Social Items

Demikian juga google, kesulitan memahami pajak
Baik Einstein dan Google, mereka sama-sama sulit memahami pajak. Apa langkah selanjutnya Dirjen pajak untuk membujuk google agar taat pajak?

"The hardest thing in the world to understand is the income tax”


RiauJOS.com, Editorial -  Saat ini media sedang disibukan mewartakan perseteruan Dirjen pajak dengan perusahaan multinasional google yang punya kantor perwakilan di Indonesia. Diwartakan ccnindonesia.com, Kamis, 15 September 2016, Pemeriksaan pajak terhadap Google menemui jalan buntu. Direktorat Jenderal Pajak Kementerian Kemenkeu (DJP Kemenkeu) menyatakan, bulan lalu, Google telah mengembalikan surat perintah pemeriksaan dan menolak ditetapkan sebagai Badan Usaha Tetap (BUT).

Mengingat sejarah sepeningal seorang genius fisika ternama, Albert Einstein yang pernah mengungkapkan "The hardest thing in the world to understan is the tax", kalau diterjemahkan "Hal paling sulit untuk dipahami di dunia ini adalah pajak". Demikian juga google, sama seperti Einstein belum mampu memahami dan memecahkan persoalan pajak, dan mungkin kelak akan lebih paham apabila dikenalkan dengan konsep zakat.

Tidak mengherankan jika google merupakan perusahaan yang sulit untuk memahami pajak, karena perusahaan google punya karyawan dengan kecerdasan diatas rata-rata sehingga punya kecerdasan pula untuk berpikir lebih maju terhadap konsep perpajakan sehingga karyawan google pun tentu terinspirasi dengan pemikiran cerdas Einstein.

Menurut Eintein, pajak memuat terlalu banyak filosofi semu dan hal tersebut menjadi pengakuan seorang genius seperti Einstein saat mengisi formulir pajak penghasilan. “Hal ini terlalu sulit bagi seorang ahli matematika. Kau harus menanyakannya pada seorang filsuf,” ujarnya.

Ketika rumus aljabar, eksponensial, hingga polinomial tidak berlaku dalam perumusan tarif pajak dengan berbagai kompleksitas perhitungan serta pengurusannya, pajak bagi manusia sepertinya menjadi hal yang patut dielakkan.

Jika seorang Einstein saja kesulitan dalam memahami sistem perpajakan, tidak heran bila sebagian besar masyarakat dunia juga mengalami hal yang serupa. Pemahaman seluk beluk aturan perpajakan serta pengaplikasiannya jelas membutuhkan pengorbanan biaya, waktu, dan tenaga yang tidak sedikit. 

Permasalahan ini, dapat dituntaskan Dirjen Pajak dengan cara mencoba memperkenalkan konsep zakat kepada google, karena zakat merupakan aturan langit, dan berguna untuk memeratakan kesejahteraan di dunia ini.

Memperhatikan dengan seksama misi google, yang ingin mengatur informasi dunia dan membuatnya dapat diakses serta memberikan manfaat secara universal, adalah jalan terang untuk memeratakan pengetahuan. Begitu juga zakat, yang pada dasarnya akan membuat pemerataan kesejahteraan di dunia jika dilaksanakan sesuai ketentuan langit. Keduanya mempunyai misi yang sama, yaitu pemerataan. Google memeratakan informasi, sedangkan Zakat memeratakan kesejahteraan di berbagai bidang.


Seolah Terinspirasi Einstein, Google Sulit Memahami Pajak

Demikian juga google, kesulitan memahami pajak
Baik Einstein dan Google, mereka sama-sama sulit memahami pajak. Apa langkah selanjutnya Dirjen pajak untuk membujuk google agar taat pajak?

"The hardest thing in the world to understand is the income tax”


RiauJOS.com, Editorial -  Saat ini media sedang disibukan mewartakan perseteruan Dirjen pajak dengan perusahaan multinasional google yang punya kantor perwakilan di Indonesia. Diwartakan ccnindonesia.com, Kamis, 15 September 2016, Pemeriksaan pajak terhadap Google menemui jalan buntu. Direktorat Jenderal Pajak Kementerian Kemenkeu (DJP Kemenkeu) menyatakan, bulan lalu, Google telah mengembalikan surat perintah pemeriksaan dan menolak ditetapkan sebagai Badan Usaha Tetap (BUT).

Mengingat sejarah sepeningal seorang genius fisika ternama, Albert Einstein yang pernah mengungkapkan "The hardest thing in the world to understan is the tax", kalau diterjemahkan "Hal paling sulit untuk dipahami di dunia ini adalah pajak". Demikian juga google, sama seperti Einstein belum mampu memahami dan memecahkan persoalan pajak, dan mungkin kelak akan lebih paham apabila dikenalkan dengan konsep zakat.

Tidak mengherankan jika google merupakan perusahaan yang sulit untuk memahami pajak, karena perusahaan google punya karyawan dengan kecerdasan diatas rata-rata sehingga punya kecerdasan pula untuk berpikir lebih maju terhadap konsep perpajakan sehingga karyawan google pun tentu terinspirasi dengan pemikiran cerdas Einstein.

Menurut Eintein, pajak memuat terlalu banyak filosofi semu dan hal tersebut menjadi pengakuan seorang genius seperti Einstein saat mengisi formulir pajak penghasilan. “Hal ini terlalu sulit bagi seorang ahli matematika. Kau harus menanyakannya pada seorang filsuf,” ujarnya.

Ketika rumus aljabar, eksponensial, hingga polinomial tidak berlaku dalam perumusan tarif pajak dengan berbagai kompleksitas perhitungan serta pengurusannya, pajak bagi manusia sepertinya menjadi hal yang patut dielakkan.

Jika seorang Einstein saja kesulitan dalam memahami sistem perpajakan, tidak heran bila sebagian besar masyarakat dunia juga mengalami hal yang serupa. Pemahaman seluk beluk aturan perpajakan serta pengaplikasiannya jelas membutuhkan pengorbanan biaya, waktu, dan tenaga yang tidak sedikit. 

Permasalahan ini, dapat dituntaskan Dirjen Pajak dengan cara mencoba memperkenalkan konsep zakat kepada google, karena zakat merupakan aturan langit, dan berguna untuk memeratakan kesejahteraan di dunia ini.

Memperhatikan dengan seksama misi google, yang ingin mengatur informasi dunia dan membuatnya dapat diakses serta memberikan manfaat secara universal, adalah jalan terang untuk memeratakan pengetahuan. Begitu juga zakat, yang pada dasarnya akan membuat pemerataan kesejahteraan di dunia jika dilaksanakan sesuai ketentuan langit. Keduanya mempunyai misi yang sama, yaitu pemerataan. Google memeratakan informasi, sedangkan Zakat memeratakan kesejahteraan di berbagai bidang.