Social Items

Demi sebuah simpati mereka perang urat syaraf memenangkan debat terbuka
Energi terkuras untuk memenangkan simpati para pemilih pilpres AS 8 November Mendatang
[screenshot: bbcindonesia.com]

RiauJOS.com, Editorial - Perhatian dunia tertuju pada dua orang calon presiden Amerika, Donald Trump dan Hillary Clinton. Mereka ada di arena debat untuk membuktikan keunggulan masing-masing sehingga dinyatakan layak oleh pemilihnya pada pemilu presiden AS 8 November 2016 mendatang.

Editorial RiauJOS.com, edisi Rabu, 28 September 2016 mengulas pertunjukan hebat "perang mulut" dua kandidat presiden AS, sehingga semua media mau menyebarluaskan ke seluruh penjuru dunia.

AS sebagai negara penggelora kebebasan berekspresi memang memiliki budaya untuk beradu argumen, siapa yang mahir berargumen dia akan menjadi seseorang yang punya nilai lebih, dalam hal ini skill debat.

Beda dengan negara kita tercinta Indonesia, sebagian masih memandang kurang perlu debat untuk membuktikan keunggulan. Bahkan, Presiden Joko Widodo yang terkenal dengan semboyan Kerja-kerja-kerja, dan untuk tahun ini Kerja-Nyata, menyiratkan bahwa sebaiknya tidak perlu banyak berargumen, namun lebih mementingkan kerja dan hasil kerja.

Memperhatikan gelagat perkembangan hiburan di tanah air, acara talk show yang menampilkan banyak tokoh nasional seolah mengarah kepada budaya di AS. Orang-orang yang dianggap penting dan berkompeten untuk berbicara, diberikan ruang sebebasnya untuk mengungkapkan apa yang diketahui, dan ini disaksikan oleh jutaan warga kita yang punya layar kaca. Sebut saja acara ILC, sebuah talk show yang lagi digandrungi warga sebagai tontonan hiburan sekaligus menguji seberapa luas kemampuan berpikir penonton dibandingkan si pembicara dalam talk show.

Apabila si pembicara kurang kompeten, beramai-ramai orang akan mengecam dikemudian hari, ditambah pula penyebaran lewat YouTube, orang-orang diberi kesempatan untuk memutar ulang acara Talk Show, dan punya hak untuk berkomentar sesuai dengan kemampuan masing-masing.

Sebenarnya, Talk Show merupakan program televisi yang sudah jadul di AS sana, sedangkan di tanah air, baru-baru saja mengenal talk show sebagai hiburan, sekaligus wahana untuk mengungkapkan kemarahan kepada si pembicara yang dirasa kurang kompeten mengulas permasalahan ataupun memberikan jawaban terhadap pertanyaan yang diajukan oleh forum talk show.

Pemirsa dirumah bisa saling berkomentar dengan anggota keluarga, sedangkan yang di studio mereka akan bertanding untuk memuaskan siapa saja yang sedang menonton, tujuannya memenangkan pendapat publik.

Penting diketahui, pemenang debat dialah orang yang mahir memenangkan opini publik, salah benar bukan urusan, jika rata-rata publik menyukai dengan apa yang ditawarkan oleh si tukang debat, tentu dialah jadi pemenang debat.

Bagi orang yang kritis, tentu tidak akan mudah terpengaruh dengan mulut manis para tukang debat. Intinya, dia lihai dalam tataran omong-omong, belum tentu lihai mengaplikasikan apa yang diomong-omongkan dan diperdebatkan dengan lawan debatnya.

Bagi yang lagi gandrung dengan acara talk show yang berisi debat orang pintar, menurut versi si pengundang acara, ataupun si pemilik program siaran, ketahuilah, bahwa program debat merupakan sebuah pertunjukan, lebih keren jika dikatakan hanyalah entertainment belaka. Kebenaran akan didapat setelah mereka si pelaku debat membuktikan apa yang dikatakannya.

Seberapa Penting Debat Capres AS Trump Vs Hillary

Demi sebuah simpati mereka perang urat syaraf memenangkan debat terbuka
Energi terkuras untuk memenangkan simpati para pemilih pilpres AS 8 November Mendatang
[screenshot: bbcindonesia.com]

RiauJOS.com, Editorial - Perhatian dunia tertuju pada dua orang calon presiden Amerika, Donald Trump dan Hillary Clinton. Mereka ada di arena debat untuk membuktikan keunggulan masing-masing sehingga dinyatakan layak oleh pemilihnya pada pemilu presiden AS 8 November 2016 mendatang.

Editorial RiauJOS.com, edisi Rabu, 28 September 2016 mengulas pertunjukan hebat "perang mulut" dua kandidat presiden AS, sehingga semua media mau menyebarluaskan ke seluruh penjuru dunia.

AS sebagai negara penggelora kebebasan berekspresi memang memiliki budaya untuk beradu argumen, siapa yang mahir berargumen dia akan menjadi seseorang yang punya nilai lebih, dalam hal ini skill debat.

Beda dengan negara kita tercinta Indonesia, sebagian masih memandang kurang perlu debat untuk membuktikan keunggulan. Bahkan, Presiden Joko Widodo yang terkenal dengan semboyan Kerja-kerja-kerja, dan untuk tahun ini Kerja-Nyata, menyiratkan bahwa sebaiknya tidak perlu banyak berargumen, namun lebih mementingkan kerja dan hasil kerja.

Memperhatikan gelagat perkembangan hiburan di tanah air, acara talk show yang menampilkan banyak tokoh nasional seolah mengarah kepada budaya di AS. Orang-orang yang dianggap penting dan berkompeten untuk berbicara, diberikan ruang sebebasnya untuk mengungkapkan apa yang diketahui, dan ini disaksikan oleh jutaan warga kita yang punya layar kaca. Sebut saja acara ILC, sebuah talk show yang lagi digandrungi warga sebagai tontonan hiburan sekaligus menguji seberapa luas kemampuan berpikir penonton dibandingkan si pembicara dalam talk show.

Apabila si pembicara kurang kompeten, beramai-ramai orang akan mengecam dikemudian hari, ditambah pula penyebaran lewat YouTube, orang-orang diberi kesempatan untuk memutar ulang acara Talk Show, dan punya hak untuk berkomentar sesuai dengan kemampuan masing-masing.

Sebenarnya, Talk Show merupakan program televisi yang sudah jadul di AS sana, sedangkan di tanah air, baru-baru saja mengenal talk show sebagai hiburan, sekaligus wahana untuk mengungkapkan kemarahan kepada si pembicara yang dirasa kurang kompeten mengulas permasalahan ataupun memberikan jawaban terhadap pertanyaan yang diajukan oleh forum talk show.

Pemirsa dirumah bisa saling berkomentar dengan anggota keluarga, sedangkan yang di studio mereka akan bertanding untuk memuaskan siapa saja yang sedang menonton, tujuannya memenangkan pendapat publik.

Penting diketahui, pemenang debat dialah orang yang mahir memenangkan opini publik, salah benar bukan urusan, jika rata-rata publik menyukai dengan apa yang ditawarkan oleh si tukang debat, tentu dialah jadi pemenang debat.

Bagi orang yang kritis, tentu tidak akan mudah terpengaruh dengan mulut manis para tukang debat. Intinya, dia lihai dalam tataran omong-omong, belum tentu lihai mengaplikasikan apa yang diomong-omongkan dan diperdebatkan dengan lawan debatnya.

Bagi yang lagi gandrung dengan acara talk show yang berisi debat orang pintar, menurut versi si pengundang acara, ataupun si pemilik program siaran, ketahuilah, bahwa program debat merupakan sebuah pertunjukan, lebih keren jika dikatakan hanyalah entertainment belaka. Kebenaran akan didapat setelah mereka si pelaku debat membuktikan apa yang dikatakannya.