan, suka menggunakan kata "terkait". Pada umumnya orang menggunakan kata ampuh "terkait" untuk mengarahkan pembicaraan, ataupun untuk memaksakan suatu pembicaraan agar menyetujui apa yang sedang dipersoalkan.

Mohammad Sobary, dalam opini yang diterbitkan nasional.sindonews.com, Sabtu, 1 Oktober 2016 menuliskan.

Di media elektronik maupun di dalam media cetak, dan dalam berbagai modus komunikasi sosial, ada kemalasan dan kedangkalan berbahasa. Wartawan yang menelepon untuk meminta waktu melakukan wawancara, dengan mudahnya berkata: terkait isu politik mutakhir bagaimana bapak melihatnya? Terkait. Belum mengatakan apa pun sudah mulai "terkait" yang membosankan itu.

Mengapa tak mengatakan: dalam hubungan dengan, atau ada hubungannya dengan, atau ada kaitannya dengan... bagaimana penilaian anda? Terkait adalah cermin kemalasan berpikir dan berbahasa. Bahkan bisa jadi ini cermin kedangkalan pemikiran kita karena kita sudah puas dengan terkait, yang tak selalu mencerminkan makna yang dikehendaki. Tetapi semua orang media, bahkan orang birokrasi maupun akademisi secara beramai-ramai menggunakan kata itu tanpa proses koreksi yang cermat untuk mengungkapkan artikulasi kebahasaan yang juga cermat.

Mulai saat ini, biasakanlah memilih kata yang tepat untuk berbicara ataupun menulis. Hindari menggunakan kata "terkait" sehingga tidak menjadi bagian dari orang yang malas berpikir dan berbahasa.

Sobary mengingatkan, setiap kali kita menggunakan kata, sebaiknya melalui proses koreksi yang cermat, sehingga tidak membosankan lawan bicara, yang sudah muak dengan kata "terkait".