Social Items

“Jika saya ingin mengatakan yang sebenarnya, maka saya harus berdusta”
Albert Einstein

RiauJOS.com, Inspirasi - Pada tahun 1938, Albert Einstein pernah berpidato di hadapan Mahasiswa California Institute of Technology. RiauJOS.com menelusuri, dan mendapatkan pidato Einstein yang sudah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia. Dalam pidato tersebut, Einstein mengingatkan, bahwa Ilmu seharusnya tidak membuat kita sibuk, namun membuat kita lebih bahagia menikmati kehidupan. Lalu, sampai dengan hari ini, perkembangan ilmu apakah membuat kita makin bisa menikmati hidup, atau sebaliknya?. 

Simak pidato selengkapnya, RiauJOS.com menetapkan dengan hormat, Albert Einstein sebagai tokoh inspiring untuk bulan Oktober ini. Semoga pidato ini dapat terbaca oleh kaum muda dimanapun berada, agar menggunakan ilmu sewajarnya.

Pesan Albert Einstein kepada Mahasiswa California Institute of Technology

Rekan-rekan yang muda belia.

Saya sangat berbahagia melihat anda semua di hadapan saya, sekumpulan orang muda yang sedang mekar adan memilih bidang keilmuan sebagai profesi.

Saya berhasrat untuk menyanyikan hymne yang penuh puji, dengan refrain kemajuan pesat di bidang keilmuan yang telah kita capai, dan kemajuan yang lebih pesat lagi yang akan anda bawakan. Sesungguhnya kita berada dalam kurun dan tanah air keilmuan. Tetapi hal ini jauh dari apa yang sebenarnya ingin saya sampaikan. Lebih lanjut, saya teringat dalam hubungan ini kepada seorang muda yang baru saja menikah dengan istri yang tidak terlalu menarik dan orang muda itu ditanya apakah dia merasa bahagia atau tidak. Dia lalu menjawab : “Jika saya ingin mengatakan yang sebenarnya, maka saya harus berdusta”

Begitu juga dengan saya. Marilah kita perhatikan seorang Indian yang mungkin tidak beradab, untuk menyimak apakah pengalaman dia memang kurang kaya ataukah kurang bahagia dibandingkan dengan rata-rata manusia beradab. Terdapat arti yang sangat maknawi dalam kenyataan bahwa anak-anak dari seluruh penjuru dunia yang beradab senang sekali bermain meniru-niru Indian.

Mengapa Ilmu yang sangat indah ini, menghemat kerja dan membikin hidup lebih mudah, hanya membawa kebahagian yang sedikit kepada kita? Jawaban yang sederhana adalah – karena kita belum lagi belajar bagaimana menggunakannya secara wajar.

Dalam peperangan, ilmu menyebabkan kita saling meracun dan saling menjagal. Dalam perdamaian dia membikin hidup kita dikejar waktu dan penuh tak tentu. Ilmu yang seharusnya membebaskan kita dari pekerjaan yang melelahkan spiritual malah menjadikan manusia budak-budak mesin, dimana setelah hari-hari panjang dan monoton kebanyakan dari mereka pulang dengan dengan rasa mual, dan harus terus bergetar untuk memperoleh ransum penghasilan yang tidak seberapa. Kamu akan mengingat tentang seorang tua yang menyanyikan sebuah lagu yang jelek. Sayalah yang menyanyikan lagu itu, walau begitu, dengan sebuah itikad untuk memperlihatkan sebuah akibat.

Adalah tidak cukup bahwa kamu memahami ilmu agar pekerjaanmu akan meningkatkan berkah manusia. Perhatian kepada manusia itu sendiri dan nasibnya harus selalu merupakan minat utama dari semua ikhtiar teknis, perhatian kepada masalah besar yang tak kunjung terpecahkan dari pengaturan kerja dan pemerataan benda – agar buah ciptaan dari pemikiran kita akan merupakan berkah dan bukan kutukan terhadap kemanusiaan. Janganlah kau lupakan hal ini di tengah tumpukan diagram dan persamaan.

(1938)


Sumber: buku "Ilmu Dalam Perspektif" Jujun S. Suriasumantri

Einstein: kita belum lagi belajar bagaimana menggunakannya (Ilmu) secara wajar

“Jika saya ingin mengatakan yang sebenarnya, maka saya harus berdusta”
Albert Einstein

RiauJOS.com, Inspirasi - Pada tahun 1938, Albert Einstein pernah berpidato di hadapan Mahasiswa California Institute of Technology. RiauJOS.com menelusuri, dan mendapatkan pidato Einstein yang sudah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia. Dalam pidato tersebut, Einstein mengingatkan, bahwa Ilmu seharusnya tidak membuat kita sibuk, namun membuat kita lebih bahagia menikmati kehidupan. Lalu, sampai dengan hari ini, perkembangan ilmu apakah membuat kita makin bisa menikmati hidup, atau sebaliknya?. 

Simak pidato selengkapnya, RiauJOS.com menetapkan dengan hormat, Albert Einstein sebagai tokoh inspiring untuk bulan Oktober ini. Semoga pidato ini dapat terbaca oleh kaum muda dimanapun berada, agar menggunakan ilmu sewajarnya.

Pesan Albert Einstein kepada Mahasiswa California Institute of Technology

Rekan-rekan yang muda belia.

Saya sangat berbahagia melihat anda semua di hadapan saya, sekumpulan orang muda yang sedang mekar adan memilih bidang keilmuan sebagai profesi.

Saya berhasrat untuk menyanyikan hymne yang penuh puji, dengan refrain kemajuan pesat di bidang keilmuan yang telah kita capai, dan kemajuan yang lebih pesat lagi yang akan anda bawakan. Sesungguhnya kita berada dalam kurun dan tanah air keilmuan. Tetapi hal ini jauh dari apa yang sebenarnya ingin saya sampaikan. Lebih lanjut, saya teringat dalam hubungan ini kepada seorang muda yang baru saja menikah dengan istri yang tidak terlalu menarik dan orang muda itu ditanya apakah dia merasa bahagia atau tidak. Dia lalu menjawab : “Jika saya ingin mengatakan yang sebenarnya, maka saya harus berdusta”

Begitu juga dengan saya. Marilah kita perhatikan seorang Indian yang mungkin tidak beradab, untuk menyimak apakah pengalaman dia memang kurang kaya ataukah kurang bahagia dibandingkan dengan rata-rata manusia beradab. Terdapat arti yang sangat maknawi dalam kenyataan bahwa anak-anak dari seluruh penjuru dunia yang beradab senang sekali bermain meniru-niru Indian.

Mengapa Ilmu yang sangat indah ini, menghemat kerja dan membikin hidup lebih mudah, hanya membawa kebahagian yang sedikit kepada kita? Jawaban yang sederhana adalah – karena kita belum lagi belajar bagaimana menggunakannya secara wajar.

Dalam peperangan, ilmu menyebabkan kita saling meracun dan saling menjagal. Dalam perdamaian dia membikin hidup kita dikejar waktu dan penuh tak tentu. Ilmu yang seharusnya membebaskan kita dari pekerjaan yang melelahkan spiritual malah menjadikan manusia budak-budak mesin, dimana setelah hari-hari panjang dan monoton kebanyakan dari mereka pulang dengan dengan rasa mual, dan harus terus bergetar untuk memperoleh ransum penghasilan yang tidak seberapa. Kamu akan mengingat tentang seorang tua yang menyanyikan sebuah lagu yang jelek. Sayalah yang menyanyikan lagu itu, walau begitu, dengan sebuah itikad untuk memperlihatkan sebuah akibat.

Adalah tidak cukup bahwa kamu memahami ilmu agar pekerjaanmu akan meningkatkan berkah manusia. Perhatian kepada manusia itu sendiri dan nasibnya harus selalu merupakan minat utama dari semua ikhtiar teknis, perhatian kepada masalah besar yang tak kunjung terpecahkan dari pengaturan kerja dan pemerataan benda – agar buah ciptaan dari pemikiran kita akan merupakan berkah dan bukan kutukan terhadap kemanusiaan. Janganlah kau lupakan hal ini di tengah tumpukan diagram dan persamaan.

(1938)


Sumber: buku "Ilmu Dalam Perspektif" Jujun S. Suriasumantri