Social Items

Ilustrasi: Pemotongan Anggaran, Kondisi Menteri Keuangan dan Pengampunan Pajak

RiauJOS.com, Editorial -  Kondisi utang Indonesia semakin memprihatinkan, hingga pemerintah membuat kebijakan pemotongan berjilid-jilid, pemotongan anggaran Jilid 1, Jilid 2 dan entah Jilid berapa lagi sampai tahun depan, apabila kondisi keuangan negara makin terpuruk.

Kolumnis M. Fajar Marta mengilustrasikan kondisi Indonesia saat ini, seperti foto diatas, "Dengan kedua tangan terangkat tinggi-tinggi ke atas, patung itu seolah menjerit, ”Uang sudah habis...!” ," tulisnya di kolom ekonomi, kompas, kamis kemarin.

Fajar mengulas lumayan lengkap, untuk menjawab kenapa di era pemerintahan Jokowi-JK selalu saja kehabisan uang, kemudian menghadirkan kembali Sri Mulyani untuk jadi Menteri Keuangan lagi.

Semua dibikin risau dengan kondisi ekonomi, yang kabarnya imbas dari ekonomi global. Lembaga negara, pengusaha, bahkan warga biasa tak bisa menolak dengan kondisi keuangan negara yang sekarang ini.

Solusi Utang?


Seolah tidak ada solusi lain untuk menggesa pembangunan infrastruktur, yang memang harus dijalankan untuk membuat Indonesia berkemajuan versi ukuran pergaulan Global, dilihat dari sisi pertumbuhan ekonomi.

Keinginan menggesa secepat-cepatnya pembangunan infrastruktur di tahun pertama dan kedua pemerintahan Jokowi-JK dinilai menjadi penyebab semakin meningkatnya utang, entah bagaimana imajinasi pemerintahan saat ini, sehingga semua merasa risau dengan keterpurukan ekonomi.

Fajar Marta menulis, 

Sri Mulyani diyakini akan menjaga defisit tetap di bawah 2,5 persen Produk Domestik Bruto (PDB) sehingga tak perlu banyak berutang. 
Apalagi, dalam dua tahun pemerintahan Presiden Jokowi, utang sudah menumpuk untuk membiayai proyek infrastruktur. 
Pada tahun 2015, utang baru yang ditarik pemerintah mencapai Rp 556,53 triliun. Padahal realisasi defisit anggaran pada tahun itu hanya Rp 318,5 triliun. 
Artinya, ada uang utang sebesar Rp 238 triliun yang dipakai pemerintah sebagai cadangan sekaligus penambal defisit anggaran tahun 2016. 
Penarikan utang yang sangat besar pada tahun 2015 menjadikan Presiden Jokowi sebagai presiden Indonesia dengan utang terbesar pada tahun penuh pertama memerintah. 
Per juni 2016, posisi utang pemerintah pusat mencapai Rp 3.362,74, atau bertambah Rp 754 triliun dibandingkan akhir tahun 2014, yang merupakan tahun terakhir pemerintahan Presiden SBY.

Data-data yang dituliskan Fajar, membuat kita terengah-engah, dan membebani pikiran siapa saja, hingga pemerintah mampu melunasi semua utangnya. Kalau dipikir, utang pemerintah, juga utang semua warganya.

Dan ini, jadi warisan untuk anak cucu kita, warisan koq utang? pening kan?.

Ide brilian apa lagi yang harus mengemuka, dan dijalankan pemerintah saat ini, agar utang yang sudah kentara, dan menimbulkan kerisauan siapa saja. Mari kita bantu negara kita untuk melunasi hutang-hutangnya. 

Dengan potensi masing-masing tentunya. Baca juga Editorial RiauJOS.com sebelumnya, 

Negara Hilang Daya, Digital pun Meraja


Ide RiauJOS.com, untuk membantu negara yang telah kehilangan daya karena hutang-hutangnya, dengan cara berkontribusi disini, menjadi bagian sukses untuk menambah devisa negara, melalui pertarungan global dan meraih kesejahteraan secara ekonomis dan teknologis.

Uang Sudah HABIS..!!

Ilustrasi: Pemotongan Anggaran, Kondisi Menteri Keuangan dan Pengampunan Pajak

RiauJOS.com, Editorial -  Kondisi utang Indonesia semakin memprihatinkan, hingga pemerintah membuat kebijakan pemotongan berjilid-jilid, pemotongan anggaran Jilid 1, Jilid 2 dan entah Jilid berapa lagi sampai tahun depan, apabila kondisi keuangan negara makin terpuruk.

Kolumnis M. Fajar Marta mengilustrasikan kondisi Indonesia saat ini, seperti foto diatas, "Dengan kedua tangan terangkat tinggi-tinggi ke atas, patung itu seolah menjerit, ”Uang sudah habis...!” ," tulisnya di kolom ekonomi, kompas, kamis kemarin.

Fajar mengulas lumayan lengkap, untuk menjawab kenapa di era pemerintahan Jokowi-JK selalu saja kehabisan uang, kemudian menghadirkan kembali Sri Mulyani untuk jadi Menteri Keuangan lagi.

Semua dibikin risau dengan kondisi ekonomi, yang kabarnya imbas dari ekonomi global. Lembaga negara, pengusaha, bahkan warga biasa tak bisa menolak dengan kondisi keuangan negara yang sekarang ini.

Solusi Utang?


Seolah tidak ada solusi lain untuk menggesa pembangunan infrastruktur, yang memang harus dijalankan untuk membuat Indonesia berkemajuan versi ukuran pergaulan Global, dilihat dari sisi pertumbuhan ekonomi.

Keinginan menggesa secepat-cepatnya pembangunan infrastruktur di tahun pertama dan kedua pemerintahan Jokowi-JK dinilai menjadi penyebab semakin meningkatnya utang, entah bagaimana imajinasi pemerintahan saat ini, sehingga semua merasa risau dengan keterpurukan ekonomi.

Fajar Marta menulis, 

Sri Mulyani diyakini akan menjaga defisit tetap di bawah 2,5 persen Produk Domestik Bruto (PDB) sehingga tak perlu banyak berutang. 
Apalagi, dalam dua tahun pemerintahan Presiden Jokowi, utang sudah menumpuk untuk membiayai proyek infrastruktur. 
Pada tahun 2015, utang baru yang ditarik pemerintah mencapai Rp 556,53 triliun. Padahal realisasi defisit anggaran pada tahun itu hanya Rp 318,5 triliun. 
Artinya, ada uang utang sebesar Rp 238 triliun yang dipakai pemerintah sebagai cadangan sekaligus penambal defisit anggaran tahun 2016. 
Penarikan utang yang sangat besar pada tahun 2015 menjadikan Presiden Jokowi sebagai presiden Indonesia dengan utang terbesar pada tahun penuh pertama memerintah. 
Per juni 2016, posisi utang pemerintah pusat mencapai Rp 3.362,74, atau bertambah Rp 754 triliun dibandingkan akhir tahun 2014, yang merupakan tahun terakhir pemerintahan Presiden SBY.

Data-data yang dituliskan Fajar, membuat kita terengah-engah, dan membebani pikiran siapa saja, hingga pemerintah mampu melunasi semua utangnya. Kalau dipikir, utang pemerintah, juga utang semua warganya.

Dan ini, jadi warisan untuk anak cucu kita, warisan koq utang? pening kan?.

Ide brilian apa lagi yang harus mengemuka, dan dijalankan pemerintah saat ini, agar utang yang sudah kentara, dan menimbulkan kerisauan siapa saja. Mari kita bantu negara kita untuk melunasi hutang-hutangnya. 

Dengan potensi masing-masing tentunya. Baca juga Editorial RiauJOS.com sebelumnya, 

Negara Hilang Daya, Digital pun Meraja


Ide RiauJOS.com, untuk membantu negara yang telah kehilangan daya karena hutang-hutangnya, dengan cara berkontribusi disini, menjadi bagian sukses untuk menambah devisa negara, melalui pertarungan global dan meraih kesejahteraan secara ekonomis dan teknologis.