Social Items

Buku kumpulan puisi Marzuli Ridwan Al-bantany berisi 137 judul puisi
Buku baru "Menakar Cahaya" karya Penyair asal Kabupaten Bengkalis, Marzuli Ridwan Al-bantany

Seperti katamu 

rembulan telah menjadi merah 

dari atas tungku-tungku yang menyala 

Tapi adakah yang lebih gerah 

dari rasa perih tumpah menyimbah 


(Menakar Cahaya; 1).


RiauJOS.com, Bengkalis - Penikmat sastra dapat mencoba merasakan buku baru berjudul "Menakar Cahaya" karya penyair asal Kabupaten Bengkalis, Provinsi Riau Marzuli Ridwan Al-bantany. Sebenarnya, karya Marzuli sudah bertebaran dimana-mana, baik di media online maupun media cetak, bahkan selalu menghiasi media online dan cetak di Riau maupun di tingkat nasional.

Marzuli dikenal sebagai jurnalis, sebelum fokus mendalami sastra. Bahkan pernah juga mengabdi pada negara, sebagai anggota Panitia Pengawas Pemilu (Panwaslu) Kabupaten Bengkalis pada Pileg dan Pilpres 2014. Meski di bilang sebagai orang baru di dunia sastra, seperti yang ditulis di cover belakang buku "Menakar Cahaya", dari semangat berkarya sastra dan produktifitasnya mampu membuktikan kecintaannya pada dunia sastra dengan menerbitkan kumpulan puisi dalam format buku. Marzuli saat ini berprofesi sebagai seorang guru di Kabupaten Bengkalis.

Buku puisi yang dilahirkan ini memperlihatkan bahwa di negeri bernama Riau ini tidak pernah berhenti melahirkan para penyair sebagai penghalus akal budi. Untuk mendapatkan keterangan selengkapnya, RiauJOS.com berhasil mewawancarai Marzuli via chat Facebook, Rabu sore, 6 September 2016, repoerter RiauJOS.com juga sempat berbicara melalui video call, namun karena sambungan internet di kantor RiauJOS.com kurang bagus, wawancara dilanjutkan melalui chat saja.

Menikmati karya sastra, tidak seperti mambaca sebuah novel online, perlu permenungan, dan pemikiran mendalam untuk menikmatinya. Bahkan setelah dibaca beberapa kali, baru ditemukanlah apa yang menjadi maksud si penulis puisi. Begitupun kumpulan puisi karya Marzuli, tidak bisa sekelebat langsung dapat apa maksud dari si penulis puisi, namun perlu permenungan.

Untuk mendapatkan buku "Menakar Cahaya" saat ini belum bisa di download seperti buku gratis yang banyak beredar di internet, karena buku ini diterbitkan Fam Publishing versi cetak. Untuk mendapatkannya, anda dapat memesan langsung via Fam Publisher. 

Buku "Menakar Cahaya" juga belum ada di pencarian google buku, RiauJOS.com menelusuri, google buku belum menyediakan sampel ataupun ringkasan buku kumpulan puisi ini. Mungkin, pihak Publisher belum mengupload sampel buku ini ke google buku. Bahkan di amazon.com, yang terkenal dengan produk digitalnya, belum juga ditemukan. 

Berikut hasil wawancara RiauJOS.com, dengan penulis kumpulan puisi "Menakar Cahaya" Marzuli Ridwan Al-bantany.

Buku baru Pak Marzuli, yang berjudul "Menakar Cahaya" itu tentang apa?
Menakar Cahaya adalah sebuah kumpulan puisi [137 judul]. Sebagian besar puisi yang ditulis ini muncul dari kerisauan saya memandang kelebat kehidupan, baik menyangkut kehidupan sosial, politik, ekonomi. Juga mengisahkan pentingnya menjaga persatuan dan kesatuan bangsa, tentang keluarga, cinta dan negeri. 
Untuk target pembaca, kira-kira siapa sasaran pembaca?

target pembaca adalah siapa saja yang mencintai sastra dan menginginkan kebaikan dalam hidup. Karena melalui sastra, pesan-pesan moral dan agama dapat juga disampaikan dengan indah tanpa harus menggurui.
Kapan buku "Menakar Cahaya" diterbitkan?

terbit Februari 2016 yang lalu. 
Untuk mendapatkan buku "Menakar Cahaya" bisa didapatkan dimana?
bisa dipesan langsung kepada penerbitnya di call centre: 0812-5982-1511 atau email:aktifmenulis@gmail.com. (FAM Indonesia)

Selanjutnya, diwartakan riaukepri.com, 6 Agustus 2016.

"Menakar Cahaya" dijadikan judul buku untuk merangkul 137 judul puisi lainnya. Dari puisi-puisi yang ditulis Marzuli ini, tergambar kegelisahan seorang anak manusia memandang 'kelebat' kehidupan. Tentu saja untuk mendapatkan 'cahaya' (kesadaran) dari buku puisi, diperlukan kecermatan membacanya, kalau perlu harus berulang kali membaca. 

Puisi adalah pengongkretan peristiwa-peristiwa yag terjadi di lingkungan penyair dengan menggunakan bahasa kiasan. "Menakar Cahaya" karya Marzuli mencoba membuhul peristiwa kasih sayang dalam keluarga kemudian merambah kepada peristiwa-peristiwa di negeri ini. Membaca buku puisi ini, pembaca dibawa mengenal diri terlebih dahulu, kemudian diajak mengembara ke konspirasi-konspirasi yang lebih besar lagi, yaitu negara.

"Rumah Kita" puisi yang terdapat pada halaman 2 buku ini, penyair mendedahkan bahwa permulaan 'cerita' berada di rumah sendiri. Dari sinilah manusia dicoba untuk melangkah lebih jauh lagi memahami suatu negeri. 'Inilah rumah kita/laman bersandar cinta/yang purba...", cinta menjadi pondasi untuk membangun peradaban yang lebih besar. Bukankah dengan cinta kita diajarkan banyak hal tentang kebaikan? Apabila cinta telah disingkirkan, maka kepentingan negeri untuk orang banyak pun menjadi sesuatu yang mustahil. 

Buku puisi ini ditutup dengan "Catatan Akhir Tahun". Dalam puisi ini, pembaca diajak untuk menatap masa akan datang dengan optimisme. Masa lalu menjadi pelajaran, sehingga masa depan dapat diraih dengan kebahagiaan. "Malam yang kita tinggalkan/cuma tanda menyengah hari esok/menyambut cerah mentari" tulis Marzuli.

Buku Baru 'Menakar Cahaya' karya Penyair Bengkalis Ramaikan Sastra Riau

Buku kumpulan puisi Marzuli Ridwan Al-bantany berisi 137 judul puisi
Buku baru "Menakar Cahaya" karya Penyair asal Kabupaten Bengkalis, Marzuli Ridwan Al-bantany

Seperti katamu 

rembulan telah menjadi merah 

dari atas tungku-tungku yang menyala 

Tapi adakah yang lebih gerah 

dari rasa perih tumpah menyimbah 


(Menakar Cahaya; 1).


RiauJOS.com, Bengkalis - Penikmat sastra dapat mencoba merasakan buku baru berjudul "Menakar Cahaya" karya penyair asal Kabupaten Bengkalis, Provinsi Riau Marzuli Ridwan Al-bantany. Sebenarnya, karya Marzuli sudah bertebaran dimana-mana, baik di media online maupun media cetak, bahkan selalu menghiasi media online dan cetak di Riau maupun di tingkat nasional.

Marzuli dikenal sebagai jurnalis, sebelum fokus mendalami sastra. Bahkan pernah juga mengabdi pada negara, sebagai anggota Panitia Pengawas Pemilu (Panwaslu) Kabupaten Bengkalis pada Pileg dan Pilpres 2014. Meski di bilang sebagai orang baru di dunia sastra, seperti yang ditulis di cover belakang buku "Menakar Cahaya", dari semangat berkarya sastra dan produktifitasnya mampu membuktikan kecintaannya pada dunia sastra dengan menerbitkan kumpulan puisi dalam format buku. Marzuli saat ini berprofesi sebagai seorang guru di Kabupaten Bengkalis.

Buku puisi yang dilahirkan ini memperlihatkan bahwa di negeri bernama Riau ini tidak pernah berhenti melahirkan para penyair sebagai penghalus akal budi. Untuk mendapatkan keterangan selengkapnya, RiauJOS.com berhasil mewawancarai Marzuli via chat Facebook, Rabu sore, 6 September 2016, repoerter RiauJOS.com juga sempat berbicara melalui video call, namun karena sambungan internet di kantor RiauJOS.com kurang bagus, wawancara dilanjutkan melalui chat saja.

Menikmati karya sastra, tidak seperti mambaca sebuah novel online, perlu permenungan, dan pemikiran mendalam untuk menikmatinya. Bahkan setelah dibaca beberapa kali, baru ditemukanlah apa yang menjadi maksud si penulis puisi. Begitupun kumpulan puisi karya Marzuli, tidak bisa sekelebat langsung dapat apa maksud dari si penulis puisi, namun perlu permenungan.

Untuk mendapatkan buku "Menakar Cahaya" saat ini belum bisa di download seperti buku gratis yang banyak beredar di internet, karena buku ini diterbitkan Fam Publishing versi cetak. Untuk mendapatkannya, anda dapat memesan langsung via Fam Publisher. 

Buku "Menakar Cahaya" juga belum ada di pencarian google buku, RiauJOS.com menelusuri, google buku belum menyediakan sampel ataupun ringkasan buku kumpulan puisi ini. Mungkin, pihak Publisher belum mengupload sampel buku ini ke google buku. Bahkan di amazon.com, yang terkenal dengan produk digitalnya, belum juga ditemukan. 

Berikut hasil wawancara RiauJOS.com, dengan penulis kumpulan puisi "Menakar Cahaya" Marzuli Ridwan Al-bantany.

Buku baru Pak Marzuli, yang berjudul "Menakar Cahaya" itu tentang apa?
Menakar Cahaya adalah sebuah kumpulan puisi [137 judul]. Sebagian besar puisi yang ditulis ini muncul dari kerisauan saya memandang kelebat kehidupan, baik menyangkut kehidupan sosial, politik, ekonomi. Juga mengisahkan pentingnya menjaga persatuan dan kesatuan bangsa, tentang keluarga, cinta dan negeri. 
Untuk target pembaca, kira-kira siapa sasaran pembaca?

target pembaca adalah siapa saja yang mencintai sastra dan menginginkan kebaikan dalam hidup. Karena melalui sastra, pesan-pesan moral dan agama dapat juga disampaikan dengan indah tanpa harus menggurui.
Kapan buku "Menakar Cahaya" diterbitkan?

terbit Februari 2016 yang lalu. 
Untuk mendapatkan buku "Menakar Cahaya" bisa didapatkan dimana?
bisa dipesan langsung kepada penerbitnya di call centre: 0812-5982-1511 atau email:aktifmenulis@gmail.com. (FAM Indonesia)

Selanjutnya, diwartakan riaukepri.com, 6 Agustus 2016.

"Menakar Cahaya" dijadikan judul buku untuk merangkul 137 judul puisi lainnya. Dari puisi-puisi yang ditulis Marzuli ini, tergambar kegelisahan seorang anak manusia memandang 'kelebat' kehidupan. Tentu saja untuk mendapatkan 'cahaya' (kesadaran) dari buku puisi, diperlukan kecermatan membacanya, kalau perlu harus berulang kali membaca. 

Puisi adalah pengongkretan peristiwa-peristiwa yag terjadi di lingkungan penyair dengan menggunakan bahasa kiasan. "Menakar Cahaya" karya Marzuli mencoba membuhul peristiwa kasih sayang dalam keluarga kemudian merambah kepada peristiwa-peristiwa di negeri ini. Membaca buku puisi ini, pembaca dibawa mengenal diri terlebih dahulu, kemudian diajak mengembara ke konspirasi-konspirasi yang lebih besar lagi, yaitu negara.

"Rumah Kita" puisi yang terdapat pada halaman 2 buku ini, penyair mendedahkan bahwa permulaan 'cerita' berada di rumah sendiri. Dari sinilah manusia dicoba untuk melangkah lebih jauh lagi memahami suatu negeri. 'Inilah rumah kita/laman bersandar cinta/yang purba...", cinta menjadi pondasi untuk membangun peradaban yang lebih besar. Bukankah dengan cinta kita diajarkan banyak hal tentang kebaikan? Apabila cinta telah disingkirkan, maka kepentingan negeri untuk orang banyak pun menjadi sesuatu yang mustahil. 

Buku puisi ini ditutup dengan "Catatan Akhir Tahun". Dalam puisi ini, pembaca diajak untuk menatap masa akan datang dengan optimisme. Masa lalu menjadi pelajaran, sehingga masa depan dapat diraih dengan kebahagiaan. "Malam yang kita tinggalkan/cuma tanda menyengah hari esok/menyambut cerah mentari" tulis Marzuli.